
"Anda..., tidak apa-apa Chief?" ragu-ragu Aldo bertanya, sebab Kiandra hanya mematung dengan raut tegang.
Mau apa dia ke sini?
pikir Kiandra dengan kening berkerut.
"Saya sudah menyuruh sekretaris untuk memberi tahu beliau, jika hari ini jadwal anda penuh di luar. Tapi...Tuan Dave bilang, tak masalah menunggu lama."
Kiandra mendengus, kemudian ia usap rambutnya ke belakang.
Victoria dan Aldo saling lirik. Tetapi hanya sesaat, sebelum kembali bersikap profesional.
"Dimana dia menunggu?" tanya Kiandra setelah sekian menit hanya diam.
"Di ruangan Presdir, Chief." jawab Aldo kikuk.
Sialan, dia bahkan berani masuk ke ruangan Daddy.
umpat-nya dalam hati.
"Jadi...anda akan menemui Tuan Dave?" kembali Aldo bertanya.
Kiandra langsung menatap Aldo tajam.
"Saya bukan-nya memerintah lo." Cepat-cepat Aldo membela diri. "Maksud saya, kalau anda memang ingin menemui Tuan Dave di kantor pusat. Akan saya siapkan mobil dan sopir untuk mengantar." ia menerangkan.
Kiandra kembali mendengus sembari melipat kedua tangan ke dada, "Makanan Snow jauh lebih penting dari pada bertemu orang itu." ujarnya sembari berbalik arah.
Aldo mengangkat sebelah alis. Namun tak mengatakan apa pun, kemudian mengikuti langkah Chief-nya di belakang.
.
Sementara itu di kantor pusat Marthadinata-Sanjaya Building. Pria dengan kemeja biru tua lengan pendek dan celana panjang warna hitam, nampak berkeliling mengamati tiap sudut ruangan.
Sejak Presdir lama menyerahkan semua tanggung jawab kepada Kiandra, ruang kerja itu memang sudah jarang di pakai.
Dengan usianya yang sudah kepala delapan, presdir terdahulu yang tak lain adalah Ayah Kiandra memang lebih sering menghabiskan waktu di rumah, dari pada ikut campur tentang urusan pekerjaan.
Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar, membuat pria berwajah tenang itu menoleh ke sumber suara.
"Permisi," seorang wanita dengan setelan baju kerja warna hitam membuka pintu.
"Chief kalian masih sibuk?" Pria 50 tahun itu bertanya lebih dulu.
"Ah, iya Tuan Dave." Jawab wanita itu sembari tertunduk. "Barusan sudah saya telpon. Tapi..Personal Asisten beliau mengatakan, Chief masih harus menghadiri beberapa rapat penting dan belum bisa kembali."
Sekretaris itu terpaksa berbohong, sebab tahu hubungan Chief-nya tak begitu baik dengan pria paruh baya di hadapannya ini.
Dave tersenyum, membuat kerutan di bawah mata dan sudut bibirnya makin terlihat. "Saya akan menunggu."
"Tapi..Personal Asisten beliau mengatakan, mungkin sore baru akan kembali." Cepat-cepat ia menambahkan alasan.
"Tidak masalah." lugas ia berkata, membuat sektretaris tersebut harus memutar otak, supaya bagaimana pria bernama Dave ini mengurungkan niat menemui Chief mereka yang enggan bertemu.
Tetapi, tiap kali ia berbicara dengan pria berpenampilan sederhana itu, ia selalu merasa sungkan dan tak bisa berbohong lebih.
"Baik kalau begitu..." Akhirnya wanita tersebut mengalah."Silahkan anda menunggu di sini. Saya akan segera menyuruh OB untuk menyuguhkan minuman hangat." ia melanjutkan.
"Terima kasih." Ia tersenyum tipis.
Sekretaris tersebut sedikit membungkukkan badan, kemudian membuka pintu dan pergi.
.
Didalam ruangan yang kini hanya ada dia seorang. Dave kembali berkeliling, kemudian berhenti di meja kerja utama dan menyentuh beberapa figura ukuran 4R yang terdapat di sudut.
Foto seorang wanita berambut panjang yang tengah tersenyum, lalu ada pula foto satu keluarga yang terdiri dari seorang pria bermata sipit, duduk bersebelahan dengan wanita berambut panjang.
Di belakang mereka, berdiri seorang wanita dengan rambut di kuncir dan seorang pria yang tak lain dirinya ketika muda.
