
Aldo baru saja keluar dari ruangan rapat, dan kini tengah berjalan sambil melihat jam di tangannya yang menunjukkan pukul dua belas lebih tiga puluh menit.
"Meeting marketing, meeting dengan para kontraktor..." ia berguman sembari mengingat-ingat jadwal hari ini. "Mungkin aku harus mengisi perutku sebentar." ia mengelus perutnya yang sejak pagi cuma terisi kopi dan camilan saat rapat.
Meski hanya Personal Asisten, tapi jika Kiandra berhalangan hadir seperti saat ini, maka Aldo lah yang mewakili dan semua hasil meeting akan di kirim, lalu Kiandra tinggal mengkoreksi. Walau ada saja hal yang kurang pas, serta ujung-ujungnya akan di adakan meeting ulang. Tetapi, semua yang Aldo kerjakan sudah sesuai dengan SOP perusahaan, dan dia sangat di percayai oleh Kiandra dalam hal memecahkan permasalahan.
Aldo baru saja membuka ruangan CEO untuk menaruh berkas laporan, ketika ia di kejutkan oleh seseorang yang sudah duduk di balik meja.
Ayah Kiandra dengan tampilannya yang tak bercela itu menipiskan bibir melihat kedatangannya.
Awalnya Aldo sempat mematung, kemudian ia berjalan mendekat dan menundukkan kepala. "Selamat siang, Pak Andreas." ia memberi salam.
"Lagi-lagi Kian dengan seenaknya menyuruhmu ini dan itu, ya?" kata pria berusia lanjut dengan rambut putihnya tersebut.
Aldo tersenyum seraya meletakan map hasil meeting ke atas meja.
"Duduk." Ayah Kiandra menyuruh, ketika ia hendak pamit.
Aldo menurut.
Siang itu matahari bersinar terik. Sampai-sampai cahayanya menembus tembok kaca di belakang Ayah Kiandra, serta menciptakan efek backlight, yang membuat Aldo tak bisa begitu jelas melihat ekspresi pria itu.
"Sudah 10 tahun..." Ayah Kiandra seperti berguman seorang diri.
Aldo tak memberikan reaksi, selain hanya menyunggingkan senyum di bibir.
"Ya, ya, yaa..." pria tua itu manggut-manggut, lalu menjatuhkan punggung ke kursi kulit yang biasa di duduki oleh putranya. "Dari sekian banyak pelamar, kenapa aku bisa langsung tertarik untuk menjadikanmu Personal Asisten anakku?" ia bertanya.
Aldo tak menjawab, dengan senyum yang perlahan lenyap.
"Tentu saja, karena kau cerdas." ujar Ayah Kiandra. "Seperti Adam Adriansyah." ia melanjutkan.
Pria itu tetap tak bergeming.
Ayah Kiandra mencondongkan tubuh, serta meletakkan kedua tangan ke atas meja. "Kinerja dan dedikasimu selama 10 tahun sangat luar biasa. Bahkan anakku yang tak pernah dekat dengan siapapun, bisa sepenuhnya mempercayaimu." ia melihat Aldo dengan mata sipitnya yang berwarna cokelat terang.
Untuk sesaat keadaan menjadi hening, karena tak ada yang berbicara. Sampai Ayah Kiandra mengambil sesuatu dari balik kantong jasnya, kemudian menyodorkan ke depan pria itu. "Pergilah." ia memerintah. "Bahagiakan kedua orang tua yang telah susah payah merawatmu."
Aldo cuma memandang cek kosong yang di berikan kepadanya tanpa berkata apapun.
.
Setelah mengantar Anna kembali ke rumah keluarga Marthadinata, serta di warnai drama Ibu dan Kakak perempuannya yang memberondong dengan berbagai pertanyaan seputar, kenapa pulang pagi. Akhirnya sekitar jam dua siang, Kiandra sampai di kantor.
Ia baru akan memarkirkan mobil, ketika tak sengaja melihat mobil yang biasa di gunakan Ayahnya meninggalkan parkiran khusus Direksi.
Tumben Daddy ke kantor?
batinnya heran.
Namun, semua itu segera tertepis oleh dering telpon dari Kakak perempuannya yang tak berhenti.
"Mau apa lagi orang ini?" ia berdecak sembari melihat layar ponselnya yang menyala.
Kiandra mencoba mengabaikan. Tapi, benda pipih itu terus bergetar di balik jasnya. Akhirnya dengan setengah hati, di gesernya juga layar benda tersebut, sambil membuka pintu mobil.
"Halo?" ucapnya ogah-ogahan.
"Semalam kau tidak melakukan apa-apa dengan Delana, kan?" suara Kirana segera memenuhi gendang telinga.
Kening Kiandra langsung berkerut.
.
"Selamat siang, Chief." seorang Security yang membukakan pintu gedung memberi salam.
Kiandra hanya mengangguk sambil lalu.
"Selamat siang, Chief." beberapa staff yang tak sengaja berpapasan dengannya menundukkan sedikit kepala.
Kiandra membalas sapaan mereka dengan senyum simpul.
Sampai memasuki lift, ia masih mendengarkan Kirana mengomel tentang apa yang ia lakukan bersama Anna semalam.
"Kian? Halo? Hei, Kian, kau dengar apa yang aku katakan?" suara dari dalam speaker mulai kesal, karena sedari tadi di acuhkan.
Kiandra mendengus. "Aku sedang berada di dalam liff, sinyalnya susah. Bye." ia langsung mematikan sambungan.
