Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
SI TARGET



"Anna."


"Anna?" Kiandra menyebut nama itu seperti sesuatu yang tak lazim.


"Buketnya...seperti ini saja atau perlu tambahan lain?" merasa rikuh, Anna segera mengalihkan pembicaraan.


Kiandra sadar jika sikapnya mulai berlebihan.


Berlebihan? ia memegangi dadanya yang sedari tadi berdebar-debar.


Anna masih menunggu keputusan Kiandra sembari membawa buket besar berisi empat puluh tiga tangkai mawar putih dengan pita warna senada yang menjuntai.


Kiandra berdehem beberapa kali sambil memalingkan muka. Dia merasa canggung, sebab baru kali ini mengobrol dengan seorang wanita membahas hal di luar pekerjaan.


Lihat, aku masih gerogi berdekatan dengan wanita. Itu artinya aku masih normal, sialan! Kiandra kesal sendiri.


"Pak?"


Panggilan Anna membuat pria itu menoleh.


"Mau di tambah akseoris? atau seperti ini saja?" Anna gelisah, karena hari telah larut, dan di situ tak ada siapa pun selain mereka berdua. Kiandra yang tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba bertanya nama, serta gerak-geriknya yang mencurigakan, membuat Anna berpikiran kurang baik.


"Tidak usah." Akhirnya pria itu menjawab.


"Baik." Anna menunduk, lalu berbalik ke meja kasir.


Kondisi di dalam toko begitu tenang dan nyaman dengan di pasang humidifier diffusier beraroma rosemary yang lembut dan membuat pengunjung betah berlama-lama.


Pikiran Kiandra terus berkutat soal tantangan yang harus dia penuhi, serta berbagai gosip miring yang mulai menganggu.


Sepertinya dia perempuan baik-baik. Kiandra menimbang. Apa aku harus menurunkan harga diriku untuk merayunya? Keningnya seketika berkerut.


Di keluarkan salah satu kartu debitnya yang berwarna platinum, saat Anna menyebutkan sejumlah nominal.


Apa dia suka perhiasan? Kiandra masih mengira-ngira dengan apa ia menarik perhatian wanita yang tengah sibuk membuat nota itu.


"Silahkan." Anna mengarahkan mesin EDC dengan kartu milik Kiandra yang terselip.


Tanpa berkata, Kiandra menekan beberapa tombol.


Posisi tubuhnya yang sedikit condong, membuat pria itu bisa melihat wajah Anna dengan lebih jelas.


Kenapa dia tak memakai riasan sama sekali? tanyanya dalam hati. Apa dia tak punya uang untuk beli make up? Kiandra menebak.


"Silahkan." Anna menyerahkan buket bunga mawar putih hasil rangkainnya.


Kiandra menerima tanpa melihat atau mengucapkan apa pun.


"Semoga pasangan anda menyukainya." Bibir pucat Anna menyunggingkan senyum tipis.


Mata cokelat terang Kiandra menatapnya, membuat wanita itu mengerjap beberapa kali.


"Ini untuk ibu-ku." Raut Kiandra serius.


"O,oh.." Anna mencoba tersenyum meski kaku dan terlihat sekali kegugupannya.


Postur Kiandra yang tinggi, serta eksprsinya yang dingin membuat Anna terintimidasi. Dia yang hidup dengan rasa bersalah dan di bayangi ketakutan, selalu tak nyaman dengan orang asing dan keramaian. Diam-diam Anna berharap Kiandra segera pergi.


"Ibu anda pasti bahagia punya anak seperti Bapak." Puji Anna sebab Kiandra hanya diam dan menatap.


Kiandra tak memberi respon.


Kedua telapak tangan Anna telah dingin berkeringat. Jantungnya berdetak kencang. Dia takut Kiandra marah atau melakukan hal buruk lainnya.


Apa ada yang salah dengan kata-kataku? tanya Anna dalam hati. Kenapa wajahnya seperti itu? Anna sampai tak berani melihat pria di hadapannya.


"Jangan panggil Bapak." Ucap Kiandra membuat Anna kaget. "Aku bukan orang tua atau atasanmu."


"A..apa...??" suara Anna tak terdengar, dan hanya terlihat mulutnya yang mengangga.


Kiandra memalingkan muka sambil mengosok-gosok ujung hidungnya dengan jari telunjuk.


Anna tak mengerti.


"Namaku Kiandra." Ia berkata tanpa melihat lawan bicara. Rasanya seluruh wajah Kiandra panas seperti berada di dekat api.


Anna tercenung. Dia tak yakin dengan yang di dengar dan di rasakan, sebab raut Kiandra tak menunjukkan ketertarikan sama sekali.


Kiandra berdehem lagi beberapa kali, lalu melihat ke arah si target yang terpana.


"Namaku Kiandra." Ia mengulang, kali ini terdengar lebih tegas. "Senang bertemu denganmu, Anna." Kiandra mengulurkan tangan kanan.


