Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
HAMPIR



Loh..?


Mata cokelat terang milik Kiandra melebar.


Jarak wajah-nya dengan Anna kurang dari sejengkal, dan tangan kananya dalam posisi memegangi dagu gadis itu.


Anna yang tak menduga Kiandra akan memakaikan lipstik ke bibirnya sampai tercengang tak bergerak.


Mereka saling pandang dalam kesunyian ruang, serta keadaan yang mendadak begitu tenang.


Kenapa jadi cantik?


batin Kiandra.


Tampilan Anna memang menjadi lebih segar, dengan sedikit warna pada bibirnya.


Kiandra meneguk ludah dalam-dalam, sampai jakun-nya naik dan turun secara perlahan.


Anna masih tak bergeming, sebab ia sendiri tengah terperangkap ke dalam pesona mata indah Kiandra yang begitu istimewa.


Mungkin jauh di dalam diri seorang pria manapun, pasti mempunyai naluri memangsa. Sehingga ketika ada kesempatan, tanpa sadar mereka akan menunjukkan sifat aslinya.


Begitupun dengan Kiandra yang makin mencondongkan diri dan menatap Anna tanpa kedip.


Sekali lagi ia meneguk ludah memandang Anna yang terpojok di sudut dengan bibir sedikit membuka, dan raut-nya yang menunjukkan ekspresi terkesima.


Seolah dalam pikiran Kiandra yang gila, Anna mengatakan, ayo cium aku.


Jantung Anna berdebar sangat kencang. Sangking kencangnya, gadis itu sampai tak berusaha kabur, ketika pria berpenampilan borjuis itu semakin mendekat.


Pria-pria dengan kesempurnaan fisik seperti Kiandra memang selalu membuat para wanita terlena dengan hanya sedikit bersikap manis.


Entah wanitanya yang gampang terbuai perasaan, atau si pria-nya yang memang pandai memanfaatkan keadaan.


"Chief!"


Pintu mendadak terbuka lebar, bersamaan dengan suara panggilan dari seseorang.


Seketika bibir mereka yang nyaris bertemu saling menjauh.


Anna langsung terjaga dan hampir saja memekik, ketika menyadari apa yang baru saja akan terjadi.


Kiandra sendiri sampai menjatuhkan lipstik yang masih dalam keadaan terbuka dari genggaman tangannya, karena begitu terkejut.


"Chief." Aldo kembali memanggil.


Dia celinguan melihat meja kerja Kiandra yang kosong. Sampai akhirnya ia melihat Chief nya tengah berdiri di sudut ruang.


Aldo bergegas menghampiri. "Chief, anda memecat Pak Hendi?" tanyanya begitu dekat.


Tetapi, betapa kagetnya Aldo ketika punggung Kiandra menyingkir dan ia mendapati Anna berada di baliknya.


"...kau...??" Aldo menunjuk ke arah Anna yang masih syok karena kejadian tadi.


"Kau tak punya mulut untuk bilang permisi dulu sebelum masuk?!" hardik Kiandra sengit.


"Maaf Chief!" Aldo tertunduk. Tapi, keningnya berkerut dengan pikiran serba negatif.


Menyadari apa yang Aldo pikirkan tentangnya, membuat Anna ingin menjambak rambutnya sendiri.


Kau benar-benar murahan.


maki Anna pada diri.


"Kenapa orang gampang sekali minta maaf, tapi tak pernah intropeksi diri dan terus berbuat kesalahan yang sama?" Kiandra kesal bukan main.


Dua kali moment penting dalam hidupnya di rusak oleh personal asistennya ini.


Kalau bukan karena Ayah-nya, mungkin Kiandra akan benar-benar memecat pria dengan kemeja biru muda dan celana hitam tersebut.


Anna memanfaatkan kesempatan Kiandra dan Aldo yang tengah bersitegang untuk menyelinap keluar.


Namun,


"Mau kemana?" seperti punya mata di belakang kepala, Kiandra dengan gesit memegangi pergelangan tangan-nya.


Anna terkejut. Tapi ia berusaha tenang.


"Aku mau pulang." ia berkata pelan.


Kiandra berpikir sejenak tentang apa yang sebaiknya ia lakukan. Tapi yang pasti, ia tak mau kehilangan targetnya lagi.


"Lepaskan tanganku." Anna memelas.


Gadis itu memandang Kiandra dengan mata berkaca-kaca, membuat dugaan Aldo tentang Chief-nya dan gadis itu makin terjun bebas.


