Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
INSPEKSI



"Bicara jujur padaku. Apa yang Kian lakukan kemarin malam?" tanya Kirana serius.


Seketika kedua mata Anna membelalak. Ia terkejut Kirana menanyakan hal yang sama sekali tak ia duga.


"Delana." Panggil wanita dengan dress selutut warna violet tersebut, sembari menangkup punggung tangan Anna yang berada di pangkuan.


Anna mengangkat kepala, dan melihat kakak Kiandra yang selalu baik padanya sejak pertama bertemu itu tersenyum.


"Aku tidak percaya pada adikku. Tapi, aku percaya padamu." ucapnya kemudian.


Anna tertegun. Tetapi, ia belum bisa mengatakan apapun.


"Jawab pertanyanku, apa Kian melakukan sesuatu padamu?" ia kembali bertanya.


Anna tak bisa memyembunyikan kekalutannya, dan perubahan ekspresinya itu terbaca oleh Kirana.


"Kau tidak usah khawatir, karena aku bisa menjamin keselamatanmu." Kirana menatap Anna sungguh-sungguh.


Raut Anna kian menegang. Ia tidak berani membalas pandangan wanita yang sudah seperti kakaknya sendiri itu.


Namun, sikap Kiandra akhir-akhir ini memang cukup menganggunya. Terutama soal dia yang selalu seenaknya sendiri main seret dan cium.


Anna merunduk menyembunyikan rasa gelisah, kala teringat Kiandra yang menciumnya.


"Annya, dannan menannis yagi. Please...akyu minta maap...hik..hik..."


Dia teringat suara Kiandra yang mirip bocah cadel. Lalu boneka beruang raksaksa berbulu putih yang kini berdiam di kamarnya.


"Aku suka padamu."


Pernyataan cinta dari pria itu yang sangat tidak singkron dengan ekspresinya yang datar, ikut muncul di pelupuk mata.


"Delana." Kirana menguncang pelan tangan gadis itu.


Anna terkejut. "Maaf. Saya malah melamun." spontan dia meminta maaf.


Kirana mendengus sambil memandang prihatin.  Sejak awal bertemu Anna, ia merasa seperti melihat dirinya di masa lalu. Rapuh, seolah akan tumbang jika sedikit saja tersenggol sesuatu.


Karena itu pula, meski suaminya manaruh curiga akan keberadaannya di tengah keluarga, serta mewanti-wanti agar jangan terlalu dekat, Kirana tak pernah peduli.


"Tuan muda Kian...eemmm...Tuan muda Kian, hanya menyuruh saya membersihan mobil dan...mengambil sesuatu di Vila keluarga yang berada di puncak." ucap Anna bohong. Hanya alasan itu yang sedari tadi bisa ia pikirkan.


"Puncak?" Kirana kaget. "Kian membawa mu ke puncak? malam-malam begitu?" ia tak yakin.


"Iya..." jawab Anna sembari tertunduk.


Dahi Kirana berkerut. Sebenarnya ia tak begitu percaya. Hanya saja, adiknya memang tak pernah menyentuh perempuan dan bahkan terindikasi h*mo.


"Baiklah kalau memang hanya seperti itu." Kirana berkata, lalu menghela nafas panjang.


Diam-diam Anna pun lega, meski belum berani mengangkat muka.


Beberapa ekor angsa yang di pelihara sejak generasi si Kakek untuk menyengkan hati Kirana waktu kecil nampak berenang ke tengah danau.


Suara burung-burung liar yang membuat sarang di atas pohon cemara yang menjulang tinggi terdengar merdu, dan membuat betah siapa saja yang duduk di paviliun berbentuk rumah tradisional itu.


"Sebenarnya adik ku anak yang baik." ucap Kirana setelah terdiam beberapa waktu. "Sampai tumbuh dewasa pun, dia pria yang baik."


Mendengar nada suara Kirana yang sedikit berbeda, Anna melihat ke arahnya.


Angin bertiup, membawa aroma wangi dan juga melambai-lambaikan rambut panjang keduanya.


"Mungkin jika kau melihat kami, maka yang ada hanya kemakmuran dan kebahagiaan." Kirana menoleh ke arahnya. "Tapi percayalah, tidak mungkin seseorang bisa meraih itu semua tanpa pengorbanan."


Anna menyimak setiap kata yang Kirana ucapkan.


"Entah beruntung atau sial. Tetapi...dalam hal ini Kian lah tumbalnya." ia tersenyum pedih. "Satu sisi dia mendapatkan semua. Namun, di sisi lain harus memikul beban tanggung jawab yang semestinya bisa di bagi."


