
Melihat Anna menangis, Kiandra menjadi teringat kejadian beberapa waktu lalu, di mana wanita itu berdiri di tengah jembatan penyembrangan di waktu dini hari dan terlihat hendak mengakhiri hidup.
Ia yang waktu itu sampai berlari untuk menghentikan aksinya, ternyata hanya mampu terpaku melihat Anna terduduk di kegelapan dan menangis tanpa suara.
Jujur kejadian itu mengingatkan Kiandra akan sosok kakak perempuanya yang terpuruk karena fitnah dan hujatan yang harus di terima. Dan hal itu pula yang memicu ketertarikannya pada Anna.
Akan tetapi, lambat laun Kiandra semakin menyadari, jika perasaan ingin melindungi ini tak terbatas hanya karena wanita itu yang terlihat mirip dengan si Kakak. Tapi, lebih ke rasa tertariknya yang entah bagaimana makin besar dan sampai pada tahap ingin memiliki tanpa peduli apapun atau siapapun dia sebenarnya.
Bahu Anna bergetar menahan agar tak mengeluarkan suara. Luka batinnya selalu mengangga, tiap kali ia membuka hati. Ia berusaha melupakan, tapi cabiknya terlalu dalam dan membuatnya merasa tak berharga.
Air mata Anna makin deras mengalir, membuat Kiandra menjulurkan lengan kanan, kemudian ia usap pipi Anna yang basah. "Jangan menangis terus." ucapnya. "Aku ikut sedih tahu." nada bicaranya ketus, tapi ekspresi wajahnya menunjukkan keprihatinan.
"Ma, maaf..." Anna terisak, lalu lekas menghapus air matanya dengan punggung tangan.
Namun, Kiandra dengan cepat memegangi pergelangan tangannya. "Jangan seperti itu, sayang make up nya." ia melarang, kemudian mengambil tisu di dashboard dengan tangan kiri dan menghapus lembut pipi Anna dengan tisu tersebut. "Aku suka melihatmu berdandan, terlihat cantik." ia melirik wanita itu sesaat, sembari terus menyeka bekas air mata di pipinya.
Anna menurut saja, sambil memperhatikan tangan kanannya yang masih pria itu genggam.
"Aku tidak tahu kenapa kau gampang sekali menagis. Tapi, kau bisa cerita padaku dan aku pasti akan membantumu." Kiandra berkata setelah melempar tisu bekas pakai tadi ke tempat sampah kecil yang berada di bawah jog.
"Tidak. Saya... Saya hanya..." Anna tak berani menatap lawan bicara.
Kening Kiandra berkerut. Kadang ia kesal dengan sikap wanita di sampingnya itu. Tapi, ia lebih kesal pada dirinya sendiri, yang bisa-bisanya jatuh cinta padanya.
Ia menghela nafas panjang sambil menjatuhkan punggung ke jog. Seandainya waktu bisa di putar, tentu ia akan memilih tak peduli saat Anna di ganggu pemabuk. Atau tak usah datang ke Club milik Roy, agar tak ikut permainan konyol mereka.
"Kau tidak akan mengerti sampai merasakannya sendiri!"
Amukan Kakak perempuannya membayang, membuat Kiandra makin frustasi dengan kisah cintanya sendiri.
Mungkin aku kualat dengan dengan Kirana.
batinnya sedikit menyesal, karena terus menerus memusuhi saudara kandung satu-satunya itu.
"... Tuan Muda Kiandra." panggil Anna perlahan.
Kiandra yang sedang memijit kening, menoleh ke arahnya. "Sudah aku bilang, jangan panggil Tuan Muda." ketusnya mulai keluar.
Anna menjadi serba salah. "Ta, tapi... tadi, tadi saat saya hanya memanggil nama. Kita... kita hampir saja celaka..." ia berkata takut-takut.
Sialan wanita ini...
Kiandra mengerang dalam hati dengan kepalanya yang makin berdenyut.
Mereka memang hampir kecelakaan karena ia kaget di panggil nama nya langsung oleh Anna. Tetapi, tidak mungkin kan, dia mengakui hal memalukan seperti itu.
Kenapa aku jadi seperti ini? Di mana otak normalku?
Kiandra makin senewen dengan diri sendiri.
"A, anu... Tolong.. lepaskan tangan saya.." pinta Anna sembari tertunduk.
