
"Kau sudah terlanjur mendewakan Dave dan menganggapnya panutan dalam segala hal. Kau kecewa, lantaran dia bukan kakak kandungmu dan lebih kecewa lagi ketika dia malah menikah dengan Kirana, serta menimbulkan banyak skandal."
Kiandra tak menunjukkan reaksi. Pandangannya di buang jauh ke pemandangan indah di luar jendela.
Ayahnya benar, dia sangat kecewa. Bahkan sakit hati dengan pernikahan kedua kakaknya.
Dari dulu, Kiandra adalah seorang yang selalu menjunjung tinggi nama baik. Dia juga tipe pria yang hidup teratur dan tak mau neko-neko. Bagi Kiandra, hidup cuma sekali, maka harus di manfaatkan dengan sebaik-baiknya dan menjauhi hal tak perlu.
Tetapi, kenyataan Dave yang di puja bukan kakak kandungnya, membuat jalannya yang lurus seketika bergelombang.
Jika umumnya seorang anak lelaki mengidolakan Ayahnya, tapi tidak untuk Kiandra. Dave lah yang dia kejar. Setidaknya sampai beberapa tahun lalu, dengan menyamai apa-apa yang Dave prestasikan, Kiandra mampu menjadi seorang pemimpin muda yang di segani seperti sekarang.
Tanpa sadar Kiandra menghela nafas. Pembicaraan tentang Dave dan kakaknya, selalu membuat mood nya buruk.
"Kau sudah dewasa. Coba buka pikiranmu. Temui Dave dan ajak bicara." Ayahnya kembali berkata.
"...Untuk apa?" tanya Kiandra setelah sekian menit tak menunjukkan reaksi.
Tiba-tiba Ayahnya menarik telingannya, membuat Kiandra mengaduh dan melepaskan diri.
"Turunkan ego mu sedikit." ucap Ayahnya kesal.
"Daddy kira aku anak kecil?" tak kalah kesal Kiandra mengumpat sambil memegangi telingannya yang merah.
"Kau memang anak kecil." Ayanya kembali mengangat tangan, membuat Kiandra langsung menghindar, karena mengira akan di jewer lagi. Tapi nyatanya, si Ayah hanya mengeser duduk.
Kiandra mendengus. "Aku mau pulang." ucapnya sembari berdiri.
"Terus saja bersikap seperti itu sampai Daddy mu ini meninggal."
"Daddy ini sudah tua. Kalau ngomong hati-hati." Kiandra yang sudah bersiap melangkah keluar, kembali duduk dan memandang Ayahnya baik-baik.
Pria yang seluruh rambutnya telah beruban itu malah tertawa.
Kenapa orang tua ku bisa seabsurd ini...?
keluh Kiandra dalam hati.
"Daddy memang sudah tua, jadi kapan saja mau mati tak masalah."
Kedua alis Kiandra hampir menyatu mendengar penuturan Ayahnya yang mulutnya lebih tajam dari dirinya.
"Bagaimana dengan Ibu? Daddy rela meninggalkan ibu yang akan menikah dengan laki-lali lain?" pancing Kiandra.
"Ibumu akan berumur lebih panjang dari Daddy, dia yang akan mengendong anakmu kelak." Nada bicara Ayahnya masih santai. "Tapi soal menikah lagi, ibu mu tak mungkin melakukannya."
"Karena sudah berumur?"
"Umur hanya angka. Ibumu tetap cantik, kau ini." Ayahnya hampir menjitak kepala Kiandra gemas.
Dasar bucin.
Ejek anak-nya dalam hati.
"Ibumu akan jadi janda paling kaya, yang akan jadi rebutan siapa saja. Tapi, cinta nya cuma untuk Daddy, jadi dia tak akan menikah lagi." ia tersenyum lebar sampai kedua matanya menyipit.
Haadeeeh....
Bola mata Kiandra berputar mendengar kenarsisan orang tua-nya sendiri.
Ayahnya memang terlalu lawak. Tapi, kadang juga bisa begitu tegas, sampai dulu ia gemetar karena amuknya.
"Temui Dave, bicara lah. Dia jauh-jauh ke sini hanya untuk menemuimu." kembali Ayahnya meminta.
Kiandra menghela nafas panjang, lalu menjatuhkan punggung ke sofa dan melipat kedua tangan ke dada.
"Kalau kami bicara, memang bisa merubah kejadian yang sudah terjadi?" Kiandra balik bertanya.
"Memang tak bisa merubah. Tapi bisa memperbaiki." jawab Ayahnya bijak.
Kiandra menoleh ke samping, ke arah Ayah kandungnya yang bermata sipit dan berkulit putih seperti orang asia timur.
