Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
MASA DAMAI



Kiandra bilang seminggu. Tetapi, ibunya yang sudah tak sabar, memaksa untuk berangkat ke Kelantan di hari ke lima. Bahkan, Dave dan Kirana yang rencananya sudah pulang ke kota Tawangmangu, menunda keberangkatan agar bisa ikut serta dalam rombongan.


Tak kalah antusiasnya, si Ayah juga sampai datang ke kedutaan Malaysia di Indonesia, dan menyampaikan maksud serta tujuan mereka, supaya bisa di hubungkan secara langsung dengan pihak Kerajaan Kelantan.


Mungkin jika bukan Andreas Marthadinata sendiri yang berbicara, maka pihak mereka tak akan percaya, bahwa Tuan Putri Tengku Delana sudah di temukan.


Namun, kehebohan di sekitar yang sudah mempersiapkam ini dan itu, sangat kontras dengan pasangan itu sendiri. Lebih-lebih Anna yang sudah bertahun-tahun tak pulang dan meninggalkan kenangan buruk di tempat asalnya.


"Benarkah mereka menyambut baik?" ia tak percaya.


"Daddy sendiri yang bilang, dan mustahil itu bohong." Kiandra yang duduk di sampingnya bersedekap sambil menjatuhkan punggung ke sofa.


Walau terlihat santai. Tapi, sejujurnya ia pun grogi. Misal, apa yang harus ia katakan untuk melamar atau memikirkan kehidupan berumah tangga, yang menurutnya sangat rumit dan penuh pengekangan.


Akan tetapi, saat ia melihat Anna yang sudah pasti lebih cemas darinya. Maka ia harus bersikap lebih tenang.


"...Aku... belum berhasil menemukan permata itu." ucapnya sembari tertunduk.


Kening Kiandra berkerut. Ia merasa tak berguna jika menyangkut hal tersebut. Karena saat Rico di introgasi, laki-laki bajingan itu hanya mengatakan permata itu hilang bersama kopornya dalam suatu perjalanan.


Meski tak percaya. Akan tetapi, tak ada bukti yang mengarah jika pria itu berbohong. Dan karena Kiandra sudah malas berurusan dengannya, maka ia memutuskan mendeportasinya sesegera mungkin agar tak menganggu pemandangan.


Namun, selang beberapa hari sejak keputusan pengadilan, kini ia sedikit menyesal, kenapa dulu ketika mengintrogasi tidak lebih menekannya.


Kiandra menghela nafas panjang, seraya memainkan kakinya yang bertumpu di satu kaki lainnnya.


"Tapi... bisa mendengar suara Abang setelah sekian lama. Rasanya sangat membahagiakan." Anna tersenyum ke arahnya.


Kiandra yang sedang bertopang dagu melihat dengan ujung mata.


"Sebenarnya aku rindu sekali. Hanya saja... aku belum berani untuk bicara." ia tertunduk dengan senyum yang masih menghiasi wajahnya yang semakin cantik, berkat Ibu Kiandra yang rutin membawanya ke salon.


Kiandra menurunkan satu kakinya yang tadi terangkat sebelah, kemudian mengeser duduk. "Aku juga sangat menyayangkan hal itu." ucapnya. "Padahal Daddy sampai turun tangan agar kau bisa berbicara dengan keluargamu." lanjutnya.


"Iya, maafkan aku..." Anna tak enak hati.


Saat Ayah Kiandra datang ke Kedutaan Malaysia, memang bersama dengannya. Semata untuk membuktikan bahwa benar dia adalah Tengku Delana putri dari Yang Di Pertuan Agong Ismail Petra.


Namun, ketika pihak Kedutaan menyambungkan lewat saluran telpon, ia malah tak berani untuk berbicara.


"Delana?"


Anna masih ingat dengan jelas suara kakak lelakinya.


"Hei, kenapa jadi sedih?" Kiandra meraih tangannya yang berada di pangkuan.


Anna mengangkat wajah, lalu melihat ke arah pria yang kali ini pun terlihat menawan dengan setelan jas warna hitam dari Bespoke dan gelang emas putih dari Cartier yang menyembul dari balik pergelangan tangannya yang kini tengah mengenggan jemarinya.


Tak mau suasana jadi murung, Anna tersenyum. "Aku hanya tegang, karena sekian tahun tak bertegur sapa dengan Abang. Tapi, aku yakin jika sudah bertemu, aku akan cepat terbiasa." ia menegaskan. "Abang Majeed orang yang sangat baik dan pandai memasak. Kalau kita sampai di Kelantan, kau harus mencoba nasi tumpang buatannya." ia berkata penuh antusias.


