Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
DIBALIK KARSA



Anna mengangkat muka. Ia lihat paras pria yang biasa kaku itu kini terlihat gelisah. Tidak hanya gelisah. Tetapi, ada semu merah di kedua pipinya yang bersih tanpa noda.


Kiandra memang sangatlah tampan. Semua orang pun tahu hal itu. Tapi, segala pesonan-nya akan runtuh oleh tempramen-nya yang tinggi.


Tak terkecuali Anna yang sudah takut lebih dulu, jika berhadapan dengan sosok tinggi, yang kali ini terlihat berbeda dengan kaos dan celana pendek.


Eh?


Mendadak Anna sadar, jika tampilan Kiandra kali ini berkesan lebih muda dari biasa.


"Jangan menangis terus." Kiandra mengulang kalimat-nya.


Anna kembali mengangkat muka dan memandangi dirinya.


"Aku kan tidak mengusirmu."


Meski nada bicara-nya masih ketus. Tetapi, gestur pria itu jelas menunjukkan rasa gugup.


Anna masih belum bisa berkata apa-apa, kecuali hanya menyeka sisa air mata di pipi.


Kiandra mengira, wanita itu tidak mau memaafkan-nya. Hal yang bisa di mengerti, sebab dengan seenaknya ia sudah mencium dan bahkan hendak melakukan perbuatan terlarang pada-nya.


Kembali keadaan hening tanpa ada seorang pun yang bersuara.


Kedua tangan Kiandra, yang iseng di masukan ke dalam saku celana demi mengurangi resah menyentuh sesuatu.


Dahi Kiandra sedikit berkerut. Ia sedang menimbang sesuatu.


Awalnya ego Kiandra menolak. Tetapi, raut wajah Anna yang sembab, serta terlihat memelas di matanya, membuat Kiandra tak tega dan jujur ia merasa sangat bajin*an dengan melakukan pelecehan malam itu.


"Aku tahu, kau belum bisa memaafkanku." Kiandra memecah hening.


Anna tak mengerti. Ia bukannya belum bisa memaafkan. Tapi, justru dia merasa bersalah karena sudah membohongi keluarga Kiandra.


Namun, memang tidak bisa di pungkiri, bahwa ia juga marah karena perbuatan Kiandra. Akan tetapi, dari pada marah, perasaan Anna lebih ke merasa takut.


"Ini." Pria itu meraih tangan Anna dan memberinya sesuatu.


Anna terbengong.


"Sementara ini dulu. Nanti aku beri sesuatu yang lain." ia berkata dengan muka merah, lalu segera membuka pintu dan pergi begitu saja.


Anna membuka telapak tangannya yang tadi di genggam Kiandra, dua buah permen relaxa barley mint telah berada di situ.


Anna tersentak sampai menutup mulutnya yang menganga dengan tangan yang satunya.


Seumur hidup, baru kali ada seorang lelaki memberi permen padanya.


.


.


Sementara itu, di waktu yang sama, di Gedung Marthadinata-Sanjaya Groub.


Ruang kerja Kiandra yang di tinggal pemiliknya itu nampak lengang.


Hanya bunyi ketikan pada keyboard yang terdengar samar ruang kerja sang Chief itu.


Di balik meja kerja dengan beberapa berkas yang menumpuk di salah satu sisi, Aldo duduk di kursi kulit Kiandra, sembari terlihat serius mengotak-atik laptop.


Kenapa tidak bisa?


tanya-nya dalam hati.


Aldo mencoba mengetik password yang ia yakini. Tapi, sekali lagi aksen-nya di tolak.


Apa dia mengganti password-nya lagi?


kening Aldo berkerut.


Ia mengetik beberapa sandi. Tetapi, tetap saja file itu tidak bisa di jebol.


Aldo mengeretekkan gigi. Tangan-nya terkepal di samping laptop. Hampir saja ia mengebrak meja, kalau saja Victoria tidak lebih dulu masuk ke dalam ruangan.


Ekspresi suram Aldo seketika berubah. Ia berdehem beberapa kali kali, seraya merapikan jas-nya.


Victoria meicingkan mata melihat Aldo dengan berani-nya duduk di kursi kebesaran Chief mereka.


"Kenapa duduk di kursi Chief?" tanya Victoria, tanpa menghiraukan omongan Aldo.


