
Anna mencoba mencari tahu siapa pemilik ponsel dengan mengeser layar benda berlogo apel tersebut.
Tapi, ternyata ponsel dalam keadaan terkunci, membuat ia tak bisa melihat kontak atau apapun, kecuali gambar langit malam pada wallpaper depan.
Jangan-jangan ini milik-nya...?
kedua mata Anna membulat oleh pemikirannya sendiri.
Ia mencoba mengingat-ingat kejadian tadi.
Benar, kalau tidak salah tadi dia duduk di sofa ini.
Anna teringat, Kiandra lah yang tadi di sini menunggunya merangkai bunga.
Di tengah praduganya, tiba-tiba terdengar bunyi lonceng yang hampir membuat Anna berjingkak kaget. Ia menoleh ke sumber suara dan di depan pintu sana telah berdiri Alexa dan Ethan.
"Hai Anna!" sapa Ethan penuh semangat.
Anna yang masih memikirkan soal ponsel Kiandra, mendadak mematung melihat kehadiran dua orang itu.
"Buruk sekali pelayanan di toko ini. Ada pembeli, bukannya di sambut malah bengong." ujar Alexa ketus.
"Kenapa ngomong begitu?" Ethan menyodok pinggang teman dekatnya itu dengan siku.
Alexa langsung memelototinya.
"Ma, maaf." Anna segera sadar dan berjalan mendekat.
"Tidak masalah kok." Pria berkacamata itu tetap ceria. Ia melirik ke arah Alexa, mengkode agar dia pun tersenyum. Tapi, wanita dengan dress tanpa lengan warna merah itu tetap pasang tampang sangar.
"Mencari bunga apa? biar saya bantu." sedikit kikuk Anna bertanya.
Dia yang berdiri di depan Alexa merasa rikuh, sebab wanita itu terus menatap dengan kedua alis hampir menyatu.
"Teman kami sebentar lagi ulang tahun, kami ingin membuat pesta kecil untuknya. Apa tempat ini juga menyediakan jasa table decor?" masih dengan ekspresi ramah dan senyum yang tak lepas, Ethan menerangkan.
Anna terdiam. Bukan karena dia tidak tahu. Tetapi, hal ini terlalu janggal, sebab beberapa saat lalu Kiandra yang datang dan kini teman-teman-nya menanyakan soal dekorasi pesta.
"Iya..,kami juga menyediakan jasa dekorasi." jawab Anna beberapa saat kemudian.
"Bagus!" Ethan berseru seolah baru saja menang lotre.
Hal itu membuat wajah Alexa makin masam.
"Berapa harga..."
"Apa kau menyukai Kian?"
Secara bersamaan, Ethan dan Alexa berkata, membuat keduanya saling pandang dan Anna sendiri kaget.
"Pertanyaan macam apa itu?" bisik Ethan.
Alexa membuang muka dan kembali menatap wanita dengan tampilannya yang sangat jauh berbeda dengan dirinya yang fasionable.
"Kau menyukai Kian?" ia kembali bertanya.
Ethan tepuk jidat seraya geleng-geleng.
"A..apa maksud anda?" Anna tak mengerti.
Alexa berdecak, lalu melipat kedua tangan ke dada.
Sudah kayak Bawang merah dan Bawang putih.
batin Ethan sembari memutar bola mata. Bingung memikirkan cara suapaya Alexa yang berbaju merah dan Anna yang kebetulan memakai atasan putih tak sampai bertengkar.
"Jangan pura-pura. Aku tak suka dengan wanita munafik!" nada bicara Alexa meninggi.
Bagi yang tak mengenal Alexa, maka pasti akan berpendapat dia wanita judes binti sombong. Dan itu di dukung dengan cara make up-nya yang selalu mentereng dengan alis tinggi dan lipstik cetar.
Begitupun dengan Anna yang langsung minder di tuduh begitu.
"Kian sering mengirimi mu hadiah. Kau juga pasti sudah tahu siapa dia kan?" Alexa kembali berkata.
"Hei, kecikan suaramu. Dia sampai pucat tahu." Ethan kembali berbisik di belakang.
Tetapi, Alexa tak mempedulikan pria yang telah menjadi teman baiknya sejak Sekolah Menengah Atas itu.
Seharusnya aku tak membawanya ke sini.
Sesal Ethan dalam hati.
Tapi dia yang memaksa ingin ikut.
Ethan serba salah.
"Kenapa diam saja?" Alexa mulai kesal dengan sikap Anna yang menurutnya terlalu kamuflase.
"Dia takut padamu." Ethan memperingatkan.
Seketika Alexa menoleh ke arahnya dan mengeram, menyuruh agar diam.
Anna memandang Ethan dengan tatapan gelisah, nampak sekali jika Anna butuh pertolongan, meski mulutnya tetap bungkam.
Maaf Anna. Tapi, perempuan kalau marah itu menakutkan.
Ethan tersenyum kaku.
