Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
SENTIMENTAL II



Meski Anna terlihat ingin melakukan sesuatu. Tetapi, nyatanya dia hanya bisa diam dan pasrah seperti biasa.


Sampai Kiandra berangkat bekerja, dan ia mengurus rumah kaca bersama Ibu Kiandra, ia tetap tak mampu berbuat apapun. Cuma pikirannya saja yang terus menerus khawatir tentang apa yang akan terjadi nanti.


"Ibu tidak sabar dengan pesta besok malam." ucap wanita tua itu, membuat Anna terbangun dari lamunan. "Pasti... kau dan Kian akan sangat serasi." ia melihat dengan wajah berseri.


Anna yang tak percaya diri, hanya tersenyum tipis mendengar pujian tersebut.


"Bu," panggilnya beberapa saat kemudian.


Ibu Kiandra yang sedang mengamati tanaman anggrek, menoleh ke arahnya. "Ya, nak?" ia menyahut.


".... Bu, saya hanya orang biasa." ucap Anna rikuh. "A, apa tidak lebih baik... Ibu menasehati Tuan Muda...?" ia menyarankan.


Ibu Kiandra segera meletakkan tanaman anggrek Brassia Caudata nya, yang tengah berbunga dengan kelopaknya yang mirip kaki laba-laba dan berbintik kecil-kecil layaknya serangga. "Apa maksudnya, nak?" ia tak mengerti.


Anna gundah. "Saya merasa... eemmm... Tuan Besar nanti..." kalimat Anna terputus-putus, seraya pandangannya di buang ke tanaman anggrek hitam Kalimantan yang baru saja ia semprot akar-akarnya dengan air.


Bagaimana aku menjelaskan?


batinnya tak tenang.


"Kenapa masih bicara begitu?" ujar Ibu Kiandra lugas.


"Maaf, Bu. Tapi... saya betul-betul..."


"Kau tahu berapa lama Ibu menantikan saat-saat seperti ini?" potong wanita dengan kerutan di dahi yang makin dalam itu.


Anna bergeming, sebab baru kali ini intonasi suara Ibu Kiandra terdengar tinggi.


"Bertahun-tahun Delana." pungkasnya kemudian.


Anna gusar melihat Ibu Kiandra yang lembut berubah emosional.


"Selama ini banyak sekali gosip miring tentang Kian, yang membuat hati kami orang tuanya sedih." si Ibu memberi tahu. "Dari di sebut impoten, sampai penyuka sesama jenis."


Anna terkejut. Ia pikir, laki-laki seperti Kiandra pastilah sudah berkali-kali menjalin kasih dengan banyak wanita. Di tambah teman-teman, dan tempat nongkrong nya adalah bar dengan banyak hiburan malam. Rasanya mustahil ia tak tergoda untuk menjamah salah satunya, kecuali memang benar gosip-gosip itu.


Ah, tapi...


batin Anna mendadak membayangkan wajah bahagia Kiandra kala memperkanlkan dirinya kepada teman-temannya.


"Ibu sendiri tak mengerti kenapa dia bisa seperti itu." ucap Ibu Kiandra membuat perhatian Anna teralih. "Hanya saja Ibu selalu menyakini, jika anak Ibu itu normal. Dia hanya belum menemukan yang sesuai dengan kehendak hatinya." ia menatap wanita yang duduk di sampingnya baik-baik. "Hal itu berlangsung sampai kami setua ini, lalu kau hadir di tengah-tengah kami."


Anna bisa merasakan betapa Ibu Kiandra sangat menyayangi anak lelakinya itu. Dan hal tersebut membuat hatinya terenyuh.


"Tidak peduli bagaimana masa lalumu. Asal kau wanita, dan Kian menyukaimu. Ibu akan memperjuangkan hubungan kalian." wanita tua dengan rambutnya yang tanpa uban itu memastikan.


Anna tertegun. Sesaat kemudian matanya berkaca-kaca, lalu tertunduk bersamaan dengan air matanya yang meleleh.


Merasa bersalah. Ibu Kiandra menurunkan nada suara. "Maka dari itu..., Ibu minta tolong berhenti mengatakan hal-hal tak perlu seperti tadi." ia mengelus puncak kepala Anna penuh kasih.


Ibu, seandainya aku tak seperti ini...


batin Anna sedih.


.


Sementara itu di ruang kerjanya, terlihat Ayah Kiandra sedang berbincang dengan menantunya.


"Kau yakin tidak ingin kembali ke Perusahaan?" tanya si Ayah.


Dave yang duduk di hadapannya, serta hanya di pisahkan sebuah meja kerja tersenyum. "Aku sudah nyaman dengan Forex, Dad. Aku juga tak mau meninggalkan kota Temanggung. Kirana suka di sana, dan anak-anak juga memiliki banyak teman. Kian juga terbukti mampu memimpin. Tidak ada lagi yang perlu aku khawatirkan." ia menjelaskan.


Ayah Kiandra menghela nafas panjang sambil merebahkan punggung ke kursi kulitnya.


"Kenapa Dad tiba-tiba menanyakan hal itu?" Dave balik bertanya.


Pria bermata sipit itu tak langsung menjawab.


