
"Maaf..." ucap Anna perlahan, membuat semua yang berada di situ menoleh ke arahnya.
"Kenapa malah kau yang meminta maaf?" tegur Kiandra tak suka.
Anna makin rikuh, tapi ia berusaha menjelaskan. "Ini karena saya di sini, makanya jadi ada kesalah pahaman." ia memandangi pria dengan kalung bvlgari yang menyembul dari balik kerah bajunya.
"Salah paham?" kening Kiandra semakin berkerut. "Kau itu yang salah paham. Sudah, diam saja dan habiskan makanmu!"
Anna membuka mulut untuk bicara, tetapi sorot mata Kiandra membuatnya mengurungkan niat. Pada akhirnya ia kembali tertunduk dengan perasaan sedih campur aduk.
"Memang selain baik, kriteria apa lagi yang harus di miliki calon istri Om Kiki?" celetuk Kalila yang sudah menyudahi perlombaan makan.
Kama yang duduk di sebelahnya terduduk di kursi sambil mengelus perutnya yang serasa ingin meletus. Ia ingin muntah karena kebanyakan makan, tapi hatinya senang karena menjadi juara dan bebas memerintah saudarinya sampai satu minggu kedepan.
"Kenapa tak ada yang menjawab?" tanya Kalila polos. Ia pandangi satu-satu anggora keluarganya. "Om Kiki." ia memanggil Kiandra.
Raut Kiandra yang tadinya tegang, sedikit mengendur karena di pandangi keponakannya.
"Om Kiki, mau calon istri yang bagaimana?" anak gadis berkuncir dua itu nyengir dengan wajah tanpa dosanya. "Apa menurut Om Kiki, Tante itu kurang baik?" tunjuknya kepada Anna.
Seketika muka wanita itu memerah di tunjuk terang-terangan begitu. "Eh, Nona muda... Tentu saja saya tidak...eemm...saya.." suaranya melemah, karena Kiandra melirik tajam ke arahnya.
"Om Kiki ini memang galak banget, deh. Tante nya jadi takut tuh!" Kalila menumpahkan kekesalan kalah lomba pada Kiandra yang mendelik ke arah Anna.
"Kalila, Kama, kalian sudah selesai makan, kan?" tiba-tiba Dave bangkit dari duduk.
Fokus Kalila langsung tertuju ke Ayahnya.
"Sudaaahh..." Kama yang menjawab dengan nada lemas kekenyangan.
Pria tersebut tersenyum. "Papa punya sesuatu untuk kalian." ia melanjutkan.
"Sesuatu?" mata kedua anak kembar itu seketika berbinar.
"Benar? Tidak bohong seperti Om Kiki yang mau membelikan kami action figure, tapi tidak jadi?" Kalila memastikan.
Action Figure?
Kiandra yang mendengar mencoba mengingat-ingat.
"Om Kiki pasti lupa." Kama mengerucutkan bibir.
Kiandra mendesah pelan. Akhirnya ia ingat untuk membelikan dua keponakannya itu mainan action figure One Piece.
Pantas saja mereka memusuhiku.
ia berkata dalam hati.
"Kapan Papa berbohong?" ujar Ayahnya. "Saat ini juga Papa ajak kalian ke suatu tempat. Ayo!" ajaknya sembari berjalan lebih dulu.
"Ayo, Ayo, Ayo!"
Seru keduanya tak sabar. Dengan gesit mereka mengandeng kedua tangan Ayahnya di kiri dan kanan.
"Daaaddaaahh...! Kakek, Nenek, Mama, Om Kikiii...! Tanteee...!" mereka melambaikan tangan dengan keceriaan luar biasa.
Hanya Nenek dan Ibunya yang membalas lambaian tangan si kembar, itupun dengan wajah lesu yang tak bisa di sembunyikan. Sedangkan Kakeknya hanya tersenyum tipis dan Anna masih sibuk dengan pikirannya sendiri.
Ekspresi Kiandra keruh melihat adegan tersebut. Bukan soal si kembar yang tak bisa diam, tetapi karena sikap Ayah mereka, yaitu Dave.
Dasar sok tenang!
umpat Kiandra sembari bersedekap.
Ia selalu kesal dengan Kakak iparnya yang menurutnya sok bijak dan jarang terlihat emosional. Seperti halnya dahulu ia mengharapkan Dave lebih tegas dengan tetap tinggal di sini seusai mereka menikah, dan bukannya malah melarikan diri tinggal di Desa pelosok.
"Kenapa tadi kau berkata begitu?" Kirana langsung bertanya, setelah suara kedua anaknya yang cerewet minta ampun tak lagi terdengar.
