Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
ENIGMA



Malam semakin larut, tapi tak mampu melarutkan apapun yang kini sedang membuat resah seorang Kiandra Marthadinata.


Dia sudah berkeliling kota sampai bahan bakar mobilnya habis dan harus di isi ulang. Lalu kembali berputar-putar tak tentu arah, hingga ke kota-kota tetangga, dan kini ia berhenti di sebuah dataran tinggi dan duduk di atas kap mobil sambil merokok.


Pemandangan malam di hadapannya sangat indah, dengan kerlip lampu-lampu kota yang bagai hamparan permata di kegelapan.


Untuk kesekian kali Kiandra menghembuskan asap rokok. Pikiran mengawang saat membawa Anna ke villa milik keluarganya. Pemandangannya persis seperti ini, bahkan suasananya yang dingin juga sama, membuatnya tanpa sadar menghela nafas panjang.


Pria itu menarik sudut bibir, ketika teringat kekonyolannya memberi benda-benda mahal, bunga, permen, sampai boneka. Tetapi, seperti permainan tarik ulur, Anna memang menolak. Tapi juga seperti memberi harapan. Membuatnya semakin bingung dengan tingkah makhluk bernama perempuan.


Kiandra juga teringat kejahilan teman-temannya yang membuat Anna mabuk. Dan dari situ pula ia tahu, kalau wanita itu punya luka di masa lalu. Luka yang mungkin sama seperti dirinya. Tetapi lebih parah, karena sampai ingin mengakhiri hidup.


"Anna..." Kiandra berguman sembari mengusap rambutnya kebelakang, lalu menyesap rokoknya frustasi.


Ego nya yang tinggi memang tak pernah mengatakan secara langsung. Tapi seandainya wanita itu tahu, bahawa ia semakin menyayangi dan berniat menjaga serta melindunginya, saat mengetahui betapa getir hidupnya di masa lalu.


Asap rokok yang berhembus menjadi gumpalan tipis lalu menghilang. Sorot mata Kiandra menatap jauh ke langit yang berwarna gelap. Sangat kontras dengan pemandangan kota di bawahnya yang di penuhi gemerlap.


Kiandra bertopang pada tangan kiri, sedangkan tangan kanannya sibuk menyesapi racun nikotin yang di kemas dalam bentuk lintingan bermerk.


Ia pikir, saat mengetahui kenyataan Dave bukan kakak kandungnya adalah pukulan terhebatnya dalam hidup. Lebih-lebih saat Dave dan Kirana menikah. Ingin rasanya ia mengamuk, karena pernikahan itu membuat keluarganya yang terhomat di pandang buruk. Lebih sialnya lagi, Ayah dan Ibunya malah mendukung hal yang menghancurkan martabat keluarga itu.


Bertahun-tahun ia membawa sakit hati dan kecewa itu bagai kursi yang harus di panggul ke mana-mana.


Namun Anna, wanita itu secara tidak langsung membuatnya sadar atas persepsinya yang selama ini salah. Dia bahkan membuatnya mau kembali ke rumah yang selama ini enggan ia tinggali. Padahal dahulu ibunya berkali-kali memintanya untuk pulang, tetapi tak pernah ia hiraukan.


"Mau secantik atau semenarik apapun, namanya bekas ya bekas. Apa lagi bekas pakai banyak orang."


Kiandra tertunduk teringat betapa jumawa ucapannya dulu.


"Hidupku hancuur...! Hidupku tak berartii..! Aku jadi sampah di Negaraku sendiriii...!"


Ia juga mengingat tangisan Anna saat mabuk, serta sikapnya yang seperti orang gila.


"Wanita yang bersama dengan Anda itu sudah berkali-kali tidur dengan saya!"


Ia menekan keningnya yang berdenyut dengan muka merah padam.


"Anda boleh bertindak sewena-wena  dengan membuang Perusahaan saya! Tapi ingat, Anda sudah memungut wanita yang saya buang!"


Saat itu, mukanya bagai di lempar kotoran.


Andai saja Victoria tidak lebih dulu membuat orang itu pingsan, entah apa yang bisa dia lakukan dalam keadaan emosi seperti itu.


Kiandra memejamkan kedua matanya sesaat, lalu kembali menghela nafas panjang.


