Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
PERSONAL ASISTEN



Anugerah tampan, cerdas dan lahir di keluarga terpandang membuat Kiandra hampir tak punya teman dekat, kecuali tiga orang somplak itu tentu saja.


Tidak! Jangan mendefiniskan Kiandra seorang yang introvert atau menarik diri dari keramaian. Malahan, hampir setiap saat dia berada di tengah komunitas dan di perlakukan istimewa di semua tempat.


Mulut-mulut manis selalu memuji, sekalipun tingkahnya begitu menyebalkan dan jarang tersenyum.


Dari mulai Kiandra mengenyam pendidikan sampai lulus Sekolah Menengah Atas, tak pernah sekalipun ia mengenal kata sendiri. Tanpa di minta, orang-orang itu akan berusaha mendekati, mengajak berbincang dan melakukan apapun yang menbuatnya terhibur.


Namun, seperti mereka yang hanya menginginkan keuntungan belakang, maka seperti itu pula Kiandra hanya menganggap mereka penjilat dan bukan kawan. Hal itu pula yang membuat kepribadian Kiandra kian egois dan anti basa-basi.


Hingga ia masuk bangku kuliah, lalu tak sengaja berkenalan dengan Ethan yang kebetulan duduk bersebelahan dengan-nya. Dari Ethan pula, Kiandra mengenal Roy dan clubbing. Tak lama ia  di kenalkan pada Alexa yang dulu playgirl dan tukang poroti lelaki kaya.


Konotasi negatif tentang club malam dan playgirl, awalnya membuat Kiandra yang hidup serba lurus tak nyaman dengan mereka. Hingga lambat-laun Kiandra sadar, hitam tak melulu tentang keburukan. Roy, Alexa dan Ethan adalah orang-orang pertama yang memperlakukannya sebagai Kiandra. Just Kiandra, not Kiandra Marthadinata.


Dari orang-orang itu pula, Kiandra mulai merasakan arti pertemanan yang sebenarnya. Teman yang tak sungkan memukul, bahkan mendorong kepalanya hanya karena sebuah lelucon  konyol.


Jangan tanya reaksi awal Kiandra seperti apa, waktu kepalanya yang berharga di perlakukan dengan kurang ajar seperti itu, sebab dua orang bodyguard yang selalu mengawasi, secepatnya kilat bergerak dan menodongkan senjata api jenis FN ke jidat Ethan yang seketika membuat Koas itu membeku.


Jika mengingat hal-hal itu, tak jarang mereka akan tertawa terbahak-bahak sampai mulas dan kadang kala Alexa akan berlari ke kamar kecil akibat tertawa tanpa henti.


Selama bertahun-tahun, hanya kepada mereka saja Kiandra mau sedikit terbuka. Tetapi, kini tanpa Aldo berusaha menjilat ataupun bertanya, si Chief nan arogan itu mulai mempercayai dirinya dengan menceritakan hal pribadi.


"Hahh??" kedua mata Aldo membulat sempurna. "Ba, bagaimana bisa wanita itu sampai ke rumah anda?" pria berjas biru dongker dari brand The Eksekutif itu tak percaya. "Bahkan tinggal di sana?


Di rumah induk keluarga Marthadinata??" ia betul-betul terkejut.


"Aku tak perlu menjawab soal itu!" ucap Kiandra ketus, seraya melipat kedua tangan ke dada. "Yang penting kau jawab saja pertanyaanku, biasanya wanita suka hadiah apa?"


Saat ini mereka sedang memarkirkan sementara mobil di bahu jalan, karena Kiandra belum juga bisa menentukan hendak kemana.


Aldo menghela nafas mendengar penuturan Atasanya tersebut.


Melihat reaksi Aldo, kedua alis Kiandra hampir menyatu dengan wajah masam.


"Jadi...saya perlu tahu dulu, anda memberi hadiah dalam rangka apa?" tak mau di salahkan lagi, kali ini Aldo bersikap kritis.


Namun, kening pria jangkung dengan kemeja maroon itu malah berkerut dalam. "Rangka apa? kau pikir aku mau memberi hadiah dalam rangka perayaan 17 Agustus?" Kiandra sewot.


