
Aldo duduk di sudut sebuah cafe. Sambil bersedekap, ia melihat keramain kota di malam hari.
Jas yang biasa rapi ia kenakan, kini di tanggalkan dan hanya menyisahkan kemeja yang di lipat lengan panjangnya sampai siku.
Sesekali ia menghisap rokok, lalu menghembuskan asapnya dan melihat jam di tangan yang sudah menunjukkan pukul sepuluh.
"Selamat malam." sapa seorang pria berperawakan tinggi besar dengan rompi buluknya.
Dengan isyarat tangan, Aldo menyuruh si pria duduk.
"Maaf terlambat, tadi.."
"Bagaimana?" potong Aldo. "Kau sudah mendapat informasi yang aku butuhkan?" ia bertanya.
Mungkin karena terbiasa melihat Aldo yang ramah dan terlihat polos. Sehingga, jika melihat Aldo dengan ekspresi serius seperti ini, memberikan kesan tersendiri.
"Aku dan rekanku sudah berusaha keras untuk mencari keberadaan wanita itu. Harus aku akui, kalau keberadaannya nyaris tanpa jejak." Pria dengan cambang dan kumis tebalnya itu berkata.
Aldo tak menghiraukan dan terlihat santai dengan menyesap cangkir kopinya.
"Tapi, aku berhasil mendapat informasi tak terduga dari seorang tukang sapu jalan."
Aldo menatap pria itu, lalu mematikan puntung rokoknya di asbak dan mulai fokus mendengarkan.
"Dia bercerita, bulan lalu ada seorang wanita tertabrak mobil dan wajah wanita itu, sama persis dengan yang di foto."
Aldo tertegun. Otaknya langsung berputar dengan segala kemungkinan yang terjadi.
"Penyapu jalan itu tidak tahu wanita itu masih hidup atau sudah meninggal. Karena begitu kejadian, si penabrak dan di bantu warga, segera membawa-nya ke rumah sakit."
Kening Aldo berkerut.
"Aku sudah mendatangi beberapa rumah sakit yang dekat dengan tempat kejadian. Tapi, hasilnya masih nihil." ia mendengus.
Wajah Aldo menyiratkan ketidakpuasan.
"Beri aku waktu sedikit lagi. Pasti, akan segera ku temukan keberadaan wanita bernama Anna ini." pria bermuka sangar itu meminta.
"Aku sudah membuang-buang waktu dengan percaya ocehanmu." Aldo langsung berdiri begitu saja.
Pria itu ikut berdiri. "Kalau memang begitu. Setidaknya lunasi sisa pembayaran sesuai kesepakatan!" ia berkata lantang.
Keadaan Cafe pinggiran yang di dominasi masyarakat kelas menengah kebawah itu mendadak tegang, meski lagu kekinian tengah mengalun merdu.
"Apa?" Aldo yang sudah bersiap pergi berbalik arah.
Pria itu layaknya preman, dengan badan besar dan dandanannya yang berantakan. Jauh berbeda dengan postur Aldo yang lebih kecil.
"Berikan sisa uangnya dan rahasiamu aman." kini tak ada lagi hormat dari cara berbicara pria itu.
Namun, Aldo malah geli.
"Kau bekerja untuk CEO Marthadinata itu bukan?" ia menyeringai.
Mendadak ekspresi Aldo berubah dingin. Benar-benar begitu berbeda dengan keseharian Aldo yang selalu mengumbar senyum.
"Hati-hati, banyak musuh tersembunyi." pria mengancam.
Aldo masih tak memberi respon.
Pria tinggi besar itu berjalan mendekat, lalu sedikit membungkukkan badan.
"Bagaimana kalau aku membocorkan informasi tentang CEO kalian yang mencari wanita bernama Anna?" bisiknya di telingan Aldo.
Tanpa di duga. Dalam sekejap mata, Aldo menarik salah satu lengan pria itu sampai tubuhnya terangkat dan melewati punggung.
Bruukk!!
Preman besar berwajah sangar itu terpelanting menghantam lantai dan tubuhnya menyaruk meja-kursi di sekitarnya.
Tak berhenti di situ. Aldo berjalan cepat, lalu menyepak pria yang hendak berdiri itu, membuat tubuh besarnya kembali berguling dan mengerang kesakitan.
Beberapa pengunjung berteriak dan meninggalkan meja masing-masing.
Aldo jongkok tepat di depan muka si preman yang terkapar.
"Sekali anjing tetap anjing." Aldo meludah dan tepat mengenai pipi si pria. "Aku berbelas kasih pada keluargamu dengan memberimu pekerjaan. Tapi, kau malah ingin mengigitku?" ia menipiskan bibir sampai sudut.