"Kerja keras kita bertahun-tahun lenyap dalam satu malam!"


Anna kaget teringat sesuatu.


"Kau tak lebih buruk dari P3lacur yang haus rayuan lelaki!"


Anna mulai gemetar.


Tak juga menerima sambutan, Kiandra meraih sendiri tangan wanita itu dan di genggamnya.


Anna yang hampir saja larut dalam kenangan pahit, seketika tersadar dan mendongkak untuk melihat Kiandra.


"Aku harap kita bertemu lagi." Tak berlama-lama, pria itu segera melepas gengaman tangannya.


Anna masih memandang tanpa berkata.


"Tidak. Maksudku..kita harus bertemu lagi." Kiandra memalingkan muka dengan wajah merah padam yang tak mungkin lagi bisa di sembunyikan, kemudian segera berlalu.


Tinggal Anna seorang diri mematung dan memandangi pintu yang baru saja menutup dengan bunyi lonceng yang masih terdengar.


.


"Kenapa kalian di luar?" tanya Kiandra ketika melihat Victoria dan Aldo berada di luar mobil dan berdiri berjauhan.


"Anda lama sekali Chief, kami tak enak hanya berdua di dalam." Aldo menjawab cepat di sertai senyum lebarnya yang khas.


Kiandra mendengus tanpa bertanya lebih lanjut.


Victoria telah menyalakan mesin mobil, dan mereka kembali melanjutkan perjalanan.


"Buket bunganya sangat cantik. Pasti Nyonya sangat senang." Aldo berkomentar.


Tapi Kiandra tak berniat menyahut. Tak pula memperhatikan kedua bawahnya yang kini saling buang muka. Sebab pikiran Kiandra terlalu penuh oleh moment pertamanya mendekati lawan jenis.


Aku pasti terlihat bodoh sekali. Ia menutupi wajahnya yang merah padam dengan tangan.


Wajah Anna yang sampai melongo melihat kelakukan ganjilnya membayang, membuat Kiandra makin malu.


Baru berkenalan sudah sesusah ini, bagaimana nanti aku mendekati dan merayu? rasanya Kiandra ingin memukul atau memarahi sesorang untuk melampiaskan kejengkelannya.


Pada akhirnya ia hanya bisa menghela nafas panjang sambil merebahkan diri ke jog mobil.


Mungkin aku harus merubah presepsi ku soal Ethan yang player dan Roy si tukang selingkuh. Kiandra merenung. Mereka hebat bisa mendekati dan menjalin hubungan dengan banyak wanita tanpa ketahuan. Kiandra salut.


.


Sementara itu di waktu yang sama di Club James Bond. Ethan dan Roy secara bersamaan terbatuk-batuk. Yang satu tersedak bir, sedang yang lain tersedak asap rokok.


"Kalian kompak sekali." Alexa tertawa ngakak.


"Pasti Kian, nih." Mata Ethan sampai berair, karena tadi terbatuk-batuk tiada henti. "Dia bilang aku monyet, gara-gara aku sebut pecinta 'terong'."


"Kian kau salahkan." Alexa masih terbahak. "Padahal kalian yang asik mengosipkannya." Alexa berkaca pada cermin bedak, lalu memoleskan lipstik warna merah menyala dan mengerucutkan bibirnya berkali-kali dengan gaya sensual.


"Kita bergosip untuk kebaikannya." Ethan membela diri. "Iya, nggak, Roy?"


Roy yang sedang meneguk equil dari botol mengacungkan jempol. Dia masih sibuk membasahi tenggorokannya yang tersedak asap rokoknya sendiri.


"Tapi wanita itu...di luar dugaan." Alexa cemberut sambil memasukan peralatan make up nya kembali ke dalam tas. "Feeling ku buruk soal dia, dan aku tak rela Kian dengannya."


"Sorry, yang itu salahku." Roy mengangkat tangan kanan. "Talent yang mestinya datang, kecelakaan. Dia tak bisa langsung mengabari karena ponselnya rusak, dan aku baru tahu pagi harinya setelah semua terjadi."


Ethan dan Alexa tak menyalahkan.


Meja mereka yang biasanya ramai, kini hanya sesekali terdengar denting gelas yang beradu dengan botol yang di tuang.


"Mundur?" tanya Ethan.


"Kau ingin kita pecah kongsi?" Alexa tak setuju.


"Ini bukan sekedar permainan. Tapi kita telah menyanggupi, artinya kita harus bertanggung jawab." Roy menyesap rokoknya.


"Tumben kau bicara tanggung jawab?" Alexa terkejut.


Roy mengangkat bahu dengan gaya konyol.


"Yang penting Kian tak benar-benar jatuh cinta padanya, kan?" Ethan yang biasanya tukang guyon, menanggapi serius.


Alexa dan Roy hanya saling pandang.