Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
PERCAKAPAN



Kedua alis Kiandra hanpir menyatu, ketika ia membaca pesan dari si penelpon.


Dalam waktu dekat, Daddy dan Ibu akan mengadakan pesta untuk merayakan pernikahan emas. Dari yang aku tahu, Daddy mengundang seluruh relasi dan keluarga.


Apa dengan mengadakan pesta seperti ini, itu artinya Daddy sudah melupakan masa lalu?


Tapi, aku tetap takut untuk tampil di tengah mereka.


Bagaimana menurutmu?


Oiya, bagaimana kalau sekali-kali kita memberi kejutan hadiah untuk Daddy dan Ibu?


Kau ada ide Kian?


"Dia menulis pesan atau cerpen?" Kiandra berdecak.


Wajahnya masam mencermati tiap kalimat yang di ketik.


"Untuk apa Daddy mengadakan pesta sampai mengundang relasi?" ia mendengus.


Perasaan Kiandra tak enak. Sebab terakhir orang tuanya itu mengadakan pesta. Dia di paksa menemani tamu-tamu wanita, dan imbasnya sampai beberapa bulan kemudian pun, mereka tetap menganggu dengan telpon dan berbagai pesan tak penting yang membuat kepala pening.


Kiandra mengusap rambut kebelakang, kemudian menghela nafas sembari menjatuhkan punggung ke kursi.


Ia lirik kembali pesan di ponselnya yang masih menyala,


"Kenapa kau masih takut? tidak akan ada yang berani mengungkit pernikahanmu yang kontroversial, selama ada Daddy di sampingmu." Kiandra berkata dengan pandangan mencemooh.


Ia taruh ponselnya ke atas meja, lalu memutar kursi menghadap tembok kaca yang memperlihatkan matahari yang mulai condong ke barat.


"Kejutan?" ia menarik sudut bibir. "Satu-satunya kejutan terbaik untuk Daddy dan Ibu, ya kau kembali tinggal di tengah-tengah kami, Kirana..."


Bias-bias mentari berwarna jingga menyorot, membuat netra Kiandra yang berwarna cokelat terang nampak berkaca-kaca.


Untuk beberapa menit, Kiandra cuma duduk bersandar pada kursinya yang empuk, sambil memandangi langit sore dari lantai 30 ruangannya.


Di bawah begitu bising dengan aktifitas manusia. Tetapi, di atas sini, di langit yang indah ini, Kiandra sedikit menemukan ketentraman dari hanya melihat burung-burung kecil yang terbang berkelompok, awan-awan yang bergerak pelan dan cahaya sang surya mempesona.


Kiandra menghela nafas pajang. Wajahnya terlihat murung.


"Coba kau masih ada di sini..." ia berguman. "Setidaknya dengan membawamu, aku tak akan di sangka homo, dan mereka tak akan mengangguku."


Kiandra teringat Anna yang menghilang.


.


.


Hanya berselang sehari, giliran ibu nya yang menelpon dan memberi tahu, tentang perayaan ulang tahun pernikahan mereka yang akan di rayakan besar-besaran.


"Ini ide Daddy mu." suara si ibu terdengar dari speaker ponsel.


Sudah aku duga.


ucap Kiandra dalam hati.


Ia melihat tayangan televisi tanpa minat, sembari mengelus-elus kepala Snow yang berada di pangkuannya.


"Ibu harap kau bisa datang bersama pasanganmu."


Kiandra kembali mendengar ibunya bertutur.


"Yaaah...aku usahakan." bola mata Kiandra berputar. Ia berbohong, hanya agar si ibu tak menceramahi.


"Apa itu artinya anak ibu sudah merubah pendiriannya untuk menikah?" si ibu terdengar gembira.


Kiandra cuma terkekeh. Padahal, raut mukanya menunjukkan gundah.


Di ruang tengah apartemen, Kiandra duduk di sofa bersama Snow, dengan televisi yang melihat mereka.


"Ibu dan Daddy tak sabar melihatmu menikah. Jujur kami penasaran, seperti apa wanita yang bisa menawan hatimu." si ibu mulai bercanda soal jodoh.


Lagi-lagi Kiandra hanya tertawa.


"Kalau Dave dan Kirana bisa punya anak kembar, padahal tidak ada silsilah kembar di keluarga kita. Apa besok kau juga akan punya anak kembar, nak?"


Khayalan si ibu semakin melambung, membuat Kiandra memijit kening.


Namun, ia tetap berusah menanggapi sewajar-nya. Semata karena tak mau merusak keceriaan wanita yang telah melahirkannya itu.


"Ibu dan Daddy ingin kado apa dari ku?" begitu ada jeda, Kiandra segera mengalihkan pembicaraan.


Sesaat tak terdengar suara apapun.