Aldo hampir saja tepok jidat.


"Kau urus sisa pekerjaan hari ini." Perintah Kiandra membuat lamunan Aldo buyar.


"Maksud anda..., saya tidak jadi di pecat?" Aldo langsung girang.


Kiandra mendengus. Dia tak suka menjilat ludah sendiri. Tetapi memang harus di akui, kalau keputusannya tadi memang tidaklah bijak.


"Telepon juga bagian HRD, aku membatalkan pemecatan Manager Personalian dan tiga resepsionisnya."


"Jadi benar, tadi anda marah-marah di lobbi dan memecati semua orang?" Aldo masih tak percaya.


"Kau akan menjadi satu-satunya orang yang aku pecat, jika terus bertanya seperti murid TK." Kiandra menekankan.


"Bu, bukan begitu Chief." Suara Aldo melemah, kemudian memilih tertunduk dengan kedua tangan bertumpu rapi di depan.


Kiandra berdecak dengan muka sebal.


Anna yang melihat adegan dua pria itu memilih tak ikut campur. Ia gelisah dan beberapa kali mengigit bibir bawah menatap tangan Kiandra yang memegang erat pergelangan tangannya.


Sebenarnya apa yang sudah aku lakukan??


Anna menyesal telah datang ke Gedung Marthadinata-Sanjaya Groub ini.


Tiba-tiba ia tersentak, ketika Kiandra menarik tangannya tanpa pemberitahuan.


"Mau kemana?" tanya Anna yang jantungnya hampir rontok.


"Katanya pulang." Kiandra menjawab tanpa melihat lawan bicaranya yang tergopoh-gopoh mengikuti langkahnya yang lebar.


Masih Anna lihat dari ekor mata, Aldo sampai memicingkan pandangan memperhatikan dirinya dan Kiandra dari kejauhan.


Tapi, Anna tak mampu berbuat apa pun selain pasrah mengikuti langkah kaki pria jangkung yang seenaknya ini.


Ketika Kiandra membuka handle pintu, Victoria yang telah kembali berjaga di depan, segera menunjukkan sikap hormat.


Sampai ia bertemu pandang dengan Anna.


Bukankah dia yang dulu berada di Club?


ingatan Victoria yang tajam mengingat Anna dan perkelahian yang melibatkan Chief-nya beberapa waktu lalu.


"Jangan ikuti aku." Kiandra memberi perintah sambil lalu.


Begitu Kiandra melewatinya, wanita berambut lurus dan berkuncir tinggi itu mengangkat muka dan memperhatikan punggung Chief-nya yang berjalan menjauh serta mengandeng tangan lawan jenis.


Ekspresi Victoria datar tak menunjukkan apapun. Tetapi, ia segera membuka pintu dan masuk ke ruang kerja Kiandra yang kini hanya ada Aldo seorang.


.


"Lepaskan tanganku." pinta Anna ketika mereka berada di dalam lift.


"Tidak." Kiandra menjawab tegas.


Anna gusar. Pandangannya yang menunduk melirik ke arah sepatu Kiandra yang mengkilat, kemudian naik ke celana panjang dari bahan katun mahal yang Kiandra pakai dan terakhir mata Anna tertuju pada tangan Kiandra dengan gelang emas putih dari brand bvlgari yang menyembul di balik jas-nya.


"Kau tak malu di lihat pegawaimu?" tanya Anna setelah beberapa saat tak ada yang bicara.


Kening Kiandra berkerut.


Nomor digital berwarna merah yang berada tepat di atas pintu lift terus berubah semakin kecil nominal-nya.


Ucapan Anna membuat Kiandra sadar, jika ia hampir saja kehilangan jati diri.


Kiandra menghela nafas berat beberapa kali, kemudian perlahan melepaskan genggaman tangannya.


"Jangan lari." Pria berambut cepak itu meminta dengan enggan.


Anna tak menjawab. Tak pula menoleh. Tetapi ia lega, sebab Kiandra mau melepasnya.


Diam-diam ia menengadah untuk mencuri pandang ke arah pria di sampingnya itu.


"Kenapa?" tanya Kiandra yang ternyata telah lebih dulu memandangnya.


Seketika Anna tertunduk dan mengeleng cepat.


"Kalau mau bilang aku tampan, sudah banyak yang bilang. Jadi aku tak akan terkesan." Ujar Kiandar santai.


Astaga...kenapa dia bisa bicara seperti itu kepada seorang wanita?


Kedua pipi Anna memerah dengan raut masam.