
Menurut Kiandra, dia sampai mau mengusap air mata di pipi Anna, itu hanya karena kasihan. Ia juga tak mau di anggap menjadi penyebab gadis itu menangis.
Namun, ketika jarak pandang mereka begitu dekat, mendadak jantung-nya berdebar lebih kencang dan wajahnya terasa panas sampai telinga.
"Anna, kau bisa gantian istirahat jika...." Nisa yang menuruni anak tangga tak melanjutkan kalimatnya, saat melihat dua orang itu saling membelakangi
Kiandra lekas memasukan sapu tangangan ke saku celana dengan gaya sok cool, sedangkan Anna cepat-cepat menghapus sisa air mata.
Nisa menyadari ada sesuatu yang sudah terjadi dan ia geli melihat tingkah mereka.
"Ah, eeeemmm...sepertinya tante harus ke atas lagi untuk menjemur baju." Ucapnya sembari berjalan mundur.
"Tante!" Anna yang pertama bereaksi. Ia segera menahan wanita tersebut agar tetap di tempat.
"Ada apa Anna?" Nisa pura-pura polos.
"Bukannya subuh tadi semua baju sudah saya jemur." Ia mengingatkan.
"Eeennnggg..." bola mata Nisa berputar. "Tadi...tadi tante mencuci lagi. Makanya tante harus menjemurnya lagi..." dia mencari alasan, yang sayangnya terdengar tak masuk akal bagi Anna.
"Ayolah Tante, jangan seperti ini. Saya tidak ada hubungan apapun dengan-nya." Anna menekan suara, supaya cuma mereka yang mendengar.
"Ada hubungan pun tak masalah bukan?" Nisa berbisik.
Seketika Anna tertegun dengan mata membulat sempurna.
Tiba-tiba terdengar bunyi gemerincing lonceng yang menandakan pintu di buka. Mereka menoleh ke sumber suara, dan mendapati Kiandra sudah tak ada di tempat.
"Astagaa...dia langsung pergi begitu saja.." ucap Nisa kecewa.
"Tante, saya tidak ada hubungan apa pun dengan orang itu." Anna kembali menegaskan.
"Tapi dia menyukaimu." Nisa tersenyum lebar, lalu turun dari tangga menuju meja kasir.
"Tante salah paham." Anna mengikuti langkah wanita tersebut. "Dia hanya seorang pelanggan yang membeli bunga." ia menambahkan.
"Membeli bunga dan bunganya selalu tak di bawa?" Nisa mengerling jahil, lalu melirik mawar-mawar putih yang terongkrok di atas meja.
Anna mengigit bibir bawah. Ini memang kedua kali-nya Kiandra meninggalkan bunga yang sudah di beli.
Masih sangat Anna ingat, ketika dulu pria itu memaksa menerima buket pemberiannya dan pergi begitu saja.
Apa benar dia menyukaiku...?
tanya Anna gelisah.
Segala sesuatu yang di lakukan pria tersebut memang merujuk ke rasa tertarik padanya.
Namun, hal itu malah membuat Anna takut.
Ia memandang pahit ke arah mawar-mawar putih yang bagian batangnya telah ia potong sesuai model rangkaian, menjadikan bunga-bunga itu memiliki panjang tak beraturan.
Tidak mungkin kan, bunga yang sudah rusak di beli orang...?
batinnya merana.
Anna tertunduk melihat paperbag dari skincare dan make up dari Etute House yang masih ia bawa.
"Tahu tidak, kau ini jelek. Wajahmu pucat seperti orang penyakitan."
Omongan ketus Kiandra terngiang, membuat Anna tanpa sadar memegangi pipinya yang masih terasa lembab oleh bekas air mata.
Kata-kata pria itu memang selalu menyakitkan. Tapi anehnya, itu malah membuatnya tegar menghadapi lara hati yang selama ini membelengunya.
"Ini." Tiba-tiba Nisa sudah memberikan seluruh mawar yang berada di atas meja untuknya. "Kau bawa saja ke kamar." ia tersenyum."Sepertinya dia sengaja meninggalkan bunga ini untukmu."
Kali ini Anna tak berusaha mengklarifikasi. Ia terima mawar-mawar itu dan mendekapnya dengan raut sedih.
