
Anna sampai tersaruk-saruk gaunnya yang menyentuh lantai, karena Kiandra menarik lemgannya erat dan membawa paksa dirinya masuk ke dalam rumah.
"Tuan Muda, Anda tidak sopan!" hardiknya seraya mengibaskan tangan sekuat tenaga.
Kiandra berbalik ketika pegangan tangannya terlepas. "Apa kau bilang?" ucapnya marah.
Anna mundur dengan raut was-was. Ia yang tadi sedang berbincang dengan seorang tamu, yang mungkin iba melihatnya duduk sendirian. Tiba-tiba Kiandra datang, serta langsung menariknya begitu saja.
"Kau mengatakan aku tidak sopan, sedangkan kau sendiri intens dengan laki-laki yang baru di kenal?" muka Kiandra merah padam.
Anna kaget, tatapi itu hanya sesaat. "Kami hanya mengobrol, tidak lebih." bantahnya kemudian.
"Mengobrol sampai tertawa seperti orang gila?" tunjuknya kesal.
"A, apa...?" Anna tak mengerti.
Dia memang tadi sempat tertawa, karena si tamu melontarkan sebuah lelucon. Tapi, bukan berarti mereka seperti yang Kiandra tuduhkan.
"Lebih baik kau tidak usah hadir di pesta!" amuk pria dengan penampilannya yang tak bercela itu.
Kedua mata Anna seketika melebar.
"Kau bukan siapa-siapa!" lanjutnya dengan intonasi suara lebih tinggi. "Jadi kau tak perlu sok-sokan seperti anggota keluarga..."
Kalimat Kiandra terputus, karena beberapa pelayan yang membawa nampan-nampan berisi makanan untuk pesta melintas.
Para Pelayan itu terlihat heran dengan sikap keduanya. Tapi, mereka memilih tak ikut campur dan mempercepat langkah.
Anna tertunduk sembari menggigit bibir bawah. Ucapan Kiandra bak garam yang di tabur ke lukanya yang masih mengangga.
Kiandra sendiri gusar. Berkali-kali ia mengusap rambutnya kebelakang. Ia menyesali perkataan kasar yang keluar karena rasa marah dan cemburu dalam hatinya. Tetapi, untuk jujur ia enggan.
"Saya memang bukan siapa-siapa di sini." Anna berkata setelah para Pelayan itu tak terlihat.
Kiandra melihat ke arahnya dengan kedua alis hampir menyatu.
Anna tersenyum getir. "Sekarang Anda mengerti kan, kenapa saya tidak pantas untuk Anda?" ia bertanya.
Pria itu tertegun.
Mereka saling pandang, dan kini tanpa di jelaskan pun, Kiandra paham, tentang kenapa wanita itu selalu menghindar, menolak dan bahkan berusaha menjauhkan diri darinya.
"Anda tenang saja." Anna kembali berkata. "Saya tidak akan mempermalukan Anda dan keluarga Anda lebih dari ini." ucapnya sembari berbalik pergi.
Kiandra masih mematung di tempat. Sekilas tadi ia tahu, bahwa Anna menangis. Nuraninya ingin mengejar. Tetapi, harga dirinya yang setinggi gunung tak mau berkompromi.
"Wanita yang bersama dengan Anda itu sudah berkali-kali tidur dengan saya!"
Perkataan Rico bergaung terus-terusan di telinga.
"SIALAANN!!" bentak Kiandra emosi.
.
Aldo berjalan pelan menelusuri halaman depan rumah keluarga Marthadinata yang beralih fungsi menjadi lahan parkit para tamu undangan.
Ia berjalan tertunduk, sambil menatap kosong pada aspal di bawahnya.
"Menurut Pak Aldo, kenapa Pak Aldo bisa terpilih di antara sekian pelamar kerja yang pasti lebih berpengalaman dan mungkin memiliki skill lebih tinggi?"
ia teringat pertanyaan Dave.
"Itu karena Dad sendiri yang menunjuk Pak Aldo secara langsung."
Jujur ia kaget mendengar penuturan pria itu.
Andreas Reynald Marthadinata adalah biang dari malapetaka di keluarganya.
Menurut cerita pasangan Pelayan dan Sopir yang dulu mengabdi di keluarganya, serta kini menjadi orang tua angkatnya, ia sedang demam tinggi dan tak bisa turut ikut dalam mobil maut tersebut.
"Dad tidak tahu, kalau masih ada anak seusia putranya."
ia kembali teringat penuturan Dave.
"Dad emosi saat tahu semua berita yang memojokan saya dan istri berasal dari orang-orang suruhan Adriansyah Adam."
pria itu melanjutkan.
"Lebih-lebih... karena berita itu juga, hubungan kekelurgaan kami menjadi renggang dan Ibu sampai harus berkali-kali di opname."
