Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
AROGAN



"Panggil kepala HRD dan Manager kalian!" perintah Kiandra membuat semua orang yang kebetulan tengah berada dalam lingkup lobbi kantor melihat ke arahnya.


Diam-diam ketiga respesionis yang berdiri di hadapan Kiandra saling lirik. Namun, tak satupun di antara mereka yang berani menyahut.


"Ada apa, Chief?" Victoria kebingungan.


"Diam kau!" bentak Kiandra sengit.


Victoria langsung mundur dengan sikap hormat.


Disaat seperti ini. Dimana dia?


Kedua tangan Victoria terkepal dengan pikiran tertuju pada Aldo yang biasanya selalu satu paket dengan Kiandra.


"Kalian di terima di sini dengan seleksi ketat! kalian wajah perusahaan! dan kalian mengusir tamu yang jelas-jelas membawa identitas dan ingin bertemu saya?! Bagaimana Manager kalian mendidik? bagaimana orang seperti kalian bisa di terima di Perusahaan ini?!"


Kiandra marah-marah sambil sesekali tangan ke pinggang, lalu menunjuk-nunjuk ketiga resepsionis yang sudah ketakutan.


Atmospire lobbi menjadi tegang. Bahkan beberapa karyawan memilih putar arah, karena tak mau bersinggungan dengan sang Chief yang tengah keluar tanduk.


Tergopoh-gopoh dua orang pria berpakaian rapi, dengan rentang usia 40 sampai 50 tahunan datang menghadap Kiandra yang masih saja belum berhentiĀ  mengomel.


Mereka adalah pimpinan HRD dan Manager yang membawahi bagian personalian.


Kedua alis Kiandra makin menyatu melihat dua orang pria yang notabene lebih tua darinya itu meminta maaf atas kecerobohan anak buahnya.


"Apa kalian mau saya bayar dengan maaf?" tanya Kiandra kesal.


Lima orang berbaris, dengan posisi Kepala HRD di samping Manager dan di belakang mereka barulah berdiri 3 resepsionis yang tadi lebih dulu kena semprot.


Victoria yang berada di belakang Kiandra dengan sikap siap, hanya diam dengan wajah minim ekspresi melihat semua itu. Ia tak berani lagi ikut campur, meski dalam hati wanita kelahiran Munchen-Jerman itu penuh tanda tanya.


Tidak biasanya Chief semarah ini. Apakah tamu itu orang yang begitu penting? Tapi orang penting mana yang sampai tak di kenali dan di usir satpam?


Victoria cuma bisa memendam semua pertanyaan dalam hati.


"Pecat mereka bertiga!" perintah Kiandra setelah puas melampiaskan emosi.


Semua yang berada di situ kaget. Tak pernah sebelumnya Chief mereka yang terkenal tenang dan bijak, bisa meledak-ledak sampai memecat tiga orang sekaligus untuk kesalahan kecil.


"Tolong di pertimbangkan lagi Chief." si Manager langsung pasang badang untuk melindungi bawahnya.


Kiandra yang hendak pergi, seketika mengurungkan niat.


"Kesalahan mereka tak seberapa. Mereka hanya lalai, itu pun untuk melindungi keamanan anda dan perusahaan." Manager tersebut memberi alasan yang memang tepat.


Mendengar kata tak seberapa, membuat dahi Kiandra semakin berkerut.


Ia telah melakukan berbagai cara. Dari mengirim hadiah-hadiah, menahan malu, serta perasaan-perasaan lain yang dia anggap menganggu, hanya untuk menarik perhatian gadis itu.


Kini, di saat ia bingung tujuh keliling karena ucapan Roy yang bisa menjatuhkan harga dirinya yang setinggi gunung. Tiba-tiba gadis itu datang sendiri untuk menemuinya.


Senang, kaget dan gelisah melebur jadi satu. Akan tetapi, di saat ia tinggal meraihnya. Orang-orang tolol ini malah mengusir gadis itu?


Bibir tipis Kiandra mengatup rapat dengan sorot mata tajam menatap si Manager.


Susah payah si Manager sampai meneguk ludah melihat respon Kiandra yang luar biasa dingin.


"Pak Nugraha," Kiandra memanggil nama Kepala HRD yang sedari tadi tak ikut bicara.


"Iya, Chief?" Pria 50 tahun itu segera mengangkat muka.


"Hitung lama Pak Hendi bekerja di perusahaan kita." Ucap Kiandra tanpa mengalihkan pandangan dari si Manager.


