
"Apa kau tolol?" suara Ethan terdengar begitu nyaring, sampai Kiandra menjauhkan telpon genggamnya.
"Kau mengatakan tolol kepada lulusan terbaik INSEAD Prancis dan peraih gelar MBA termuda?" Kiandra menanggapi serius.
Victoria yang sedang menyetir dan Aldo yang duduk di samping saling lempar pandang, sembari bertanya-tanya dalam hati, apa yang membuat Chief mereka kesal.
"Terbaik, sampai bertanya nama pun harus di ajari?" Ethan mencemooh.
"Apa?"
"Apa? Apa? He? Hu?" ejek Ethan dari seberang sana.
"Sialan!" Kiandra mengumpat dengan wajah merah.
.
"Tanya nama-nya!" Ethan gemas. "Dua kali kalian bertemu. Tapi nama saja kau tak tahu."
"Iya juga ya, kenapa aku tak kepikiran?"
"Iya, ya, kenapa aku tak kepikiran?" Ethan mengulang kalimat Kiandra dengan bibir yang di monyongkan dan suara yang di buat-buat.
"Mana aku tahu hal seperti itu?" Kiandra membela diri. "Aku bukan Player pengoda janda kembang seperti mu."
"Taik!" pria dengan kemeja hitam motif abstrak yang di rangkap jas putih serta name taq bertuliskan, dr Ethan C. Huang, Sp.A itu emosi, sebab urusan pribadinya di singgung. "Impoten tahu apa soal mengoda dan di goda."
.
"Siapa yang impoten?" kening Kiandra berkerut.
Aldo mengulum bibir agar jangan sampai tertawa mendengar perbincangan di belakang. Sedang Vicroria yang memiliki raut dingin, setengah mati mempertahankan fokusnya menyetir.
"Siapa? kau tanya aku?" Ethan yang satire, hampir membuat Kiandra kelepasan bicara kotor yang bisa menjatuhkan wibawanya di depan bawahan.
"Sudahlah." Kiandra menghela nafas panjang dan mengusap wajah. "Aku menyerah." Ucapnya kemudian. "Beri saja aku denda pinalti. Aku tak bisa melakukan apa yang kalian suruh." Ia memutuskan. "Bisa gila aku kalau harus merayu wanita, bicara saja nggak ada topik." Kiandra ngedumel.
.
"Hahh?!" mata Ethan melotot. "Jadi benar kau penyuka terong-terongan?"
"Monyet!" Kiandra hilang sabar.
Ethan tertawa terpingkal-pingkal sampai matanya berair.
.
"Jangan buat aku ke sana, hanya untuk menyumpal mulut mu dengan terong, sialan!" muka Kiandra merah padam.
Namun tawa Ethan malah makin menjadi.
Sompret orang ini. Kiandra memandangi layar ponselnya yang masih memperdengarkan suara teman baiknya yang terpingkal.
Karena tak mampu membalas, Kiandra langsung mematikan ponsel tersebut dan melemparnya ke samping.
Dia menghela nafas panjang sambil menjatuhkan punggungnya pada jog.
Mobil BMW M5 warna tanzanite blue metallic itu melaju di tengah jalan raya dengan lampu-lampu kota yang benderang.
Pikiran Kiandra mengawang. Ia pandangi jalanan yang ramai dari kaca mobilnya yang gelap.
Aku bukannya tak tertarik pada wanita, aku hanya tak mau menyulitkan diri sendiri. Kiandra berkata dalam hati dengan wajah masam.
Mata indahnya yang berwarna cokelat terang dan di payungi bulu-bulu mata lentik warna hitam nampak meredup mengingat sesuatu.
"Chief." Panggilan Aldo membuat Kiandra menoleh. "Sudah hampir jam tujuh. Saya rasa...kita tak mungkin ke swalayan berikutnya."
"Kita agenda kan saja untuk besok." Kiandra menetapkan.
"Baik."
"Kita balik ke kantor, setelahnya kalian bisa pulang." Kiandra melanjutkan.
"Baik, Chief." Victoria dan Aldo menjawab bersamaan.
"Tunggu!" tiba-tiba Kiandra berubah pikiran, membuat Victoria yang baru saja menekan pedal gas lebih dalam, langsung beralih ke rem.
"Ada apa, Chief?" Aldo terkejut.
"Berhenti di toko bunga itu." Kiandra menunjuk deretan ruko yang salah satunya bertuliskan 'Nisa Florist'.
"Waah..tumben anda beli bunga. Apa untuk kekasih baru anda, Chief?" Aldo terlihat sumringah.
Mobil warna biru tua itu berhenti tepat di depan toko dengan dindingnya yang bercat hijau pastel.
"Untuk Ibuku." Jawab Kiandra sambil membuka pintu mobil.
Wajah Aldo seketika berubah kecewa. Sedang Victoria menunduk sembari menutup mulut menahan senyum.
.
Bunyi lonceng yang di barengi pintu terbuka, membuat Anna bangkit berdiri.
"Selamat datang di Nisa Flori..." Kalimatnya terhenti, saat melihat pria yang beberapa waktu lalu ia temui di swalayan kini berdiri di tengah ruang.
Mata Kiandra tak berkedip menatap si target yang berada di depan mata.
Wanita itu tak cantik, dengan wajah sembab dan rambut panjang yang terkuncir berantakan. Namun sosoknya yang berada di tengah aneka bunga dan sorot lampu di atasnya, terlihat begitu menawan di mata seorang Kiandra.
