Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
BUTA CINTA



Kiandra makan sembari mendengarkan Maheer yang bercerita tentang bisnis keluarga mereka yang sempat goyah pasca Rico menjual saham milik Anna. Kemudian susah payahnya dia dan kakak kembarnya, Majeed memulihkan keadaan hingga bisa stabil seperti sekarang.


Kiandra memberi merespon dengan menarik surut bibir, lalu kembali menyantap sirah labu yang ternyata rasanya sangat manis


Aku pikir cuma labu di rebus.


pikirnya sambil menyendok hidangan pencuci mulut khas Kelantan itu.


Jujur Kiandra tidak begitu tertarik dengan kisah Maheer yang baginya hanya haus pujian itu. Ia lebih suka mengisi perutnya yang sejak tadi kosong dengan berbagai menu yang baru kali ini ia coba dan rasanya membuat ketagihan.


.


Kiandra masih mendengar Maheer bercerita, kali ini tentang Rico. Sesekali ia memperhatikan pria yang duduk di hadapannya dan di pisahkan meja panjang berisi aneka makanan itu, sekedar supaya dia tahu, bahwa ia mendengarkan. Padahal ya mendengarkan saja, tanpa benar-benar menyimak apa yang di katakan.


"Seharusnya Enrico tu tahu diri. Sapa die berani-beraninya jatuh cinta pada Delana kita."


Ucap Maheer, yang membuat keasikannya menyantap hidangan seketika terhenti.


"Die cuma kacung. Bertuah Papa mengijinkan tinggal di sini. Tapi malah jadi tak tahu diri."Pria bermata lebar yang duduk bersebelahan dengan Anna itu nampak kesal.


Kening Kiandra berkerut. Mendadak selera makannya hilang dan kini fokus mendengarkan.


Ia memang sedikit kebingungan dengan bahasa Melayu campur Inggris yang Maheer ucapkan. Akan tetapi, ia tahu sumpah serapah apa yang pria itu katakan tentang Rico yang menyebar foto-foto tak senonoh adiknya, lalu tentang Ayah mereka yang turun takhta akibat malu dengan Anna yang di anggap tak lebih dari p3lacur, serta permata keluarga yang paling berharga, yang hingga kini tidak di ketahui rimbanya.


.


"Sudah Abang, jangan bahas dia lagi." Anna merengek.


Kedua alis Kiandra hampir menyatu melihat reaksi Anna yang berbanding terbalik dengan kakaknya yang bak gunung meletus.


"Why? Masih kau bela juga hanjing macan Enrico tu?" ujar Maheer marah.


"Bukan membela Abang." Anna meralat. "Tapi kita sedang makan, dan..." ia menoleh ke arah Kiandra dengan raut rikuh.


Maheer ikut melihat ke arah Kiandra, lalu kembali menatap adiknya. "Biar calon suami you juga tahu, kalau si hanjing itu memang pantas di kurung. Bila perlu, kita nak patahkan juga kaki-kakinya" ucapnya serius.


Sudut bibir Kiandra tertarik mendengarnya.


"Abang!" kali ini Anna mendengur lebih keras. "Kenapa Abang berkata seperti itu? Kita sedang berbahagia, kan? Janganlah Abang mengingat-ingat yang buruk terus." ia meminta.


"Si hanjing tu bikin you pergi sampai tiga tahun dan keluarga kita nyaris tercerai-berai. Dan you masih bela die?" Maheer kesal bukan main.


"Itu juga karena Abang selalu menghina Rico, makanya..."


"Jadi awak lebih bela die dari pada Abang awak sendiri?!" pria itu sampai bangkit dari duduk.


"Bukan seperti itu Abang. Tapi, Delana mohon, sudah tidak perlu lagi kita bahas dia." Anna ikut berdiri untuk menenangkan kakak lelakinya.


Kiandra yang masih duduk, diam memperhatikan pertengkaran keduanya.


"Jangan bilang kalau you masih cinta sama si hanjing tuh?" ujar Maheer mengagetkan Kiandra.


"Abang!" sergah adiknya cepat.


Ia hendak mengklarifikasi, ketika pintu tiba-tiba terbuka dan seorang pelayan masuk dengan terburu.


"Mohon maaf, Yang Mulia Pengiran dan Yang Mulia Putri di minta menghadap Baginda Sultan ke ruangan utama." ia membungkukkan badan.


Maheer dan Anna saling pandang.


"Bukannya setelah ini kita akan jalan-jalan?" Anna heran.


"Maybe kita nak berkumpul kat sana." Maheer menebak.


Namun, Anna tetap merasa janggal, karena ruangan utama biasanya hanya untuk pertemuan.


"Ngomong-ngomong di mana toiletnya?" tanya Kiandra seraya berdiri.


Keduanya serentak melihat ke arah pria itu, kemudian kembali saling pandang.


"I kat sana dulu." Maheer memutuskan.


Anna mengangguk.


Setelah kakak lelakinya pergi, Anna segera meminta Kiandra untuk mengikutinya.


.


"Sebelah ini."  tunjuk Anna setelah mereka berbelok ke ruangan paling sudut.


Diam-diam Kiandra melihat sekeliling. Tidak ada pelayan atau siapapun di situ, kecuali hanya mereka berdua dan sebuah pintu di depan.


"Toiletnya ini." Anna berkata sambil menunjuk pintu tersebut, karena calon suaminya itu masih tak bergerak.


Tapi, mendadak Kiandra menarik pergelangan tangannya dan memaksanya ikut masuk.