Pria besar yang nampaknya paham dan mengerti perkataan Aldo, tak berani mengangkat muka dan membiarkan Aldo mempermalukan-nya.
"Maaf sudah menimbulkan kegaduhan." Aldo berdiri sembari merapikan kemejanya yang kusut.
Ia masih sempat menginjak jemari pria itu sampai tulang-tulang-nya berbunyi, kemudian berbalik dan menunjukkan raut penyesalan.
"Akan saya bayar semua yang rusak." ucap Aldo kepada pegawai dan pelanggan cafe yang menatap cemas ke arahnya.
Di depan Cafe yang terletak di pinggir jalan itu, Aldo menghela nafas panjang. Sesaat, ia pandangi keramaian lalu lintas yang membentang di hadapannya.
Aldo tertunduk, lalu mulai berjalan pelan menuju mobilnya yang terparkir di bahu jalan.
"Chief pasti akan memarahiku lagi." ia mengeluh.
.
.
Hari yang di tunggupun tiba.
Mobil Lexus LC warna Onyx yang di kendarai Kiandra sudah terparkir lama di halaman depan. Tetapi, ia belum juga mau turun.
Dari kaca spion tengah, Kiandra melihat Victoria yang mengendarai motor sport hitam telah menyusulnya.
Bodyguard nya itu sudah lepas helm, kemudian turun dari motor dan berjalan ke arahnya.
Tuk, tuk, tuk...
Victoria mengetuk kaca mobil.
Dengan enggan, Kiandra menurunkan kaca mobil tanpa menoleh ke arah si bodyguard.
"Saya ijin untuk masuk lebih dulu. Tuan besar menyuruh saya untuk segera menghadap." Victoria memberi tahu.
Kiandra cuma mengibaskan tangan.
"Terima kasih." wanita bertubuh bak model itu menunduk, kemudian segera berlalu.
Kiandra kembali menghela nafas panjang, lalu mematikan mesin dan turun juga dari mobil.
"Mau pasang tampang bagaimana aku kalau bertemu mereka...?" guman Kiandra sambil memandangi rumah induk keluarga Marthadinata yang memiliki dua pilar kokoh pada kanan dan kirinya.
"Oomm Kikiii...!!" seruan dari lantai dua, membuat Kiandra menengadah.
Sinar mentari pagi membuat kedua mata Kiandra menyipit.
"Om Kikii...!"
"Apa kabar, Om Kikiii...?!"
Samar Kiandra melihat dua bocah lelaki dan perempuan melambai-lambaikan kedua tangan ke arahnya dengan penuh semangat.
Kiandra mencoba memfokuskan pandangan di antara bias cahaya matahari yang menyilaukan. Tapi, keduanya telah menghilang dari balkon.
Khayalanku, atau mereka juga ikut?
pikir Kiandra, seraya melangkahkan kaki ke dalam rumah.
.
Sementara itu di ruang kerja Ayah Kiandra. Victoria duduk di hadapan pria berambut salju itu dengan pandangan tertunduk.
"Maafkan saya..." ucap Victoria pelan.
Suasana hening di ruangan yang sudut-sudutnya terdapat lemari berukir yang isinya penuh dengan buku-buku.
"Beliau...bersikap profesional dan menghargai saya sebagai seorang wanita. Tapi..." Victoria tak berani mengangkat muka.
Wajah cantiknya yang biasa kaku, kini nampak gelisah. Di tambah helaan nafas panjang dari Ayah Kiandra, makin membuat hati Victoria tak enak.
Ia mengigit bibir bawah dan mengepalkan kedua tangannya yang tersembunyi di bawah meja.
Menyampaikan sebuah kegagalan, merupakan hal yang memalukan untuk wanita jerman tersebut.
"Aku tak percaya anakku benar-benar tak tertarik pada wanita." ucapan Ayah Kiandra, membuat Victoria seketika mengangkat muka.
"Tapi, beliau normal Tuan." Victoria berkata sungguh-sungguh.
Mata tuanya yang tetap cemerlang memandang bodyguard, sekaligus putri dari kawan baiknya yang tinggal di jerman.
"Selama tiga tahun saya menemani. Beliau memang tak pernah dekat dengan seseorang." Victoria mulai bisa menguasai keadaan. "Tetapi, ada satu wanita, yang beberapa kali saya lihat beliau datang mengunjungi, mengajak makan siang dan bahkan beliau membelikannya hadiah."
"Kian bisa seperti itu?" Ayahnya tak percaya.
Victoria mengangguk. "Benar, Tuan."
"Hei, jika hanya berdua, jangan panggil seperti itu." pria bermata sipit itu mengingatkan. "Ayo, ceritakan lebih detail. Tentang siapa wanita yang bisa membuat anakku bertindak romantis begitu."
"Baik, onkel." Victoria tersenyum.