Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
PERASA-MERASA



"Kenapa wajahmu seperti itu?" tanya Kiandra tanpa dosa.


Anna yang duduk di sampingnya tak menjawab. Dia terpaksa ikut dan dengan berat hati meninggalkan motor milik Nisa begitu saja di pinggir jalan.


"Kan aku sudah bilang. Setengah jam lagi akan ada orang yang mengangkut motormu itu dan mengantar sesuai alamat yang kau beri." Kiandra menerangkan.


"Bagaiman kalau sebelum ada yang datang motor itu di curi?" setelah tiga puluh menit lebih perjalanan. Akhirnya Anna mau membuka mulut. Itupun karena dia tak tahan menahan kalut akan keamanan motor milik Nisa yang biasa di gunakan untuk operasional toko.


"Siapa yang mau mencuri motor buntut seperti itu?" Kiandra tak bermaksud menghina. Ia hanya membicarakan kenyataan, bahwa motor itu memang sudah tua dan mustahil di ambil orang. Apa lagi dalam keadaan mogok seperti itu.


Tapi, yang di tangkap Anna dari cara bicara Kiandra yang tegas dan tak berperasaan, itu adalah penghinaan.


"Anda tidak pernah lihat berita di televisi, kalau besi untuk gorong-gorong pun di ambil untuk di jual?" ujar Anna kesal.


"Aku berhenti melihat televisi sejak lulus sekolah menengah pertama." Entah jujur atau bohong. Tapi, intonasi serta raut Kiandra menunjukkan keseriusan.


Anna syok sampai tak mampu berkata.


Kiandra melirik Anna sesaat, sebelum kembali fokus menyetir.


"Kalau memang nanti hilang, akan aku ganti dengan motor yang baru." ia berkata begitu untuk menenangkan. Tetapi, lagi-lagi Anna tak menangkap maksud ucapannya.


"Ini bukan masalah hilang terus di ganti. Tapi soal tanggung jawab. Motor itu milik bos ku. Bagaimana kalau aku di pecat?"


"Ya keluar saja." Kiandra menanggapi santai. Ia putar kemudi mobil untuk masuk ke sebuah gedung bertingkat tiga.


"Kau bicara begitu karena merasa hebat kan? kau ini tidak.."


"Kau atau anda? kalau ngomong yang benar." Kiandra menghentikan laju mobil dan menoleh ke arahnya.


Seketika wajah Anna memerah, sebab seharusnya dia memanggil Kiandra dengan sebutan anda dan bukan kau.


Ini semua karena aku terlalu emosi.


Anna berkata dalam hati.


Ia sedang intropeksi diri, ketika melihat Kiandra sudah membuka kaca tengah mobil dan merapikan diri.


Pria itu juga menyemprotkan parfume dari Yves Saint Laurent La Nuit De L' Homme, yang dia ambil dari dasborad, lalu sempor ke beberapa titik leher dan baju.


Wangi bergamout dan Lavender yang berbaur dalam wewangian kelas dunia itu memenuhi indra penciuman Anna.


Ia perhatikan botol parfume berwarna hitam yang baru saja Kiandra letakkan di dekat kopling.


Ingatan Anna melambung, dimana ia pernah menghadiahkan parfume tersebut kepada seseorang yang tengah berulang tahun.


"To the word, you may just be one person. But to me, you're are the word. Have a wonderful birthday My Rico."


Bayang-bayang dirinya tersenyum bahagia dengan membawakan kue ulang tahun dengan lilin-lilin yang menyala di atasnya terlintas.


Rico...


Anna tertunduk. Bahkan waktu dan sakit hati tak mampu menghapus rasa cintanya yang begitu dalam.


"Ayo turun." ajakan Kiandra menbuat Anna tersadar dari lamunan.


"Turun?" Anna kebingungan. Ia lihat sekeliling yang di penuhi mobil-mobil berjajar.


Tempat parkir?


Anna menebak dalam hati.


"Kenapa kau selalu mengulangi pertanyaanku?" tanya Kiandra dengan kening berkerut.


"Bukan begitu. Tapi ini dimana? kau membawaku kemana? aku harus bekerja. Antar aku ke toko bunga, bukan ke tempat ini." Anna mulai panik.


Kiandra menghela nafas, kemudian menatap Anna baik-baik.


"Pertama, ini di daerah Sisingamangaraja. Kedua, aku akan membawamu makan. Aku lapar dan belum makan siang." Kiandra menekankan pada kalimat terakhir.


Kedua mata Anna melebar. "Aku harus ke toko..."