Kecerewetannya sudah melebihi Ibu saja dia.
batin Kiandra bersamaan dengan pintu lift yang terbuka, dan ia segera melangkah keluar.
.
"Selamat siang, Chief." seorang staff yang melihat kehadirannya segera bangkit dari duduk, kemudian di susul rekan-rekannya yang lain.
"Siang." ia tersenyum, serta membalas sapaan para bawahannya, seraya berjalan lurus menuju ruang kerjanya sendiri.
.
Seperti biasa, gosip selalu terdengar di balik punggung Kiandra.
"Mungkin hubungan Chief dengan Pak Aldo di restui." bisik rekan satu profesinya.
"Ah! Iya, iya, tadi saja Tuan Besar sampai menemui Pak Aldo secara pribadi." bisik yang lain.
"Pasti karena Tuan Besar sudah mencium hubungan mereka." sambung yang lainnya.
Tiba-tiba terdengar seorang berdehem cukup keras, yang membuat gerombolan pengosip itu kaget.
Victoria dengan posturnya yang menjulang, telah berada di belakang mereka. Ia menatap sengit ke arah para wanita karir yang bukannya menyibukkan diri dengan pekerjaan, tapi malah asik memfitnah.
Mereka langsung mengeser kursi mereka yang beroda ke meja kerja masing-masing, tanpa berani menatap balik bodyguard kelahiran Jerman tersebut.
Bich!
umpat Victoria dalam hati sembari berjalan pergi.
.
"Akhirnya Anda datang, Chief." ujar Aldo sumringah begitu Kiandra masuk ke dalam ruang kerja.
Seperti biasa Kiandra cuek-cuek saja dengan sambutan Personal Asistennya yang luar biasa semangat itu.
"Saya sudah merangkum semua hasil meeting pagi ini." tanpa di tanya, Aldo sudah menyiapkan map yang sedari tadi sudah ia taruh di atas meja.
Kiandra duduk di kursi yang tadi di duduki Ayanhnya, seraya mengambil map tersebut dan membukanya.
Aldo yang duduk di hadapannya, dan hanya di pisahkan sebuah meja, mengamati tiap gerak-gerik CEO muda itu.
"Sepertinya semua berjalan lancar."kata Kiandra setelah selesai membaca laporan.
"Tentu saja, Chief!" ujar Aldo bangga.
Kiandra yang hatinya sedang senang, ikut tersenyum melihat gaya Personal Asistennya yang kadang kala kocak.
Siapa yang menyangka, ternyata dia anggota kerjaan Kelantan.
pikiran Kiandra masih terpaku pada Anna.
Pantas saja aku langsung menyukainya. Seleraku memang selalu istimewa.
dalam hati ia memuji diri sendiri.
"Sepertinya Anda sedang bahagia, Chief." Aldo berkata, karena melihat Kiandra tersenyum-senyum sendiri.
Kiandra yang sedang di awang-awang terkejut, kemudian berdehem beberapa kali sambil merapikan dasinya yang tak bercela. "Tentu saja aku bahagia." ia berujar tegas untuk menutupi kegugupan. "Profit perusahaan naik di tengah keadaan ekonomi yang baru pulih pasca covid-19. Itu sama artinya, aku mampu membuktikan pada semua, bahwa aku memang layak, dan bukan cuma sekedar mewarisi." ia menekankan.
Aldo terkekeh. "Ooh Saya kira Anda bahagia... karena semalam..." Aldo mengulum senyum.
Kening Kiandra seketika berkerut dengan muka merah. "Semalam apa? Kau pikir aku tipe laki-laki yang asal tanam benih?" ia kesal seharian di ributkan masalah 'semalam'.
"Tentu tidak, Chief." ujar Aldo cepat. "Saya kenal baik Anda seperti apa, dan yang seperti itu, tidak mungkin Anda lakukan."
Kiandra sudah membusungkan dada mendengar pujian Personal Asistennya tersebut.
"Kecuali dengan wanita bernama Anna itu." lanjut Aldo mengoda.
"A, apa kau bilang?" Kiandra sampai berdiri sangking tertohoknya.
"Tidak Chief, tidak!" Aldo mengibas-ngibaskan tangannya, sambil menahan geli melibat ekspresi Kiandra yang bagai tomat rebus.
"Kau sudah bosan kerja di sini, hahh?" Kiandra yang malu marah-marah.
"Ampun, Chief. Saya tidak berani. Tadi cuma bercanda, sumpah." Aldo pura-pura memohon di sela tawa.
.
Victoria yang berjaga di luar, sayup-sayup mendengar perseteruan CEO dan Personal Asistennya yang bak anak kecil, dan hal tersebut makin membuat hatinya berkecambuk.
.
"Chief, pulang kerja Anda ada acara?" tanya Aldo yang sudah bersiap kembali ke ruangannya.
"Kenapa?" tanya Kiandra ketus, karena masih kesal dengan olok-olokan tadi.
Aldo tersenyum. "Hari ini saya ulang tahun, dan ingin sekali-kali mentraktir Anda." ia menjawab.
Kiandra menaikkan satu alis dengan tatapan menyelidik.
"Yah... kalau Anda sibuk, saya maklum Chief." Aldo garuk-garuk kepalanya yang tak gatal. "Saya permisi." ia menunduk, lalu berbalik dan membuka pintu.
.
Di depan Aldo langsung bertatap muka dengan Victoria yang berjaga.
"Hai, Vic." pria itu melambaikan tangan dengan senyumnya yang lebar. "Kita bertemu lagi." intonasi suaranya seketika berubah dalam, kemudian berjalan melewati wanita itu dengan raut dingin.