Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
SIKLUS



"Apa alasanya? Apa kami melakukan sesuatu di luar kesepakatan?" Rico emosi. "Kalian tidak bisa bertindak semena-mena seperti ini. Ini jelas menyalahi kontrak kerja yang sudah kita tanda tangani bersama." ia tak habis pikir dengan berita yang di dengar.


"Berkenaan dengan masalah itu, mungkin Anda bisa menanyakan langsung dengan Pengacara kami nanti." suara Aldo tetap terdengar ramah seperti biasa.


Otot di kening Rico seketika bertonjolan dengan eskpresi marah luar biasa. "Pengacara?!" kedua alisnya hampir menyatu. "Apa begini cara perusahaan kalian memperlakukan rekan bisnisnya?!" ia berkata.


Radha yang melihat kekasihnya begitu emosi mulai khawatir.


Ada apa ini?


ia bertanya dalam hati.


Aldo berusaha menjelaskan. Tapi, amarah Rico kian memuncak.


"Penjualan produk dari PT kami selalu Fast moving. Bahkan saya sudah mendatangkan satu kapal lagi barang, untuk memenuhi permintaan dari konsumen kalian. Jadi, tidak ada alasan untuk kita mengakhiri kerja sama Pak Aldo." ia menjabarakan dengan muka merah padam.


"Maaf Pak Rico. Tapi saya..."


"Saya ingin bertemu Chief Kiandra!" potong Rico cepat.


"Pak Rico, Anda tahu Chief sangat sibuk dan tidak bisa seenaknya membuat janji." Aldo tetap tenang.


Gigi pria berkemeja warna putih itu bergemeletuk. "Pak Aldo," intonasi suaranya tiba-tiba terdengar dalam. "Apa ini alasan Anda tidak mau menerima atensi dari saya?" ia bertanya. "Karena Anda berdiri di atas dua perahu?" lanjutnya.


.


Aldo mengulas senyum mendengar kalimat yang barusan ia dengar dari sambungan telpon. "Pak Rico, saya tidak tahu apa yang Anda bicarakan." nada suaranya di buat naif. "Saya hanya karyawan kecil di Perusahaan besar ini. Jadi maaf, kalau saya tidak bisa membantu Anda. Selamat siang." ia langsung memutus sambungan.


.


BRAAAKK!!


Rico melempar pesawat telpon itu sampai kabelnya tercabut dari saklar dan gagangnya terpelanting sampai pojok.


Radha memekik sembari menjauh. "Ada apa, Sayang?" tanyanya ketakutan.


Rico tak mengubris.


Brengsek!


ia mengumpat dalam hati.


Radha yang baru pertama kali melihat Rico semarah itu sampai tak berani mendekat.


Aku harus bertemu dengan orang itu!


batin Rico, seraya mengambil jas mahalnya yang tersampir di kursi dan bergegas membuka handle pintu.


Radha tercengang melihat kepergian Rico yang tanpa pamit.


Melihat ke arahku pun tidak?


pikirnya heran.


Seperti orang linglung, Radha melihat pesawat telpon yang tergeletak di lantai dengan keadaan yang mengenaskan. Kemudian pandangannya menjelajah seluruh ruangan yang kini hanya ada dia seorang.


Baru beberapa menit lalu, dia dan Rico memadu kasih di tempat ini. Lalu kini, ia seperti di campakan bak bunga yang telah habis di hisap sarinya.


"Rico.." ucapnya sedih.


Jujur Radha sangat mencintai pria itu. Sampai-sampai ia tak mempermasalahkan Rico yang ketika itu, hanya wirausaha yang baru merintis dan tanpa harta.


Namun, ada kalanya ia merasa jika pria itu begitu jauh, meski hampir setiap waktu ia mendengar pujian keluar dari mulut manisnya, dan mereka bercinta setiap ada kesempatan.


"Aku tidak boleh berpikiran negatif seperti ini." Radha menegur dirinya sendiri. "Pasti ada sesuatu yang gawat, yang membuatnya sampai mengabikanku." ia menarik kesimpulan.


.


Rico mengendarai mobil, seperti orang yang akan ketinggalan jam terbang. Setiap kendaraan yang menghalangi, maka akan di klaksonnya keras-keras, dan ia tak mau menginjak pedal rem. Hal itu berlangsung berkali-kali dan nyaris membuat celaka dirinya serta sekitar.


Setengah mati akhirnya aku sampai di puncak. Tidak mungkin semua aku biarkan hancur karena masalah yang bahkan aku sendiri tak tahu!


pikir Rico dengan kening berkerut dalam.


Ia mengeser kopling, lalu kembali menekan pedal gas dalam-dalam. Membuat mobil BMW 5 warna carbon black metalic itu melesat kencang, meninggalkan kendaraan-kendaraan lain yang membunyikan kalson karena ulahnya yang tak punya etika di jalan.