"Apa ini... ada kaitannya dengan wanita bernama Delana?" ia menebak.


"Tidak." si Ayah mengibaskan tangan. "Aku betul-betul tak masalah Kian menikah dengannya."


"Benarkah?"  Dave tak percaya. "Karena Ibu yang meminta?" ia tersenyum.


Ayahnya geli. "Yah... itu salah satunya."


"Aku sudah tahu siapa wanita itu." Ayah Kiandra berkata setelah mereka berhenti bergurau.


Dave terkejut.


"Meski Ibumu yang meminta, apa kau pikir aku akan setuju begitu saja?" Pria beruban itu kembali mengulas senyum. "Aku tak mungkin bertindak sesembrono itu, Dave." lanjutnya santai.


"Lalu.. kenapa akhir-akhir ini aku sering memihat Dad melamun?" selidiknya dengan nada lucu.


Ayah Kiandra menipiskan bibir sembari mencondongkan punggung lebih maju. "Dave, apa kau masih merasa bersalah dengan Angela?" ia bertanya dengan mimik serius.


Seketika kedua mata Dave membelalak. "...Kenapa tiba-tiba..." lidahnya mendadak kelu, saar teringat masa lalu.


Raut Ayah Kiandra perlahan berubah sayu. Ia mengalihkan pandangan dari Dave, ke beberapa figura di atas meja kerjanya. Fokus matanya tertuju ke figura berlist cokelat, dengan foto seorang pria tua yang duduk di kursi kulit warna hitam, dan di apit oleh dua orang laki-laki muda.


"Jika melihat foto ini aku selalu berpikir, mungkin karena aku banyak berbuat dosa, makanya sampai setua ini aku belum mati-mati." ia tersenyum samar.


"Dad, kenapa bicara seperti itu?" Dave tak suka.


Ayah Kiandra menghela nafas. "Aku selalu merasa bersalah pada Marisa." ia mengelus figura dengan foto wanita muda yang tersenyum. "Pada Kirana, padamu..." ia menoleh pada Dave. "Dan juga pada Kian..." pria tua itu menghirup udara dalam-dalam, kemudian menghembuskan sambil menjatuhkan kembali punggungnya ke kursi.


Dave menatap Ayahnya dengan muka yang mulai memerah.


"... Seandainya Rendy masih hidup." Pria itu berguman.


Mendengarnya hati Dave bagai tercabik.


Maafkan aku Dad. Seandainya aku tak egois untuk menikahi Kirana.


dalam hati ia menyesal.


Masa lalu memang membuat resah. Kadang yang bahagia tak di ingat, tapi justru sedih yang lebih membekas.


.


Tepat pukul sepuluh pagi Kiandra sampai di gedung Marthadinata-Sanjaya Grub. Ia memberikan kunci mobilnya pada Satpam yang berjaga di depan dan bergegas masuk ke dalam. Hal tak lumrah, mengingat kebiasaan Kiandra yang biasanya langsung membawa sendiri mobilnya ke basement untuk di parkirkan. Tapi, kali ini menyuruh Satpam yang memarkirkan.


Victoria yang baru saja turun dari motor  sport nya segera mengejar Kiandra yang sudah lebih dulu masuk ke dalam gedung.


Tumben Chief buru-buru seperti itu?


pikirnya heran.


.


"Selamat pagi, Chief."


Begitu membuka pintu, Kiandra di sambut salam dan senyum lebar Aldo yang khas.


Mengabaikan Personal Asistennya yang sudah lebih dulu berada di ruang kerjanya, Kiandra justru fokus pada hal lain.


"Cari seseorang untukku." perintah-nya begitu duduk.


Aldo melongo.


"Suma Enrico Haziq." Kiandra berkata. "Cari orang itu, dan bawa ke hadapanku." ia kembali memerintah.


Kening Aldo berkerut tak mengerti.


"Kenapa masih diam? Cepat pergi sana!" Kiandra mengusir. "Aku ingin secepatnya bertemu orang itu."


"Tapi, Chief..."


"Tapi apa lagi?" potong Kiandra marah. Sepanjang perjalanan ia sudah menahan rasa penasaran sekaligus cemburunya pada nama itu. Dan sekarang, ia di buat kesal dengan respon Personal Asistennya yang tak bisa sat-set.


"Anu.. Suma Enrico Haziq itu kan, nama asli Pak Rico." Aldo memberi tahu.


Seketika kedua mata Kiandra melotot. "Apa...?" tanpa sadar ia berkata.


"Iya, Chief. Itu nama asli Pak Rico." Aldo mengulang. "Coba saja Anda lihat di file-file perjanjian dengan Golden Hope." pria berjas warna abu tua dari brand The Eksekutif itu menyarankan.


Dengan cepat Kiandra menyalakan laptop dan mengetik-ngetik sesuatu. Hingga pada satu file yang di buka, ia sampai mendekatkan wajahnya pada layar.


Ia membaca baik-baik surat perjanjian dengan Perusahaan asal Negeri Jiran tersebut, dan benar yang bertanda tangan di situ, tertera nama 'Suma Enrico Haziq.'


Kiandra tertegun tak percaya.