"Dulu Kian seperi Kama. Dia sangat cerewet, tidak bisa diam dan.." Kirana menoleh ke arah lain untuk mengusap air matanya yang hampir saja mengalir.


Anna memandang sedih. Terlihat sekali Kirana begitu terluka atas apa yang terjadi di masa lalu dan menyebabkan hubungan persaudaraan mereka menjadi renggang seperti sekarang.


"Maaf." Kirana menoleh ke arahnya dengan wajah sembab. "Aku menyuruhmu ke sini untuk mendengarkan ceritamu. Tapi, malah aku yang curhat." ia tertawa.


Anna mengeleng dan mengulum senyum. "Saya tidak masalah, dan malah senang nyonya mau berbagi."


Mendadak raut Kirana berubah kesal. "Sudah aku bilang berpa kali, jangan panggil nyonya. Itu membuatku terlihat tua." ia berseloroh.


"Baik. Maaf. Iya, lain kali saya tidak akan panggil nyonya. Eh!" Anna terkejut.


Mata Kirana memicing, "Awas kalau salah lagi, aku akan menghukummu." ia pura-pura marah.


"Baik, saya akan mengingatkanya kakak." Anna tertawa sambil menutup mulut.


"Sekali lagi panggil Tuan muda, aku cium kau, sial!"


"Pokoknya seperti itu. Awas saja kalau berani pergi-pergi lagi."


Anna teringat perkataan dan wajah galak Kiandra.


Ternyata mereka sama-sama suka mengancam.


batin Anna geli.


.


.


Seperti sebelum-sebelumnya, Kiandra lebih senang melakukan pengecekan langsung ke lapangan, dari pada hanya duduk manis dan menerima laporan dari bawahan.


Seperti saat ini, dia menyisir satu-satu gerai swalayan milik keluarga kakak iparnya, yang seharusnya menjadi tanggung jawab bersama. Tapi kini sepenuhnya di tumpuk ke pundaknya.


"Pusat selalu tepat waktu soal anggran. Tapi kenapa masalah sepele seperti closet tersumbat, lampu mati, keran rusak dan..." Kiandra menunjuk rak berisi deret makanan bayi. " rak berkarat dan produk yang berdebu. Kenapa tidak kalian perbaiki?" ia berbalik dan menatap tajam ke arah manager toko yang sedari tadi berjalan di sisinya.


Si Manager yang secara usia lebih tua dari Kiandra itu tegang. Ia tak mengira akan ada sidak hari ini. Dan lebih tak menyangka, CEO muda yang terlihat anti kotor itu, akan melakukan pengecekan sampai dalam toilet yang biasanya tak tersentuh.


"Kami akan segera melakukan evaluasi, lalu segera membenahi semua." ia menjawab penuh hormat.


Kiandra melengos, kemudian kembali berjalan menelusuri lorong swalayan yang cukup ramai pembeli di jam sore seperti ini.


"Edukasi karyawan mu, untuk tidak sembarangan menempelkan label diskon." Pria jangkung dengan kemeja abu tua itu menunjuk promo diskon yang di tempel di tempat yang salah.


"Baik, Chief." si Manager segera memberi tanda pada asistennya, untuk segera membenahi.


Dengan sigap, wanita berseragam toko warna kuning itu melepas kertas promo diskon dan menempelkan-nya kembali ke produk di sampingnya.


Aldo yang melihat itu cuma tersenyum tipis. Ia selalu suka gaya Chief nya yang tegas tanpa menindas. Padahal sebagai CEO, ia berhak arogan dengan marah-marah atau membuat malu bawahan. Tetapi, soal memimpin, Chief nya memang yang terbaik.


Dia cuma arogan kepada orang terdekatnya.


ucapnya dalam hati, sembari mengikuti Kiandra yang masih menunjuk ini dan itu untuk di perbaiki.


Rombongan yang terdiri dari Kiandra, Aldo, si Manager, dan dua orang asisten toko itu berhenti ketika mereka sudah menelisik dari lantai satu ke lantai dua.


Terlihat sekali si manager kelelahan secara fisik dan metal, karena berkali-kali menerima kritik dari Kiandra.


Hebat, Chief masih kuat saja naik turun tangga sambil bicara. Padahal ini gerai kelima yang di kunjungi.


batin Aldo yang mengikuti di belakang.


Ah, tapi sejak dulu dia memang mengagumkan.


Ia tersenyum diam-diam.