Kiandra terkejut, karena ternyata sedari tadi tangan Anna masih ia genggam erat-erat.
Sambil menahan malu, ia segera melepaskan tangan wanita itu dan membuang muka.
Keadaan menjadi canggung. Anna mengusap-usap telapak tangannya yang sampai berkeringat, sedang Kiandra tak mengatakan apapun lagi dan bersiap menjalankan mobilnya kembali.
Melihat wajah kaku Kiandra di keremangan, membuat Anna mengigit bibir bawah gusar. "... Tu, Tuan Muda." panggilnya setelah mengumpulkan keberanian.
Nyali Anna seketika menciut. Akan tetapi, ucapan Dave kembali menguatkan tekadnya. "Saya senang..." kata-katanya mengantung karena gugup.
Kedua mata Kiandra menyipit "Apa?" nada suaranya turun satu oktaf.
Jantung Anna berdebar kencang, dan itu menimbulkan sensasi mulas di perut. "Eeemmm... Saya... Saya senang Tuan Muda menyukai saya." setengah mati ia mengucapkan kalimat tersebut.
Kiandra cuma mendengus, karena beberapa saat lalu, wanita itu sudah mengatakan hal yang sama.
Aku pikir dia mau mengatakan apa...
batinnya meremehkan.
"Se, selama ini... saya memang sedikit terganggu dengan Tuan Muda, tapi...."
Pria itu langsung melotot.
Anna bertambah kalut. Tetapi, ia sudah memutuskan untuk jujur, karena Ibu Kiandra sudah begitu berusaha dengan membelikannya banyak barang dan merubah penampilannya.
Namun, di atas semua itu adalah kata-kata Dave yang membuatnya percaya, bahwa Kiandra adalah orang baik, sama seperti keluarga Marthadinata yang lain.
"Tapi, saya juga merasa sangat di manjakan dengan semua yang Tuan Muda lakukan." muka Anna memerah. "Se, selama ini... saya hidup sendiri, jadi.. Tiba-tiba Tuan Muda datang dan memberi perhatian lebih... saya... saya merasa..."
Mendadak Kiandra memegangi kedua pundaknya, membuat wanita itu tersentak. "Cukup!" potong pria itu. "Aku tak sabar mendengar ceritamu yang bertele-tele dan lama itu." ucap Kiandra tepat di hadapannya.
Anna tertegun, bahkan ia menahan nafas, sebab jarak mereka tidak ada satu jengkal.
"Kau suka aku tidak?" lanjut Kiandra sembari menatap tajam.
"Aa... Saya.."
"Jawab!" perintah-nya tak sabar.
"Tapi saya..." Anna berusaha menjelaskan. Tetapi, karena ia sendiri ragu untuk memberi tahu tentang masa lalunya, membuat mulutnya kembali terkunci.
Kening Kiandra berkerut. Lalu tanpa di duga ia dekap wanita itu kencang. "Jawab, atau aku peluk sampai pagi." ancamnya.
Anna yang berusaha meloloskan diri, seketika membeliakkan kedua mata.
.
Sementara itu di sebuah Hotel bintang lima, di mana sedang berlangsung pesta yang di selengarakan PT Golden Hope atas pencapaian omzet seratus persen.
Rico, selalu pemilik dari PT yang menghasilkan barang-barang retail nampak kecewa dengan ketidak hadiran Kiandra.
Ia berharap CEO muda tersebut hadir, maka ia bisa membuka hubungan masa lalunya bersama Anna, sekaligus mengancam pria tersebut agar mau menuruti keinginnya.
Berlagak sok penting dia!
Rico mengumpat dalam hati, seraya memandangi keindahan lampu kota dari lantai sebelas Hotel tersebut.
Padahal tinggal selangkah lagi aku bisa memanfaatkan orang itu. Tapi, dengan aku tidak tahu keberadaan Delana, bisa-bisa dia malah tidak percaya dan memutus kontrak yang sudah susah payah aku dapat ini.
pikir Rico sambil meminum habis gelas softdrink nya.
Tiba-tiba lagu yang mewarnai pesta berhenti, dan di gantikan gesekan biola. Rico menoleh ke belakang, dan melihat Aldo sedang memainkan Four Seasons karya Antonio Vivaldi.
Musik klasik yang biasa di gunakan sebagai pengiring balet itu di mainkan Personal Asisten Kiandra dengan begitu apik.