
Raut Victoria seketika menegang, ketika ia mendengar apa yang Ayah Kiandra sampaikan lewat sambungan telepon.
Semakin ia menyimak, maka ketegangan di wajahnya berubah menjadi kekalutan. Tapi, tak sekalipun ia menyela ataupun membantah apa yang di ucapkan oleh majikannya tersebut.
"...Jaga. Jangan sampai mereka hanya berdua." Ayah Kiandra menyudahi cerita dengan sebuah perintah.
" Baik." dengan patuh Victoria menjawab. Ia terdiam sesaat, sebelum kembali melanjutkan. "... Atau anda ingin saya membereskannya malam ini, agar Chief..."
"Tidak." potong suara dari dalam speaker tegas. "Kita tak bisa gegabah dalam hal ini, karena aku tak mau Kian salah paham. Kau tahu kan, sejak peristiwa itu hubungan kami tak begitu dekat."
"Saya mengerti, Tuan." Victoria patuh.
"Terus awasi saja diam-diam. Lalu jangan biarkan dia hanya berdua dengan Kian dan pasang cctv berukuran micro di ruang kerja-nya." Ayah Kiandra kembali memerintah.
Ingatan wanita cantik dengan rambut panjangnya yang masih basah itu mendadak melompat ke kejadian beberapa hari lalu, di mana ketika itu ia mempergoki dia sedang sendiri di ruangan Chief dan berdiri membelakangi lemari berisi brangkas.
Tentu saja brangkas tersebut tak berisi uang, sebab sang Chief bukan tipe yang suka menyimpan uang dalam jumlah banyak di kantor. Tetapi, nilai dalam isi brangkas tersebut lebih mahal dari hanya sekedar gepokan uang, yaitu dokumen informasi terkait perusahaan Marthadinata-Sanjaya Groub.
Ekspresi Victoria makin menegang, kala mengingat moment di suatu Mall dan melihat dia seperti membawa benda tajam yang siap di hunuskan kepada Chief -nya yang berjalan lebih dulu.
Bibir Victora mengatup rapat dengan perasaan was-was. Selama ini ia berusaha menyangkal, tapi jika Ayah Kiandra sendiri mengatakan demikian, berarti instingnya waktu itu benar.
"Jaga rahasia ini." Ayah Kiandra berpesan, membuat Victoria terbangun dari lamunan. "Pura-pura lah tak tahu sampai aku menyelidiki kebenaran tentang motif orang itu." lanjut pria tersebut dengan suaranya yang dalam. "Jika benar dia selicik itu, maka aku sendiri yang akan menghabisinya."
"Tuan Besar..." Victoria tak mampu melanjutkan kalimatnya, karena hatinya kini di penuhi kebimbangan.
"Aku tak kenal dosa, Vic. Jika itu menyangkut siapapun yang berani mencelakai istri dan anak-anakku." ucap Ayah Kiandra sebelum ia menyudahi sambungan telpon.
Tinggal Victoria yang masih duduk di ruang tamu apartemennya yang hening. Tak ada suara apapun di dalam ruangan minim perabot tersebut. Perlahan ia letakkan ponselnya yang telah mati ke atas meja, lalu menjatuhkan punggung ke sofa.
Pandangan Victoria tajam menatap tembok putih di ruangan tersebut, sedangkan pikirannya melayang kepada seseorang.
Bagaimanapun sejak kecil Ayahnya mendidik secara militer, tapi Victoria tetaplah seorang wanita normal. Dan kini ia bimbang antara tugas serta perasaan yang baru saja di semainya.
Selama bertahun-tahun ia dan keluarganya hidup dengan cara melindungi yang satu dan membinasahkan yang lain. Siapa yang mampu membayar lebih mahal, maka di situlah dia dan keluarganya akan setia.
Hidup di medan perang, kehilangan orang-orang terkasih dan dalam keadaan lapar serta kedinginan, sudah Victoria rasakan. Darah dan penyiksaaan tak pernah membuatnya gentar.
Namun, kini hanya dengan Tuan Besarnya menyebut satu nama, sudah membuatnya takut untuk menodongkan senjata.
"Der verraeter." ucap Victoria dengan mata berkaca-kaca.
