Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
SARAN



"APAAA..?!" pekik Ethan, Alexa dan Roy hampir bersamaan.


Kiandra memicingkan mata melihat reaksi berlebihan dari teman-temannya.


"Jangan-jangan tadi kau sampai datang ke tempat praktek ku karena hal ini?" Ethan menaikkan bingkai kacamata untuk memastikan bahwa yang duduk di depan itu benar kawan baik nya.


Kiandra melipat kedua tangan ke dada, pura-pura tenang. Padahal dia merasa risih membicarakan hal di luar kebiasaan.


"Dia ke tempat paraktekmu?" Alexa tak percaya.


Ethan mengangguk mengiyakan. "Seumur-umur dia tak pernah mau datang ke tempat praktekku, padahal sedang berobat di rumah sakit yang sama." Ujung matanya melirik ke arah Kiandra.


"Ya ampuuunn..." Kedua tangan Alexa memegangi kepalanya yang mendadak pusing. "Jangan bilang tadi siang kau menghubungiku karena hal ini juga?" ia membelakakan mata.


"Memang kenapa kalau, iya?" tanya Kiandra santai.


"No coment." Roy angkat tangan dengan rokok yang menyelip di jari tengah dan telunjuk. "Dia juga menghubungi ku beberapa kali."


"Kau ini tak bisa di harapkan, kampret!" umpat Kiandra sambil melempar satu gengam kulit kacang yang berserak di atas meja.


Roy mengelak dan tertawa, meski beberapa kulit kacang ada yang bertengger di rambut dan bajunya.


"Mana aku tahu kalau kau mau menelpon." Roy berdalih. "Biasanya kau, kan sibuk dengan diri sendiri."


Tahu dirinya salah, Kiandra tak mau berdebat, dan mengalihkan dengan meminum mineral water nya langsung dari botol.


Mungkin karena bukan hari libur, malam ini Club James Bond tak terlalu ramai. Musik yang di putar pun tak sekeras saat weekend. Lebih slow dan romantis, membuat hati yang tengah di tumbuhi benih cinta makin gundah gulana.


Beberapa pengunjung yang datang lebih banyak duduk dan mengobrol, dari pada bersenang-senang dengan menari atau bercengkraman dengan para wanita penghibur yang di sediakan pihak Club.


Jujur saja, suasana kali ini lebih nyaman dari biasanya yang di penuhi bocah-bocah labil yang datang hanya untuk menghabiskan uang orang tua dengan hal tak berfaedah.


Empat sekawan sejak kuliah itu duduk di meja favorite mereka. Biasanya jika hari kerja seperti ini, Kiandra jarang sekali bisa hadir, sebab terlalu repot dengan rutinitasnya yang padat.


Tapi kemunculannya yang tiba-tiba tadi, sempat mengejutkan Ethan, Alexa dan Roy yang tengah merundingkan sesuatu.


"Jadi...kemana sebaiknya aku mengajak pergi?" Kiandra bertanya setelah menghabiskan dua botol aqua reflection.


"Restoran mewah yang menjadi satu dengan Hotel." Cetus Ethan. "Jadi kalian bisa langsung gercep anu nya." Ia menjentikkan jari penuh maksud.


Kiandra menatap sinis rekan sesama jomblo nya itu.


"Club ku dong," Roy menyesap rokok, lalu menghembuskan asapnya. "Sudah terbukti dia pernah ke sini. Jadi sudah pasti dia suka tempat ini." Ucapnya percaya diri.


"O,ya?" Kiandra tak yakin.


"Aku juga akan menyediakan room gratis untuk kalian." Roy mengedipkan satu mata.


Seketika kening Kiandra berkerut.


"Tunggu, tunggu!" Alexa menyetop saran-saran menjerumuskan yang tak patut di realisasikan tersebut.


"Kita buat perayaan untuk Kian yang akhirnya lepas keperjakaan." Sumringah Roy mengusulkan.


"Ide yang bagus." Ethan tersenyum lebar sambil mengangkat dua jempol untuk pria perokok yang duduk di sampingnya.


"Dasar otak s3langkang4n." Cibir Kiandra tanpa mau meladeni dua orang yang tertawa dan bersulang bir tersebut.


