
Di dalam Club James Bond yang selalu riuh dengan hingar-bingar dunia, di salah satu sudut meja yang memang di khususkan untuk sang Owner dan rekan-rekan VVIP nya, duduk Roy, Ethan dan Alexa.
Mereka nampak asik bercengkraman, dengan botol-botol Heineken yang menghiasi meja bersama makanan ringan lainnya.
Ethan yang mendapat giliran memutar botol berseru kencang, saat ujung botol kosong warna hijau itu mengarah kepada Alexa.
"Apes!" wanita yang selalu on dengan lipstik merah menyala dan dandanan seksi ala Marilyn Monroe itu tepuk jidat.
Roy terkekeh karena lolos dari permainan dare or truth yang biasa mereka mainkan tiap kali meet up.
"Sudahlah, aku pilih bayar saja." Alexa yang tak mau rahasianya terbongkar atau menuruti keinginan (konyol) dua rekannya itu bersiap buka dompet.
"Enak saja." sergah Ethan. "Kemarin gara-gara permintaan kalian, aku naik bus pakai kostum beruang sampai jatuh saat turun." ia tidak terima.
"Itu kan kerena kau memang mau." Alexa mencibir.
"Itu namanya gentle." Ethan mendengus, lalu membenarkan letak kacamata.
"Aku kan nggak gentle, tapi feminim." Alexa mengerucutkan bibir membentuk ciuman.
Ethan pasang muka malas.
"Ayolah Alexa, kau kan belum memilih." Roy menengahi sembari mematikan putung rokok ke dalam asbak. "Kalau bayar, semua juga bisa kan? Tapi jadi nggak seru lagi nanti permainanya." ia sudah menyalakan rokok yang baru.
Alexa berdecak. "Kian saja boleh bayar dan lolos." ia cemberut.
"Kian kan lain. Kau tahu sendiri." Roy mengklarifikasi.
"Bilang saja kau takut di suruh menyanyikan lagu Balonku Ada Lima di sana." Ethan tertawa sambil menunjuk ke arah lantai dansa.
"Kau dulu sana, nyanyi Pelangi-pelangi sambil bawa pom-pom." tandas Alexa ketus.
"Aku sudah pernah kau suruh menyanyi Bebek Adus Kali di pintu masuk." Ethan mendengus.
"Siapa suruh kau mau." Alexa buang muka.
"Heleeeh... pilih saja, dare or truth." ujar Ethan tak mau kalah.
"Nggak!" Alexa tetap menolak. "Aku mau bayar seperti si Kian." ia tetap dengan keputusannya.
Ethan berdecak, kemudian menoleh ke arah Roy. "Oi, Knalpot! Berhenti dulu kenapa? Cewek bar-bar ini nggak mau memilih." ia berkata.
Namun, belum sempat Roy menjawab, Alexa sudah lebih dulu menarik kerah baju Ethan dan meninggalkan bekas lipstik di kemejanya yang berwarna putih.
"Apa-apaan ini, wooiii...?!" Pria yang berprofesi sebagai Dokter itu frustasi melihat noda merah pada kemejanya.
"Kan cewek bar-bar." Alexa berkata santai tanpa dosa.
Ethan gemas. "Aku telpon suamimu, aku bilang kita berselingkuh!" ancam-nya kesal, karena sudah dua kali Alexa dengan seenaknya meninggalkan bekas lipstiknya.
"Silahkan, weeekk..!" wanita berkulit sawo matang itu menjulurkan lidah. "Paling kau hanya di beri senyumnya yang super manis, karena kau lebih jelek darinya. Dan ia tahu, aku tak mungkin tertarik dengan seorang yang lebih miskin darinya." ia tertawa terbahak.
"Uapaa...?" muka Ethan merah padam.
"Apa? Apa, hah?" Alexa menantang.
Segera saja dua orang itu adu mulut hingga berdiri, sedangkan Roy dan pengunjung di sekitar menjadikan mereka hiburan gratis.
Mungkin aku harus mempertimbangkan membayar mereka karena sering kali menghibur tamu-tamu ku.
Roy berkata dalam hati, lalu terkekeh dan menghisap rokoknya.
.
"Kebiasaan, teman sedang bertengkar bukannya di pisah malah di tonton." ucap Kiandra yang sudah berdiri di belakang Roy
Pria perokok itu sontak melihat ke arahnya.
"Kian?!" Ethan dan Alexa yang tadinya tengah asik dengan dunia-nya mendadak kaget dengan kedatangannya.
"Hai." Kiandra menyapa dengan senyum sumringah.
Namun, teman-teman dekatnya itu terdiam dengan mulut mengangga melihat Anna yang mengandeng lengannya dan bersembunyi malu-malu di belakang.
"Di, dia...?" Alexa yang pertama bereaksi sembari menunjuk ke arah Anna.
Senyum Kiandra makin terkembang. "Dia pacarku." ia memperkenalkan.