"Pasti sangat enak." Kiandra menanggapi sembari ikut tersenyum lebar.


Kedua pipi Anna seketika merona melihat senyum Kiandra dalam jarak dekat.


Indah sekali...


batinnya sembari melongo menatap kedua bola mata Kiandra yang bermata cokelat terang dan terlihat bayangan wajahnya di situ.


Melihat reaksi Anna, serta keadaan ruang kerja yang hanya ada mereka berdua, membuat Kiandra membungkukkan sedikit punggung dan berniat mencium wanita itu.


Akan tetapi, Anna yang cepat menyadari apa yang akan di lakukannya, segera bangkit dari duduk. "Aku harus lekas pulang!" ujarnya sambil menyembunyikan rasa malu.


"Habiskan makananya, ya." Anna pura-pura menata bekal di atas meja. "Ibu dan aku sudah susah payah memasak." ia bergurau.


"Ibu ada-ada saja." Pria itu berjalan maju. "Di kira aku anak kecil yang butuh bekal untuk sekolah?" ia bersedekap dengan tampang angkuh.


Anna terkekeh. "Bukan buat sekolah. Tapi, buat bekerja." tandasnya.


Kiandra mendesis. "Itu aku tahu!" ujarnya galak.


Anna menutup mulut menahan tawa. Ia mulai bisa mengerti, letak keabsurdan Chief Kiandra yang Superior ini.


Tiba-tiba ketukan pintu terdengar, membuat keintiman mereka buyar. Aldo muncul di balik pintu dengan berkas di tangan.


"Eh?" Ia terkejut melihat dua orang itu. "... Na, nanti saja!" ujarnya canggung kemudian berbalik arah.


"Masuk!" Kiandra langsung mencegah.


Langkah Aldo terhenti, lalu balik badan dengan muka cengegesan nya yang biasa. "I, iya, Chief. Maaf..." ia berjalan mendekat.


Menganggu saja orang ini, sialan!


pikir Kiandra yang sebenarnya sebal dengan kedatangan Aldo yang sangat tepat waktu.


"Kalau begitu aku pamit." Anna berkata saat Aldo berada tepat di sampingnya dan Kiandra sudah duduk di kursi kebesarannya.


"Hati-hati." Mau tak mau CEO itu harus merelakan waktu pribadinya demi pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya.


Anna mengangguk, kemudian tersenyum singkat kepada Aldo saat berpapasan, dan berjalan keluar ruangan.


Kini tinggal Kiandra dan Aldo yang berada di ruang kerja itu. Ia segera mempersilahkan Personal Asistennya untuk duduk, dan dengan senang hati di turuti.


"Hari ini pun bekalnya terlihat enak Chief." Mata Aldo berbinar melihat deretan bekal yang tadi di bawa Anna, serta sengaja di buka untuk menghilangkan uap panasnya.


Kiandra melirik sesaat. "Kau bisa ikut makan kalau mau." ucapnya.


Aldo kaget. "Mana saya berani Chief!" ujarnya dengan kedua tangan terangkat.


"Kau kira di makananan ku ada racun?" Kiandra kesal dengan respon Aldo yang berlebihan.


"Bukan begitu Chief..." pria dengan setelan jas warna navi itu meralat. "Tapi, itu kan untuk Anda, bukan untuk saya."


Basa-basi macam apa itu?


Kiandra bersunggut, sambil meneliti bekal-bekalnya yang berisi nasi putih yang masih mengepulkan asap, tumis kacang panjang udang dengan banyak potongan cabai setan, ayam kecap yang di potong kecil-kecil, tempe goreng, potongan buah, serta infused water kurma- daun mint yang masih beku.


"Oya, Chief. Berkas ini butuh persetujuan Anda." Aldo mengulurkan map cokelat yang sedari tadi di bawanya.


Kiandra menerima map tipis tersebut lalu membukanya.


"Anda terlihat sangat serasi dengan Nona Anna, Chief." Aldo memuji.


"Itu sudah pasti, kan." Kiandra berkata tanpa melihat lawan bicara.


Aldo terkekeh geli.


Siang itu cerah dengan langit birunya yang terlihat luas di belakang Kiandra yang tengah sibuk meneliti isi berkas yang harus ia paraf di setiap bagian pentingnya.


Di gedung Marthadinata Groub, ruangan Kiandra memang terletak paling atas, membuatnya bisa melihat seisi kota dan keramainnya.


Perlahan raut Aldo yang tadinya sumringah, berubah muram dan semakin muram seiring ia yang semakin lama memperhatikan Kiandra.