
"Kalian makan berdua! dia mengandeng tanganmu! bahkan dia mengaku kalau kau pendampingnya! dan kau bilang tak ada hubungan apapun??" Rico geram bukan kepalang.
"Aku bukan pembohong sepertimu!" jerit Anna penuh amarah.
Ia dorong Rico kuat-kuat, membuat cengkraman pria itu terlepas dan ia berhasil kabur.
"Toloongg..!!" Anna berlari meminta pertolongan. Ia sudah tak peduli tentang polisi atau apapun, yang jelas ia ingin menjauh dari mantan kekasihnya.
Sayangnya, baru beberapa langkah Rico berhasil menarik tas ransel di punggungnya, membuat ia tersentak dan tas besar itu terlepas.
Rico mendekap Anna dari belakang, lalu memutar tubuhnya dan kembali menguncinya ke tembok.
Mata Anna melebar, ketika Rico memaksa untuk mencium-nya.
"Tidak!" Anna memalingkan muka dan menutup mata rapat-rapat.
Dengan kasar Rico meraih belakang kepala Anna, sampai rambut panjang gadis itu terjambak dan wajah mereka bertemu.
"Rico!" Anna berontak, saat bibir pria itu hampir menyentuh bibirnya.
"Kau pasti merindukanku Delana." Rico makin memaksa.
Anna tak bisa menghindar. Air mata-nya meleleh dari kedua netranya yang terpejam, saat Rico berhasil menyatukan bibir mereka.
Matahari kembali tertutup awan, membuat gang sempit itu menjadi lebih gelap.
Dengan satu tangannya yang bebas, Anna memukul dan mencakar punggung Rico.
Namun, pria itu belum mau menyudahi. Rico menarik rambut panjang Anna yang terkuncir, membuat gadis itu lebih mendongkak ke atas dan ia lebih leluasa menyalurkan hasrat.
Ciuman Rico selalu menuntut dan penuh gairah, membuat Anna selalu tak berdaya. Ia menarik lengan baju Rico, berharap pria itu memberinya sedikit celah untuk bernafas.
"Rico..." Anna menangis, ketika pria itu gantian menjelajah leher serta daun telingannya.
"Katakan, kalau kau masih mencintaiku?" Rico berbisik.
Anna tertunduk dengan kedua kakinya yang terasa lemas.
"Kau sampai ke negara ini untuk mengikutiku bukan?" Rico mengigit lembut daun telinga gadis itu.
Seketika bulu kudu Anna meremang. Ia kembali berontak. Tetapi, Rico makin erat memeluk-nya.
"Lepaskan aku!" berusaha tegar, Anna menatap Rico dengan berani, meski netranya memerah oleh kesedihan.
"Delana..." Ekspresi Rico melembut. Ia pandang baik-baik seorang yang pernah mengisi kekosongan di hatinya itu.
Dua tahun telah berlalu. Tapi, kepolosan serta kemurnian dari wanita yang telah ia rengut segalanya itu tak berkurang. Hal yang tak pernah lagi Rico temukan pada wanita manapun, termasuk pada diri Radha sekalipun.
"Kembalikan berlian keluargaku!" pinta Anna tegas.
Rico yang sedang terlena akan masa lalu sedikit terkejut. Tetapi itu hanya sesaat.
"Kembalikan!" bibir Anna yang pucat sampai gemetar menahan lara.
"Sudah aku jual." Rico berucap ringan.
Anna syok, membuat pria itu tersenyum lebar.
"Penjahat! Penipu! Teganya kau melakukan semua ini padaku dan keluargakuu..!!" tangis Anna sembari berusaha membebaskan diri.
Raut Rico menegang. Tetapi, ia tak berniat melepas cengkraman pada kedua tangan Anna.
"Kami yang mengangkat derajadmu! Tapi apa yang kau lakukan sebagai balasan?! kau tidak pantas di sebut manusia!!" tangis Anna kian menjadi.
"Bagi kalian yang berdarah biru, aku memang cuma anjing." Rico berkata penuh penekanan. Ekspresinya dingin dan sorot matanya begitu kelam.
Anna ingin menyangkal, bahwa ia tak pernah berpikir begitu. Tetapi, senyum yang terukir di bibi Rico membuat Anna mengurungkan niat.
"Kau mendekati Kiandra Marthadinata untuk memulihkan keluargamu?" selidik Rico.
Anna terdiam dengan air mata yang membasahi pipi. Rasanya percuma menjelaskan, karena Rico tak akan mungkin percaya.
Rico mendekatkan wajahnya, membuat Anna langsung membuang muka.
Ia mendengar Rico terkekeh tepat di telingannya.
Anna cuma bisa menahan tangis.
"Dengan apa kau merayu-nya?" tanya Rico lembut, lalu membaui rambut dan mengecup pipi gadis itu.
