Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
GOSIP



"Handle sisa pekerjaanku hari ini." Pesan Kiandra begitu mereka keluar dari ruang meeting.


Aldo yang mengikuti di belakang mendekat.


"Aku ada urusan di luar, dan kemungkinan tak kembali ke kantor." Ia melanjutkan.


"Maksudnya anda ijin pulang cepat?" Aldo tersentak.


Langkah Kiandra seketika terhenti, membuat Aldo dan Victoria yang berada di belakang ikut kaget.


"Siapa yang meminta ijin?" tukas Kiandra dengan kening berkerut.


"Ma, maksud saya bukan begitu, Chief." Aldo mencoba menjelaskan. "Tapi..."


Mata Kiandra menyipit menatap asisten pribadinya itu, lalu memalingkan muka.


"Chief." Bergegas Aldo menyusul.


Victoria menyembunyikan rasa geli melihat adegan dua pria yang terlihat seperti anak kecil di matanya.


"Lihat, Pak Aldo main kejar-kejaran dengan Chief." bisik salah satu karyawan, ketika rombongan mereka melintasi koridor yang bersebelahan dengan ruangan pekerja.


"Seperti di film-film India." Rekan yang duduk satu deret ikut terkekeh.


"Aku tak mau melihat, bikin sakit hati " Ucap yang lain dengan muka masam.


Baik Kiandra, Aldo, bahkan Victoria tak sadar jika tengah menjadi pusat perhatian satu ruangan. Mereka lewat begitu saja, lalu berjalan masuk ke lift yang akan membawa ke ruang kerja CEO.


"Percuma aku dulu cemburu pada Victoria, karena di banding cewek blasteran itu, Chief tetap memilih Pak Aldo." Wanita berambut pendek dengan setelan baju kerja warna maroon itu terlihat kecewa.


"Hanya pesona Pak Aldo yang bisa mencairkan Chief kita yang sedingin es batu." Cetus karyawan dari meja lain.


"Idiiiiih..gelii.." kawan setim nya pura-pura jijik.


"Otakku langsung traveling tiap kali melihat Pak Aldo masuk ke ruang kerja Chief selama berjam-jam."


"Astaga..."


"Coba bayangkan bagaimana..."


"Tidak mungkin..."


"Di ruangan Chief kan ada sofa besar-nya."


"Ya Ampun..."


Rumpian mereka berkembang ke fantasi liar tentang hubungan Kiandra dan Aldo.


Mereka berlomba-lomba menambahkan 'bumbu', agar obrolan makin 'nendang.'


Tertawa cekikihan sembari melihat sekitara, kalau-kalau ada yang mendengar. Kemudian melanjutkan perbincangan yang mereka sebut 'hiburan' di kala suntuk bekerja.


Memang terasa menyenagkan, jika bertemu teman sefrekuensi dan ada bahan untuk di gosip, kan bukan?


.


"Maaf saya tidak bisa menuruti perintah anda, Chief." Tolak Victoria begitu Kiandra selesai berbicara.


Pria yang bersiap membuka handel pintu itu seketika berbalik arah.


"Tugas saya menjaga keselamatan anda, dan itu mutlak." Ia menatap pria jangkung di hadapannya.


Aldo yang berada di samping mereka gelisah. Sebenarnya dia ingin menengahi. Namun Aldo tak ada kapasitas untuk itu.


Bagaimana pun Kiandra adalah Atasanya. Sesuka apa pun dia pada Victoria, Aldo harus sadar posisinya adalah bawahan dan mereka masih berada dalam lingkup perusahaan.


"Aku tegaskan sekali lagi, kau pergi dengan Aldo ke Tawangmangu!" Postur Kiandra yang tinggi dan ekspresinya yang galak serasa mengintimidasi.


Tapi Victoria yang pernah menjadi mata-mata Tiongkok dan turut serta dalam perang timur tengah, tentu tak gentar hanya dengan hal seperti itu.


"Saya telah di ambil sumpah oleh Tuan Andreas, Ayah anda, untuk menjaga dan melindungi anda dengan nyawa saya." Tandas Victoria berani.


"Kau ingin kehilangan kunci kontak motormu lagi?" Kiandra mengertak.


"Ich iehne ihre bestellung ab." ( Saya menolak perintah anda.) Victoria tetap teguh pada pendirian.


"Hanya Tuan Andreas yang bisa merubah perintah yang di tugaskan pada saya." Wanita itu melanjutkan.


