
"Aku yakin dia hanya sok jual mahal." cibir Alexa.
"Bukannya kau yang sok jual mahal?" Ethan tertawa sembari menunjuknya.
"Diam, kau!" di lempar pria berkacamata itu dengan benda terdekat, yang sayangnya langsung di tangkap.
"Thanks, darling." Ethan mencium jarak jauh, lalu membuka kaleng mister potato, benda yang tadi di lempar Alexa dan menikmati isinya.
"Sompret." Umpat wanita itu kesal.
Ethan terbahak sambil memamerkan mister potato milik Alexa dan kini berada di tangan.
"Apa yang membuatmu sampai tertarik padanya?" tak mengurusi Alexa dan Ethan yang sedang mode Tom and Jerry, Roy bertanya serius pada Kiandra.
Pria itu tak langsung menjawab, melainkan mengambil bungkus rokok milik Roy dan mengambil sebatang dan menyalakan.
Roy tersenyum melihat hal itu, lalu menyesap rokoknya sendiri dan menghembuskan asapnya.
"Karena dia memakai piyama motif kartun keroppi." Ucap Kiandra setelah beberapa kali menikmati rokoknya.
"Apa..?" Roy geli. "Bukan wanita dengan lingerie. Tapi wanita dengan piyama motif kartun?" ia tak percaya.
"Mana yang pakai lingerie?" mata Ethan jelalatan ke seluruh penjuru ruang.
"Di toko pakaian dalam." Alexa menarik rambut pria itu gemas.
Ethan meringis sambil mengaruk-garuk bagian kepalanya yang panas.
"Tertawa saja." Kiandra santai sembari menyesap rokoknya. "Aku juga merasa hal itu lucu."
Suasana Club bertambah ramai dengan kehadiran sekelompok pemuda yang langsung pesan minuman keras dan berpesta.
Dari kejauhan mereka memperhatikan gerombolan yang telah larut dalam tawa dan kesenangan dunia.
"Kau akan mencoba mendekatinya lagi?" Roy kembali fokus pada kawan baiknya.
"Entahlah, aku tak paham hal-hal seperti itu." Kiandra menjentik-jentikan puntung rokok ke asbak, lalu kembali menghisap dan menghembuskan asapnya.
"Polusi." Ethan mengibas-ngibaskan tangan, ketika asap rokok dari Kiandra mengarah ke dirinya.
"Cukup Roy saja sumber polusi udara di gank kita, kau tak usah ikut-ikut." Alexa menutup hidung dan mulut, seraya mendelik ke arah Kiandra.
"Kalian kira aku kendaraan bermotor?" Roy jengkel.
Sedang Kiandra cuma tertawa.
Sementara itu, di waktu yang hampir bersamaan.
"Silahkan Tante," Anna yang mengenakan baju tidur bermotif kartun keroppi meletakkan cangkir porselen warna putih yang masih mengepulkan asap ke atas meja.
"Terima kasih." Nisa yang tengah bersantai di sofa dan melihat tayangan televisi menurunkan kedua kaki, lalu meraih cangkir tersebut.
Anna duduk di kursi yang lain sembari memperhatikan Nisa yang tengah menyesap teh buatannya.
"Nah, ini baru namanya teh manis." Nisa berseru pada wanita yang memandang gelisah menunggu penilainya.
Seketika raut Anna berubah cerah.
"Akhirnya kau bisa membedakan gula dan garam." Nisa terkekeh mengenang saat pertama kali Anna datang.
Wanita muda yang malam ini membiarkan rambutnya tergerai bebas, tertunduk malu.
"Rasa tehnya juga pas, tidak terlalu manis, seperti saat kau pertama membuatnya dulu." puji Nisa sambil meminum teh hangat beraroma melati itu lagi.
"Terima kasih." Anna tersipu. Meski cuma pujian kecil, akan tetapi ia merasa sangat bahagia.
Jam dinding di ruangan tersebut menunjukkan pukul sebelas lebih lima belas menit.
Sebenarnya Anna sudah lelah dengan punggung dan kaki yang terasa kaku akibat kerja seharian. Namun melihat Nisa yang masih asik menonton sinetron, Anna sungkan untuk tidur lebih dulu.
Walaupun ruangan di lantai dua ini sempit dan kamar tidurnya masih harus di bagi dua dengan pemilik rumah. Tetapi bagi Anna, ini lah tempat terbaik yang akhirnya ia temukan.
Anna mencoba menikmati tayangan sinetron yang baginya membosankan. Tayangan yang kata Nisa sedang booming di tengah-tengah sintron azab dan perselingkuhan.