"APPAA?!"
Suara ketiga orang itu membuat sekitar terkejut.
Kiandra mengulum senyum. Akhirnya ia bisa membuktikan kepada teman-temannya bahwa dia normal.
dalam hati ia mengumpat sekaligus puas melihat respon teman-temannya.
.
Tak berapa lama Anna sudah duduk bersama Kiandra dan rekan-rekannya tersebut. Berkali-kali ia merunduk rikuh, saat Alexa menatap dengan kening berkerut atau Roy dan Ethan yang memperhatikan dirinya secara terus menerus.
"Anna jadi cantik begini." Ethan yang duduk di sebelahnya memuji, membuat Alexa memelototinya.
"Apa?" Ethan gantian melotot.
Sedangkan yang di puji hanya tersenyum sesaat, lalu merunduk lagi.
Dia memperkenalkan aku sebagai pacarnya?
pikiran Anna masih berpusat pada Kiandra.
"Anna, mau minum apa?" giliran Roy yang mendekati. "Untuk Anna semua gratis. Tapi, jangan yang beralkohol ya, bahaya nanti." pria itu terkekeh sambil melirik Kiandra, kemudian menyesap rokoknya dan menghembuskan asapnya.
Anna langsung batuk-batuk.
"Matikan rokokmu, goblok." Kiandra yang tadinya cuma diam sambil berpuas diri mendesis keras.
Roy manyun, tapi di turuti perintah pria yang duduk di hadapannya itu.
Ethan memegangi perutnya menahan geli. "Senang ya, sekarang galak-nya berguna." ia berkata.
"Senang sekali." Kiandra menjawab ringan meski di sindir.
.
Roy secara spesial menyuguhkan orange juice dan hidangan yang menjadi favorite tempat itu. Bahkan pria flamboyan itu juga menyuruh seorang pegawai untuk membereskan botol-botol Heineken yang tadi bertebaran di atas meja.
"Nggak perlu seperti ini juga, kan?" Alexa cemberut. "Baru aku minum satu teguk tahu." ia mengkerutkan kening.
"Anggap saja permainan yang tadi batal." Roy berbisik, membuat wajah wanita itu seketika menjadi cerah.
Dalam sekejap, suasan meja yang tadinya rusuh, kini tenang seperti di rapat-rapat kantor. Dan itu sangat kontras dengan musik remix yang menghentak lantai dansa, serta para pengunjung lain yang sampai berteriak dan tertawa lepas di dalam salah satu Club malam paling hits di ibu kota tersebut.
Anna hampir saja mengigit bibir bawah, kalau peringatan dari Kiandra tidak bergaung berkali-kali di telinga.
"Anna sudah cantik, tapi masih saja pendiam ya?" Ethan bertopang dagu memandangnya.
Kedua pipi Anna memerah. Dia betul-betul tegang di kelilingi orang-orang asing ini. Apa lagi tatapan Alexa yang seolah ingin mengusirnya.
Tenang, tenang, tenang...
dalam hati ia merapal mantra.
"Ayo di minum." Roy tersenyum sembari mengkode gelas juice di hadapan-nya. "Tidak ada racunnya, kok." ia terkekeh.
Anna berusah tersenyum meski kaku.
"Di minun saja. Dari tadi kau belum minum, kan?" Kiandra menyarankan.
Anna menoleh ke arah pacarnya itu, lalu perlahan menyentuh gelas kaca dengan juice dingin warna kuning yang pelan-pelan mulai di minumnya.
Anna hampir saja tersedak, karena mereka berempat menatap dirinya tanpa kedip.
Aku ingin pulang.
ia mengerang dalam hati sambil menutupi wajah dengan gelas jus.
.
.
Aldo keluar dari Hotel dan berjalan menuju parkiran tepat jam sembilan malam. Sebenarnya Rico sudah menyewakan satu kamar untuknya, tapi Aldo menolak dan memilih pulang.
Pria yang sudah melepas jasnya, serta membuka sensor kunci mobil itu mendadak menghentikan gerakan membuka pintu mobil.
Ia terdiam sambil memasang indera pendengarnya baik-baik. Perasaanya mengatakan kalau sedang di awasi. Tetapi, ia cuma diam di samping mobil dan tidak menoleh ke belakang.
Victoria yang sejak Aldo keluar dari Gedung Marthadinata-Sanjaya Groub sudah mengikuti sampai malam hari seperti ini diam di sudut tergelap.
Bodyguard Kiandra itu baru keluar dari persembunyian, saat Aldo masuk ke dalam mobilnya dan mengendarai keluar dari area parkir basment.
Tanpa Victoria tahu, Aldo sudah memiringkan kaca spion tengahnya sedemikian rupa, sehingga bisa melihat kehadirannya lewat pantulan kaca belakang.
Vic, kau tahu kan aku mencintaimu.
Aldo berkata dalam hati.