Berdiri sedikit ke depan, seorang anak usia 5-6 tahunan yang tersenyum lebar.
Dave mengambil foto tersebut. Dia amati wajah-wajah yang selalu ia rindukan dalam diam.
Wajah-wajah yang dahulu rupawan, kini mulai menua termakan zaman. Tetapi, perasaan ini masih sama. Tak lekang meski jarak dan usia mencoba memisahkan.
.
Disisi lain, Aldo dan Victoria berdiri berdampingan di sebuah parkiran.
Dari kejauhan mereka masih mengamati mobil Lexus LC warna Onyx yang berjalan lurus di antara mobil-mobil lain, hingga akhirnya menghilang di tikungan.
"Kenapa dia selalu seenaknya sendiri?" tanya Aldo muram.
Victoria tak menjawab.
"Dia lebih mementingkan makanan anjing, dari pada kakak iparnya yang datang?" Aldo keheranan.
Lagi-lagi Victoria tak memberi reaksi.
Aldo lirik wanita berekspresi dingin di sampingnya itu. Mendadak raut-nya berubah cerah.
"Eh, kita jadi bisa makan siang berdua kan?" rayu Aldo sembari menaik turunkan kedua alisnya di depan muka Victoria.
Wanita berbaju kulit hitam tersebut langsung membuang muka.
"Hei, jangan sombong-sombong. Nanti cantik nya hilang."Aldo menyenggol bahu Victoria.
Dahi Victoria berkerut menatapnya. Namun, Aldo malah meringis kesenangan.
Victoria mendengus, kemudian tanpa bicara langsung pergi.
"Loh? hei, Vic!" panggil Aldo.
Tapi Victoria tak mengubris dan malah menaiki motor CBR 250RR series Mat Gunpowder warna black metallic nya yang terparkir di tempat tersembunyi.
Meski itu area parkir mobil. Tapi, khusus Victoria, dia memang di ijinkan memarkirkan motornya di mana pun, di setiap tempat yang dekat dengan dimana Kiandra berada.
"Kau mau meninggalkan aku sendirian?" tanya Aldo ketika Victoria memakai helm fullface nya.
Wanita bertubuh tinggi langsing dengan rambut panjang yang di kuncir itu sudah menyalakan mesin motornya yang memekakan area sekitar yang sepi.
"Hei Vic, beneran tega nih?" Aldo yang berdiri di samping motornya pasang tampang memelas.
Victoria hanya menoleh dan melihatnya sekilas dari celah helm, kemudian memutar gas dan melesat keluar lingkungan parkir.
"Kenapa nasibku selalu apes begini...?" tanya Aldo yang kini sendirian.
Masih ia dengar deru motor milik Victoria yang makin menjauh untuk mengejar Kiandra.
"Sabar, sabar...semua demi cuan." Aldo menghela nafas panjang dan mengelus dada.
.
Siang makin terik dengan beberapa pohon peneduh yang malah di tebang untuk fasilitas umum.
Untuk kesekian kali Anna mengusap keningnya yang berkeringat.
Motor nya mogok dan kini dengan satu kardus besar barang toko, ia berada di pinggir jalan raya yang riuh. Namun, tak ada seorangpun yang berniat menolong.
"Bagaimana ini?" ia gigit bibir bawahnya sambil melihat ponselnya yang mati.
Setelah mencoba mencari penyebab mogok pada motornya dan tetap tak menemukan penyebab-nya. Anna berniat menelpon Nisa untuk meminta bantuan. Akan tetapi, batrai ponselnya malah mati dan kini ia betul-betul bingung harus bagaimana.
Angin siang yang panas, serta membawa debu menampar-nampar wajahnya yang berkeringat.
Anna sampai harus menyipitkan mata, karena begitu terik dan menghindari kotoran masuk ke mata.
Dia duduk di pinggir trotoar, di sudut yang agak teduh untuk menghilangkan lelah.
Pandangan Anna mengawang menatap kendaraan yang berseliweran di hadapannya.
Dia betul-betul menghilang...
Melihat mobil jenis sedan warna hitam yang berjalan melamban di depannya, mendadak Anna teringat akan Kiandra.
Kaca mobil terbuka, seorang pria dengan kacamata hitam melongok.
"Ngapain?" tanya Kiandra heran melihat Anna yang duduk di pinggir jalan.