
Anna hendak keluar dari rumah kaca, ketika melihat Kiandra sudah berada di situ.
Pria tersebut sedang melihat-lihat koleksi tanaman anggrek milik Ibunya, serta tak menyadari kehadirannya.
Melihat sosok Kiandra, seketika Anna gugup. Wajahnya merona dan jantungnya berdetak lebih kencang. Semalam ia tak bisa tidur karena kejadian itu terus terngiang-ngiang di kepala, membuat ia bangun kesiangan dan semua pekerjaan pagi nya terbengkalai.
Aku harus menyapa dengan cara apa?
batinnya bingung antara mendekati lebih dulu atau tidak.
"Kenapa malah berdiri saja?" tanya Kiandra yang tiba-tiba sudah berada di depannya.
Anna kaget sampai mundur selangkah.
"Kau baru bangun? Kenapa tadi tidak ikut sarapan bersama?" belum di jawab dia sudah kembali bertanya.
Anna gugup. "Sa, saya baru..."
"Kenapa masih memakai bahasa formal begitu?" potong Kiandra dengan kening berkerut. "Jangan-jangan kau juga akan memanggilku Tuan Muda?" tuduhnya kesal.
Anna merunduk sambil meremasi jari-jari tangannya yang mendadak dingin. "Sa, eh. Aku... cuma belum terbiasa... Eemmm... Kiandra." kedua pipinya merona.
Kiandra memalingkan muka sembari mengulum senyum. Kalau boleh jujur, sebenarnya ia juga malu. Sebelum memutuskan ke sini, berkali-kali tadi ia maju-mundur. Akan tetapi, perkataan Kirana dan juga niatnya untuk bertanggung jawab, memberinya keberanian lebih.
"Ayo, ikut aku." ajaknya seraya mengandeng tangan wanita yang belum bisa menatap wajahnya secara langsung itu.
"Mau kemana?" tanya Anna sembari tergopoh-gopoh mengikuti langkah pria berkemeja warna hijau botol tersebut.
"Menemui Daddy." jawabnya singkat.
Kedua mata Anna seketika membulat. "A, apa?" ia berharap salah dengar.
Namun, Kiandra tak mau repot- repot menjelaskan sesuatu yang menurutnya tak penting, dan terus saja menyeretnya keluar dari rumah kaca melewati jalan setapak yang membelah kebun mawar yang mulai menampakkan kuncup-kuncupnya.
Sementara itu di ruang kerjanya, Ayah Kiandra terlihat sedang bersama Victoria.
Ruangan yang luas serta di penuhi rak-rak buku itu hening tanpa ada seorang pun yang bicara. Demikian juga dengan Victoria yang duduk tanpa berani mengangkat muka.
"... Aku percaya kinerjamu." akhirnya Ayah Kiandra buka mulut, membuat wanita berkuncir tinggi itu melihat ke arahnya. "Kalau kau sendiri yang menjamin bahwa dia tidak akan menjadi masalah di kemudian hari, maka aku melepasnya." ia melanjutkan.
Victoria meneguk ludah dengan susah payah.
"Tapi.., bukan berarti dia bisa terus bekerja." pria tua dengan rambut putih dan mata sipitnya itu berkata. "Aku... tetap was-was dia akan menghancurkan Perusahaan dari dalam." ia menatap bodyguard anaknya itu.
"Maaf sebelumnya Tuan," Victoria ijin bicara. "tetapi, Tuan Dave sepertinya..."
"Tidak, tidak." Ayah Kiandra menyela sembari mengibaskan tangan beberapa kali. "Dave terlalu baik, sehingga sulit membedakan kawan dan lawan. Kadang perasaannya lebih dominan, jika sudah menyangkut hal-hal yang membuatnya merasa bersalah." pria berkaos putih itu menjabarkan.
Victroria tak membantah. Tetapi, lubuk hatinya di buat gelisah.
"Mungkin jika tidak melihat dedikasinya selama sepuluh tahun, aku sudah menyingkirkannya seperti lalat." pria berwajah oriental itu berkata.
Victoria berusaha tak menampakkan ekspresi apapun, walau dadanya berdesir ketika mendengarnya.
"Karena waktu sepuluh tahun yang tidak sebentar jugalah, aku sama sekali tak bisa meraba niatnya." Ayah Kiandra menatap Vicoria baik-baik. "Entah dia benar-benar tak tahu apa-apa, atau itu hanya sekedar skenario untuk sesuatu yang sudah dia persiapkan." mata cokelat terang miliknya berkilat.
Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar, membuat wanita yang berprofesi sebagai bodyguard itu bangkit dari duduk dan berdiri sedikit ke sudut, saat Kiandra dan Anna masuk bersamaan.
Kiandra kaget melihat kehadiran Victoria di ruang kerja Ayahnya. Tapi, hal itu segera tertepis oleh suara si Ayah.
"Kalian mau berdiri terus di depan pintu?" selorohnya.
"Saya pamit, Tuan." Victoria menundukkan sedikit kepala.
Kiandra melihat dengan tatapan menyelidik ketika wanita berpakaian serba hitam itu lewat di sampingnya, tetapi hanya di balas tundukan kepala dan dia segera berlalu.
Kini tinggal dirinya, Anna dan si Ayah yang berada di ruangan dengan dominasi warna cokelat kayu tersebut.
Berkali-kali Anna menggigit bibir bawah. Udara dari pendingin ruangan sampai membuat bulu kudunya meremang. Ia memang sangat segan dengan kepala keluarga Marthadinata itu.
Diam-diam ia melihat Ayah Kiandra yang berpenampilan santai dengan kaos dan celana pendek tersebut.
Dulu beliau sangat tampan, kenapa sekarang jadi terlihat menyeramkan begini..?
ia berkata dalam hati.
Anna tekan jantungnya yang sedari tadi terus bergemuruh karena memikirkan hal-hal di luar ekspetasi.
Dia juga, kenapa tiba-tiba membawaku ke sini...?
batinnya sambil melirik Kiandra yang duduk di sebelahnya.
Apa dia akan mengatakan kalau semalam kami sudah...?
Anna meremas kain bajunya dengan pikiran yang semakin tak menentu.
"Tumben kau ke sini?" Ayahnya yang pertama buka suara.
Anna tahu, jika pria berusia delapan puluh tahunan itu bertanya kepada anaknya. Tapi, tetap saja ia yang terkejut.
"Aku ingin menikah dengannya." jawab Kiandra sambil melihat sesaat ke arahnya.
Anna langsung membeliakkan kedua mata, kemudian saling pandang dengan Ayah Kiandra yang menatap ke arahnya.
"Aku yakin Daddy sudah menyelidiki tentang siapa dia, jadi tidak masalah, kan?" Kiandra kembali berkata.
Anna sudah membuka mulut, tetapi ia bingung mau mengucapkan apa.
Ayah Kiandra masih diam saja, sambil memperhatikan dua orang yang duduk di hadapannya dan di pisahkan sebuah meja kerja dengan ukiran khas kota Jepara.
Kening Kiandra bekerut melihat respon Ayahnya yang terlihat santai di matanya. "Kalau Daddy tidak mau memberi restu pun, aku..."
"Hei, hei.. kenapa kau tidak sabar sekali?" potong pria berperawakan mirip dirinya itu.
Kiandra mendengus, seraya melipat kedua tangan ke dada dan menjatuhkan punggung ke kursi.
"Daddy mu ini sedang syok, apa kau tahu?" tandas si Ayah tak kalah sebal.
Muka Kiandra makin tertekuk di beri nasehat seolah anak kecil.
Si Ayah yang melihat sikap anaknya menghela nafas. "Dasar, kau ini mirip siapa..? kenapa tidak basa-basi dulu? Untung jantung Daddy mu ini masih kuat." ia pura-pura marah.
Kalau Daddy masih kuat bercinta dengan Ibu berarti aman.
Kiandra berkata dalam hati sambil melengos.
Mungkin bagi orang lain, pembicaraan Ayah dan anak itu terlihat akrab. Tapi, otak Anna sudah tak mampu melihat sisi harmonis tersebut, karena ia juga sama kaget nya dengan ucapan Kiandra yang ingin menikahinya.
Menikah? Dia mau menikahiku?
ia tak yakin dengan pendengarannya sendiri.
"Jadi Daddy tidak akan menghalangi kami, kan?" Kiandra kembali bertanya.
"Kau pikir orang tua mu ini penjahat yang menghalangi kebahagiaan anaknya?" cibir si Ayah.
Biasanya begitu.
Kiandra berkata dalam hati.
"Aku hanya akan bertanya satu hal." pria tua itu mengacungkan jari telunjuk di depan Anna yang tegang.
Kiandra ikut menyimak apa yang akan Ayahnya itu ucapkan.
"Kenapa putri dari Tengku Petra Yang Agong ada di Negeri orang dan tanpa pengawalan?" nada bicara pemilik jaringan bisnis Marthadinata-Sanjaya Groub itu berubah serius.