Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
RENCANA



Di tempat Spa dan Massage itu, Anna seolah di ajak nostagia ke kehidupannya dulu yang serba nyaman, dengan setiap minggunya melakukan perawatan tubuh, rambut, wajah, sampai treatment kewanitaan demi menjaga kecantikan diri.


Kuku-kuku jari Anna kembali bersih, komedo di muka hilang, serta kulit mati di seluruh tubuh lenyap berkat Ibu Kiandra yang membawanya ke sini.


Anna tersenyum menatap wajahnya yang kini terasa kenyal dan telah di poles make up tipis-tipis. Rambutnya yang biasa di kuncir asal, kini telah di warna dark bown dan di tata sedemikian rupa.


Ini aku. Ini benar-benar aku.


hati Anna terharu.


Perasaan bungah, yang memicu rindu akan rumah dan kehidupannya yang dahulu serba ada.


Seandainya dulu aku tak begitu saja percaya pada orang itu...


Anna menyesal, membuat wajah cantiknya tertunduk murung.


"Maaf, Kak." seorang Terapis masuk ke ruang make up.


Anna lekas berbalik dan menyingkirkan jauh-jauh sentimen yang membuatnya hampir menangis.


"Nyonya meminta Kakak memakai baju ini." ia memperlihatkan baju yang masih di hanger dan di bungkus plastik.


Kedua mata Anna membulat melihat baju model kemben warna biru yang kini sudah ada di tangannya itu.


.


Range Rover Sport warna santorini blcak itu terparkir tepat di mobil yang tadi di naiki Ibu Kiandra dan Anna.


Malam yang temaram, membuat mata Kiandra memicing dari dalam mobilnya yang berkaca gelap.


"Loh? Ibu bilang minta jemput, kenapa di sini malah ada dua mobil dua sopir?" ia tak mengerti.


Tiba-tiba ponsel yang Kiandra taruh di balik jas berbunyi, membuat ia mengurungkan niat untuk turun dan bertanya kepada dua Sopir yang tengah bercengkrama di depan tempat Spa


sembari menunggu sang majikan.


"Halo?" ucap Kiandra malas begitu melihat siapa yang menelpon.


"Anda sampai mana? Saya sudah menunggu sedari tadi." suara Rico terdengar dari speaker ponsel.


Kiandra berdecak pelan agar si penelpon tak mendengar


Sudah seperti pacaran saja orang ini.


batinnya kesal.


Ia berdehem beberapa kali untuk menetralkan suasana. "Maaf, Pak Rico. Sepertinya saya tidak bisa datang ke acara jamuan. Saya ada urusan mendadak dan sudah meminta Pak Aldo untuk mewakili."


"Ah, tapi..."


"Maaf. Saya harus segera pergi. Kita sambung lagi lain kali. Selama malam, Pak Rico." Kiandra menyela dan langsung memutus sambungan.


"Ada-ada saja. Apa dia tidak tahu, kalau perintah Ibu itu mutlak?" pria yang masih memakai baju kerja lengkap itu berguman sambil memandangi layar ponselnya yang baru saja mati.


Rencana nya sepulang kerja, dia memang harus menghadiri undangan makan malam yang di selenggarakan Rico untuk merayakan penjualannya yang meroket. Tapi, karena tiba-tiba Ibunya minta jemput di tempat Spa langganan, maka ia tak punya pilihan.


Namun, kini ia yang di buat bingung dengan si Ibu, karena ternyata di situ telah menunggu tidak hanya satu Sopir, tapi dua dan lengkap dengan beberapa bodyguard yang nampak berjaga di sekitar.


"Apa Ibu sudah dalam fase pikun?" ucap Kiandra khawatir.


Tetapi, segala pertanyaannya kini terjawab, setelah si Ibu menelpon dan menyuruhnya masuk. Dengan santai dan tanpa ada firasat apapun, pria itu masuk ke dalam tempat Spa ekslusif tersebut. Dan seketika ia tertegun, saat melihat di situ juga ada Anna.


"Kian, anak Ibu memang selalu tepat waktu." si Ibu sumringah menyambutnya.


Namun, fokus Kiandra hanya mengarah ke Anna yang tampak seksi, dengan baju model kemben yang memperlihatkan pundak serta punggungnya yang putih mulus.