Untungnya, Kiandra tidak sesipit dan seputih Ayahnya. Karena dengan wajah 'awet muda' nya ini saja, dia sudah sangat kesulitan dengan para wanita yang mengerubuti.
"Kenapa waktu itu Daddy merestui pernikahan mereka? padahal Daddy tahu, dengan status Dave, masyarakat akan mencela keluarga kita." tanya Kiandra serius.
Ayahnya yang tetap terlihat kharismatik di usianya yang sudah sangat tua itu hanya menarik ujung bibir, membuat senyumnya terlihat sinis dan meremehkan.
"Silahkan mereka mencela di belakang, asal tidak di depan." Ayahnya menatap Kiandra dengan sorot tajam dari kedua matanya yang berwarna cokelat terang.
"Asal anak-anakku bahagia, asal mereka tidak melakukan hal yang salah. Peduli setan dengan pendapat siapapun. Tapi, jika sampai Daddy tahu, siapa yang menebar aib. Mereka akan binasa seperti keluarga Ardiansyah."
Tengkuk leher Kiandra seketika meremang.
"Kalau dengan orang lain, Daddy bisa melakukan apa saja." nada bicara pria itu berubah santai. "Tapi, kau kan kesayangan Ibumu. Sebelum Daddy macam-macam denganmu, Daddy sudah lebih dulu di binasahkan Ibumu, haduuuh..." suara ayahnya terdengar putus asa.
Aku ini juga anak Daddy, dasar...
ucap Kiandra dalam hati.
"Semalam ibumu sampai menangis karena hal sepele seperti ini."
Sesaat mata Kiandra melebar, kemudian tersenyum terpaksa.
Pantas saja Daddy seperti ingin membunuhku, ibu sudah menangis rupanya...
Ia berusaha maklum.
Ayahnya memang akan sangat marah, jika ibu mereka sampai tersakiti.
Hal yang di anggap tak lumarah di era modern, yang katanya belum jadi lelaki sejati, jika belum berselingkuh atau tidur dengan banyak wanita.
T*i anj*ng untuk yang terakhir. Bukan bangga, tapi cari penyakit.
Begitu yang Kiandra pikirkan tentang teman-temannya yang gampang sekali one night stand.
"Temui Dave setelah kita makan siang." Ayahnya kembali memerintah. "Ingat, aku sudah menyuruhmu sampai tiga kali." ia memperingatkan.
Sial!
Kiandra mengumpat dalam hati. Tetapi, ia tahu, ia tak punya pilihan selain menurut.
Tak berapa lama, mereka telah duduk berempat di meja makan yang terbuat dari kayu jati, dengan kaki-kaki mejanya yang di ukir mirip ornamen bunga wijayakusuma.
"Sudah lama sekali kita tidak makan bersama." Ibu Kiandra nampak sumringah.
"Minggu depan ajak Kirana dan si kembar ke sini, pasti lebih ramai." suaminya yang duduk di sebelahnya menimpali.
"Iya, kami juga sudah merencanakan begitu. " Dave yang duduk di seberang meja berkata.
"Kangen sekali dengan cucu-cucuku." Ibu Kiandra memelas.
"Kirana merawat keduanya dengan telaten dan ia juga sudah banyak belajar." Ucap Dave sembari tersenyum.
"Ah, aku semakin merindukan mereka." Ia makin sedih.
"Tidak apa." Suaminya merangkul dan menguncang pundak istrinya pelan. "Sebentar lagi Kian akan menikah dan biasanya, keturunanku itu tak butuh waktu lama untuk menghamili seseorang. Jadi sabar saja, pasti kita akan segera menimang cucu lagi."
Hampir saja Dave tersedak mendengar omongan ayah mertuanya itu. Sedangkan istrinya langsung mencubit pelan.
"Jangan bicara yang aneh-aneh." bisik-nya memperingatkan.
"Bagian mana yang aneh?" suaminya tak paham.
"Apa itu gampang menghamili? kau pikir Kian apa...?"
"Istri Kian memang akan segera hamil kan?"
"Bukan di situ masalahnya." istrinya gemas.
"Tidak ada masalah kok." suaminya tak mengerti.
"Astaga..." si istri mengurut dada.
Dasar orang tua ini...
ucap Kiandra dalam hati, sambil mengamati Ayah dan Ibunya yang terlihat bak ABG sedang bertengkar.
Namun, diam-diam ia iri dengan hubungan romantis orang tuanya yang tak terkikis oleh waktu.
Kiandra menghela nafas panjang, lalu tanpa sadar menoleh ke samping dan ia terkejut mendapati Dave sudah lebih dulu menatapnya.
.
Sementara itu di toko bunga, Anna yang sedang membersihkan ruangan kaget melihat ponsel tergeletak di atas meja.
"Punya siapa ini.." tanyanya seraya mengambil ponsel dengan tiga kamera di belakang tersebut.