
"Om Kiki nggak mau memberi kami sesuatu?" tanya Kalila penuh harap.
Kiandra belum sempat menjawab, karena masih memijit tengkuk leher-nya yang pegal, sembari meregangkan-nya ke kanan dan ke kiri. Tapi, Kama sudah menimpali kalimat adiknya.
"Kami sudah jadi anak SMP lo." ia menepuk dadanya bangga.
Tak juga merespon, Kiandra malah merebahkan punggung ke bantal.
Mereka saat ini memang sedang berada di atas ranjang, di dalam kamar pribadi Kiandra.
Bisa di bayangkan, sesusah apa ia membopong kedua bocah usia 13 tahun menaiki anak tangga sampai lantai dua ini.
Kiandra menghela nafas lelah.
"Apa Om tahu, kalau Kama sudah berani selingkuh?" celetuk Kalila.
Pikiran Kiandra yang masih terplot pada wanita mirip Anna, seketika mengkerutkan kening.
"Siapa yang selingkuh?" Kama tak terima. "Dua-duanya aku jadikan pacar kok." ia bersedekap dengan ekspresi tengil.
"Itu namanya tak setia!" Kalila berkacak pinggang.
Bisa-bisanya anak bau kencur membicarakan selingkuh dan setia.
Cibir Kiandra dalam hati.
Ia yang berada di tengah keduanya dan dalam posisi setengah berbaring, ingin tertawa mendengar ocehan kedua bocah itu.
"Setia kok!" Kama masih bersikukuh dengan pendapatnya. "Aku adil tuh sama mereka, makanya kedua nya aku pacari." ia cengengesan.
Jangan ngomong seperti itu dengan wajah mirip bapakmu.
Kesal, Kiandra menyentil dahi Kama.
"Aduh!" bocah laki-laki itu langsung memegangi dahinya yang merah. "Om ngapain sih?" gerutunya marah.
Kalila terbahak, "Tuh, Om Kiki aja setuju denganku. Kau itu f*ckboy!" tunjuk kembaranya.
Bola mata Kiandra berputar mendengar omongan anak kecil yang bikin tepuk jidat.
"Kau sendiri punya pacar. Mau aku adukan ke Mama?" ancam Kama.
"Kenapa bawa-bawa Mama?" Kalila mendelik. "Eh, pacarku itu cuma satu ya, beda sama f*ckboy yang suka double-double!"
"Kalau double bisa, kenapa harus satu? Weeeekkk...!" Kama menjulurkan lidah.
Kalila mengambil bantal dan melempar tepat mengenai wajah Kama.
"Kok malah main fisik?" Kama emosi. Dua kali dia kena. Pertama, si Om yang tiba-tiba menyentil dahinya dan kedua si adik yang main lembar bantal ke muka.
"Biarin, weeeekkk...!" gantian Kalila yang menjulurkan lidah.
Dasar bocil, es teh masih minta orang tua, seenaknya mereka pacar-pacaran.
Kiandra pasang wajah malas. Ia sedang tidak mood ikut campur dalam perdebatan unfaedah dua keponakan kembarnya itu.
Aku harus segera mencari tahu siapa wanita itu. Tapi...kenapa aku yakin sekali kalau dia Anna...?
batin Kiandra, dengan kening berkerut dan memandangi langit-langit kamar.
"Om nggak senang ya ketemu kami?" Kalila melongok, menutupi cahaya lampu dari atas.
"Nggak mau ngasih duit sebagai hadiah masuk SMP?" susul Kama.
Pandangan Kiandra betul-betul tertutup oleh wajah mereka yang bagai pinang di belah dua.
Seolah baru terbangun dari mimpi. Kiandra menyadari raut kecewa Kama dan Kalila.
Apa mereka sengaja bertengkar untuk menarik perhatianku?
tanya-nya dalam hati. Sebab percayalah, kedua anak ini nyaris tak pernah bertengkar dan begitu kompak dalam hal apapun.
"Om?" bersamaan, mereka masih memperhatikan dirinya.
Perlahan Kiandra tersenyum, lalu diam-diam merentangkan kedua lengan dan memeluk mereka.
Awalnya biasa. Tapi, lama-kelamaan pelukan Kiandra makin erat, sampai keduanya tak nyaman.
Mereka mulai berontak, karena leher mereka terjepit siku Kiandra.
"Toolooongg...!" Kama melolong. "Kangen nggak gini, Oomm...!" Ia berusaha meloloska diri. Tetapi, kepalanya tak bisa keluar dari kempitan si Om.
"Leherku mau patah...!" rambut panjang Kalila sudah acak-acakan, dalam usahanya melepaskan diri.
Kiandra malah terbahak. "Balas dendam itu harus lebih kejam." ia berujar.
"Nggak boleh ngomong jelek kata Mama." Kalila masih sempat-sempatnya menasehati.
"O,ya? berarti minta gendong dari lantai bawah ke atas itu boleh?" Kiandra pura-pura marah.
"Kami kan kangen, Om..." Kalila memelas.
"Siapa tadi yang bilang, kangen nggak gini?" Kiandra mengerak-gerakkan kempitannya, membuat leher kedua-nya bergesekan dengan lengan Kiandra dan menimbulkan sensasi geli.