.
Malam makin larut saat mobil Toyota Alphard 3.5 Q A/T warna graphite yang di naiki Ayah Kiandra melaju di jalan tol yang sudah lengang.
Tak ada suara musik atau apapun di dalam mobil mewah tersebut. Si Sopir berkonsentrasi penuh dengan setirnya, sembari berharap secepatnya sampai ke kota asal, karena ia sudah sedemikian lelah dan mentari di ufuk timur akan segera menyapa.
Duduk di kursi belakang yang luas dengan jog nya yang berlapis bulu tebal imitasi, Ayah Kiandra masih merenung mengamati ponselnya yang nampak benderang di kegelapan mobil. Sampai akhirnya ponsel yang tengah memperlihatkan foto seorang bayi itu perlahan meredup dan mati.
Di dunia ini yang paling ia takuti adalah kehilangan keluarga. Lebih baik ia yang menanggung semua karma, jika memang yang namanya karma dari perbuatan masa lalu adalah benar ada.
Pria dengan fisik sepuh dan rambut seputih salju itu tertunduk mengenang kejadian beberapa tahun lalu.
"Buat seolah-olah seperti kecelakaan."
perintahnya ketika itu.
Ayah Victoria menyanggupi dengan anggukan pasti.
Kemudian ingatan-nya mundur ke beberapa hari sebelum ia memberi perintah kepada bodyguard yang merangkap pembunuh bayaran berkebangsaan Jerman tersebut.
"Daddy, kenapa Daddy tidak jujur saja tentang Dave?" tangisan dari putri kesayangannya itu membuatnya merasa bersalah.
Ingin ia memenuhi permintaan itu. Tetapi, ia sudah berjanji kepada seseorang untuk menyimpan rapat semua. Mau apapun yang terjadi, Dave akan tetap di akuinya sebagai anak kandung.
Namun, fitnah yang di sebar melalui media sosial oleh keluarga itu makin kejam dan hampir membuat putrinya ingin mengakhiri hidup.
Di tengah gencarnya pemberitaan yang membuatnya gagal sebagai kepala keluarga Marthadinata dan juga sebagai seorang Ayah. Suatu malam Dave datang menemuinya. Putranya yang berwajah sama dengan mendiang saudaranya itu terlihat sama lesunya dengan dirinya.
"Dad, ijinkan aku membawa Kirana pergi." ucap Dave yang ketika itu masih berusia tiga puluh enam tahun dan baru beberapa bulan menikah dengan putrinya.
Seharusnya saat itu mereka berbulan madu dan meneguk indahnya mahligai pernikahan, setelah penantian yang begitu panjang agar bisa bersama.
Kedua mata tua Ayah Kiandra meremang di kegelapan mobil mengingat semua.
"Andre, aku titip Dave."
permohonan terakhir dari mantan istrinya yang terbaring lemah, makin membuatnya tak kuasa menahan air mata.
Ia bisa saja tetap terlihat arogan serta tak peduli di depan semua. Tapi jika sendiri, ia tak mampu menyembunyikan semua beban kesedihan.
Tiba-tiba ponselnya berdering, Ayah Kiandra segera menghapus sudut matanya yang basah dengan punggung tangan, lalu meraih alat komunikasi tersebut.
Wajahnya seketika menjadi cerah melihat siapa yang menelpon.
"Halo, sayang." ia berkata setelah mengeser tombol hijau.
"Sampai mana? Hari hampir pagi, tapi kenapa belum pulang?" suara wanita bernada khawatir itu secara ajaib membuat hatinya bungah.
"Sudah masuk kota. Tidak ada setengah jam lagi sudah sampai rumah." ia menjawab santai.
"Astaga...dari mana sebenarnya kau ini? Ingat, jaga kesehatan. Jangan terlalu memaksakan diri. Minggu ini perayaan anniversarry pernikahan kita, bagaimana kalau kesehatanmu memburuk? Lalu bagaimana rencana supaya Kian dan Kirana..."
Ayah Kiandra merebahkan kepala ke jog, lalu memejamkan kedua mata dan tersenyum damai. Ia selalu menikmati saat-saat di omeli istrinya seperti ini.