Tontonan yang menceritakan seorang CEO tampan, serta dingin yang ingin membalas dendam atas kematian adiknya dan malah jatuh cinta pada si terduga pembunuh.
Melihat akting pemeran CEO, mendadak Anna teringat pria tinggi dengan mata cokelat terang yang memberinya bunga dan mengajak pergi dengan cara tak lazim.
"I, iya?" sedikit terkejut ia menyahut.
"Kenapa kau menolak ajakan pria itu?" tanya nya ingin tahu.
Anna langsung gelisah. Dia tertunduk dengan kedua tangan saling meremas di pangkuan.
"Dia tampan, bukan?" Nisa meminta persetujuan.
Anna tercenung.
"Ah, yang seperti itu bukan hanya tampan. Tapi, sangaaat.. tampan." Wanita yang sebentar lagi berusia lima puluh tahun itu terlihat girang.
Seketika kedua pipi Anna merona mengingat wajah dingin Kiandra, serta kedua bola matanya yang berwarna indah.
"Kau lihat warna iris matanya, Anna?"
Anna kaget, dia pikir, Nisa tahu isi hatinya yang tengah membayangkan mata Kiandra yang sejak awal sudah membuatnya jatuh cinta.
"Warna mata seperti itu sangat langka di miliki orang sini." Nisa masih berasumsi. "Pasti dia blasteran luar negeri." Ia menyimpulkan.
Begitu,kah...? batin Anna tak yakin.
"Penampilan nya juga sangat keren." Nisa tersenyum lebar pada Anna yang terlihat malu-malu di matanya. "Dia seperti model yang keluar dari majalah fashion."
Jujur Nisa begitu kagum akan tampilan fisik Kiandra yang memang di atas rata-rata.
Akan tetapi bagi Anna, ajakan pria itu tak ubahnya seperti masalah yang akan mengusik ketenangan hidup yang susah payah telah di dapatnya ini.
"Anna? Anna, hei..!" Nisa memanggil berkali-kali, sebab wanita itu malah menunduk tanpa memberikan respon.
"A, aku...aku tidak bisa menerima ajakan orang yang tak di kenal." akhirnya cuma itu yang mampu Anna utarakan sebagai alasan.
"Bukankah dengan mengajak pergi, artinya dia ingin mengenalmu lebih jauh?" Nisa menasehati.
Dia berharap, Anna akan sedikit lebih ceria dengan kehadiran pria yang mencoba mendekatinya itu. Walau Nisa sendiri baru pertama bertemu. Namun feeling nya mengatakan, jika dia pria yang baik, meski agak sombong.
"Kau pasti takut di permainkan." Ia menebak, karena Anna tak kunjung memberi tanggapan.
Anna mengangkat muka. Raut wajahnya lebih pucat dari biasa.
"Delanna," senyum pria itu merekah menyebut namanya.
Seketika Anna memeluk tubuhnya yang mendadak dingin.
"Yah..type pria seperti itu memang rata-rata playboy. Tapi siapa tahu, kan..."
"K3parat yang kau bela mati-matian itu bl0w j0b dengan wanita lain di dalam mobil."
Mendadak Anna merasa mual, dengan keringat membasahi kening dan punggung.
"Anna?" Menyadari ada yang tak beres, Nisa berjalan cepat mendekati Anna yang sudah terbungkuk memeluk diri sendiri.
"Memalukan!"
"Kau tak ubahnya seperti sampah!"
"Kau bukan anakku lagi."
Anna berlari ke arah kamar mandi, di susul Nisa yang keheranan.
"20-02-2020, bukankah itu tanggal yang cantik?"
Anna muntah-muntah di dalam kloset. Kepalanya yang penuh dengan kenangan masa lalu terasa pening dan menekan, serta menimbukan rasa mual yang hebat.
"Ya Tuhan, Anna, kau kenapa?" Nisa khawatir, sebab dari leher yang di pijat, Nisa bisa merasakan tubuh Anna begitu dingin sampai mengigil.
Air mata Anna meleleh, perutnya terasa di peras, sementara tubunya telah lemas, tak mampu lagi menopang berat tubuh.
"Cukup dengan kau percaya padaku, aku tak peduli yang lain." Pria itu mengenggam erat kedua tangannya.
Nisa menjerit, ketika tubuh Anna meluncur turun dan tergeletak di lantai.
Begitu menyakitkan jika mental yang di hajar, dari luar terlihat baik-baik saja. Namun bagian dalam remuk tak bersisa.