"Kian?" pekik Anna kaget.


Akan tetapi, mulutnya cepat di sumpal oleh bibir pria itu.


Kedua mata Anna membelalak. Ia hendak berontak, tapi Kiandra sudah lebih dulu memeluk dan menyudutkannya sampai tembok.


Di ruangan yang katanya toilet. Akan tetapi, begitu mewah dengan kursi dan cermin besar yang terpasang tepat di belakang sana. Anna bisa melihat punggung Kiandra yang merengkuh dan hampir membuat tubuhnya tak terlihat karena tertutup badannya yang besar.


Ciuman Kiandra mulai panas dan memicu jantungnya berdebar lebih kencang. Hampir saja ia juga terlena, kalau saja tidak ingat percintaan mereka beberapa waktu lalu.


Pelukan Kiandra mengendur, dan Anna segera mendorongnya kuat-kuat.


"Kau janji tidak akan mengulangi sampai kita menikah nanti, kan?!" ia mengingatkan dengan nafas terengah.


Kiandra tertegun. Tapi, itu hanya sesaat. "Aku kan cuma cium." ucapnya santai.


"A.. Apaa...?" Anna tak percaya dengan pendengarannya. Ia pandangi ekspresi Kiandra yang sedikit aneh, kemudian melihat pintu yang ada di sebelah kanan, dan harus melewati pria itu dulu untuk sampai ke sana.


"Rico yang seperti itu saja masih kau maafkan dan kau bela di hadapan Abangmu. Harusnya aku, lebih bisa kau maafkan bukan?" Kiandra berkata sembari menunjuk dirinya sendiri.


"Kenapa jadi bawa-bawa Rico...? Eh!" intonasi suara Anna yang semula tinggi, seketika merendah saat menyadari sesuatu. "Kau... cemburu?" tanyanya ragu.


"Memang tidak boleh?" Kiandra balik bertanya sambil melipat kedua tangan ke dada.


Anna malah jadi kesal melihat gaya angkuhnya. "Oh, jadi kalau cemburu balasanya seperti ini?" ia berujar.


"Apa?" giliran Kiandra yang tak mengerti.


"Saat kita melakukan hal itu juga kau cemburu karena melihatku mengobrol dengan seorang tamu." Anna semakin kesal.


"Ke, kenapa..."


"Dulu juga kau pernah menciumku sembarangan karena cemburu dengan temanmu sendiri, kan?" potong Anna dengan kedua alis hampir menyatu.


"Hei, yang itu..."


"Ternyata seperti itu." lagi-lagi Anna tak memberinya kesempatan bicara.


"Seperti itu?" kening Kiandra berkerut tak paham.


"Kalau sedang cemburu kau tidak bisa bicara baik-baik. Tapi, kau langsung menggunakan ego mu yang tinggi dan main paksa tanpa peduli perasaanku!" Anna menatap sengit.


"Hei, kita ini sedang membahas Rico, yang keluargamu sendiripun tak suka. Tapi, masih kau bela! Apa lagi kalau bukan karena kau masih ada hati dengannya? Lalu aku tidak boleh marah?" balas Kiandra tak kalah kesal.


"Marah harus seperti ini?" tantang Anna.


Kiandra tertohok.


Kenapa dia jadi pemberani begini?


batinnya tak habis pikir.


.


Anna menghela nafas panjang begitu Kiandra tak bisa menjawab pertanyaannya.


"...Percayalah, Rico sebenarnya tidak seburuk itu." ucapnya setelah terdiam beberapa waktu.


Kiandra membuka mulut untuk membantah ucapnnya. Tetapi, Anna sudah lebih dulu memandangi.


"Keluargaku yang membuatnya berubah menjadi seperti sekarang." ia melanjutkan.


Kedua mata Kiandra membulat.


"Seperti yang kau lihat, keluargaku sangat mementingkan kasta." Anna tertunduk. "Tapi... aku tak akan membicarakan hal tersebut, karena itu sama dengan menjelekkan keluargaku sendiri." ia mengangkat muka. "Aku cuma ingin kau tahu, kalau Rico tidak sejahat itu dan jangan ikut membicarakan keburukannya."


Kiandra acuh sembari membuang muka. Bagaimanapun penjelasan dari Anna, hanya tampak wanita itu masih mencintai mantan kekasihnya.


Kalau dia jahat, pasti dia benar-benar sudah...


pikir Anna sedih.


.


"Terserah kau sajalah." Kiandra berbalik.


"Kian," Anna segera menyusul seraya meraih pergelangan tangannya.


Kiandra tetap enggan melihat ke arahnya.


"jangan marah..." ia pasang ekspresi sedih.


"Memang aku bisa marah padamu?" ujarnya galak.


Tapi, malah membuat senyum wanita itu terkembang.


Sial, jadi bucin itu harus selalu mengalah!


umpat Kiandra dalam hati.


Anna mempererat dekapanya pada lengan Kiandra, kemudian mereka berjalan keluar dari ruangan.


.


"Sebelum kita menikah, boleh aku bertemu Rico untuk terakhir kali?" ia bertanya.


"Terserah." ucap Kiandra masam.


"Kau boleh ikut mendengarkan apa yang kami bicarakan kok." Anna berusaha membuatnya tak marah.


"Ya, yaa.. Nanti aku rekam sekalian moment terakhir kalian bertemu." pria itu menanggapi.


Anna terkekeh melihat muka Kiandra yang *meng*gemaskan.