"Kau yakin bisa memenuhi permintaan kami?"  gurau si ibu.


"Asal tidak menyuruhku menikah. Apa pun bisa aku kabulkan." jawab Kiandra pasti.


Tawa si ibu renyah terdengar.


.


"Baik." ibu Kiandra tersenyum sambil memandang suaminya yang duduk di sebelah.


"Jadi Ibu dan Daddy ingin apa?" tanya Kiandra dari seberang sana.


Hening tak ada tanggapan apapun.


Suami-istri yang telah sepuh itu saling pandang. Sang Suami bertanya lewat isyarat. Tetapi, si istri mengeleng dan meminta-nya bersabar.


.


Kiandra berdehem beberapa kali.


"Ibu kan tahu, jarak rumah dengan kantor sangat jauh. Sedangkan aku tiap harinya harus berangkat pagi-pagi." ia beralasan. "Ini bukan soal aku atau Kirana. Tapi, ini soal pekerjaaan. Ibu mengerti maksudku kan...?"


"Tidak apa-apa, kan terlambat sedikit."


Kiandra tertegun mendengar respon ibunya yang tak terduga.


"Ambil cuti untuk beberapa hari juga tak masalah."


si ibu menambahkan.


"Tapi itu mustahil. Ibu tahu banyaknya pekerjaanku. Tidak mungkin aku..."


.


Ayah Kiandra sudah tak sabar. Berkali-kali ia ingin merebut ponsel tersebut dari tangan si istri. Ia gemas dengan anaknya yang pintar mencari alasan.


Namun, si istri dengan jari telunjuknya, mengisyaratkan untuk tetap diam.


"Aku akan usahakan datang ke pesta. Tapi, tidak dengan menginap. Aku tak bisa membiarkan Aldo mengurusi semua sendiri, sedang aku belum yakin seratus persen dengan kinerjanya." Kiandra masih menjabarkan panjang lebar.


"Apa selama ini ibu pernah meminta sesuatu dari mu, nak?" tanya si ibu tenang.


.


Duuh...!


Kiandra tepuk jidat mendengar satu pertanyaan dari ibu-nya.


Sangking kerasnya tepukan telapak tangan Kiandra di kening, Snow yang awalnya sudah tidur di pangkuannya sampai terbangun.


"Bu, ini dua hal yang berbeda bukan...?" Kiandra balik bertanya.


Ia merasa sungkan. Sebab selama hidup, si ibu memang tak pernah menuntut ini dan itu. Bahkan soal menikahpun, ibu-nya ini masih berusah mendukung keputusannya. Walau ia tahu, jika sebenarnya beliau juga sedih dengan sikapnya.


"Baiklah Kian..."


Kiandra memalingkan muka, kemudian menyisir rambut ke belakang. Intonasi suara si ibu berubah pelan dan itu tak bagus.


Terdengar helaan nafas dari seberang sana.


Kiandra kembali tertunduk, sambil memegangi keningnya yang berdenyut.


"Daddy dan Ibu sudah tua. Pikirkan mereka, jangan cuma ego mu saja."


Perkataan kakak perempuannya siang tadi terngiang, membuat Kiandra makin kalut.


Memang siapa yang membuat semua jadi serba sulit seperti ini?


umpat Kiandra dalam hati.


Cinta kalian yang tak pada tempatnya itu, sialan!!


Kiandra kesal setengah mati.


"Ibu tidak bisa memaksa, kalau memang kau tak bisa..."


Kali ini suara-nya benar-benar sedih. Membuat Kiandra berpikir ibu yang di sayangnya itu sedang menahan air mata.


"Ba, baiklah..." ucap Kiandra ragu. "Aku akan menuruti maunya ibu." setengah hati ia setuju.


.


"Benar, nak?" mata tua wanita berpostur mungil itu berbinar.


"Iya, semua demi ibu. Aku sayang ibu."


kalimat Kiandra terdengar sampai telingan Ayahnya yang tak kalah senang.


"Ibu juga sangat menyayangimu, nak." wanita 70 tahun itu tersenyum puas.


Setelah berbasa-basi sebentar, sambungan telpon pun berakhir.


"Aahh...aku senang sekali." ia menggenggam tangan suaminya.


"Aktingmu hebat." puji si suami.


"Belajar darimu." ia mengusap pipi keriput si suami.


Mereka berdua tertawa, geli oleh sesuatu yang hanya bisa di mengerti orang pasangan lanjut usia itu sendiri.


"Permisi..." Tiba-tiba seseorang datang dengan membawa nampan. "Udara malam setelah hujan begitu dingin, jadi saya membuatkan susu jahe." ia tersenyum, sambil menyugukan dua buah cangkir di atas meja.


"Kau sudah bisa membuat susu jahe?" Ibu Kiandra terkesima.


"Iya, berkata anda." senyumnya makin lebar.