Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
SAKIT



Pingsannya Kiandra malam itu, ternyata bukan hanya soal dia yang belum pernah minum alkohol sebelumnya.


Tetapi, juga karena faktor kelelahan dan telat makan. Dua hal yang sangat fatal bagi penderita mag seperti Kiandra.


Hal itu di ketahui, ketika teman-temannya berinisiatif membawa Kiandra yang tak kunjung sadar ke rumah sakit.


Praktis karena hal itu, selama dua hari Kiandra terpaksa mendekam di rumah sakit. Walau ia sudah berkali-kali mengatakan, bahwa kondisinya sudah membaik.


.


Pagi ini adalah hari ketiga Kiandra di rumah sakit. Ia sedang menikmati sarapan bubur polos nyaris tanpa rasa, sembari berkutat dengan laptop dan ponsel.


Meski Dokter menyuruh dirinya rilex dengan tak bekerja dulu. Nyatanya bagi Kiandra, istilah bekerja tak harus berpakaian rapi dan berangkat ke kantor. Dengan ia masih mengenakan piyama rumah sakit dan selang infus terpasang di tangan kiri, ia masih bisa memimpin meeting dan mengarah-ngarahkan para staf-nya, terutama Aldo, agar semua tetap berjalan dengan semestinya.


"Lebih baik anda tidak memikirkan  pekerjaan dulu, Chief. Percayakan semua pada saya." ucap Aldo melalui sambungan video call.


"Aku tidak percaya padamu." Kiandra berkata tanpa beban.


Mendengarnya perkataan Chief-nya yang setajam silet, Aldo cuma menghela nafas panjang. Ia sudah biasa.


"Ambil buku. Catat semua intruksiku." tak mau membuang waktu, sebab sebentar lagi akan ada dokter yang melakukan cek up rutin, Kiandra kembali memerintah.


Dari layar ponsel, Aldo terlihat bersiap dengan buku seukuran telapak tangan dan sebuah bolpoin.


Kinadra mulai menjelaskan hal-hal yang perlu Aldo lakukan, sambil sesekali melihat laptopnya yang menyala dan memperlihatkan bagan-bagan, serta tulisan kecil sebagai keterangannya.


Aldo manggut-manggut tanpa menyela ucapan Kiandra yang hampir lima belas menit bicara tanpa jeda.


"Ada yang belum jelas?" tanya Kiandra setelah selesai menjabarkan.


"Jelas semua, Chief." jawab Aldo mantap.


"Bagus." ucap Kiandra sembari menipiskan bibir.


Diam-diam dia memuji Aldo yang cerdas dan tekun, serta mampu mengimbangi kinerjanya yang serba cepat dan tepat.


"Oya, pulang kerja mampir ke apartemenku. Beri Snow makan, hari ini yang biasa memberi makan tidak masuk." perintah Kiandra lagi setelah mematikan laptop, dan kini tinggal ponselnya saja yang masih ia gunakan untuk video call.


"Astaga Chief, anda kan tahu saya takut anjing." wajah Aldo memelas.


"Ajak Vic." Kiandra memberi solusi.


"Nanti saya di sangka pengecut karena takut anjing bagaimana?"


"Memang kenyataanya begitu." ucap Kiandra santai.


"Tapi Chief..."


"Aku tunggu laporannya." Aldo masih ingin protes. Tapi Kiandra sudah lebih dulu mematikan sambungan.


"Dia lebih ribet memberi makan anjing, dari pada melakukan setumpuk pekerjaan dari ku." gerutu Kiandra sembari menyimpan laptopnya ke laci meja.


Kiandra baru saja merebahkan punggungnya yang pegal, lalu membuka aplikasi mobile legends, ketika pintu di ketuk seseorang.


"Yo!" Ethan dengan baju kebesarannya nyengir dari balik pintu.


Kiandra mengangkat sebelah tangan untuk membalas salam, lalu kembali fokus ke ponselnya.


"Gimana rasanya mabok?" gurau Ethan sembari duduk di kursi samping ranjang.


"Aku sakit mag akut, bukan mabuk." Kiandra meralat tanpa mengalihkan konsentrasi-nya dari game.


"Pemicunya tetap dari alkohol yang kau minum." Ethan menerangkan.


Kiandra berdecak malas, tanpa mau menanggapi lebih. Dia memang tidak mau di ganggu jika sedang online.


"Sudah tahu punya sakit mag, kenapa telat makan? kerja juga jangan di forsir. Kau ini bos, bukan karyawan. Santai sedikit kenapa?" Ethan ngomel.


"Aku pulang kapan?" tak mempedulikan ocehan Ethan yang seorang dokter, Kiandra malah bertanya hal lain.


