Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
PENDAMPING



Awalnya Rico terlihat kaget, kemudian tergelak.


"Maaf saya tertawa." ia berkata setelah tawanya reda. "Tapi, lelucon anda sungguh menghibur." ia mengusap ujung matanya yang sampai berair.


Kiandra masih tersenyum menanggapi.


"Kau ingat wanita yang jatuh di samping meja kita, Sayang?" tanya Rico pada Radha yang tengah menikmati peking duck-nya.


"Wanita yang mana?" dari ekspresinya, Radha benar-benar terlihat tak tahu.


"Di restoran jepang." Rico mengingatkan.


"Ah!" Radha berseru. "Ya, aku ingat." ia berkata. "Aku bersimpati padanya, pasti malu sekali jatuh di tengah ruangan dan jadi pusat perhatian seperti itu." Radha melihat Kiandra dengan ekspresi memelas.


"Mr. Kiandra bilang, wanita itu pendampingnya." Rico kembali terkekeh.


"Anda pandai sekali melucu." Radha menutup mulutnya yang tertawa lebar.


Mendadak senyum yang sedari tadi tersungging di bibir Kiandra lenyap.


"Di bagian mana yang kalian anggap lucu?" tanyanya serius.


Sekali lagi Aldo meneguk ludah. Tapi ia memilih diam, sebab takut jabatannya yang jadi korban.


"Tentu saja di bagian anda menyebut wanita itu pendamping." Rico yang menjawab.


Kening Kiandra sedikit berkerut. Hampir-hampir ia tak bisa menyembunyikan ketidaksukaan pada pasangan yang duduk di depan-nya.


Lebih-lebih pada Rico, yang sejak awal bertemu sudah membuat hatinya panas, sebab Anna bisa sampai salah tingkah di hadapan pria yang menurut Kiandra levelnya sangat jauh di bawahnya.


"Maksud kami, pria seperti anda tentunya memiliki pasangan yang sempurna." Radha berniat menetralkan suasana yang di rasa mulai tak enak.


Tatapan Kiandra beralih dari Rico ke Radha.


"Kami pikir...anda berniat merendah dengan menyebut wanita itu..."


"Saya tidak pernah merendahkan diri sendiri." potong Kiandra tegas.


Seketika Radha terdiam.


Keadaan berubah hening dan terasa tak nyaman dengan ekspresi Kiandra yang dingin.


Apa yang mereka bicarakan?


Aldo yang diam-diam pasang telingan, ikut bertanya-tanya.


"Dia memang pendamping saya." Kiandra menegaskan.


Ekspresi Rico sedikit berubah. Tetapi, ia masih mampu menyembunyikan kehawatiran-nya.


"Kami hanya sedikit berbeda soal selera fashion." Kiandra melanjutkan kebohongan. "Saya terlalu modern dan dia...terlalu vintage."


Mata Aldo berputar. Mengira-ngira siapa yang di maksud oleh Kiandra.


"Maafkan kami kalau begitu." Radha langsung cepat tanggap. "Kejadiannya sangat cepat dan bahkan saya tidak mengenali anda sebagai CEO Marthadianta-Sanjaya Groub." Radha yang memang memiliki public speaking yang mumpuni, mampu mencari alasan dengan cepat dan tepat.


"Tidak masalah." Kiandra menunjukkan senyum bisnisnya.


"Delana." ucap Rico tiba-tiba.


Suasana yang mulai mencair, kembali sunyi. Tak hanya Kiandra, tapi Aldo dan juga Radha menatap ke arah-nya.


"Aa...maaf..." Rico tertawa setelah terdiam beberapa detik. "Hanya...wanita yang bersama anda saat itu, sangat mirip dengan kenalan saya." ia menjelaskan.


"Oya?" Kiandra pasang tampang bodoh.


"Kenalan yang mana? kenapa waktu itu tak cerita?" Radha pura-pura cemburu.


"Mana mungkin aku bisa menceritakan tentang perempuan lain ketika sedang bersamamu." Rico mengenggam tangan Radha dan memandang penuh cinta.


Kiandra yang melihat adegan mesra di depan mata mulai muak.


Sialan, mereka sedang mengejekku atau bagaimana?


umpatnya dalam hati.


"Kapan-kapan kita makan siang berempat. Pasti seru." Radha mengusulkan.


Kiandra hanya tersenyum kecut.


Selanjutnya pembicaraan hanya seputar produk baru mereka yang akan launcing bulan depan dan mereka meminta slot lebih atas nama keuntungan bersama.


Kiandra yang sudah malas dan ingin segera mengakhiri jamuan, mengiyakan begitu saja. Membuat Radha berkali-kali mengucapkan terima kasih dan Aldo mengkerutkan kening, sebab tak biasanya si Chief bertindak gampangan.


