Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
KENAPA



Setelah keluar dari rumah sakit tempat Ethan praktek, Kiandra memacu mobil Mazda MX 5 RF warna machine grey metallic miliknya memasuki jalan raya yang mulai padat di jam makan siang.


"Kemana si kampret ini...?" ujar Kiandra dengan ponsel tertempel di telingan kanan. "Jangan-jangan semalam dia teler dan sekarang masih tidur." Ia menebak.


Nada panjang kembali terdengar, membuat Kiandra berdecak. Di pandangi layar ponselnya yang bertulisan 'Roy Kampret".


"Kalau tak di butuhkan tiba-tiba muncul, kalau sedang butuh seperti ini, di telpon juga susah." Cerca Kiandra tak habis pikir.


Setelah mencoba menelpon beberapa kali, dan tetap tak di angkat. Kiandra akhirnya menyerah dan melempar ponselnya ke jog samping.


Di tengah kemancetan lalu lintas yang panjang, Kiandra menjatuhkan punggung ke jog mobil dan menengadahkan kepala.


"Siapa lagi yang bisa aku ajak bicara soal wanita?" Kiandra menghela nafas.


Suara klakson dari belakang mengejutkan pria tersebut. Kiandra segera menginjak pedal gas, sebab ternyata bagian depan telah kosong, meski beberapa meter seterusnya masih padat merayap.


"Kenapa aku harus kepikiran hal seperti ini sampai tak bisa tidur dan berkonsentrasi pada pekerjaan...?" Pandangan Kiandra mengawang dengan mobil yang berjalan lambat dan saling berdekatan.


"Apa karena dia memakai piyama yang sama dengan milik Kirana? atau...karena dia wanita yang harus aku dapatkan hatinya?" Mata Kiandra melebar. "Mendapatkan hatinya?" dia mengulang kalimat yang hampir membuatnya tertawa konyol, kalau saja ia tak ingat wajah penuh air mata dari wanita tersebut.


Kiandra kembali menghela nafas panjang.


"Bagaimana ini...? Kepalaku tak bisa berhenti memikirkannya." ia mengusap rambutnya ke belakang. Merasa kesal, akan sesuatu yang ia sendiri tak paham.


Beberapaa kali terdengar bunyi klakson dari kendaraan lain yang tak sabar dengan macet. Hiruk pikuk jalan raya beradu dengan debu dan panas yang menyengat.


Sangat berbanding terbalik dengan Kiandra yang duduk nyaman di dalam mobil berAC. Namun percayalah, hati dan pikiran pria itu tak kalah kacau dengan kemacetan ibu kota.


Kiandra meraih ponselnya kembali, lalu mengeser beberapa tombol. Tak seperti ketika menelpon Roy, kali ini telpon segera di jawab.


"Halo?"  suara Alexa terdengar dari speaker.


"Kau ada dimana?" tanpa basa-basi Kiandra bertanya.


"Tumben hari kerja seperi ini kau menanyakan keberadanku?" kelakar Alexa di sambung tawa yang renyah.


"Ada yang ingin ku tanyakan." Kiandra malas sebenarnya. Tetapi hanya Alexa yang memiliki waktu luang.


"Hah? Kau tanya aku?" suara Alexa melengking tak percaya.


"Kecilkan suaramu!" hardik Kiandra sembari menjauhkan benda pipih itu dari telingan.


Alexa malah tertawa. "Sorry, sorry, aku hanya kaget." ia masih tertawa juga.


Kening Kiandra berkerut. Rasanya aku tak akan mendapat solusi dari orang seperti ini.


"Halo? Hei, Kian, kau masih hidup, kan?" Alexa terbahak.


Untuk hal tertentu, berbuat konyol memang bisa menjadi lelucon yang bagus.


Tapi tidak untuk Kiandra yang telah menyalakan alaram warning, bahwa ada sesuatu yang mesti segera di atasi, sebelum semua terlambat.


"Aku dengar." Sahut Kiandra, setelah terdiam beberapa waktu.


"Aku sedang dalam perjalanan menjemput anakku ke sekolah. Apa kau ingin curhat sambil mentraktir kami makan siang?" nada bicara Alexa terdengar bersemangat.


"Tidak jadi."


"Hahh??"


"Tidak jadi." Kiandra mengulang. "Bye.." Tak menunggu jawaban Alexa, ia segera mematikan sambungan.


"Bodoh aku kalau mengharap solusi dari mereka." Wajah Kiandra masam. "Justru mereka itu sumber masalah sampai aku kenal wanita itu." Gerutunya kesal.


