Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
CHIEF II



"Chief!" Aldo membuka pintu mobil, ketika Kiandra tiba-tiba berlari ke tengah jalan raya dan menyeberang begitu saja.


Victoria yang lebih gesit dan terlatih, lebih dulu mengejar Kiandra yang telah sampai di tengah dan nyaris tertabrak, kalau saja mobil itu tak cepat mengerem.


"Chief!!" teriakan Victoria menyamai suara klakson yang memekakan telingan.


Beberapa pengendara mengumpat serta ikut membunyikan klakson berkali-kali. Tapi Kiandra tak mengacuhkan dan terus menyeberang.


Dengan raut khawatir, akhirnya Victoria berhasil mengejar Kiandra ke seberang jalan.


Pria itu berdiri di pinggir trotoar yang panas berdebu dalam posisi membelakangi Victoria.


Bau saluran air yang penuh sampah dan menyebabkan air berwarna hitam, makin membuat tak nyaman tempat di sudut jalan raya tersebut.


"Kau tertabrak..." Kiandra jongkok untuk mengamati lebih dekat, membuat lalat yang berkerumun langsung berterbangan.


Kaki belakang anjing kurus kering itu terluka dengan tulang mencuat dan bernanah. Melihat keadaannya yang menyedihkan, sepertinya hewan tersebut telah lama sakit dan kini hanya menunggu mati.


Kiandra iba, apa lagi saat menatap mata si anjing yang cekung dan berkaca-kaca, seolah ia memohon, kasihani aku atau tolong aku.


"Chief, jangan!" larang Victoria ketika Kiandra menjulurkan tangan hendak mengelus.


Suara Victoria membuat hewan malang itu ketakutan dan menghindar dengan cara menyeret tubuh.


Kiandra menatap marah Victoria, membuat wanita itu tak berani lagi mencegah dan hanya menunduk gusar.


Sesaat kemudian, Aldo datang dengan nafas terengah dan keringat bercucuran.


Aldo yang tiap hari duduk dan berkutat dengan laporan di ruangan berpendingin, tak pernah berlarian di siang bolong seperti ini. Apa lagi di tengah jalan raya dan memakai kemeja dan jas lengkap yang membuatnya makin gerah.


"Astaga Chief, saya hampir mati melihat anda menerobos jalan raya." Ia berkata setelah berhasil mengatur nafas, lalu menyeka keringat dan masih terengah.


Ekspresi Aldo seketika berubah kaget, ketika Kiandra berbalik menghadap dirinya dengan anjing kotor di gendongan.


"Chie...Chief, anda... tidak bermaksud membawanya pulang, kan?" Aldo jijik pada luka mengangga dengan belatung dan nanah pada kaki si anjing. Ia sampai menutup mulut dan hampir memalingkan muka, melihat belatung-belatung kecil yang bergerak-gerak pada luka si anjing.


"Cari dokter hewan di sekitar sini. Anak ini harus segera di tolong." Kiandra mengusap-usap kepala anjing liar yang kini pasrah dalam dekapan.


"Anak?" Aldo hampir saja menepuk kening dan tertawa, kalau saja tak ingat dengan siapa dia bicara.


"Ayo." Kiandra berjalan lebih dulu.


"Chief, tolonglah...hari ini ada tiga swalayan yang harus anda tinjau." Aldo berusaha membujuk sambil mengekor di belakang.


Kiandra tak mempedulikan. Dia masih memberi ketenangan pada si anjing dengan mengelus dan mengajak bicara.


"Siapa yang membuatmu terluka?" tanyanya pada si anjing. "Tenang saja, kau pasti sembuh." Kiandra berjalan tanpa menoleh ke belakang.


"Chief, saya juga terluka." Aldo memelas dalam hati. Ia sudah bisa membayangkan, akan sekacau apa jika ada satu saja jadwal yang tak sesuai dengan jamnya.


Membayangkan dia harus mengatur ulang agenda dan mencari alasan yang tepat untuk tiap janji yang harus di batalkan atau di undur, membuat Aldo berjalan terbungkuk dan menghela nafas lelah.


Victoria yang berjalan di sebelah memperhatikan, namun ia tak mengatakan apa pun.


Sampai di klinik hewan. Anjing itu di mandikan, serta di obati. Karena luka nya mengalami infeksi parah dan malnutrisi, hewan tersebut harus menginap beberapa hari.


Di ruang tunggu klinik hewan, tak sengaja Kiandra melihat buket bunga mawar putih.


"Kian."


Ia teringat dahulu sering sekali bermain kejar-kejaran dengan kakak perempuannya di kebun bunga mawar putih milik Ibunya.


Bagaimana keadaaan ibu sekarang? ia bertanya dalam hati.


Jujur saja sejak kehebohan yang di perbuat, Kiandra terus menerus gelisah memikirkan kesehatan sang Ibu, juga ancaman Ayahnya yang tak pernah main-main.


"Chief, anda harus ganti baju." Aldo telah berdiri di sampingnya.


Kiandra baru sadar, kalau kemejanya kini bernoda dan ia harus membersihkan diri, sebab mengangkat anjing liar tanpa sarung tangan.