"Anda salah..." menyadari jika tak mungkin menghindar, Anna berkata.
"Salah? aku?" Alexa menunjuk dirinya sendiri.
"Saya tidak menyukai orang itu." Anna mencoba bicara tegas.
"Kau menyebut Kian orang itu?" Alexa tak percaya.
Anna tertunduk sembari mengkerutkan kening. Beberapa hari ini, ia memang di buat bimbang dengan sikap Kiandra yang berlebihan.
Namun, pertemuan dengan Rico, lalu kata-kata Nisa yang seolah menuduhnya telah berbuat sesuatu dengan Kiandra dan kini kedua teman Kiandra yang datang, membuat hati Anna cemas.
"Tunggu sebentar." pinta Anna, kemudian berjalan cepat menaiki anak tangga ke lantai dua.
"Mau apa dia?" tanya Alexa sambil memandangi Anna.
"Hei, kau itu terlalu frontal." Ethan berkata. "Dia itu perempuan polos."
"Mana ada jaman sekarang perempuan polos?" cemooh Alexa.
"Aku sudah lebih dulu bertemu dan ngobrol dengannya. Yang aku tangkap, dia bukan jenis perempuan matrealistis. Dia perempuan baik-baik dan sangat pendiam. Aku sampai kesulitan mencari topik pembicaraan." Ethan menerangkan.
Didalam kamarnya, Anna untuk terakhir kali membuka kotak anting dari Tiffany and Co yang pernah Kiandra hadiahkan padanya. Kedua benda kecil berkilau itu tak pernah ia pakai satu kalipun.
Anna menghela nafas panjang, lalu dengan hati-hati ia masukan kotak berwarna tosca itu kembali ke paperbag nya.
Aku sangat menyukainya, dan berkali-kali tergoda untuk memakainya. Tapi...anting ini memang bukan milikku.
Anna berkata dalam hati, lalu segera menyibak kordeng keluar kamar.
Sekilas ia melihat Nisa yang tertidur di kursi dengan tivi masih menyala. Tapi Anna mengabaikan dan bergegas turun.
Begitu sampai lantai bawah, Anna tak langsung menemui Alexa dan Ethan. Tapi, mengambil paperbag bertulis Etude House yang tadi ia taruh di meja kasir.
"Ini. Tolong kembalikan padanya." Anna menyodorkan dua tas berisi anting dan perlengkapan make up dari Kiandra.
Ragu-ragu Alexa menerima.
"Dan ini..." Anna merogoh saku celana, lalu memberikan ponsel milik Kiandra yang tertinggal.
"Lhoh? kenapa kau bisa membawa...."
"Ponselnya tertinggal di sini." sebelum Alexa menuduh macam-macam, Anna sudah lebih dulu menjabarkan.
"Tertinggal?" kedua sahabat itu sama-sama kaget.
"Itu hal paling mustahil. Kian bukan orang yang ceroboh. Pasti kau..."
"Hei, hei...sudah." Sambil tersenyum pada Anna, Ethan langsung membekap mulut Alexa dari belakang.
Alexa berusha melepaskan diri. Tapi Ethan yang lebih tinggi darinya tak memberi kesempatan.
"Tiba-tiba aku ingat kalau kami masih ada acara." Ethan terkekeh. Tapi telapak tangannya masih kuat membekap Alexa yang makin emosi.
Anna tak menjawab. Hanya ekspresinya yang semakin terlihat khawatir.
"Kami jadi pesan table decor. Untuk Dp dan lain-lain, aku akan kesini lagi nanti. Sendiri yang jelas." ia nyengir kuda dan menarik mundur Alexa menuju pintu keluar.
Anna masih tak bergeming.
"Daahh Anna..." Dengan tangan yang lain, Ethan melambaikan tangan, kemudian membuka pintu dan keluar.
Anna mengigit bibir bawah dengan wajah muram. Dari dalam toko ia masih bisa mendengar dua orang itu tengah adu mulut.
"Seharusnya kita tak ikut campur." suara Ethan terdengar.
"Kita sudah ikut campur dari awal dan kita salah target. Kalau tidak di hentikan, gimana nasib si Kian?" Alexa kekeh dengan pendapatnya.
Anna menghela nafas lelah. Ia tak tahu apa maksud pembicaraa mereka dan tak ingin tahu juga.
Ia menjatuhkan diri di sofa. Pandangannya sedih menatap aneka bunga yang memenuhi ruang.
Suasana sepi mulai menyergap dirinya, membuat hatinya yang lara makin terasa pedih.
Tak ada wanita manapun yang tak tersentuh hatinya, jika di beri perhatian berlebih oleh seorang pria. Apa lagi jika si pria begitu menarik seperti sosok Kiandra.
Tetapi...
Anna mengepalkan kedua tangannya yang dingin. Pertemuan dengan Rico, membuatnya tak bisa terus terlena oleh segala kebaikan yang Kiandra beri.
"Aku harus segera pergi dari kota ini."