
Anda beli batik?" tanya Aldo, ketika meringkas piring- gelas bekas makan Chief-nya, dan tak sengaja melihat bingkisan.
"Dari salah satu seller kita." jawab Kiandra dengan bibir yang memerah dan kening berkeringat karena kepedasan.
"Tumben seller langsung datang menemui anda?" Aldo mengangkut nampan berisi peralatan makan yang kotor itu, kemudian menaruh di pojok ruang.
"Cari muka." Kiandra menjawab sekenanya, seraya membersihkan tangan yang sebenarnya tidak kotor dengan tisu basah, lalu menyemprot hand sanitizer dan terakhir menyeka dengan tisu kering.
Aldo tertawa. "Seller mana yang seberani itu pada anda?" tanya-nya setelah duduk kembali di hadapan Chief-nya.
"Golden Hope." Kiandra sedikit membungkuk untuk membuka laci bawah, lalu mengambil aqua reflection dingin dan meneguknya sampai hampir habis.
"Maksud anda...Bu Radha?" Aldo terkejut.
Kiandra mengeleng sembari menutup botol minumnya. "Yang laki-laki." tandasnya.
"Pak Rico?" mata Aldo kian melebar.
Kiandra mengangguk, lalu kembali berkutat pada pekerjaan.
"Orang itu juga menghubungi saya." Aldo memberi tahu.
"Oya?" Kiandra mengangkat muka dan menatap Aldo penuh minat.
"Beberapa kali dia mengundang makan siang. Tapi, karena pekerjaan saya banyak, ya..belum sempat terealisasi." ia menjelaskan.
"Ooh..." mulut Kiandra membulat.
"Sepertinya dia ingin dekat dengan anda." Aldo menarik kesimpulan.
Kiandra cuma tersenyum sinis, kemudian kembali fokus ke map tebal di hadapannya.
"Bukankah itu bagus?" Aldo tak mengerti dengan sikap Chief nya yang terlihat tak peduli.
"Tidak ada yang bagus." Kiandra menanggapi sembari membaca lembar dokumen.
"Tentu saja bagus." tepis Aldo dengan pendiriannya. "Bukankan anda bilang mencari relasi di pemerintah?" ia mengingatkan.
"Iya, Golden Hope memang di gawangi petinggi partai. Tapi, sayangnya partai politiknya tidak di sini. Tetapi, di Kuala Lumpur." Kiandra menjelaskan tanpa memandang lawan bicara.
"Apa?!" Aldo kaget. "Maksud anda...mereka bukan warga negara sini?" seperti orang bodoh, Aldo menanyakan sesuatu yang sudah jelas.
"Keluar sana." tak mau menjawab, Kiandra malah mengusir dengan nada santai.
"Astagaa...saya benar-benar tidak tahu, Chief." Aldo merasa bersalah.
Kiandra tak acuh dan malah sibuk meneliti setumpuk berkas yang harus ia tanda tangani.
"Maaf kan saya Chief. Saya kurang jeli mencari info tentang mereka." Aldo tertunduk.
Tidak bisanya ia seperti ini. Ia adalah orang yang teliti. Tetapi, akhir-akhir ini ia merasa tak bisa menjalankan perintah Chief nya dengan baik.
Mungkin pikiranku terlalu penuh dengan Vic...
batin Aldo, dengan muka memelas.
"Sudahlah, mereka tidak penting!" ucap Kiandra lantang.
Aldo yang merasa tak berguna mengangkat muka. Ia lihat ekspresi Chief-nya yang selalu terlihat marah, padahal itu hanya karena kedua alis tebal-nya dan sorot matanya yang tajam.
"Mungkin aku terlalu membebani dengan banyak pekerjaan." ucap Kiandra pelan, lalu memalingkan muka dan pura-pura menulis.
Aldo yang sudah insecure, seketika mengembangkan senyum. Meski ucapan Kiandra nyaris tak terdengar dan sikapnya terlihat tak peduli. Tetapi, Aldo tahu, jika Chief- nya yang arogan itu mengakui kalau dia juga bersalah.
"Saya pasti akan menemukan keberadaan wanita itu!" Tiba-tiba Aldo berkata penuh semangat.
"Aku tidak percaya." malas-malas Kiandra menanggapi.
"Saya sungguh-sungguh, Chief." Aldo menyakinkan.
Kening Kiandra berkerut, lalu menatap Aldo. "Jadi selama ini kau tidak sungguh-sungguh?" ia bertanya.
"Astaga...bukan seperti itu maksud saya..." Aldo terlihat bingung menjelaskan.
"Keluar sana." perintah Kiandra kesal.
Kenapa dia jadi marah lagi?
Aldo tak habis pikir.
"Pokoknya kali ini saya tidak akan membuat anda kecewa." Aldo masih berusaha meyakinkan.
"Keluar!" Kiandra tetap mengusirnya.
Haduuuhhh...
keluh Aldo dalam hati.
