Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
AKU TIDAK PEDULI



Rumah kaca itu terletak di tengah-tengah kebun mawar, yang kesemuanya berwarna putih, meski memiliki jenis yang berbeda.


Dahulu kebun dan rumah kaca itu milik Nenek Kiandra yang meninggal muda, dan jauh sebelum Kiandra atau kakak perempuan-nya lahir.


Meski begitu, ia tetap bisa melihat wajah sang Nenek, sebab foto-foto-nya banyak terpajang di sepanjang dinding rumah.


Dari situ pula Kiandra paham, kenapa Kakek dan Daddy nya, cenderung memanjakan si Kakak. Tak lain, karena wajah-nya yang mirip dengan sang Nenek.


Kiandra tak pernah merasa iri atau memusingkan keajaiban gen tersebut.


Ia cuma kesal, karena terlalu di manja sejak kecil, kakak-nya menjadi childish. Dan imbasnya, sampai dewasa pun dia selalu seenaknya.


Bisa di lihat dengan dia yang menikah dengan Dave, yang notabene adalah saudara tiri dan dalam lingkungan masyarakat hubungan mereka di anggap tabu.


Kiandra memperlambat langkah, ketika memasuki area kebun dengan mawar-mawar putihnya yang masih kuncup.


Ia tak mau sampai menginjak akar tanaman tersebut, karena si ibu sangat menyayangi mawar-mawar ini.


Kiandra masih ingat, jika di dalam rumah kaca ada sebuah kamar yang biasa di gunakan untuk tempat beristirahat ahli botani yang kadang kala menginap.


"Delana yang selama ini membantu ibu mengurus kebun dan rumah kaca. Dia juga tinggal di sana. Walau ibu inginnya dia tinggal di rumah utama. Tapi...Daddy kalian tidak mengijinkan."


Kiandra mengingat baik-baik perkataan ibu-nya yang di sertai raut cemberut saat makan malam tadi.


Cahaya dari dalam rumah kaca nampak redup dari luar. Hal itu menandakan jika masih ada aktifitas di dalam sana.


Tanpa permisi, Kiandra membuka pintu yang keseluruhan-nya terbuat dari kaca.


Tak ada siapapun di ruangan yang di penuhi tanaman dari berbagai daerah tersebut. Kiandra melangkah masuk dan mulai menjelajah.


Mendadak ia tertegun, ketika melihat sosok yang di carinya itu sedang duduk jongkok di antara rimbunnya daun-daun monstra king jenis varigata yang lebar.


Bagai deja-vu. Kiandra berjalan mendekat, dan mendapati dirinya meringkuk di tempat tergelap. Menangis tanpa suara dan hanya bahunya yang bergetar.


Rasa kesal yang menumpuk, karena bayangan gadis itu berkali-kali menganggu, serta usaha pencarian yang tak membuahkan hasil, seketika sirna di siram rasa iba.


Menyadari kehadiran orang lain, perlahan Anna mengangkat muka. Ia kaget melihat Kiandra sudah berada di situ.


"A, anda perlu sesuatu, Tuan muda...?" Anna segera bangkit berdiri dan menemui pria itu dengan sikap kikuk.


Kiandra tak menjawab. Sebab ia masih memperhatikan raut wajah Anna yang sembab, meski air mata tak lagi ada di situ.


"Tuan muda?" panggil Anna.


"Tuan muda?" kening Kiandra berkerut. Nada suaranya terdengar heran, walau ekspresinya tak ramah.


"Anda perlu sesuatu?" kembali ia bertanya.


Kerutan di dahi Kiandra bertambah dalam. Hal itu membuat raut-nya makin terlihat menyeramkan dengan tatapan matanya yang tajam.


"Ayo mengaku." ucap Kiandra, sembari bersedekap.


"Mengaku?" kedua mata wanita itu membulat sempurna.


Kiandra berjalan maju, membuat ia tanpa sadar mundur sambil menangkupkan kedua tangan.


"Mengaku sendiri atau perlu ku paksa?" kembali Kiandra bertanya.


"A, apa maksud anda..?" ia terlihat bingung.


"Tidak usah sok polos. Aku tak suka." Kiandra terus berjalan maju.


"Saya tidak..." Anna mundur-mundur, untuk menjaga jarak dengan pria jangkung berwajah kaku itu.