"Sebaiknya anda segera meninjau lokasi." Aldo menyarankan. "Anda tahu ini penting, sebab berhubungan dengan kenyamana pengunjung dan stabilnya penjualan."


Kiandra masih mematung.


Sebagai asisten pribadi yang di tunjuk langsung oleh Ayah Kiandra dari ribuan pelamar, dia harus bisa tegas jika menyangkut pekerjaan.


"Karena itu anda sendiri yang sampai turun tangan dan berpura-pura sebagai pembeli untuk mengecek pelayanan toko, serta mengetahui kepuasan pelanggan." Aldo melanjutkan.


Kiandra menghela nafas panjang. Tanpa berkata apa pun dia berjalan keluar dari klinik hewan di ikuti Victoria dan di susul Aldo.


.


Hari telah sore, ketika Kiandra telah membersihkan diri dan berganti baju.


Dia berkeliling swalayan sembari mendorong troli berisi belanjaan supaya meyakinkan sebagai pembeli.


Sambil pura-pura memilih beberapa barang yang tertata rapi di rak-rak tinggi berjajar, Kiandra mengamati bagaimana para pegawainya bekerja.


Dengan observasi langsung seperti ini, dia bisa tahu mana yang kurang dan mesti di perbaiki untuk meningkatkan kualitas.


Sebenarnya bisnis utama keluarga Marthadinata adalah properti, dan dia cukup duduk di depan layar laptop, maka semua bisa di jangkau.


Namun karena Sanjaya Company yang berbasis perdagangan retail ikut melebur menjadi satu, otomatis Kiandra juga harus paham soal produk-produk dan pelayanan konsumen. Dan bagi Kiandra, tak puas rasanya jika tak terjun langsung ke lokasi.


"Sudah saya katakan berapa kali, kalau saya tidak mengambil dompet Ibu."


Kiandra mendengar ribut-ribut. Dari kejauhan dia melihat dua orang wanita tengah bersitengah di saksikan beberapa pengunjung. Seorang satpam berada di tengah dan mencoba melerai, tapi nampaknya tak berhasil.


"Kau dari tadi mengikuti ku, jadi pasti kau yang mengambil!" ibu-ibu bertubuh gemuk dengan perhiasan emas di seluruh badan itu menunjuk dengan muka meremang.


"Saya tidak mengikuti." Suaranya kalah besar dari si Ibu penuduh yang seolah meneriaki.


Kiandra berjalan mendekat.


"Saya memang ingin membeli barang yang kebetulan ada di rak yang sama dengan Ibu." Sangat kontras dengan si penuduh yang glomour, penampilan wanita itu memang lebih sederhana, maka tak heran jika dia yang di tuduh.


"Pencuri mana ada yang mau mengaku!"


Kening wanita itu berkerut, tentu dia tak terima di tuduh mencuri, sebab dia memang bukan pencuri.


"Cepat geledah tasnya!" ibu itu memerintah si satpam yang malah bengong.


"Tidak!" wanita itu langsung memeluk tas slempangnya. "Aku tidak mencuri apa pun! Tak ada barang anda di tas saya!" dia terlihat cemas.


"Lihatkan dia ketakutan." ibu itu merasa menang. "Ayo, gledah tasnya! Kenapa diam saja?"


"Maaf mbak. Tapi lebih baik mbak buka tasnya. Supaya kami tahu, tidak ada dompet ibu ini di dalam tas mbak." Satpam itu mencoba meminta baik-baik.


"Saya tidak mencuri!" wanita itu memeluk tasnya lebih erat.


Sikapnya membuat semua orang makin curiga. Dengan terpaksa si satpam merampas tas tersebut. Wanita itu berteriak dan mencoba mengambilnya kembali.


"Tolong kembali kan." Ia memohon.


Kejadian yang berlangsung di samping kasir itu makin menarik perhatian.


"Minta kerjasamanya mbak, kalau memang barangnya tidak ada, pasti kami kembalikan." Satpam itu mengangkat tinggi-tinggi tas slempang berukuran sedang yang berusaha di raih si wanita.


Mendadak si satpam kaget, ketika tas milik si wanita telah di ambil dari tangannya.


"Kita punya protap bukan?" Kiandra telah berdiri di antara mereka dengan membawa tas si wanita. "Kenapa mempertontonkan keributan seperti ini kepada konsumen?"


"Aa..anda...?" satpam itu mencoba mengingat-ingat.


"Dia pencuri!" ibu gemuk itu langsung menunjuk si wanita yang masih saling pandang dengan Kiandra.


"Tidak." Ia mengeleng-geleng panik.


"Buka tasnya, di situ pasti ada dompet milik saya yang dia curi!" ucap si Ibu sengit.


Muka wanita itu pucat.


Kiandra tak bergeming. Dia masih memperhatikan wanita berambut panjang dan memakai rok bunga-bunga biru dengan atasan rajut warna putih.


Meski keadaan berbeda. Tapi Kiandra masih mengingat dengan jelas, kalau wanita itu adalah target nya.