"Kian," Alexa menatap Kiandra tajam. "Kau serius mengajak wanita itu pergi?" ia bertanya dengan mimik sungguh-sungguh.


"Iya." Jawab Kiandra jujur.


Mereka bertiga saling pandang.


"Hei, kalian kan yang memaksaku untuk


mengikuti alur permainan?" Kiandra tak mengerti.


Lagu dari Marsmello feat Anne-Marie, friend versi akustik memenuhi ruang yang di buat temaram dengan lampu warna-warni yang berfokus pada panggung DJ yang saat ini kosong.


"Sebenarnya sebelum kau datang, kami sedang mendiskusiakan hal ini." Alexa kembali berbicara setelah terdiam beberapa saat. "Intinya, kami tahu kesusahanmu dan tak ingin memaksa dirimu yang sudah pusing dengan pekerjaan untuk hal-hal seperti ini."


Bukannya kalau aku susah kalian tambah senang? gerutu Kiandra dalam hati.


"Kita ulang permainan-nya." Roy mematikan rokoknya yang tinggal puntung ke asbak.


Mata Kiandra melebar.


"Lupakan soal wanita itu. Kita main putar botol lagi dan tentukan hal yang lebih menarik." Imbuhnya sembari tersenyum.


Kiandra merasa ada yang janggal, sebab dari pertama mereka bermain putar botol, tak ada yang namanya mengulang.


"Ayo kita mulai!" seru Ethan dengan botol Heineken kosong di tangan kanan.


Alexa dan Roy segera merapikan meja, sedang Kiandra masih tak bergeming.


Ethan telah meletakan botol kosong itu di tengah meja,


"Siap?" ia memandang rekan-rekannya.


"Aku tak mau." Tolak Kiandra, tepat ketika Ethan hendak memutar botol warna hijau tersebut.


"Hei, kau sendiri kan yang lebih baik kena pinalti dari pada di suruh merayu wanita?" Ethan mengingatkan.


"Ayolah, ini sesuai yang kau harapkan." Alexa menimpali. "Waktu mu terlalu berharga untuk merayu wanita yang bahkan kita tidak tahu dia dari mana, dan bagaimana kepribadiannya."


"Sejak kapan permainan kita menjadi serius sampai harus tahu latar belakang Target?" Kiandra balik bertanya.


Alexa kebingungan. Dari bawah meja dia mencubit paha Roy yang duduk di samping untuk meminta bantuan.


Roy meringis sembari mengusap-usap bekas cubitan Alexa. Dia mendelik ke arah wanita itu. Tapi di balas senyum ganjil.


"Bantu aku, sialan.." Desis Alexa sembari melirik Kiandra. Namun sayang, Roy tak paham maksudnya.


Kiandra yang melihat tingkah keduanya jadi curiga.


"Jadi...ehem..ehemm.." Ethan mengalihkan perhatian Kiandra dengan berdehem beberapa kali. "Itu usulku." Ia berbohong.


Berterima kasihlah kalian padaku. Ethan bicara lewat tatapan mata dengan gaya angkuh.


Tapi Alexa dan Roy malah melengos dengan wajah menyebalkan dan pura-pura mual. Namun sebenarnya mereka berdua sedikit lega, sebab tak perlu mengarang alasan.


Kiandra yang malam ini terlihat makin tampan dengan kemeja hitam itu mengeser letak duduk, untuk sepenuhnya menghadap pria berkacamata tersebut.


"Kau CEO perusahan besar." Ethan memulai dengan sanjungan. "Kami hanya khawatir jika kau mendekati wanita ini dan dia tahu siapa dirimu, kau akan di manfaatkan."


"Matrealistis." Alexa menjentikkan jari dengan penuh semangat.


Otak Kiandra yang cerdas mencoba membayangkan, lalu menelaah. Akan tetapi yang nampak hanya wajah sendu Anna dan sosoknya yang terduduk di kegelapan serta tengah memeluk diri sendiri.