Kedua alis Kirana langsung menyatu. "Kau tidak lihat ada Kama dan Kalila? Mereka bisa berpikir yang tidak-tidak."
"Berpikir yang tidak-tidak?" Kiandra mengulang. "Aku hanya menanggapi ucapan Daddy." Kiandra menunjuk Ayahnya dengan ekor mata.
"Dengan menyindir kami?" tandas Kirana.
"Kau tersindir?" Kiandra menarik sudut bibir.
"Kian!" Kirana gemas.
Ibunya yang melihat pertengkaran kedua anaknya menghela nafas panjang dengan ekspresi sedih.
"Cukup!" suara Ayahnya membuat semua terkejut.
Tak terkecuali Anna yang sedari tadi sudah keringat dingin. Hatinya was-was. Ia takut ketahuan sudah berbohong, ia juga merasa salah tempat dan berkali-kali menyalahkan dirinya sendiri.
Seharusnya aku menolak ajakan Ibu untuk makan bersama.
batinnya menyesal.
"Andre, sudahlah..." Ibu Kiandra mengelus tangan suaminya. "Ini salahku. Kau benar, tidak seharusnya aku berkata sembarangan soal menantu di keluarga Marthadinata ini."
Ayah Kiandra mendengus melihat istri tercintanya mengalah supaya tak terjadi keributan. "Bukan seperti itu, Sayang." ia berkata lembut. "Seharusnya kau yang paling tahu, aku tak akan seegois itu." ia menepuk-nepuk punggung tangan istrinya.
Jujur Ayah Kiandra hampir terpancing emosi karena perkataan anak lelakinya tersebut. Tapi, lagi-lagi istrinya yang pasang badan agar semuanya tetap damai.
"Mungkin Ibu atau Daddy sudah lupa. Tapi, aku pernah mengatakan untuk tak mau menikah." ucap Kiandra lantang.
Kedua mata Anna seketika melebar.
"Nak..!" raut Ibunya kecewa.
Semalam saat tak sengaja ia melihat anaknya itu dan Anna, ia yakin jika mereka berdua ada sesuatu. Karena keyakinannya itu pula, ia memaksa Anna untuk makan bersama. Wanita tua itu bertambah bungah, ketika anak lelakinya yang biasa dingin, mendadak bersikap berbeda saat mereka duduk berdampingan.
Ibu Kiandra tak peduli tentang silsilah kaya atau miskin, karena sebenarnya ia pun berasal dari golongan rendah. Yang penting, putra semata wayang nya itu mau menikah, agar kelak ada seorang yang mendampingi dan merawatnya.
Namun, kini anaknya malah mengulangi kalimat yang membuatnya susah hati.
"Silahkan, jika Daddy mau mencoretku dari daftar keluarga dan mencopot posisiku yang sekarang." Kiandra kembali berkata.
"Kian, hati-hati kalau bicara." Kirana memperingatkan.
Kedua mata Ibunya sudah meremang. Dahulu Ayahnya memang mengancam akan mencoret dari daftar keluarga dan itu sedikit bisa membuat Kiandra gentar. Tetapi, kini tanpa rasa takut anaknya itu malah yang menawarkan diri.
Kian, Ibu hanya ingin melihatmu menikah, sebelum Ibu....
Wanita tua dengan rambutnya yang masih hitam legam itu memandang sedih ke arah Kiandra.
"Ekspetasi Daddy terlalu tinggi, hanya kau dan Dave yang bisa memujudkannya." Kiandra melihat kakak perempuannya, lalu beralih ke Ayahnya yang duduk di kursi paling ujung.
"Kau...!" kalimat Kirana tercekat, saat adiknya itu mendadak berdiri sambil mengandeng tangan Anna.
"Ayo!" ajak pria dengan kemeja lengan panjang warna lavender tersebut.
Seperti biasa, respon Anna lambat, karena dia bingung antara tetap tinggal atau ikut.
"Kau mau tetap di sini untuk di permalukan, hahh!!" Kiandra menyentak kasar tangan wanita itu hingga ia terpaksa berdiri.
Anna sampai mengadu, karena Kiandra mengenggam erat pergelangan tangannya.
"Kian." Ibunya ikut bangkit dari duduk. Ia tak mau keluarganya tercerai-berai, karena sangat sulit membuat kedua anaknya berkumpul seperti ini.
Namun, Kiandra tetap tak peduli.
"Kau marah karena secara tak langsung Daddy merendahkan wanita itu?" ucap Ayah Kiandra, yang seketika membuat langkah pria jangkung itu terhenti.