"Apaa...??" kedua orang itu sama-sama terkejut.


Hendi adalah nama si Manager, dan meski nada bicara sang Chief kini tanpa amarah. Tapi, perasaan pria dengan setelan jas warna biru tua itu sudah tak enak.


"Hitung berapa gaji dan pesangon yang pantas Pak Hendi terima. Karena hari ini terakhir beliau bekerja di sini."


Tak menunggu reaksi pegawainya yang syok, Kiandra langsung pergi begitu saja di ikuti Victoria.


Kiandra Mahika Marthadinata, dalam rentang waktu lima belas tahun dia menjabat sebagai CEO Marthadinata-Sanjaya Groub, baru kali ini ia memecat 4 orang sekaligus dalam satu tempo atas kesalahan kecil yang mestinya hanya berbuah sangsi ringan.


Ini jelas bukan gaya Kiandra. Dia bukan pemimpin yang arogan. Dia selalu berpikir jauh, bahkan ketika ada karyawan yang melakukan pencurian.


Ia akan melakukan penyelidikan terlebih dahulu tentang kenapa bisa sampai mencuri? jika alasannya terdorong kebutuhan ekonomi yang mendesak. Maka Kiandra tak segan untuk memafkan, tentu saja dengan beberapa catatan.


Tapi, kini hanya karena mengusir seorang yang tanpa janji dan perilaku-nya mencurigakan, 4 karyawan senior Kiandra rumahkan dengan begitu mudahnya.


"Kau istirahat saja." Perintah Kiandra kepada Vicroria, sebelum ia masuk kembali ke dalam ruang kerja.


"Baik Chief." jawab Victoria bertepatan dengan bunyi pintu tertutup.


Perlahan Kiandra menuju tempat duduknya yang berlapis kulit sintetis.


Ruangan itu sunyi tanpa ada Aldo lagi.


Kiandra menghela nafas panjang begitu duduk, kemudian memegangi kepalanya yang serasa berputar.


Detak jarum pada jam dinding terdengar sangat jelas, sebab ruangan kedap suara dan tak ada suara lain di situ.


Wajah pias Aldo dan para karyawan yang tadi ia pecat begitu saja terlintas.


Sekali lagi Kiandra menghela nafas panjang, lalu mengusap wajah dengan kedua tangan.


"Bisa-bisanya aku bertindak tanpa perhitungan." Kiandra terlihat menyesal.


Dia usap wajahnya kembali, kemudian memutar kursi menghadap tembok kaca dengan pemandangan langit siang yang cerah tanpa awan.


Pikiran Kiandra berkelana. Ia tak menyangka, seorang gadis yang tak ia kenal bisa begitu mempengaruhinya sampai seperti ini.


Telpon yang terletak di meja dan biasanya jarang sekali di gunakan sebab Aldo menghandle semua, mendadak berbunyi.


Kiandra segera bangun dari lamunan, kemudian menjulurkan tangan untuk meraih gagang telpon.


"Halo?"


"Halo, selamat siang Chief."


suara seorang wanita yang entah karyawan yang mana terdengar.


"Ada Pak Ethan ingin bertemu." suara tersebut melanjutkan.


Tumben..?


pikir Kiandra heran.


Tetapi, dia perintahkan juga sahabatnya itu supaya langsung naik saja ke lantai atas menemuinya.


Sambil menunggu Ethan, Kiandra membuat kopi dengan mesin ekspresso yang berada di sudut ruang.


Ruangan sepi dan aroma kopi luwak yang menyeruak, membuat pikiran Kiandra yang tadinya penuh kemarahan perlahan menguap dan kini benar-benar hanya meninggalkan penyesalan.


Apa akan terasa lucu, jika dalam tempo beberapa menit aku langsung merubah keputusan yang telah kubuat sendiri?


Sambil berdiri membawa cangkir kopi yang masih mengepulkan asap, Kiandra berdiri di dekat tembok kaca.


Ketukan pintu terdengar, Kiandra segera meletakkan kopinya ke atas meja.


Tanpa ia perintahkan, pintu langsung terbuka dan memperlihatkan senyum ceria Ethan yang biasa.


"Hi, bro?" sapanya penuh semangat.


Tetapi, Kiandra yang telah bersiap menyambut dengan salam tinju, seketika terpaku melihat siapa yang datang bersama pria berkacamata itu.


Anna?


mata Kiandra melebar, ketika mereka saling pandang.