"Kau belum pernah bersinggungan dengan wanita lintah macam mereka, karena selalu membentengi diri. Tapi kali ini, kau yang datang ke mereka, bahkan merayu." Ethan yang berpegalaman dengan berbagai jenis wanita menjelaskan.


"Intinya, permainan ini kita buat untuk melepas jenuh." Roy menimpali. "Kami tak mau, kalau malah jadi masalah di kemudian hari."


"Apa semua wanita matrealistis?" seperti anak kecil Kiandra bertanya.


"Tentu tak semua." Alexa yang paling cepat menjawab. "Ada juga yang realistis."


Kiandra terkekeh. "Artinya semua butuh uang, kan?"


"Itu benar." Merasa tertohok, ragu Alexa mengiyakan. "Tapi tetap beda antara matrealistis dan realistis." ia tetap bersikukuh dengan pendapatnya.


"Kalau ada bedanya pun itu tipis, Alexa." Kiandra masih saja menipiskan bibir.


"Semua butuh uang, dan aku rasa tak hanya wanita yang seperti itu."


Teman-temanya memperhatikan.


"Aku tak masalah jika dia memang matrealistis, realistis atau apa pun sebutanya." Kiandra merebahkan punggung ke kursi. "Selama aku bisa memenuhi, akan aku beri berapa pun yang dia inginkan."


"Ada yang jatuh cinta sepertinya." Tutur Roy sembari mengulum senyum.


"Siapa yang jatuh cinta?" Ekspresi penuh wibawa Kiandra langsung lenyap dan di ganti raut kekanakan.


"Dari awal memang dia sudah tertarik pada wanita itu. " Ethan menghela nafas panjang.


"Tetap saja aku tak suka." Alexa berkacak pinggang dengan muka cemberut.


"Suka tak suka, dia suka." Roy menunjuk Kiandra dengan ekor mata. "Ini pertama kalinya Kian tertarik pada wanita, itu bagus bukan?" Roy menyesap rokoknya, kemudian geli mengingat sesuatu. "Itu artinya dia bukan pecinta terong atau impoten."


"Yah...itu yang aku syukuri." Ethan pura-pura terharu.


"Kalian ini ngomong apa?" Ucapan Kiandra ketus. Tapi rona di kedua pipi pria dengan kedua mata cokelat terangnya yang berbinar itu tak bisa bohong.


"Hei, Kian, pokoknya saat kalian bertemu, kau harus tampil sesederhana mungkin." Alexa menasehati. "Lepas kalung bvlgari mu, gelang dan cincin cartier mu. Jangan lupa, pakai jam tangan paling murah yang kau punya, atau tak usah pakai, itu lebih baik."


"Buat apa aku melakukan hal itu?" Ia heran.


Kiandra memang penyuka barang mewah, dan itu termasuk perhiasan.


Tak jarang ia memakainya, walau tersembunyi di balik baju.


Seperti saat ini, Kiandra melipat kemeja lengan panjangnya sampai siku, sehingga gelang cartier nya yang berwarna perak terlihat berkilau tertimpa cahaya lampu.


"Pokonya ikuti saranku!" Alexa menegaskan. "Jangan sekali-kali memberi tahu dia apa pekerjaanmu yang sebenarnya. Jangan juga mengatakan kalau kau berasal dari keluarga Marthadinata, ingat itu!"


"Kenapa aku harus menyembunyikan itu semua?" Kiandra kembali bertanya.


"Karena..."


"Karena kami tak ingin kau jatuh cinta pada orang yang salah." Sebelum Alexa melanjutkan, Roy lebih dulu memotong kalimatnya.


"Sepertinya kalian berlebihan," Kiandra meminum mineral water nya lagi. "Aku hanya tertarik padanya dan aku tahu penyebabnya apa. Tapi bukan berarti jatuh cinta."


"Kau mau bilang kalau homo?" Ethan bertopang dagu dengan wajah malas.


Kiandra hanya mendengus tanpa membalas.


"Wanita itu namanya Anna. Dia bekerja di sebuah toko bunga." Dia memberi tahu.


Roy langsung bersiul, Alexa bersedekap dengan wajah masam dan Ethan cengesan.


"Dan dia menolak ketika aku ajak pergi." Sungut Kiandra kesal.