"Ma, maaf!" sontak pria itu berdiri. "Aku sedang mengerjakan tugas yang sulit, jadi anpa sadar..." Aldo melirik Victoria cemas, kemudian berjalan cepat ke arah-nya. "Jangan beri tahu Chief, please." Aldo memohon. "Bisa di pecat nanti aku. Kau tak mau kan, kalau sampai kita tak bertemu lagi?" setengah berbisik ia berkata.


Wanita bertubuh semampai dengan baju warna gelap-nya itu malah membuang muka.


Aldo menghela nafas. "Kenapa kau masih saja bersikap ketus padaku?" tanya-nya dengan ekspresi cemberut.


"Tidak ada Chief di sini. Saya permisi keluar." tak menjawab pertanyaan Aldo, ia langsung berbalik arah.


Namun, pria dengan setelan jas hitam dan kemeja putihnya itu segera menghadang.


"Kau belum menjawab yang kemarin." Aldo mengingatkan.


Wajah kaku Victoria, tak mampu menyembunyikan rasa malu.


"Ayolah, Vic. Kau tahu perasaanku padamu." kali ini raut muka Aldo berubah serius.


Victoria masih enggan melihat pria yang berdiri di hadapan-nya itu.


"Soal ciuman waktu itu...juga sebagai bentuk rasa suka-ku padamu." ucap Aldo jujur.


Wajah Victoria memerah. Tapi, tak satu katapun keluar dari bibirnya yang berwarna coral.


Hal seperti ini sangat di luar rencana. Dia punya misi yang harus di laksanakan, dan meski ia jujur tak sanggup. Tetapi, Ayah Kiandra menghendakinya begitu.


"Jangan-jangan...kau suka lelaki seperti Chief, yang kaya dan tampan." Aldo menebak.


Kening Victoria sedikit berkerut. Ia ingin sekali membantah. Tapi, mulutnya masih terkunci rapat.


"Yah...Chief kita memang sempurna. Mustahil kau yang selalu berada di sisinya tak jatuh cinta." nada bicara Aldo terdengar putus asa.


"Aku bisa membebaskan saudara mu dari segala tuduhan. Asal kau bisa merayu anakku dan membuatnya membuang pikiran konyol soal tak menikah."


Victoria teringat perkataan Ayah Kiandra, saat pertama kali mereka bertemu.


Menyamakan kasus saudara-nya yang genting dan melibatkan nyawa, dengan keegoisan seorang anak yang tak mau menikah, adalah hal paling lucu yang pernah Victoria dengar.


Namun begitu, dia cuma bisa menyanggupi. Walau kenyataannya, tak satu kalipun ia pernah merayu Tuan Muda arogan nan egois itu.


Dering telpon dari meja kerja Kiandra terdengar. Kesempatan itu di gunakan Victoria untuk segera keluar ruangan.


Aldo tercenung melihat Victoria yang pergi tanpa pamit. Tapi, dia tak berusaha menyusul dan memilih mengangkat telpon.


"Selamat siang Pak Aldo." suara Rico yang ramah terdengar dari speaker .


"Selamat siang." Aldo menjawab santai, seraya duduk di kursi tamu.


"Saya pikir, sekretaris anda berbohong waktu mengatakan Pak Kiandra cuti dan hanya ada anda di kantor."


Mungkin jika Aldo punya banyak waktu, dia akan dengan senang hati menanggapi basa-basi Rico. Tetapi, dia punya hal lain yang lebih penting.


Kesempatan langka ini tak boleh di sia-sia kan.


batin Aldo, masih tertuju pada laptop-nya yang kini mati.


"Pak Rico, saya sibuk sekali..."


"Anna." ucapakan Rico segera membungkam mulut Aldo.


Untuk beberapa saat tak ada yang bicara.


"Anda mencari wanita bernama Anna bukan?" suara dari speaker itu terkekeh.


"Dari mana Pak Rico tahu?" Aldo pura-pura tertawa. Padahal hatinya langsung di penuhi tanda tanya.


"Sepertinya wanita itu berharga sekali, sampai-sampai seorang dari keluarga konglomerat seperti Chief anda menginginkan-nya." Rico berkata dengan nada heran yang di buat-buat.


"Ini hal pribadi. Bagaimana anda bisa tahu, Pak Rico?" sebisa mungkin Aldo tak menunjukkan keterkejutannya.


"Makan siang dengan saya. Mungkin...saya bisa sedikit membantu."


Meski tak berbicara langsung. Tapi, entah kenapa Aldo bisa membayangkan senyum tipis Rico yang berkesan culas.