Mau tidak mau ia turuti keinginan Chief nya tersebut.
"Permisi Chief." Aldo bangkit dari duduk. "Silahkan panggil kapan saja anda butuh." Aldo sedikit membungkukkan badan, kemudian membuka pintu dan pergi.
Kiandra memalingkan muka, sambil menutup mulut untuk menahan geli.
Mata keduanya saling pandang. Tapi, Aldo langsung melengos.
"Jangan sering-sering muncul di pikiranku. Aku jadi susah konsentrasi." kata Aldo saat melewati Victoria.
Bodyguard itu kaget. Tapi, tak menunjukkan respon. Ia hanya melirik Aldo yang berjalan gontai menuju ruanganya sendiri yang berada tepat di samping ruang kerja Kiandra.
Chief memarahinya lagi...?
tanya Victoria pada diri sendiri.
Mendadak kedua pipi tirusnya bersemu, mengingat apa yang barusan Aldo ucapkan.
Bisa gawat kalau seperti ini...
Victoria menunduk dalam, seraya memegangi dadanya yang berdebar kencang.
.
Didalam ruang kerja, mood Kiandra yang sempat memburuk karena kedatangan Rico, kini membaik setelah menyantap mi level kegemarannya dan menjahili Aldo asisten pribadinya.
Ia sudah kembali sibuk dengan laptop, sembari sesekali membaca laporan pada lembar dokumen yang jumlahnya lebih dari lima map.
Ponsel yang ia letakkan di samping laptop menyala, membuat Kiandra otomatis melihat siapa yang menghubungi.
Foto bayi kembar dengan nama Kirana nampak di layar.
Kiandra berdecak. "Ada saja yang bikin badmood."
Satu menit, tiga menit, lima menit, ponsel nya terus saja menyala tanpa bunyi dan getar.
Sampai akhirnya dengan setengah hati, ia mau mengeser layar benda pipih tersebut.
"Apa?" tanya Kiandra tanpa basa-basi.
"Kau ini, bisa-bisa nya mengabaikan pesan dan tak mau mengangkat telpon dari ku?!" amukan seorang wanita terdengar.
Kiandra menjatuhkan punggung ke kursi kulitnya, lalu memutar kursi tersebut menghadap tembok kaca di belakangnya.
"Aku sibuk." ia berkata tenang, dengan pandangan mengawang jauh ke langit biru yang membentang di hadapannya.
"Ck! sibuk, sibuk. Bohongmu sudah kadarluarsa. Ganti alasan lain!" suara wanita di seberang sana tak percaya.
Tanpa di duga, bibir Kiandra mengulas senyum. Tetapi, itu hanya sesaat.
"Daddy dan Ibu akan merayakan pernikahan emas. Aku bingung soal kado." tempo bicaranya menurun.
"Merayakan apa?" Kiandra membenarkan letak duduk.
"Pernikahan emas." suara dari speaker mengulang.
"Itu cuma ulang tahun pernikahan. Kenapa kau seheboh ini?" kening Kiandra berkerut.
"Ini bukan..."
"Bukannya tiap tahun Daddy dan Ibu tak pernah mau menerima kado dari kita, dan hanya ingin berkumpul untuk makan bersama?" Kiandra mendengus.
"Dengarkan dulu kalau orang bicara, jangan asal potong. Kau pasti sering bertindak arogan, mentang-mentang jabatan-nya paling tinggi."
"Heh, Kirana!" bentak Kiandra tak terima. "Kau..."
"Panggil Kakak!" potong si penelpon tak kalah nyaring.
Kiandra mengatupkan bibir rapat-rapat dengan kedua alis hampir menyatu.
"Aku bukan Ibu yang bisa sabar!" si penelpon kembali menghardik.
Muka Kiandra sudah merah padam.
"Kau ini bukan lagi bocah. Tapi tingkahmu menyebalkan. Mau sampai kapan kita seperti ini? kenapa kau tidak mau mengerti?"
"Aku tutup, kalau cuma mau membahas hal yang sudah berlalu." Kiandra mengancam.
"Kau memang keras kepala." si penelpon makin emosi. "Sekali-kali gunakan hati dan perasaanmu."
Kiandra sudah bersiap menekan tombol merah pada layar ponsel.
"Daddy dan Ibu sudah tua. Pikirkan mereka, jangan cuma ego mu saja."
"Siapa di sini yang menggungulkan ego dan merusak semua?" Kiandra terpancing juga untuk marah.
"Kau tak akan mengerti sampai mengalaminya sendiri!"
"Yang jelas aku tidak bodoh sepertimu!"
"Baca pesanku! aku malas berdebat denganmu."
Kiandra sudah bersiap menimpali. Tapi, si penelpon sudah mematikan sambungan.
Kiandra melempar ponselnya begitu saja ke atas meja sampai hampir terjatuh. Kemudian ia usap wajahnya dengan kedua tangan.
"Sialan..." ia mengerutu.