Kiandra...
ucap-nya dalam hati, sembari menutup mata dan membaui aroma wangi dari bunga rusak tersebut.
.
"Ini gara-gara ibu menyuruhku membeli bunga." sunggut Kiandra kesal.
Wajahnya masih merah padam, kendati kejadian tadi sudah berlagsung beberapa menit yang lalu.
Namun, jantungnya terus berdebar kencang hingga menimbulkan sensasi mulas dan tak nyaman.
Bunyi klason dari mobil yang mencoba mendahului membuat Kiandra yang gusar terpancing emosi.
"Matanya buta apa, tidak lihat jalanan macet ?!" umpatnya sembari membalas dengan menekan klason keras-keras.
Jalan raya di hari weekend memang padat dan kadang kala bukannya membuat orang senang malah senewen.
Kiandra mendengus, kemudian mengusap rambutnya beberapa kali ke belakang.
Hanya karena melihat wajah Anna dari dekat, membuat jantungnya tiba-tiba berdebar tak karuan. Dan seperti kejadian yang lalu, mendadak muncul hasrat untuk mencium bibir gadis itu.
"Apa kau sudah ketularan penyakit dari maniak Roy dan si Setan, hahh?!" Kiandra menyalahkan kedua sahabat-nya yang tak tahu menahu.
Untuk apa aku lari seperti pencuri...?
Keluh Kiandra tak habis pikir.
Kiandra memegangi keningnya yang berdenyut, serta pipi-nya yang makin merona.
Ketika Nisa datang, ia memang bagai pencuri yang terpergok. Dia sudah bersiap mencium bibir gadis itu. Tetapi semuanya langsung buyar.
"Sial!" ia mengumpat lagi.
Entah sial karena tak jadi berciuman atau sial karena rasa malunya sendiri.
Mobil BMW Z4 warna San Fransisco Red yang di kendarai Kiandra terus melaju menerobos lalu lintas di jalanan ibu kota yang sesak.
Pagi-pagi ibunya mendadak menghubungi dengan mengatakan kangen dan minta di belikan mawar kesayangannya.
Hal aneh bagi Kiandra, sebab di rumah keluarganya terdapat kebun mawar putih yang sangat luas dan terawat.
Pasti ada sesuatu.
Kiandra yang memiliki rasa penasaran tinggi, segera melupakan soal Anna dan menginjak pedal gas lebih dalam.
.
Sementara itu, tak jauh dari ruko tempat Anna tinggal dan bekerja. Victoria yang mengenakan baju ketat serba hitam dan helm fullface terdengar bercakap-cakap dengan seseorang melalui ponsel yang di sambung ke earbuds.
"Betul. Bahkan sudah beberapa kali Chief mendatangi tempat wanita itu."
Victoria mendengarkan dengan seksama apa yang di ucapkan si penelpon.
"Baik." ia mengangguk, meski seorang yang memberi perintah tak melihat.
"Baik, akan saya selidiki siapa wanita itu dan ada hubungan apa dengan Chief."
Ia menutup sambungan begitu si penelpon memutusnya.
Dari kejauhan mata Victoria tajam menatap Anna yang terlihat dari kaca jendela toko.
Tak berkata apa-apa, dia menaikkan sandaran motor, lalu memutar gas dan melaju kencang dengan CBR 250RR STD warna black freedom-nya menuju jalan raya.
.
Kiandra sampai di rumah induk keluarga Marthadinata tepat jam makan siang.
Ia turun dengan membawa buket mawar putih sesuai permintaan ibunya.
Beberapa penjaga yang melihatnya menyapa dan sedikit membungkuk hormat. Kiandra membalas sapaan mereka dengan senyum tipis dan segera berlalu.
"Semalam Tuan Dave yang datang, sekarang Tuan muda Kian. Sepertinya hubungan keduanya sudah membaik." seorang penjaga berkata, begitu punggung Kiandra tak terlihat.
"Aku harap juga semuanya membaik. Kasihan Tuan besar dan Nyonya yang sudah sangat tua." rekannya menimpali.
Namun, apa yang di harap tak sesuai dengan kenyataan.
Kening Kiandra seketika berkerut, saat melihat Dave duduk bersama ibunya di ruang keluarga.
"Kian, akhirnya kau datang nak." Ibunya lekas berdiri untuk menyambut.
Namun, Kiandra masih mematung di tempat.