Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
BALADA PASANGAN HIDUP



"Kenapa terus berdiri di dekat jendela?" tanya Ayah Kiandra heran.


Istrinya yang sedari tadi mengamati Dave dan Kiandra yang duduk di gazebo dekat danau dari jendela lantai dua menoleh ke arah-nya.


"Aku khawatir mereka bertengkar lagi." jawabnya murung, lalu perlahan berjalan mendekat dan duduk di samping suami-nya.


"Selama aku ada di rumah, mereka tak akan berani berbuat onar." Ia berujar, seraya membalik halaman koran yang tengah di baca.


"Apa kau mengancam Kian?" tuduh si istri tiba-tiba.


"Mana mungkin aku berbuat seperti itu ke anak kesayangan mu." Sedikit kesal, pria bermata sipit itu menjawab. Ia selalu cemburu, jika si istri lebih peduli pada laki-laki lain, sekalipun itu anak mereka sendiri.


"Jangan suka mengancam Kian." istrinya memperingatkan.


Ia menurunkan koran, lalu melipat dan menaruh ke atas meja.


"Aku kan sudah bilang tidak." ia pandangi istrinya yang tak lagi muda. Tapi anehnya, malah semakin membuatnya cinta.


"Aku heran Kian mau menemui Dave, biasanya dia langsung pergi begitu kusuruh."


"Itu karena kau terlalu memanjakan-nya."


"Aku tak pernah memanjakan anak-anakku. Aku hanya menyayangi mereka." sangkal si istri, yang walaupun sama tuanya. Tetapi, memiliki rambut hitam tanpa uban, dan hal itu kontras dengan dirinya yang seluruh rambutnya telah memutih.


"Iya, ya, yaaa..." malas-malas ia membenarkan.


Namun, cara bicara serta ekspresi yang di tunjukkan, membuat bibir wanita itu mengerucut.


"Kenapa kau selalu bersikap meremeh kan seperti ini?"


"Meremehkan apa? kau benar, aku salah. Wanita selalu benar kan?" suaminya pura-pura polos.


Si istri mendesir, sebab tahu suaminya itu sedang menyindir.


"Bukan begitu. Tapi, pemikiran wanita dan laki-laki memang berbeda." dia mencoba menerangkan.


"Bedanya apa, sayangku?" Suaminya mengeser duduk dan kini menatap penuh minat.


Sayangnya si istri tahu, suaminya bersikap seperti itu bukan karena betul-betul ingin mendengarkan dan memahami pemikirannya. Tetapi, cuma untuk membuat mereka berhenti berdebat.


Menyadari hal itu, istrinya menghela nafas panjang.


Aku harus lebih sabar lagi menghadapi dirinya yang semakin tua malah semakin lawak.


ucapnya dalam hati.


"Kenapa diam saja? nggak jadi cerita?" tanya si suami seraya mendekatkan diri.


"Tidak jadi." jawab istrinya ketus.


"Salah lagi..." Suaminya mendengus, lalu menjatuhkan punggung ke sofa.


Diam-diam istrinya itu tertawa melihat tingkah pasangannya yang kadang gentle, tetapi satu sisi juga bisa begitu absurd.


"Minggu ini kita ke Tawangmangu ya? aku kangen sekali dengan si kembar." nada bicaranya sudah kembali ceria.


Si suami cuma melirik. Kali ini, giliran dia yang marah.


"Tidak, minggu ini aku ada janji main golf dengan relasi." ucapnya tanpa melihat lawan bicara.


"Biasanya main golf nya yang di pending?" istrinya pasang wajah sedih.


Suaminya masih cuek.


"Ternyata benar kata orang-orang..." ia sengaja mengantung kalimatnya.


Alis si suami terangkat, lalu melihat ke arahnya.


"Kalau semakin lama usia pernikahan, maka hubungannya semakin dingin dan rasa cintapun akan berku..."


"Siapa yang bilang seperti itu?" potong suaminya sembari menegakkan punggung.


"Memang kenyataanya seperti itu kan?" ia pura-pura memelas, padahal dalam hati tertawa


"Apanya yang kenyataan?" nada bicara suaminya makin meninggi. "Nasib mereka cuma sial, harus hidup dengan pasangan br*gsek. Tapi, tak semuanya seperti itu. Kita contohnya."


Istrinya tak tahan lagi menahan geli. Ia terbahak sembari menutup mulut.


Suaminya yang sudah mengebu-gebu langsung sadar, jika sudah di jahili.


"Kau ini.." Ia melipat kedua tangan dengan kerutan di dahi yang makin bertambah.


"Astaga...kita sudah sangat tua...tapi kau sama sekali tak berubah..hahaha..." istrinya berkata di tengah tawa.


Suaminya terkejut. "Sayang?"


Istrinya yang berusia lebih dari 70 tahun itu meringis menahan sakit pada bagian jantungnya yang serasa di remas.


"Ada apa? hei..." ia mulai cemas.