Tubuh Anna yang kurus dan lebih pendek dari Rico tak bisa di ajak kerja sama. Ia sama sekali tak bisa membebaskan diri, walau sudah berusaha menendang. Tapi Rico selalu berhasil menghindar, dan gantian melecehkannya.
Tiba-tiba Rico kegelian, seperti sedang di gelitiki. "Lucu sekali." ia tertawa.
"Seorang Kiandra Marthadinata yang terkenal sangat superior, memiliki pendamping bekas kacung seperti ku...?" Rico tertawa sampai perutnya kram dan tanpa sadar melepas genggamannya.
Anna terbebas, tapi malah tak lekas pergi. Ia terdiam menyaksikan pria yang pernah di cintainya sepenuh hati itu tertawa seperti orang gila.
Bekas...?
Anna mengulang kata itu dalam hati.
"Coba bayangkan, akan dia kemanakan wajah sombongnya itu kalau tahu tentang kita..?" Rico tertawa sampai sudut matanya berair.
Hati Anna hancur tak bersisa. Bertahun-tahun ia mencoba menerima kenyataan pahit itu. Tapi, ia tak pernah bisa. Alih-alih menerima, Anna justru merasa begitu hina.
Perasaan rendah diri yang merubah kepribadian Anna yang semula ceria dan selalu optimis, kini menjadi sosok introvert yang selalu berpikiran negatif pada orang lain.
"Sedang apa kalian?!" hardikan dari seorang pria terdengar.
Seketika Anna dan Rico menoleh ke sumber suara.
Seorang gelandangan bertubuh gempal, serta berpakaian amat lusuh telah berdiri dengan karung besar-nya yang di seret.
Seolah baru terbangun dari tidur, Anna langsung berlari melewati si gelandangan.
"Delana!!" Rico berteriak memanggil.
Tapi Anna terus berlari tanpa menoleh ke belakang.
"Delanaa..!!" Rico mengejar-nya.
Anna mempercepat lari, hingga akhirnya mencapai jalan. Cahaya matahari menyambut, membuat Anna silau dan otomatis menutup mata.
Tapi,
BRAAAKK!!
Seketika langkah Rico terhenti, ketika di depan matanya sebuah mobil menabrak Anna yang tiba-tiba berlari keluar dari gang.
Matanya melebar, tak kala melihat tubuh Anna terpental, kemudian jatuh membentur aspal.
Jeritan terdengar dari orang-orang yang ngeri melihat kecelakaan di siang yang terik itu.
Rico masih berdiri di ambang gang, ekspresinya pucat bagai mayat. Tetapi, ia tak juga bereaksi, bahkan saat tubuh Anna di gotong dan meninggalkan ceceran darah, ia masih mematung dan tak ikut menolong.
.
.
"Apa?!" kedua mata Kiandra yang berwarna cokelat terang itu membulat sempurna.
"Iya, Anna sudah tidak tinggal dan bekerja di sini lagi." Nisa tersenyum tipis.
Kiandra tertegun. Untuk beberapa saat ia bingung harus apa. Di pandangi kotak berwarna pink keunguan berlambang huruf BR yang di bawanya.
"Dia pergi kemana?" tanya Kiandra setelah terdiam cukup lama.
"Maaf. Tapi...saya juga kurang tahu. Anna cuma bilang ingin pulang ke rumah orang tuanya." Nisa terlihat menyesal.
"Pulang...kerumah orangtuanya?" seperti anak kecil, Kiandra mengulang pertanyaan. Padahal ia paling benci orang yang seperti itu.
"Iya." Nisa menjawab singkat.
"Boleh..boleh aku minta nomor ponselnya?" sedikit ragu Kiandra meminta.
"Sayang sekali. Tapi, Anna tak punya ponsel." Nisa menerangkan.
"Tidak punya ponsel? di jaman modern seperti ini?" Kiandra tak percaya.
"Mungkin terdengar aneh. Tapi, Anna memang tak punya ponsel. Dia...anak yang sedikit pendiam dan...." Nisa tak meneruskan kalimatnya, sebab tak mau Kiandra antipati terhadap Anna.
"Rumah orang tuanya?" Kiandra kembali bertanya.
Nisa hanya mengeleng sembari tersenyum kecut.
Mendadak ada rasa kecewa, tapi bukan kecewa. Seperti putus asa, tapi bukan putus asa. Sesuatu yang baru Kiandra rasakan, yang membuatnya bahkan tak bisa bersikap arogan sebagaimana biasanya.
.
Lonceng yang terpasang di pintu berbunyi, berbarengan dengan Kiandra yang keluar dari toko bunga.
Nisa menunggu sesaat, sampai suara mobil Kiandra tak terdengar, kemudian berbalik dan menaruh kotak pink keunguan bertulis BR dari Kiandra ke atas meja kasir.
Nisa membukanya, ternyata sekotak besar es krim dengan sebuah memo kecil bertuliskan, 'MAAF'.