Kemancetan perlahan mulai terburai. Tapi tidak untuk pikiran Kiandra yang malah makin ruwet.


"Kenapa dia sampai ingin bunuh diri? Kenapa menangis sampai seperti itu? Memang apa yang sakit? Menyesali sesuatu? Berbuat salah?" Kiandra memukul setir mobil. "Sialan!" ia memaki dirinya sendiri.


Sejak malam itu, Kiandra memamg selalu kepikiran Anna.


"Kenapa aku seperti orang tolol?" Mendadak Kiandra berkata. "Kenapa aku tak tanya ke orangnya langsung?" Pria berkemeja cokelat tua itu seperti mendapat wangsit.


Secepatnya ia menjalankan mobil lebih kencang menuju ruko tempat ia membeli bunga beberapa hari lalu.


Akan tetapi, saat sampai di depan toko, mendadak semangat Kiandra meredup.


"Kenapa perutku jadi mulas seperti ini?" Dia usap dadanya yang berdebar kencang dan menimbulkan sensasi  aneh seperti rasa mulas di ulu hati.


Kiandra membungkuk sambil memeluk pinggangnya sendiri, dengan kening yang tertempel di setir mobil.


Kenapa aku harus melakukan ini? tanya Kiandra dalam hati. Terserah saja kan dia mau apa. Tiap orang punya beban hidup masing-masing. Kalau dia mau bunuh diri, ya bunuh diri saja. Tak ada hubungannya denngan ku, kan?


Batin Kiandra bergejolak.


"Tidak!" Kiandra mengepalkan tangan untuk menguatkan tekad. "Aku tak mau lagi terganggu dengan hal tak penting seperti ini!"


Tak mau pikirannya berubah lagi, Kiandra cepat turun dari mobil mewahnya.


Terdengar gemerincing suara lonceng, ketika dia membuka pintu. Aroma rosemary yang menenagkan menyambut, membuat Kiandra mengingat Anna yang sedang memilih serta merangkaikan buket mawar putih untuknya beberapa malam lalu


"Selamat datang." Nisa menyambut dari balik meja kasir.


Kiandra tercenung. Kenapa bukan dia?


"Cari bunga apa?" tanya Nisa setelah berada di dekat Kiandra.


Wanita itu langsung mengagumi postur serta wajah tampan yang di miliki pria tersebut.


"A, ah..bunga..." Pandangan Kiandra berkeliling. Tapi bukan sedang memilih aneka jenis bunga yang terpajang.


"Bunga Anyelir ini baru datang." Nisa menawarkan bunga dengan ujungnya yang melebar dan berbentuk rumbai menawan. "Ada warna pink, putih dan merah."


Kiandra hanya mengamati.


"Bunga Gerbera ini juga baru..."


"Mawar putih saja." potong Kiandra setelah memastikan jika Anna tak ada.


"Mawar memang selalu abadi." Nisa tersenyum lebar.


Kiandra masih meneliti sekitar.


"Anda mau berapa potong?" masih dengan keramahanya wanita tengah baya itu bertanya.


"Semua." Jawab Kiandra tanpa menatap lawan bicara.


Nisa yang sudah berpengalaman dengan berbagai macam karakter pembeli, hanya tersenyum dan mengangguk dengan hati lapang.


"Beberapa waktu lalu juga ada yang memborong mawar putih." Nisa bermaksud menghangatkan suasana dengan obrolan.


Sayangnya Kiandra terlalu cuek untuk hal-hal yang tak ia pedulikan


Sepertinya dia tak ada di sini. Batin pria tinggi tersebut. Apa malam itu dia bunuh diri di tempat lain? Mata Kiandra membulat oleh dugaannya yang mengerikan.


"Silahkan." Nisa yang telah berada di samping  Kiandra memberikan bunga mawar putih yang telah di rangkai cantik.


Kiandra malah mematung.


"Anda tak apa-apa?" tanya wanita itu khawatir, sebab Kiandra tak lagsung menerima buket darinya.


Kiandra menutupi dengan senyum tipis, kemudian membayar tagihan dan membuka pintu.


Bunyi gemerincing lonceng yang terpasang di atas pintu terdengar.


Mata cokelat terang Kiandra yang tertimpa cahaya matahari makin cemerlang, ketika melihat Anna berdiri di ambang pintu dengan menjinjing helm dan plastik besar yang di bawa dengan kedua tangan.


Ekspresi keduanya menunjukkan keterkejutan.