"Iya, itu akuuu..." Kama ikut mewek.
Mereka sudah megap-megap, karena di paksa terus tertawa dan dalam posisi leher terjepit.
"Aampuunii kaamii..!" bersamaan mereka memohon ampun.
Kiandra makin senang.
Sejak dulu, ia memang suka menjahilin kedua keponakannya. Dan jujur saja, kepindahan mereka ke luar kota bersama orang tuanya, membuat Kiandra kehilangan.
"Hei, Kama, wajahmu itu alim. Jaim sedikit jadi cowok." Kiandra yang kesal pada bapaknya, melampiaskan pada si anak.
"Kan kasihan Om, kalau di tolak..." Wajah Kama yang berada di antara lengan dan ketiak Kiandra memelas.
"Bocah iniii..." Kiandra gemas. Ia gelitiki Kama, sampai anak itu tertawa sembari meneteskan air mata.
Kesempatan itu di gunakan Kalila untuk mencubit pinggang Kiandra yang kebetulan baju belakangnya tersingkap.
Spontan Kiandra mengerang dan melonggrakan kempitannya.
Kama dan Kalila langsung meloloskan diri, lalu mengambil bantal-guling dan memukuli Kiandra beramai-ramai.
"Jangan beri ampun!"
"Balas dendam lebih kejam dari pada minta uang nggak di kasih!"
"Hei, hei, heii..!" Kiandra menyilangkan kedua tangan untuk menutupi wajahnya dari gempuran bantal-guling Kama dan Kalila.
Mereka bergumul, berteriak dan tertawa bersamaan.
Kiandra yang sudah dewasa juga tak mau mengalah, dan malah ikut-ikutan bertingkah seperti anak kecil.
Mereka 'berperang' sampai sprei dan selimut berhamburan dan ranjang berantakan.
Jika di perhatikan, rasanya mustahil Chief yang selalu pasang wajah dingin dan kaku itu bisa menunjukkan ekspresi seperti saat ini.
.
"Kian sudah datang?" tanya Dave, saat mendengar kehebohan dari lantai atas. "Kembar terdengar sangat senang" ia ikut duduk bersama istri dan mertua-nya.
"Dia baru saja sampai dan langsung di serbu anak-anak." Kirana menjawab dengan raut sebal.
"Rumah jadi hidup bukan?" ibu-nya tertawa.
Dave mengulum senyum.
"Kama dan Kalila itu sudah besar, Bu." sanggah Kirana. "Kian juga sudah berubah. Ibu lihat wajahnya? menyebalkan!" ia mencemooh.
"Seberapa berubah-nya Kian, nyatanya anak-anakmu masih bersikap sama. Itu artinya, bagi mereka Kian masih sama seperti yang dulu." si ibu terkekeh.
Kirana tak setuju dengan pendapat ibu-nya, karena Kiandra sudah terlalu sering membuatnya sakit hati. Tetapi, untuk membantah orang tua, ia tak pernah berani.
"Walau tak tahu apa-apa. Tapi, di banding orang dewasa, feeling anak kecil itu lebih peka." wajah si ibu yang di penuhi keriput itu kembali mengulas senyum.
Kirana tak berkata apapun.
Dave lah yang memegangi tangan istrinya dan lewat tatapan mata, meminta-nya untuk bersabar.
Dengan enggan Kirana mengangguk, lalu tertunduk.
"Delana, ayo bantu aku." si ibu menepuk pundak Anna pelan.
Sesaat Anna terperanjat. Tetapi, ia segera menguasai keadaan dan dengan sigap menjadikan lengannya sebagai pegangan.
"Aku akan memetik beberapa tangkai mawar untuk hiasan meja makan kita." si ibu berdiri di bantu Anna.
"Mawar rumah kaca selalu indah." Dave yang menanggapi.
"Dan makin indah, jika Delana yang merangkai." puji Nenek yang selalu mengumbar senyum itu.
Kedua pipi Anna merona mendengar-nya.
Kirana dan Dave masih memperhatikan si ibu dan Anna yang berjalan berdampingan. Sampai akhirnya, mereka menghilang di balik lemari besar yang menjadi penyekat ruangan.
Kirana menghela nafas panjang sambil menjatuhkan punggung ke sofa.
"Aku tak yakin bisa melewati seminggu ini tanpa adu mulut dengan bocah kolot itu." ia terlihat muram.
"Sudahlah..., bukankah kita kemari untuk menyenagkan ibu dan Daddy?" suaminya mengingatkan.
"Dia itu keras kepala." Kirana masih saja kesal. "Sok perfectionis, padahal dia itu koleris yang apa-apa harus sesuai dengan logikanya yang gila!"
Kirana marah, sebab selama bertahun-tahun Kiandra tak pernah mau mengerti dan malah mengobarkan perang dingin, yang membuat kedua orang tua mereka resah.
Dave tak terlalu menanggapi kemarahan istrinya, karena bagi dia, itu adalah hal yang biasa. Lihat saja beberapa menit lagi, pasti si istri akan melunak dan kembali seperti biasa.
Dia justru sedang memikirkan tentang wanita yang tiba-tiba muncul dan kini begitu akrab dengan sang ibu.
Kenapa Dad membiarkan orang asing tinggal dan dekat dengan ibu?
tanya Dave dalam hati.