Nafas si istri mulai terdengar berat, seolah baru saja berlari ribuan kilometer. Ia juga merasakan telapak tangan istrinya yang sedang di genggam berkeringat dan gemetar.


"Marisa? ada apa? kau kenapa?" tanya-nya panik.


Tetapi, istrinya hanya bisa bersandar di pundak sembari menahan kesakitan.


Wajah pria itu kini sama pucatnya dengan si istri. Jantungnya berdetak sangat kencang dan ketakutan yang selama ini dia pendam perlahan mulai merayapi.


"PELAYAAANN...!! PELAAYAAAAANN...!!" panggil-nya keras-keras.


Keadaan rumah yang tenang, membuat teriakan pria itu mengema ke seluruh ruang.


Tapi sebelum ada yang datang, perlahan rasa sakit itu mereda, membuat nafas istrinya perlahan mulai terdengar normal.


"Sudah, sudah tidak apa-apa..." ia menepuk-nepuk lengan suaminya yang mendekap dirinya.


Terburu-buru dua orang pelayan akhirnya datang.


"Ada apa Tuan?" tanya mereka hampir bersamaan.


"Tidak ada apa-apa." sang Nyonya yang menyahut. "Ambil kan saja air putih hangat." ia memerintah sambil menyeka keningnya yang berpeluh.


"Ba, baik." meski ragu, mereka mematuhi, kemudian minta undur diri.


Tinggallah pasangan tua itu sendiri. Suaminya masih mendekap si istri, sambil menyembunyikan wajah.


Untuk beberapa menit, mereka diam tanpa ada yang bicara.


"Ayo lepas." suara istrinya memecah hening. "Malu kalau di lihat orang lain." Ia melanjutkan. Tapi, si suami malah makin mempererat kungkungan-nya.


"Aku sudah tidak apa-apa." ia mendongkak untuk melihat wajah pria yang telah menemani di hampir separuh hidupnya itu.


"Kau akan hidup lebih lama dari aku kan?" mata cokelat terang yang sedari dulu selalu menyihirnya itu ternyata sudah menganak sungai.


"Kau selalu bertanya begitu."  istrinya terkekeh, walau wajahnya sama sembab dengan sang suami. Tangan keriputnya terjulur untuk menyeka air mata yang hampir menetes di sudut mata pasangan hidupnya.


"Aku tak bisa hidup sendiri" Ia menangkup tangan si istri, lalu mengecup telapak tangannya dan menempelkan ke pipi.


Kebiasaan manis dari suaminya yang tak pernah hilang sampai sekarang, dan tiap kali pria tersebut melakukannya. Ia akan merasa menjadi wanita paling istimewa.


"Kau tak sendiri. Ada Kirana, Kian, Dave, cucu-cucu kita. Bukankah kau ingin melihat Kian menikah?" istrinya berkata lembut.


Si suami tertunduk seraya mengenggam tangan istrinya yang selalu terasa mungil dalam gengaman-nya.


"Mereka lebih membutuhkanmu dari pada aku. Mereka juga sudah mampu berdiri tanpa aku. Tanpa aku, mereka akan baik-baik saja. Tapi aku..." suara-nya melemah. Ia mengangkat muka dan memandang satu-satunya wanita pemilik hatinya. "Aku tak akan pernah baik-baik saja, jika kau mendahuluiku."


Dahulu ketika masih muda, karena bertemu pria ini, ia merasa menjadi wanita paling merana.


Namun, kini waktu membuktikan, bahawa benar apa yang orang bijak katakan, anugerah datang setelah kemalangan.


Kita hanya perlu menjalani dan percaya, ujian akan berakhir dan separuh lebih hidupmu akan kembali di isi dengan kebahagiaan, jika nilai-nilaimu sempurna di mata Sang Pencipta.


"Kenapa menangis?" Pria berperawakan mirip Kiandra itu terlihat khawatir, sebab si istri cuma memandang sambil menitikan air mata.


"Andre.." senyum istrinya melebar.


"Kau sudah lama tidak memanggil nama ku." ia terlihat bahagia, meski wajahnya masih sembab.


"Terima kasih, sudah menjadikan aku wanita paling beruntung."


Seperti pasangan muda yang tengah di mabuk asmara, mereka saling pandang, dan keduanya nampak sempurna di mata satu sama lain.


"Andre, aku mencintaimu." ia yang telah berumur, kembali menyatakan cinta.


"Kau tahu kan, aku lebih mencintaimu." tanpa segan suaminya menjawab.


Mereka saling memeluk sembari menahan tangis, mengenang masa lalu yang penuh warna, serta kematian yang kini mulai nampak.


Aku bersyukur kau hadir di hidupku dan aku tak menyesal...


Ia tersenyum sekaligus menangis di pundak suaminya yang tetap kokoh dan terasa hangat di usia senjanya.


Pasangan terbaik di dunia adalah senyuman dan tangisan. Mereka tak akan bertemu satu sama lain dalam satu waktu. Tetapi, jika mereka bertemu, itu adalah momen paling indah dalam hidupmu.


Andre, aku bahagia...