"Tidak usah berbohong!" Kiandra berkata tegas. Tepat saat punggung gadis itu menabrak sebuah pohon besar, yang menjadi inang tanaman anggrek hitam papua.


Anna terpojok. Dia tak bisa bergerak kemana pun, dengan Kiandra yang berdiri menghalanginya seperti ini.


"Mengaku..." Pria itu mengulang ucapannya, kali ini nada bicaranya terdengar santai.


"Kenapa melolot seperti itu?" Kiandra malah salah paham dengan sikap Anna.


"Saya tidak..."


"Kau pikir aku akan diam saja hanya karena kau dekat dengan ibuku?" sebelum wanita itu menjelaskan, Kiandra telah lebih dulu memotong.


"Bukan seperti itu. Tapi saya..."


"Sudah...!" bentak Kiandra, sambil mengibaskan tangan menyuruh diam.


Anna yang kaget, langsung tak bicara.


Wanita sialan, bisa-bisanya dia bersikap tenang seperti ini? sementara aku, sudah seperti orang gila memikirkan dia yang entah pergi kemana.


Kiandra mengomel dalam hati.


Beberapa menit tak ada yang bicara. Keadaan benar-benar senyap, karena di dalam rumah kaca memang hanya ada tumbuhan dan mereka berdua.


Kenapa belum ngomong? mau menguji kesabaranku atau gimana?


Kiandra kesal melihat Anna yang sedari tadi cuma menunduk.


Ia hampir meledak, meniti menit demi menit yang terasa sangat lama. Sampai akhirnya, dia tak sabar lagi dan sudah bersiap meluapkan amarah.


Namun, saat Kiandra melangkah mendekat. Ia melihat belas luka tertoreh di dahi dan menyembul di antara rambut hitam Anna.


"Ini...?" tangan Kiandra terjulur ke atas kepala, membuat gadis itu terkejut dan reflek menghindar.


"Tuan muda, ini sudah larut. Mohon untuk..."


"Itu luka bekas kecelakaan-nya?" tak menghiraukan Anna yang gugup, Kiandra malah fokus ke hal yang lain.


"Benar..." Anna menyisir anak-anak rambutnya membentuk poni, untuk menutupi bekas jahitan pada lukanya.


"Bagaimana bisa kau tertabrak, padahal sopir ibu tak pernah menjalankan kecepatan mobil di atas 80km/jam?" selidik Kiandra. Dia tahu hal itu, karena Ayah-nya sangat protektif pada segala sesuatu yang berkaitan dengan si ibu.


"Saya tidak ingat." jawab Anna, sembari memalingkan muka. "Saat saya sadar, saya sudah berada di rumah sakit." ia melanjutkan, tanpa melihat raut lawan bicara.


"Anna." panggil Kiandra.


Wanita yang berdiri membelakangi-nya itu tak terlihat ekspresinya.


"Mengaku saja, kau Anna bukan?" tanya Kiandra lagi.


Anna tak bergeming.


Tak mendapat respon yang di harap, Kiandra meraih pundak wanita itu dan membuat-nya menoleh.


Pandangan mereka bertemu. Cahaya putih dari lampu membuat mata keduanya nampak berbinar.


"...Saya Delana." ucap Anna sungguh-sungguh.


Selalu ada sesuatu yang membuat Kiandra tak nyaman, tiap kali mereka saling pandang dalam jarak dekat seperti ini.


Sialan..


Umpat-nya dalam hati, ketika merasakan sensasi yang lebih panas dari sekedar minuman keras yang melewati kerongkongan dan tembus ke lambung.


"Aku tidak tahu, kenapa kau harus pura-pura amnesia." Kiandra berkata setelah berhasil meredam gejolak hatinya sendiri. "Aku juga tak peduli, nama mu Delana atau Anna."


Anna sudah membuka mulut untuk protes.


Tetapi, tanpa di duga, Kiandra sudah meraih kedua pipinya dan mencium bibirnya.


Mata Anna membelalak. Bahkan sangking syok-nya, dia cuma diam tanpa melakukan perlawanan.


Tak seperti pembawaanya yang kasar. Kiandra sangatlah lembut. Dan percayalah, ini adalah pertama kalinya ia mencium seorang wanita.