Ia menjatuhkan puntung rokoknya yang masih menyala, lalu menginjaknya sampai padam. Hawa yang semakin dingin memaksanya untuk masuk ke dalam mobil dan segera meninggalkan area perbukitan yang sepi tersebut.


Namun, baru saja ia menyalakan mesin mobil, getaran ponsel di dashbord mengalihkan perhatiannya.


Foto Ayah dan Ibunya yang sedang tertawa nampak di layar ponselnya yang menyala.


Awalnya Kiandra mengacuhkan, serta memilih menjalankan mobil. Tapi, hingga ia sampai di jalan raya, benda pipih itu terus saja menganggu dengan getarannya.


Akhirnya Kiandra menepikan mobil dan dengan berat hati mengangkat panggilan tersebut.


"Kian, kau ada di mana nak? Kenapa tidak pulang-pulang?" nada penuh kekhawatiran segera memenuhi gendang telinga.


"Bu, aku sudah be.."


"Nak, kau ingat kan, besok pesta perayaan ulang tahun pernikahan Ibu dan Daddy?" potong Ibunya cepat.


Kedua mata Kiandra seketika membulat.


"Ibu tidak mau tahu kau ada lembur atau sedang main bersama teman-temanmu. Ibu hanya ingin kau segera pulang, karena Ibu tak mau ada yang terlambat di hari besar Ibu dan Daddy besok." suara wanita itu menegaskan.


Kiandra terdiam.


"Segera pulang ya, nak!" pinta si Ibu lagi.


"... iya." jawab Kiandra pelan.


"Hati-hati di jalan." intonasi suara di speaker terdengar bahagia. "Ibu tak sabar dengan acara besok!" ujarnya girang.


Kiandra terkekeh tanpa ekspresi.


Setelah basa-basi sebentara yang intinya menyuruh pulang, karena jam hampir tengah malam, akhirnya sambungan telpon di matikan.


Kiandra menaruh kembali ponsel berlogo apel dengan tiga camera belakang tersebut ke tempat semula, lalu menghela nafas panjang dan menyandarkan kepala ke jog.


Seharusnya di pesta besok, ia berencana memberi tahu tentang siapa Anna kepada keluarga. Ia pikir, saat mereka semua sudah tahu Anna yang bangsawan Kelantan, tentu tak akan ada perdebatan atau keraguan lagi. Tinggal satu masalahnya, yaitu tentang dia sendiri yang berani mengambil keputusan menikah atau tidak.


Namun, di saat ia telah memiliki keberanian untuk melangkah, justru kenyataan pahit seperti inilah yang di terima.


Hati Kiandra bimbang. Harga dirinya terlampau tinggi. Menerima segala sifat Anna yang sangat bertolak belakang dengan dirinya saja itu sudah suatu keajaiban. Tetapi, ini soal kehormatan.


Otaknya terus saja memikirkan tentang tubuh Anna yang telah terjamah. Bagaimana mungkin, dia yang tidak mengijinkan satu wanitapun menyentuhnya, beristrikan wanita yang sudah tidak suci?


Dia tahu ini jaman modern, di mana norma masyarakat mulai bergeser dan hal-hal tabu seperti itu di anggap lumrah. Bahkan dia pernah membaca berita tentang anak SD yang hamil dengan teman sekelasnya atau anak SMP menjajakan diri di situs dating online


Namun...


Kiandra menutup kening dan matanya dengan telapak tangan, kemudian untuk kesekian kali menghela nafas panjang.


.


Di waktu yang sama, Aldo duduk di meja kerjanya yang sederhana dengan laptop yang masih menyala. Pekerjaannya banyak, karena bisa di bilang, seluruh laporan yang masuk ke pada Kiandra, harus melalui dirinya terlebih dahulu.


Bertahun-tahun dia mendapat kepercayaan istimewa tersebut melebihi seorang Personal Asisten biasa.


Tidak ada yang berubah dari kinerjanya yang jujur, serta kedekatannya secara pribadi dengan sang Chief. Setidaknya, begitulah yang terjadi, sampai setahun terakhir ini ia mengetahui fakta mengerikan tentang siapa dirinya sebenarnya.


"Ezekiel."


panggilan Victoria kepadanya terlintas.


Besok. Iya, besok. Aku tak akan ragu lagi.


batin Aldo sembari melihat sebuah undangan pesta, dengan figura foto lawas di sebelahnya.