"Astagaa..bukan seperti itu, Chief." kata Aldo penuh kesabaran seorang Bapak kepada anak. "Saya hanya ingin memastian, agar tidak salah lagi. Untuk itu saya harus tahu, anda memberinya hadiah untuk berkenalan, menyatakan cinta atau minta maaf?" pria itu menjabarkan secara detai.


Aldo sudah bersiap menerima kalimat ketus atau mungkin malah bentakan dari si Chief, karena caranya menjelaskan mirip seorang guru yang mengajari murid.


Tapi, Kiandra tak mengatakan apapun. Pria itu malah tertunduk dengan wajah merah dan kedua alis tebalnya yang masih saja tertekuk.


Waah...baru kali ini aku lihat Chief malu.


Aldo terkesima.


Akan tetapi, itu hanya sebentar. Kiandra segera bisa mengkontrol diri dan berdehem beberapa kali untuk menetralkan suasana.


"Mungkin...hadiah permintaan maaf." Kiandra jujur meski ia terlihat kikuk.


Kiandra berdecak melihat respon Aldo yang baginya terlihat berlebihan.


"Kalau kau masih tak bisa memberi ku solusi, dan malah berani bertanya lagi. Gajimu aku tahan sampai pertengahan bulan!" tungkas Kiandra kesal.


"Ya jangan, Chief..." Aldo memelas. "Kebutuhan saya banyak. Apa lagi bulan ini saya di paksa ikut arisan bapak-bapak di rumah saya." wajahnya kian murung.


"Masa bodoh!" Kiandra acuh.


Aku pikir satu minggu akan menjadi hari-hari damai untukku. Tapi, ternyata sama saja...


pikir Aldo, sembari menghela nafas dan mengurut dada.


"Aku menciumnya." ucap Kiandra tiba-tiba.


Kedua mata Aldo seketika mendelik.


Kiandra menoleh ke arah Personal Asistennya itu dengan ekspresi kaku-nya yang biasa. "Aku mencium wanita itu dan aku merasa bersalah." lanjutnya dengan kedua pipi merona.


Aldo syok tanpa bisa menunjukkan reaksi, kecuali cuma menatap dengan kedua pupil mata yang menciut.


"Ini memalukan..." Kiandra tertunduk sambil mengurut pelipisnya yang berdenyut. "Aku sudah berusah menerapkan cara-cara seperti di buku untuk mendekatinya. Tapi, dia malah terlihat...takut." Kiandra mengangkat muka dan menunjukkan ekspresi gundah kepada pria yang sehari-hari sering ia marahi.


Mendadak suasana di dalam mobil menjadi sunyi. Kiandra diam menunggu solusi. Sedangkan Aldo, ia masih tak bergeming, setelah mendengar dan melihat sikap Chief nya yang ternyata bisa juga galau.


Astaga...apa aku harus merekam moment Chief yang malu-malu kucing ini dan menguploud-nya di Deep Web sebagai suatu kejadian langka dan menakutkan??


Pikiran Aldo malah jadi melantur kemana-mana. Tapi, itu hanya sebentar, setelah ia mengamati Chief nya yang betul-betul sedang butuh solusi.


Pekerjaan serumit apapun dia bisa tangani. Giliran masalah sepele seperi ini dia kebingungan. Mau ketawa, tapi dia yang mengaji.


Aldo kembali menghela nafas panjang.


"Saya rasa anda tidak perlu memberinya hadiah, Chief." akhirnya Aldo berkata.


Kedua alis tebal Kiandra makin berkerut, dengan pandangan penuh tanya.


"Bukanlah anda sendiri yang mengatakan bahwa, perhiasan, bunga dan make up, semuanya di tolak?" Pria berambut cepak dan memiliki ekspresi meneduhkan itu mengingatkan.


Kiandra terdiam. Tapi, dia ingat hal-hal yanh di ucapkan oleh Aldo. Tentang Anna yang tak mau menerima apapun darinya dan malah terlihat ingin menjauh.


"Anda harus tahu Chief, tidak semua hal di ukur dengan uang dan kemewahan." Aldo berkata sambil menatap Kiandra lekat.


Pria berwajah oriental itu sampai tercenung, sebab cara berbicara Personal Asistennya itu tiba-tiba terlihat bagai orang yang berbeda.


"Minta maaf lah dengan tulus. Tanpa embel-embel apapun. Mungkin...anda masih bisa di maafkan..."


Untuk pertama kalinya, Kiandra melihat ekspresi Aldo seserius ini.