.
Aldo telah sampai di mobilnya, kemudian berhenti dan memijit kepalanya yang mendadak terasa pening.
"Tapi percayalah, Dad menyesal, karena tak tahu jika di mobil itu bukan hanya berisi Adriansyah Adam. Tetapi, juga seluruh anggota keluarganya yang lain."
Pasti dia hanya berbohong!
batin Aldo menolak.
"Sebenarnya Dad sudah curiga saat melihat CV Pak Aldo. Tapi, ketika Dad bertemu dan menginterview. Dad yakin, jika Pak Aldo tak tahu menahu tentang permasalahan tersebut, serta memilih percaya kepada Pak Aldo untuk mendampingi Kian."
Aldo memukul kap mobilnya beberapa kali. Lalu mengusap rambutnya kasar. Seandainya bisa memutar waktu, tentu ia memilih tak mau tahu.
Namun, ketika ia pulang ke kampung halaman dan tak sengaja menemukan foto serta barang-barang miliknya di gudang. Ia terlanjur membuka tabir masa lalunya sendiri.
"Mungkin dulu, Gusti Allah sengaja membuat Mas Aldo jatuh sampai kepalanya terbentur dan amnesia, agar Mas Aldo melupakan semua dan betul-betul hidup sebagai Aldo Prayogi Hermawan dan bukan Ezekiel Dianza Adam."
Nasehat dari wanita yang ia sebut Ibu itu membuat batinnya teriris.
Victoria yang menyaksikan Aldo terduduk di aspal dan bersandar di ban mobilnya sendiri, tak mampu berbuat apapun, meski hatinya setengah mati ingin berlari memeluknya.
Vic, ingat prioritas utamamu.
pikirannya memperingatkan, kemudian dengan berat hati, ia pergi meninggalkan Aldo yang masih dilema antara masa lalu dan masa depan.
.
Anna berkali-kali mengusap pipinya yang basah oleh air mata, sambil mempercepat langkah menelusuri rumah kaca menuju kamarnya.
runtuknya dalam hati.
Seharusnya kau segera pergi begitu Rico membongkar aib mu di muka umum.
batinnya sedih luar biasa.
Namun, yang lebih menyakitkan dari itu semua adalah ucapan Kiandra yang menyebut dirinya bukan siapa-siapa.
Apa yang membuatmu sakit hati? Kenyataanya kau ini memang bukan siapa-siapa.
Ia mengusap air matanya yang tak mau berhenti mengalir.
Sangking sesak perasaanya, tangan Anna sampai gemetar dan berkali-kali kesusahan memasukan kunci.
Besok pagi aku akan pamit.
tekadnya setelah berhasil memutar kunci dan membuka pintu kamar.
Namun, tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang dan nyaris membuatnya berteriak, kalau saja ia tidak cepat menyadari siapa dia.
"Tuan..."
"Jangan panggil aku seperti itu." potong Kiandra tepat di belakang telinganya.
Anna meneguk ludah susah payah. "... Le, lepaskan." pintanya sambil memegangi kedua lengan Kiandra yang memeluknya dari belakang.
Kening Kiandra berkerut dalam. Tapi, ia tetap enggan melepaskan dekapanya.
"Wanita yang bersama dengan Anda itu sudah berkali-kali tidur dengan saya!"
ucapan rusak Rico kembali mengusik.
"Kiandra Marthadinata yang terhormat cuma mendapat 'sisa makanan' dari pengusaha rendahan seperti saya!"
Kiandra sampai memejamkan kedua matanya rapat-rapat, ketika kalimat itu berusaha meracuni pikirannya.
Kenapa Dave dan Kirana tetap menikah, walau mereka tahu akan di caci dan terpaksa hidup terasing meninggalkan semua kemewahan hidup?
lubuk hati Kiandra bicara.
"Kau tak akan mengerti, sebelum mengalaminya sendiri!"
ucapan kakak perempuannya yang kesal terhadapanya terlintas.
Batin Kiandra berkecambuk, membuat pelukannya tanpa sadar semakin menyakitkan.
"Tuan Muda, tolong lepaskan. Saya sesak." Anna mulai panik.
Namun, Kiandra tak bergeming.
"Saya janji besok akan pergi diam-diam dan tak akan menganggu keluarga Anda lagi!" Anna yang mengira Kiandra berbuat begitu untuk mengancamnya menangis.
"...Aku tidak peduli." ucap Kiandra pelan, membuat Anna yang tengah berontak seketika terdiam. "Aku tidak peduli kau sudah tidur dengan siapa. Aku tetap mencintaimu..." ia meletakkan kepalanya di pundak Anna dan mendekapnya lebih erat.
Anna tertegun.