"Kami ini khawatir padamu." kening pria berkaos abu tua yang di rangkap jas putih itu berkerut.


"Iya, aku juga khawatir pada diriku sendiri." Kiandra menanggapi sekenanya. Dia betul-betul sedang fokus pada game, tanpa mau menoleh ke arah Ethan sedikitpun.


Muka Ethan sudah kecut melihat sikap Kiandra. Sebetulnya ini hal yang biasa, karena begitu lah Kiandra kalau sudah bermain game.


Untuk beberapa menit Ethan terdiam sambil memandangi Kiandra yang makin asik dengan dunianya.


Aku sampai jalan kaki dari gedung sebelah ke sini. Tapi sikapnya malah seperti ini.


Ethan berkata dalam hati.


Ia melihat ekspresi kegirangan di wajah Kiandra yang sepertinya berhasil mengalahkan musuh, kemudian berubah serius dengan jempol tangan yang makin lincah menekan layar ponsel.


"Kenapa kau sampai minum?" tanya Ethan tiba-tiba.


Kiandra melirik sebentar ke arahnya, lalu kembali fokus ke permainan "Ingin tahu saja rasanya seperti apa."jawabnya tenang.


"Oowwwh..." Ethan membulatkan mulut pura-pura percaya.


Kembali tak ada yang bersuara, kecuali dari game yang sedang Kiandra mainkan.


"Pusing ya mikir Anna?" celetuk Ethan sok polos.


"Apaa?!" Kiandra seketika menegakkan punggung dan menoleh sepenuhnya ke arah Ethan . "Kenapa jadi bawa-bawa perempuan itu? memang aku harus punya alasan wow apa untuk sekedar mencicipi minuman keras?" Kiandra langsung emosi.


"Ya santai saja kalau enggak." ucap Ethan sembari tersenyum meremehkan.


"Apa-apaan wajahmu itu?" kedua alis Kiandra hampir menyatu menatap teman baiknya.


Pria berkacamata itu malah tertawa.


"Kau belum sarapan atau syaraf mu ada yang putus?" tanya Kiandra kesal.


Tawa Ethan makin keras, tak kala melihat raut Kiandra yang masam dengan ponsel miliknya yang tergelak begitu saja dalam posisi online game mobile legends.


"Nanti sore kau sudah boleh pulang." Ethan berkata setelah berhenti tertawa, lalu bangkit berdiri. "Aku tinggal dulu, pasienku sudah antri." ia memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi.


Kiandra yang berada di tempat tidur masih pasang wajah marah.


"Daa..daahh.." Ethan melambaikan tangan di ambang pintu seperti anak kecil yang dadah-dadah pada temannya.


"Dasar setan." sunggut Kiandra.


.


Pantas dari dulu nggak pernah dapat cewek, seleranya unik.


batin Ethan begitu menutup pintu.


"Hai Vic, sudah sarapan?" sapa Ethan super ramah, ketika melihat Victoria yang berjaga di luar.


Wanita jerman itu hanya menunduk hormat tanpa menjawab.


Ethan tersenyum lebar, " Di jaga ya, Chief-nya. Jangan di apa-apain. Masih polos." ia terkekeh, kemudian berjalan pergi.


Victoria tak memberikan reaksi, kecuali hanya diam dan menundukkan kepala saat Ethan lewat di depannya.


.


Sepeninggalan Ethan, Kiandra kembali tiduran sembari melanjutkan bermain game.


Namun, perkataan Ethan yang menyebut Anna, membuat Kiandra tak lagi bisa menikmati permainan.


Kiandra bangkit dan menghela nafas panjang. Ia letakan ponselnya yang telah mati ke atas nakas.


Kejadian di Club beberapa hari lalu terlintas, membuat Kiandra teringat tentang wanita bernama Nora yang seharusnya dia rayu, kemudian pengakuan teman-temannya dan juga tentang Anna yang sudah pasti sudah mendengar semua.


"Sialan, lebih baik aku di anggap homo, dari pada harus merayu wanita seperti itu."


Kiandra mengusap rambut cepaknya kebelakang, lalu kembali merebahkan diri ke ranjang.


Pandangannya mengawang menatap langit-langit ruang perawat kelas presidential suit yang mewah bak kamar hotel.


Ekspresi Anna yang rikuh ketika Ethan memaksanya duduk, kemudian wajah kaget atau mungkin takutnya, ketika Alexa membentak, dan sorot matanya yang selalu di liputi kesedihan, membayang di pelupuk mata Kiandra.


"Mungkin...aku harus minta maaf padanya."