"Iya, aku kan mengantarmu ke toko bunga." potong Kiandra cepat.


"Tapi nanti, setelah kita makan." ucap Kiandra kemudian membuka pintu mobil.


Anna tercenung. Tetapi, itu hanya sesaat, sebelum ia ikut turun.


"Kenapa tadi tak meminta persetujuanku lebih dulu? aku harus bekerja. Bagaimana nanti dengan Tante Nisa?" Anna berusaha menjelaskan pada Kiandra yang kini telah rapi dengan jas dan tampilannya yang tak bercela.


Sebaliknya, Anna tetap terlihat sama kumalnya dengan yang tadi. Hanya kali ini wajahnya tak terlalu terlihat mengkilat, karena cukup lama berada dalam mobil berpendingin.


"Aku yang akan membereskan." Kiandra berkata tenang dan melengang santai tanpa beban. Padahal wanita di sampingnya itu sudah gelisah tak karuan.


Anna meneguk ludah. Berkali-kali ia mengeluh dan membodohkan diri sendiri dalam hati.


Dia juga hampir menangis, ketika menyadari kini ia tak tahu ada di daerah mana dan bagaimana ia kan pulang nantinya.


"Kenapa malah berdiri di tengah jalan?" seru Kiandra dari kejauhan.


Anna menatap pria itu sengit. Tetapi, kemudian ia menghela nafas panjang dan berjalan lunglai kearahnya.


Ya Tuhan...tolong aku...


Anna betul-betul frustasi dengan hidupnya.


.


Mereka berdua masuk ke sebuah pintu kaca yang otomatis di bukakan oleh dua orang pelayan wanita berkostum yukata.


"Irrasaimase." sapa keduanya hampir bersamaan.


Anna yang mengekor Kiandra menjelajah sekelililing. Ia pandangi kedua pelayan berpakaian yukata yang membungkuk ketika ia lewat.


Ini seperti di restoran jepang...?


Anna mengira-ngira dalam hati.


Sudah lama sekali aku tak makan sushi.


Anna senang dan sedikit melupakan kekesalnya. Ia sudah membayangkan lezatnya gulungan nasi lembek yang di bungkus nori dengan berbagai varian isi tersebut.


Aku tak tahu diri sekali.


Anna hampir memukul kepalanya sendiri untuk menyadarkan dirinya agar tak terlalu terlena.


"Tuan Kiandra?" seorang pria dengan kemeja warna senada yukata yang di pakai para pegawai lain menyambut. "Tumben anda ke sini tanpa pemberitahuan lebih dulu." ia tersenyum ramah.


"Iya, kebetulan saya sedang berada di daerah sini."Kiandra menjawab. Tapi, pandangannya masih berkeliling. "Ramai ya?" lanjutnya basa-basi.


"Ah, itu karena bertepatan dengan jam makan siang." pria yang merupakan Manager pengelola menjelaskan. "Tapi, untuk Tuan Kiandra akan selalu ada kursi terbaik yang akan kami persiapkan." sedikik membungkuk, pria tersebut mempersilahkan Kiandra untuk masuk ke dalam.


Diam-diam Anna yang memperhatikan dari balik punggung Kiandra tersenyum simpul.


Pengunjung yang lebih dulu datang dan tengah menikmati makanan melirik ke arah mereka, ketika si Manager membawa Kiandra dan Anna memasuki ruangan yang lebih ekslusif.


Awalnya Anna tak merasa. Tetapi, akhirnya ia sadar, jika orang-orang itu sedang menelisik penampilannya yang sangat tak cocok dengan restoran mewah berkonsep jepang tersebut.


Perasaan rendah diri itu langsung menguasai.


"Pak..." suara Anna yang memanggil Kiandra hampir tak terdengar, sebab Kiandra dan si Manager sedang berjalan berdampingan dan mengoborkan sesuatu.


Anna yang berada di belakang Kiandra makin tertunduk. Orang-orang dengan tampilan rapi dan wangi itu seolah sedang berbisik merendahkan dirinya yang kumal.


"Pak.." kembali Anna memanggil. Ia ingin meraih baju pria itu, tapi urung.


Anehnya, seolah sadar Anna yang hampir menangis karena merasa tak pantas berada di tempat itu, Kiandra menoleh kebelakang.


Kedua mata Anna yang menatap Kiandra tanpa bicara sudah meremang. Jelas wanita itu tak nyaman berada di situ.


Namun, Kiandra tak mempedulikannya dan malah melanjutkan obrolan.


Anna marah dan hendak berbalik arah. Tetapi, tanpa di duga Kiandra sudah meraih pergelangan tangannya.