"Ke, kenapa kesini?" pikiran Anna sudah lebih dulu di penuhi keburukan.
Apa dia mau memerasku gara-gara kejadian tadi? ia menatap Kiandra gelisah. Lebih baik aku mati, dari pada Tante tahu soal pencurian yang di tuduhkan padaku. Anna mengepal-ngepalkan kedua tangan yang saling bertaut.
"Ah..saya, eh..aku.." Mendadak Kiandra gagap.
Tapi sikapnya itu malah membuat Anna makin curiga. Atau jangan-jangan dia orang suruhan... Nafas Anna tercekat. Jantungnya berdetak sangat kencang oleh ketakutan yang amat sangat. Tidak,tidak. Itu tak mungkin. Ia menyanggah pikirannya sendiri.
"Aku ingin beli bunga."
Ucapan Kiandra membuat Anna tertegun. Di tatap baik-baik pria tinggi di hadapannya, sebelum akhirnya bisa bernafas lega, sebab dugaanya salah.
"Bunga apa yang ingin anda cari?" Anna bersikap formal sebagai seorang penjual yang menghormati pembeli.
Kiandra melangkah melewati dirinya, kemudian menjelajah mengitari ruang yang di penuhi banyak bunga segar. Pandangannya terhenti pada sekumpulan bunga berwarna putih.
"Mawar putih jenis apa yang kau punya?" Kiandra berbalik dan bertanya.
Anna sedikit gugup. Namun dia bisa menyembunyikannya dengan baik.
"Kami punya jenis mawar rosa alba atau white rose of york." Anna mengambil satu tangkai mawar putih yang belum mekar sempurna.
Kiandra menerima, lalu membaui wanginya.
"Mawar Bourbon." Anna memberikan mawar putih dengan kelopak yang bertumpuk-tumpuk pada Kiandra.
Pelan Anna menengadah untuk mencuri pandang pria yang sedang mengamati kedua batang mawar yang dia beri.
"Aku mau keduanya." Kiandra memberikan kedua mawar itu.
Sontak Anna kaget, saat terpergok sedang memandangi pembelinya.
Segera ia memalingkan muka, setelah mengambil dua batang mawar itu kembali tanpa melihat Kiandra.
"Ma, mau berapa batang?" Anna memunggungi sambil bertanya dan memilihkan mawar terbaik.
"Beri aku lima puluh per jenisnya." Kiandra menjawab sembari memandang pundak Anna yang bergerak-gerak mengambilkan mawar untuknya.
"Jumlahnya tidak ada lima puluh." Wanita itu memberi tahun, dan berbalik.
Mata keduanya kembali bertemu.
"Wanita pertama yang masuk dari pintu itu, harus kau rayu dan jadikan pacar."
Perintah dari permainan konyol itu terlintas, membuat Kiandra yang memiliki mimik dingin, seolah terlihat marah.
"Jumlah mawar putihnya tak ada lima puluh." Anna mengulang, karena tak ada respon dari si pembeli.
"Jadikan istri sajalah." Gurauan tak lucu dari Ethan ikut membayang.
"Apa mau di tambah warna lain?" Anna masih berusaha bersikap sewajarnya, meski raut Kiandra terlihat tak mengenakan.
"Tidak." Kiandra memalingkan muka, setelah beberapa menit tadi hanya menatap si penjual dan membuat kesan kurang baik.
Anna melihat Kiandra menghela nafas panjang. Keadaan selalu aneh, saat mereka bertemu.
Anna menundukkan wajah dengan beberapa bunga mawar putih yang tadi di pilihnya.
"Aku ambil semua mawar putih yang ada." ucap Kiandra membuat wanita itu kembali menengadah. "Dan tolong rangkai yang cantik dengan pembungkus warna hijau tua serta pita warna putih kalau ada."
"Baik." Anna berusaha menghindari tatapan mata dari Kiandra. Dia membawa semua bunga mawar putih dari dua wadah berbeda, lalu membawanya ke meja kasir.
Kiandra mengikuti di belakang.
Anna mulai memotong batang yang terlalu panjang dari bunga-bunga mawar tersebut, lalu mengisolasinya. Menaruh kapas yang telah di basahi air, kemudian di rekatkan di ujung batang mawar yang telah di potong meruncing dan menutupnya.
Kiandra memperhatikan Anna yang telaten melipat dan membentuk kertas tisu warna hijau tua dengan motif serat tersebut, kemudian menaruh bunga-bunga mawar putih di atasnya dan mulai membentuk menjadi sebuah buket.
Wanita itu pucat, sampai rasanya Kiandra ingin memoleskan sedikit warna pada pipi atau bibirnya. Ia tersenyum tipis, mentertawakan keinginan bodohnya yang tak masuk akal.
"Tanya nama-nya!"
Kiandra seperti mendengar seruan Ethan yang bergaung di telingan.
"Apa seperti ini cukup cantik?" Anna memperlihatkan hasil rangkaian mawar putihnya.
Kiandra tak langsung menjawab.
Bagi Anna, Kiandra seperti sedang melihat hasil kerjanya. Namun yang sebenarnya, pria itu sedang memperhatikan dirinya, serta menimbang sesuatu di pikiran.
"Saya bisa mengulangnya, jika anda rasa kurang bagus." Anna sudah berjanji akan bekerja sebaik-baiknya, demi Nisa yang telah bersedia menampung dan mempekerjakannya.
"Nama.."
"Apa...?" Anna merasa salah dengar.
Kiandra meneguk ludah. "Siapa nama mu?" ia bertanya.
Anna membulatkan mata.