Aldo telah bersiap, seandainya si Chief  akan berbuat sesuatu pada Vicoria.


Tapi yang di khawatirkan Aldo tak terjadi. Kiandra hanya mendengus, lalu segera pergi meninggalkan ruang kerja.


"Emosi Chief akhir-akhir ini sedang tak stabil, apa salahnya kau menurut?" Aldo menghadang langkah Victoria yang hendak mengikuti.


"Weg da!" (Minggir!)


"Kita berangkat bersama sesuai keingin Chief. Setelah sampai sana, kau bisa pulang diam-diam dan mengawasi beliau kembali seperti biasa." Aldo memberi solusi.


"Get out!" (Minggir) Vicoria marah.


Aldo malah melipat kedua tangan dan nyengir kuda.


Wajah Victoria yang memberi kesan tak ramah, makin terlihat menakutkan dengan kedua alisnya yang menyatu. Namun bagi Aldo, ekspresi Victoria yang seperti itu makin membuatnya mabuk kepayang.


Mungkin karena wanita dan Aldo sedang jatuh cinta, hingga dia menyepelekan apa yang di anggap penting oleh Victoria.


Tetapi harusnya Aldo sudah tahu, tak mungkin Ayah Kiandra mempercayakan keselamatan anaknya itu di tangan seorang bodygurad wanita, jika si bodyguard tak memiliki keistimewaan.


Mata Aldo melebar, ketika dengan mudah Victoria menyingkirkan dirinya. Sampai pria tersebut terlempar ke samping, dan menubruk meja sampai letaknya bergeser.


Aldo mengerang kesakitan, karena siku dan punggungnya terhantam kaki meja.


Sedang Victoria telah mengejar tanggung jawab besar yang ia sanggupi untuk jaga.


"Bisa-bisanya dia melakukan ini padaku." Aldo memijit pundaknya yang terasa nyeri bukan main. "Awas saja, aku akan belajar boxing." Ia mengancam, kemudian kembali meringis kesakitan sampai menyandarkan diri pada meja.


.


"Ngapain ke sini?" tanya Ethan malas-malas. "Tidak lihat di luar banyak pasien antri?" ia merapikan seragam dokternya.


Kiandra yang telah menanggalkan jas serta dasinya, kini duduk berhadapan dengan Ethan di dalam ruang kerja pria berkacamata tersebut.


"Cuma sebentar." Kiandra berdalih.


"Sebentarmu ini sudah sepuluh menit dan kau dari tadi cuma diam." Ethan meminum sisa teh tadi pagi yang di sediakan pihak rumah sakit. "Mau aku resepkan sanmol supaya otakmu nggak ngelag?"  Dokter anak kesayangan ibu-ibu itu menunjuk-unjuk pelipis.


Kiandra cuma diam.


Heh? Tumben bacotnya nggak ngomong? Ethan terkejut, sebab biasanya mereka akan saling lempar sindiran dan hinaan.


Tetapi kali ini teman berseterunya itu terlihat lesu seolah kurang makan.


Ethan menghela nafas, kemudian bertopang dagu memandangi Kiandra yang tak biasanya keluyuran pada jam kerja seperti ini.


"Kau masih kepikiran si target itu?"


Pertanyaan Ethan membuat Kiandra bereaksi. Namun baru saja ia hendak membuka mulut, suara ketukan pintu terdengar, membuat ia mengurungkan niat untuk bercerita.


Seorang perawat wanita masuk dan tersenyum ramah.


"Maaf, Dok, bisa di mulai sekarang? Pasien sudah banyak yang menunggu." Ia memberi tahu.


"Aku pulang saja."


Kiandra telah berdiri lebih dulu, sebelum Ethan menjawab.


"Kalau penting kau bisa menungguku." si Dokter berseru.


"Tak penting." Kiandra melambaikan tangan tanpa melihat.


Aneh sekali dia. Kening Ethan berkerut.


Perawat yang masih berada di dekat pintu menyingkir sampai mepet tembok. Dia sampai melongo, ketika memandang wajah Kiandra yang lewat di hadapannya.


Untung gantengnya alami, jadi pantas di kagumi. Ethan yang melihat berkata dalam hati. Tapi aku juga tak kalah ganteng, jadi sudah pasti, aku juga di kagumi." ia menyimpulkan sendiri dan bangga sendiri.


"Ayo kita mulai." Ethan memerintahkan, setelah ia merapikan rambut dan tersenyum beberapa kali di depan cermin kecil yang terpasang di sudut.