
Ibu Kiandra dengan semangat mengajak Anna berkeliling dari store satu ke store lainnya.
Di salah satu Mall besar di Ibu Kota tersebut, hampir semua butik mereka jelajahi hanya untuk membeli keperluan wanita yang baru tadi pagi mendapat pernyataan cinta dari putra semata wayangnya.
"Waah... jadi semakin cantik." Ibu Kiandra sumringah setelah memoleskan lipstik YSL Beauty Slim Velvet Radical Matte no. 303 ke bibir Anna yang tadinya pucat.
Anna yang wajahnya berubah cerah karena lipstik yang baru saja Ibu Kiandra pakaikan tertunduk malu mendengar pujian tersebut.
Sesudah membeli baju dan alas kaki, sekarang Ibu Kiandra membawanya ke store Yves Saint Laurent, setelah ia tak bisa menentukan pilih make up atau skincare.
Di dalam toko yang hanya ada mereka sebagai pengunjung, tanpa basa-basi Ibu Kiandra segera membeli beberapa perlengkapan make up dan juga parfume.
Anna hanya mengikuti di belakang, serta menurut saja jika si Ibu menyuruhnya mencoba sample-sample produk.
Dua orang pegawai dan seorang SPV dengan sangat ramah melayani istri dari salah satu konglomerat di Indonesia tersebut.
Biasanya istri-istri pejabat atau pebisnis memang sering berbelanja di sini. Tapi, khusus untuk Nyonya Marthadinata yang pasti akan membeli apapun yang di pegangnya, mereka akan memberi pelayanan ekstra.
"Tahun lalu, parfume ini mendapat award untuk wanginya yang pasti membuat Anda pun menyukainya." SPV YSL sendiri yang mengambilkan sebuah parfume, ketika Ibu Kiandra bingung memilih dari deretan botol-botol minyak wangi di etalase.
"Oya?" wanita itu mengambil botol berwarna bening dengan motif huruf YSL warna emas yang di pilihkan si SPV dan membandingkan dengan parfume lain bertuliskan Black Opium warna pink di tengahnya.
Ia menoleh ke belakang, seraya memperlihatkan dua botol parfume tersebut. "Delana, kau pilih yang mana, nak?" tanya-nya sambil tersenyum.
Anna meneguk ludah susah payah, sebab ia tahu harga-harga parfume tersebut sangat mahal, hampir setara dengan tiga bulan gajinya di toko bunga dulu.
Sebetulnya ia ingin menolak, karena takut di anggap memanfaatkan atau lebih parahnya lagi di anggap matrealistik. Tetapi, senyum ramah, serta sikap Ibu Kiandra yang begitu lembut dan baik, membuat Anna tak kuasa menolak.
"... Yang ini aromanya lebih classy dan saya menyukainya." Anna berkata perlahan setelah menciumi sample produk satu persatu.
"Pilihan yang tepat." Ibu Kiandra mengedipkan satu mata. "Libre memang yang terbaik dari semua koleksi parfume Yves Saint Laurent." ia tersenyum lebar. "Ibu juga menyukai wanginya." ia berkata sambil memberi kode dua jari kepada SPV store yang berada di sampingnya.
Dengan cepat si SPV menyuruh bawahannya untuk mengambilkan dua botol YSL Beauty Libre Eau De Parfume for Women.
Melihat itu semua, Anna jadi teringat Kiandra yang pernah menghadiahinya seperangkat make up dari brand yang tidak kalah terkenal dari YSL Beauty.
"Bu, saya.. anu..." Anna hendak memberi tahu si Ibu agar menyudahi membelikannya sesuatu, sebab yang di terimanya sudah begitu banyak.
Namun, wanita tua tersebut menaruh jari telunjuknya di bibir, kemudian kembali berkeliling toko dan lebih mendengarkan si SPV store yang tengah menjabarkan produk new arrival-nya.
Bagaimana ini...?
Anna meremasi jemari tangangannya gelisah.
"Silahkan di minum, kak." Tiba-tiba Seorang pegawai wanita sudah menyuguhkan dua cangkir teh hangat dan makanan ringan di atas meja.
"Eeemmm...Te, terima kasih." Anna yang kaget menjawab kikuk, lalu duduk di sebuah sofa besar yang terdapat di tengah store.
Mendadak kedua mata Anna melebar saat baru saja duduk dan melihat pantulan cermin yang kebetulan berada tepat di hadapannya.
Hanya dengan merubah sedikit tatanan rambut dan memoles lipstik, Anna seolah menemukan jati dirinya yang hilang.
"Tengku Delana Amirah Petra." Ia mengumankan namanya sendiri. Nama yang sudah begitu lama di lupakan dan tak seorang pun memanggilnya begitu.