Untuk beberapa saat, yang ada hanya keheningan dari rumah kaca yang berisi tanaman-tanaman tropis. Penerangan yang samar-samar, juga posisi Kiandra yang memeluk dari belakang, membuat keduanya tak bisa melihat ekspresi satu sama lain.
Perlahan Kiandra merasakan pundak Anna bergetar, lalu di susul suara isaknya yang lemah. Ia melepas dekapannya, lalu memutar tubuh wanita itu agar mereka bisa saling berhadapan.
Kini, Kiandra bisa melihat raut Anna yang sembab dan di penuhi air mata, membuat wajahnya keruh, karena benci melihatnya menangis.
Sebaliknya, Anna terenyuh sampai tak bisa mengucap apapun, kecuali air matanya yang mewakili. Kalimat terakhir Kiandra membuatnya tak tahu mesti sedih atau bahagia.
Pria yang seolah memiliki dunia dalam genggamannya itu, mau menerima dirinya yang hina, yang bahkan terusir dari keluarga dan Negaranya sendiri karena aib yang melekat.
"... Saya... tidak pantas..." Anna rendah diri, masih berusaha mengingkari, ketika ucapanya terputus oleh bibir Kiandra yang membungkam mulutnya.
Kedua mata Anna melebar, tetapi itu hanya sebentar. Kiandra melepas ciumannya dan menatap tajam. Sekali lagi Anna di buat terkesima.
"Aku sampai membuang logikaku pun, kau masih mengatakan hal menyebalkan itu?" ia berkata tepat di depan wajah Anna yang berjarak kurang dari sejengkal.
Kedua mata Anna yang basah oleh air mata bergetar, ketika melihat ketulusan dari sepasang mata indah berwarna cokelat terang tersebut.
Pelan-pelan ia menurunkan kedua tangan yang sebelumnya di buat untuk menahan tubuh Kiandra agar tak menempel padanya. "... Aku juga... mencintaimu, Kiandra..." ucapnya di iringi lelehan air mata. "Maaf, kan aku..." lanjutnya sembari tertunduk menyesali dirinya tak mampu menjaga kehormatan diri.
Kiandra langsung memeluk, serta mencium kembali bibirnya. Kali ini bukan hanya sekedar kecupan dari salah satu pihak, melainkan juga sambutan dari yang bersangkutan.
Rasa manis bercampur asin dari air mata, mematik hasrat, saat mata mereka saling pandang dan mengisyaratkan hal lebih.
Bunyi pintu yang tertutup, terdengar bersamaan dengan Kiandra yang merebahkan Anna di tempat tidur.
Biasanya ia paling benci melihat wanita itu menangis. Tetapi, Anna yang berwajah sembab dan rambutnya yang kini kusut, serta tengah berada di bawahnya, terlihat begitu cantik, membuatnya tak ingin berhenti menciuminya.
Nafas keduanya semakin berat, seiring n*fsu yang semakinmengelora. Kiandra melempar jas mahalnya begitu saja, lalu melepas satu persatu kancing kemejanya sendiri.
Jantung Anna berdetak kencang. Rasanya seluruh kamar tidurnya pengap dan gerah, meski kenyataannya di situ ada pendingin ruangan. Terlintas sedikit rasa takut. Tetapi, kenyataan bahwa seharusnya ini bukan yang pertama, membuat ia merasa konyol.
Wanita itu tersentak dari lamunan, ketika Kiandra menarik dress-nya, dan memperlihatkan tubuhnya dari atas sampai pinggang. Kedua pipinya merona dan reflek menutupi bagian pribadinya dengan kedua tangan.
Namun, Kiandra langsung memegangi pergelangan tangan Anna dan menguncinya di kiri dan kanan.
Anna hendak protes. Tapi, sebelum mulutnya mengucap sesuatu, Kiandra sudah lebih dulu membuatnya mendesah dengan memainkan kedua bukit kembarnya.
Entah Anna yang tak ingat dengan sentuhan Rico, atau karena saat ini ia sedang jatuh cinta kepada Kiandra, sehingga walau sedikit kasar, tapi membuat otaknya kosong dan hanya di isi pria itu saja.
Jantung Anna berpacu cepat, ketika Kiandra membuka kemejanya dan memperlihatkan otot perutnya yang mengagumkan. Ia memalingkan muka karena malu, saat pria itu melepasi sabuk dan membuka resleting celananya yang menganggu.
Tenanglah... Tenang... Ini bukan yang pertama, ini bukan yang pertama.
batin Anna yang gugup mengulang-ulang kalimat tersebut.
Gairah makin membakar dan menghilangkan akal. Tetapi, mendadak Anna menjerit tertahan, bersamaan hentakan keras pada pangkal pahanya.
"Sakiiitt...!" sekuat tenaga ia mendorong tubuh Kiandra menjauh.