"Cantik, kan?" goda si Ibu saat mata Kiandra tak berkedip.


"Kenapa Ibu menyuruhku ke sini, kalau ternyata di luar ada dua mobil dan dua sopir?" ia menutupi rasa malu dengan berlagak marah.


Ibunya terkekeh. Geli dengan anak bujangnya yang mirip si Ayah, tapi begitu polos soal jatuh cinta dan wanita. "Dua mobil dua sopir apa?" ia bertanya. "Itu kan bodyguard Daddy mu yang selalu mengekor kemana pun Ibu pergi." wanita bersahaja itu pura-pura bodoh.


Kiandra berdecak dengan kening berkerut, sebab tahu si Ibu sudah menjahilinya.


"Ibu ada keperluan mendadak." wanita itu kembali berkata. "Kau antar Delana, ya?" pintanya.


"Apa?" Kiandra kaget. Ia melihat ke arah Anna yang berdiri di sudut dengan raut gelisahnya yang biasa. "Bu, aku ada..."


"Ibu ada arisan yang tidak bisa di tinggalkan, nak." potong si Ibu cepat.


"Arisan?" kedua alis putranya itu hampir menyatu.


"Sudah ya, Ibu sudah di tunggu teman-teman ibu." wanita itu menepuk pundaknya sesaat, lalu melambaikan tangan ke arah Anna yang cemas. "Tidak apa-apa, Kian akan menjagamu." ia berseru kepada Anna yang berniat mencegahnya pergi.


Dalam sekejap, di ruangan itu hanya ada Kiandra dan Anna, serta dua resepsionis Salon yang diam-diam saling melempar senyum.


Sebenarnya apa yang di pikirkan Ibuku.


Kiandra hampir tepuk jidat.


.


Akhirnya, mau tak mau ia menyuruh Anna mengikutinya. Saat ia sampai di halaman, dua mobil yang tadi terparkir sudah pergi membawa si Ibu yang entah kemana.


Mana pernah Ibu datang ke acara macam arisan sosialita? Malam-malam seperti ini pula.


Kiandra masih saja ngerundel dalam hati.


Salon Spa dan Massage yang terletak di pinggir jalan raya itu riuh oleh suara kendaraan yang saling salip di jalanan sana. Lampu-lampu nampak benderang di tiap sudut kota, menambah suasana indah di malam selasa yang cerah di musim penghujan seperti ini.


Kiandra sudah membuka pintu mobil, saat melihat Anna yang masih tak bergerak sembari memeluk diri. "Kenapa diam saja? Masuk!" perintahnya dengan kening berkerut dalam.


Anna mengigit bibir bawah gusar.


Kenapa jadi begini?


ia pun bingung dengan situasi yang mendadak berubah seratus delapan puluh derajat ini.


Di dalam mobil Kiandra menghela nafas panjang. Ia tak habis pikir, bisa-bisanya si Ibu sampai merencanakan hal di luar nalar macam ini.


"Tu, Tuan Muda bisa menurunkan saya di sana kalau...." kalimat Anna terputus oleh lirikan tajam dari pria beralis tebal tersebut.


Anna langsung tertunduk tak berani lagi bicara.


Mobil jenis SUV warna gelap itu mulai berjalan membelah malam.


Kiandra mencoba mengalihkan pikirannya ke keramaian jalan, tapi pandangannya terus tertuju pada pundak, lalu punggung dan terakhir wajah Anna yang terlihat berbeda, dengan bibirnya yang di poles lipstik warna merah glossy.


Wajah Kiandra merah padam membayangkan hal-hal aneh yang mulai menyerang otaknya. Untungnya di dalam mobil keadaan gelap, sehingga wanita di sampingnya itu tak tahu bertapa frustasinya dia melihat hasil make over si Ibu.


.


Sampai di lampu merah kedua, ia betul-betul sudah tidak tahan, kemudian melepas jasnya.


Anna yang melihat hal tersebut terkejut. Ia langsung takut, mengira pria itu akan berbuat macam-macam.


Namun,


"Pakai itu!" perintah Kiandra galak, seraya melempar jasnya ke pangkuan wanita yang duduk di sebelahnya.


Anna seketika tertegun.


"Kenapa malah bengong? Kau tidak dengar aku bilang apa, hahh?!" muka Kiandra sudah panas dengan jantung berdebar tak karuan.