.


Di waktu yang hampir bersamaan, Anna yang membawa totebag berisi bekal, berjalan sembari merunduk melewati deretan kursi karyawan yang memandang ingin tahu ke arahnya.


Seharusnya tadi aku titipkan Satpam di lantai bawah saja.


Tidak ada angin tidak ada hujan, ia yang sebelumnya sedang membantu Ibu Kiandra memasak, tiba-tiba di suruh mengantar bekal makan siang untuk anaknya. Tentu saja, tak mungkin baginya untuk menolak permintaan tersebut.


Dan di sinilah dia sekarang. Di Gedung Utama Marthadinata-Sanjaya Groub.


"Lihat! Itu bukannya wanita yang dulu pernah di gandeng Chief?"


Telinga Anna menangkap suara seorang wanita. Keningnya seketika berkerut sambil mengigit bibir bawah. Dahulu ia memang pernah ke sini, ketika mengantar pemberian Kiandra yang tak bisa ia terima.


Mengabaikan bisikan dan tatapan sembunyi-sembunyi dari para karyawan, Anna mempercepat langkah dan berbelok ke suatu lorong yang lebih lengang.


Rasanya ruangannya di sekitar sini.


batin Anna sembari mengingat-ingat saat Ethan membawanya menemui Kiandra dulu.


Apa yang itu?


tanyanya ketika melihat sebuah pintu.


Mendadak hatinya bimbang, dan itu membuat langkahnya terhenti.


Kalau aku kembali meminta, agar dia tak mencari Rico... Apa dia akan marah?


pikir Anna kalut.


Tidak! Sudah pasti dia akan marah.


ia menjawab kekalutannya sendiri dalam hati.


Anna bimbang. Ia menghela nafas berkali-kali, dan tak tahu harus bagaimana menghadapi sikap Kiandra yang suka seenaknya sendiri itu.


"Sudahlah..." ia menghembuskan nafas putus asa, lalu berjalan lunglai menuju pintu tersebut.


Namun, baru saja ia hendak mengetuknya. Tiba-tiba pintu terbuka dan Aldo muncul di baliknya.


Keduanya sama-sama kaget.


"Ma, maaf!" spontan Anna membungkuk.


Aldo tertegun sesaat. Kemudian ia tersenyum, tanda sudah menguasai keadaan. "Kenapa minta maaf?" ia berkata ringan. "Cari siapa di sini?" tanyanya.


"A, anu.. Saya..." Anna kikuk.


"Cari Chief, ya?" tebak Aldo ramah.


Anna mengangguk tanpa berani menatap mata lawan bicara.


Aldo mengulas senyum. "Ruangan Chief masih di sana lagi." ia menunjuk jalan di ujung. "Di pintu yang ada penjaganya, di situ ruang kerja Chief." ia memberi tahu.


"Ooohh..." mulut Anna membulat. "Terima kasih." ucapnya kemudian, seraya memandang pria di hadapannya itu.


"Sama-sama." Aldo tersenyum lebar sampai kedua matanya menyipit.


"Ka, kalau begitu, saya permisi.." ia menganggukkan kepala sekali dan berbalik pergi.


"Silahkan." Aldo berkata sembari memandangi punggung Anna yang menjauh.


Tak sampai lima menit, Anna sudah berhadapan dengan Victoria yang berdiri di depan pintu bertuliskan CEO.


Anna meneguk ludah susah payah, melihat pembawaan Victoria yang mirip agen-agen rahasia dengan baju ketat hitam-hitam dan rambut panjang yang terkuncir tinggi.


"Ma, maaf." ia buka suara.


Victoria cuma mengerakkan sedikit kepalanya.


"Saya... Saya di minta oleh Ibu Tuan Muda, untuk mengantar makan siang." Anna menunjukkan totebag warna putih dengan tulisan, 'Kangen Semarang.' kepada bodyguard tersebut.


"Saya ijin memeriksanya dulu." Victoria berkata dengan logat seperti orang cadel.


"I, iya." Anna mengangguk sambil menyerahkan tas tersebut.


Setelah memastikan yang di bawa hanya nasi, rawon daging sapi, sambal, tempe goreng, kerupuk dan jus jeruk, Victoria membungkusnya seperti sedia kala dan menyerahkan kembali kepada pemiliknya.


"Tunggu sebentar." ia berkata.


Anna mengangguk sembari tersenyum kaku.


Victoria mengetuk pintu bercat putih itu beberapa kali, lalu membukanya.


"Sudah aku bilang, jangan gang, gu..." intonasi suara Kiandra yang tinggi, perlahan menurun, saat melihat siapa yang berdiri di belakang bodyguardnya.