Makan siang berakhir tepat satu jam kemudian.


Rico dan Radha mengantar Kiandra beserta Aldo sampai pintu depan.


"Aku tak menyangka akan semudah ini." Radha berkata tanpa mengalihkan pandangan dari mobil yang membawa Kiandra dan Aldo menjauh.


"Dia memang pendamping saya."


Ucapan tegas Kiandra membuat dahinya berkerut.


Bagaimana kalau benar itu Delana?


tanya-nya dalam hati.


Tapi...vintage? Delana tak menyukai gaya vintage yang terkesan kumuh seperti itu.


Rico menyangkal pemikirannya sendiri.


"Ayo sayang, kita hubungi Papa. Beliau pasti senang usaha kita bertambah maju." Tak menyadari kegelisahan di wajah tunangannya. Radha mengandeng Rico begitu saja dan melengang penuh rasa bahagia.


.


"Kenapa anda dengan gampang memenuhi keinginan mereka?" tanya Aldo begitu mobil sampai ke tengah jalan raya.


Kiandra yang duduk di sebelahnya tak menjawab.


"Anda ingin segera pergi?" tebak Aldo.


"Iyaah..." jawab Kiandra malas-malas.


Melihat sikap Atasannya yang cuek dan malah menatap keluar jendela, membuat Aldo menghela nafas seraya menyabarkan diri.


Kenapa aku harus berbohong dengan mengatakan dia pendampingku?


tanya Kiandra dalam hati.


Dia pandangi awan-awan putih yang seolah tengah berkejaran di langit sana.


Sejak bertemu Anna, harus Kiandra akui, ia jadi sering bertindak di luar kebiasaan.


Ada keinginan kuat, yang entah berasal dari mana, agar gadis itu bisa berpenampilan lebih baik, sehingga hatinya tak ikut merasa iba.


Ingatan akan wajah Anna yang selalu di selimuti kesedihan itu menganggunya, membuat dia gemas dan ingin sekali menarik pipi gadis itu agar sekali saja tertawa.


Tetapi, tentu saja mustahil Kiandra melakukan hal tersebut.


Sebelum pipinya yang aku tarik, bibirnya dulu yang aku cium.


Pikiran kotor itu membuat Kiandra menghela nafas panjang, kemudian makin termangu memandang keluar.


Yah...setidaknya dengan punya pikiran seperti itu, berarti aku normal kan?


Kiandra berdalih untuk menenangkan perasaannya sendiri yang kini tengah kacau.


Mobil Range rover evoque warna indus silver itu terus melaju membelah lalu lintas ibu kota yang padat.


Beberapa menit kemudian, ketika Aldo menoleh ke arah Kiandra, Chief-nya itu sudah tertidur dengan kepala tersandar ke pintu mobil.


Pasti Chief lelah sekali.


ucap Aldo dalam hati.


Melihat wajah tidur Kiandra yang polos, membuat Aldo bersimpati.


Aku tak bisa membayangkan hidup seperti Chief, yang sejak usia muda sudah di bebani tanggung jawab besar.


Tiba-tiba ponsel di balik jas nya berbunyi. Ia segera mengambil benda pipih tersebut.


"Tumben Tuan Ethan telpon." guman Aldo begitu melihat nomor siapa yang tertera di layar.


.


Sementara itu di Nisa Floris.


Anna baru saja mengemasi barang-barangnya yang tak seberapa, dan memasukan ke dalam tas ransel yang menjadi satu-satunya benda peninggalan masa lalunya.


Kini ia duduk di lantai sambil memandangi kaleng bekas biskuit yang berisi pecahan uang kertas seratus ribu dan limu puluh ribu rupiah.


Uang-uang itu ia kumpulkan dari gaji yang ia terima selama menjadi pegawai Nisa.


Anna tak bisa menyimpan uang-nya di Bank, karena terkendala identitas. Ia hanya memiliki semacam kartu KTP. Tapi tak mungkin kartu itu di gunakan di Negara ini. Terlalu riskan dan sama saja membongkar identitas.


Kartu itu juga yang di lindungi-nya mati-matian, ketika ia di tuduh mencuri dan tasnya hendak di geledah.


Memikirkan hal itu, membuat Anna teringat Kiandra.


"Seandainya dia tak mengusik hidupku..." Anna tertunduk dalam.


Berat baginya meninggalkan tempat ini, sebab ia terlanjur nyaman dengan Nisa dan semua hal di toko.


Namun, Kiandra yang tak pernah mengindahkan omongannya dan pertemuannya dengan Rico, membuat Anna tak punya pilihan.


"Akan kemana lagi aku...?" tanyanya sedih.