Aku...
batin Anna terharu memandang sosoknya di cermin.
.
Matahari hampir tenggelam, saat Ibu Kiandra menyudahi jalan-jalan dan mobil yang mereka naiki melaju di tengah jalan raya.
Anna pikir, mereka akan pulang ke rumah. Tetapi, mobil jenis sedang itu ternyata berhenti di tempat lain.
Anna keluar dari mobil yang pintunya di bukakan oleh salah satu bodyguard yang mengawal dengan mobil lain yang memgikuti di belakang.
"Capek, kan?" tanya Ibu Kiandra yang masih saja mengumbar senyum.
"Bu, saya..." Anna langsung gugup.
Tak mau menunggu Anna menyelesaikan kalimatnya, si Ibu segera mengandeng lengannya masuk.
Di dalam Spa dan Salon ekslusif yang peruntukan untuk kaum hawa tersebut, Anna terpana oleh interiornya yang bergaya timur tengah, serta ruangannya yang betul-betul private.
Sepertinya Ibu Kiandra salah satu member VIP di situ, dan hal tersebut di buktikan dengan pelayanannya yang sopan, ramah, serta tahu treatment apa yang hendak beliau lakukan.
Meski sungkan, tapi Anna menurut saja, ketika si Ibu menyuruhnya ikut masuk ke dalam ruangan dalam yang lebih privasi.
Di kamar bergaya timur tengah itu, terdapat dua ranjang kecil, dua bak mandi dan dua tempat ratus. Masing-masing di sekat oleh tirai berwarna hijau, yang senada dengan warna sprei dan handuk.
"Silahkan kak, bajunya di lepas, lalu ganti dengan ini." kata Terapis wanita dengan seragam kebaya bali warna merah, kemudian menyerahkan kimono berbahan kain tipis.
"Iya. Terima kasih..." ragu-ragu Anna menerima kimono tersebut. Sementara di ruangan sebelah yang di sekat tirai, si Ibu sudah lebih dulu di layani Terapis wanita lain.
Perlahan Anna menanggalkan satu persatu kancing blous-nya sambil memandangi diri di cermin yang terdapat di meja rias.
Ruangan yang temaram dengan lampu lima watt warna kuning, membuat kulit tubuhnya nampak bersinar. Anna tertunduk malu. Entah sudah berapa lama ia tak merawat tubuhnya seperti ini.
Apa aku boleh menikmati semua ini?
ia masih saja merasa tak enak.
Instrumen khas Arab mengalun lembut, seolah ikut merelaksasi pengunjung, agar sejenak bisa meletakkan beban hidup dan menikmati waktu bersantai.
Anna sudah tengkurap dan menikmati pijatan-pijatan lembut di punggungnya yang memang sangat pegal.
Nyaman sekali...
ucapnya dalam hati, seraya menghirup dalam-dalam aroma lavender dari lilin aromatherapi khusus yang di nyalakan di sudut ruang.
Anna hampir saja memejamkan mata, ketika tiba-tiba kordeng yang menjadi pembatas di buka separuh, dan memperlihatkan Ibu Kiandra yang memakai kimono, sedang duduk serta tengah di pijat kedua kakinya.
"Kau mengantuk?" ia bertanya.
"Iya, Bu." jawabnya sembari tersipu malu.
Ibu Kiandra terkekeh. "Aku juga sering ketiduran saat di massage."
Anna tersenyum menanggapi.
Spa seperti ini memang membuat urat-urat yang tadinya tegang menjadi mengendur. Begitupun Anna yang sedari tadi terus merasa was-was, kini perlahan bisa rilex dan nyaris ketiduran karena begitu nyamannya.
"Menurutmu, apa yang membuat Kian menyukaimu?" tanya si Ibu, ketika Anna baru saja selesai di scrub dan kini punggung-nya di olesi masker.
Anna tak bisa menjawab, karena memang ia tak tahu.
Ibu Kiandra tersenyum melihat ekspres-nya yang kebingungan. "Kau apa adanya Delana." jawabnya kemudian.
Kedua mata Anna membulat sempurna.
"Kau jujur dan apa adanya." Si Ibu menambahkan.
Mendadak nurani Anna nyeri oleh ucapan yang di sampaikan begitu tulus itu.
"Bu, soal Tuan Muda..." Anna bangkit dari tidur tengkurapnya sambil menutupi bagian dada dengan kain yang sudah di sediakan.
"Sudah, nikmati saja spa nya." potong si Ibu sambil tersenyum. "Setelah ini, pakai baju baru yang tadi kita beli dan berdandan sekalian yang cantik di sini."
Anna tak mengerti.