
"Nak." tiba-tiba sebuah tangan menyentuh pundaknya.
Seketika Anna bangkit dari duduk. "Ibu...?" ucapnya kaget.
Ibu Kiandra yang menawan dengan riasan nude dan bibirnya yang di poles lipstik warna coral tersenyum. "Kau pasti sedang menunggu Kian, ya?" tebaknya.
Anna langsung salah tingkah. "Ti, tidak Bu. Eh, iya... maksud saya.. anu, Ke, kenapa... Tuan Muda belum da..." ia baru saja hendak menjelaskan, ketika tamu-tamu mendadak berdengung layaknya lebah dan terburu menyambut seseorang.
Otomatis keduanya melihat ke mana sumber perhatian para tamu.
Kiandra dengan setelan jas yang sama seperti Ayah dan kakak iparnya menuruni anak tangga menuju tempat berlangsungnya pesta. Ia terlihat menonjol dengan postur jangkung dan penampilannya yang tak bercela, membuat Anna sendiri terkesima saat melihatnya.
"Anak itu, kenapa baru datang?" Ibunya jengkel.
Anna tak begitu menanggapi, sebab tengah fokus kepada pria yang sedang menjadi pusat perhatian para wanita muda di sana.
Hal yang wajar, karena selain sangat tampan, Kiandra adalah satu-satunya yang belum menikah di keluarga Marthadinata yang terhormat. Jadi tidak aneh, kalau sebagian besar tamu undangan turut hadir bersama anak gadis mereka, sembari berharap bisa menjadi bagian dari keluarga itu. Walau mereka sempat kecewa, karena ternyata sudah ada Anna yang berada di sisi sang Nyonya.
"Coba lihat, benar-benar Tuan Andreas Junior."
Anna mendengar seseorang berbisik.
"Tidak, mereka tidak mirip." yang lainnya menimpali.
"Astaga..., kau tidak lihat mereka bagai pinang di belah dua?"
Anna mendengar suara tawa tertahan dari salah satunya.
"Tuan Andreas waktu muda sangat playboy. Tapi, Juniornya sama sekali tidak tertarik dengan hal-hal seperti itu, dan gosipnya dia..."
Anna mendengarkan pembicaraan itu sembari meneguk ludah.
"Tidak usah di dengarkan." si Ibu menanggapi santai.
Kedua mata Anna membulat.
Ibu juga mendengar pembicaraan mereka?
batinnya kaget.
"Ibu..., tidak marah?" tanyanya hati-hati.
Wanita tujuh puluh tahunan itu tersenyum. "Kenapa harus marah?" ia bertanya balik.
Anna tak berani menjawab.
"Baik-buruknya suami dan anak-anakku, aku lebih tahu. Orang lain hanya sok tahu, dan kita tak perlu marah kepada orang-orang menyedihkan, yang bahagianya di dapat dari membicarakan keburukan orang lain." Ibu Kiandra berkata dengan ketenangannya yang luar biasa.
Anna tertegun mendengar ucapan wanita yang sekilas terlihat lemah itu.
"Kau juga tak perlu cemburu jika Kian di kelilingi para wanita seperti itu." si Ibu melanjutkan, seraya menoleh ke arah anaknya yang sedang mengobrol bersama para penggemarnya.
"Bu, saya tidak..."
"Lihat cara dia tersenyum." potong Ibu Kiandra sambil menunjuk anaknya.
Anna menurut dengan turut memperhatikan pria yang sedang beramah-tamah dengan tamu-tamu yang mengelilinginya.
"Berbeda bukan, dengan saat dia bersamamu?" si Ibu menipiskan bibir.
Kedua mata Anna mengerjap. Di sana, Kiandra memang terlihat berbeda. Sikapnya ramah dan ia mengumbar senyumnya yang bagi Anna sangat mahal.
"Laki-laki di keluarga ini memang seperti itu. Dulu pun aku tak paham dengan Daddy nya." ia termenung dengan pandangan mengawang.
"Daddy?" Anna penasaran.
Namun, ibu Kiandra tak berniat menceritakan kisah hidupnya.
"Yang pasti, Kian menyukaimu dan Ibu juga menyukaimu." wanita bertubuh lebih pendek darinya itu tersenyum lebar, sampai keriput-keriput di wajahnya nampak jelas.
Kedua pipi Anna merona mendengarnya. Tapi, lagi-lagi perisiwa kemarin menghantuinya, membuat ia tertunduk sedih.
"Akan Ibu panggil anak itu ke sini." Ibu Kiandra hendak melangkah pergi. Tetapi, Anna segera mencegahnya.
"Tidak usah, Bu." ia meminta dengan raut memelas.
Sementara itu di tempat Kiandra. Pria itu mulai jengah dengan kecerewetan dan bau parfume para wanita yang mengerubutinya.
Jujur saja, ia mual dengan aroma wangi yang campur aduk seperti ini. Dan mereka tidak henti-hentinya menanyakan hal yang sama. Ingin rasanya ia menyuruh mereka semua menyingkir. Tapi, sebagai Tuan Rumah yang baik, hal tersebut tentu saja tidak bisa ia lakukan.
"Kapan Anda akan menikah?"
Kening Kiandra hampir berkerut, mendengar pertanyaan kesekian yang mempertanyakan masalah pribadinya.
"Pasti jika Anda menikah, banyak yang akan patah hati."
"Sebenarnya Anda suka tipe wanita yang seperti apa?"
"Ah! Jangan-jangan di luar Negeri Anda sudah punya kekasih ya?"
"Beruntung sekali wanita yang akan menjadi istri Anda."
Kepala Kiandra mulai pusing dengan celotehan tak berkesudahan ini.
Apa di sini tidak ada selotip untuk membekap mulut mereka agar diam?
batin Kiandra kesal.
Mendadak pandangannya tertuju pada Anna yang berada di sudut lain dan sedang bersama Ibunya. Mata mereka bertemu, tapi Kiandra segera memalingkan muka.
Anna semakin tak enak hati dengan sikap Kiandra yang dingin terhadapnya.
"Nak, seperti yang Ibu bilang, kau tak perlu cemburu." si Ibu yang salah sangka menasehati.
Anna memandangnya dengan kedua mata berkaca-kaca. "Saya tidak cemburu Bu." ucapnya. "Saya juga tidak ada hak untuk cemburu, karena saya tidak ada hubungan apapun dengan Tuan Muda." ia menerangkan.
"Bicara apa kamu, Nak?" si Ibu terlihat tak suka.
"Bu, maafkan saya. Tapi..."
"Sayang." Tiba-tiba Ayah Kiandra sudah berada di antara mereka.
Anna langsung tertunduk tanpa berniat melanjutkan kalimatnya lagi.
"Semua baik-baik saja?" tanya pria itu sembari melihat istrinya dan Anna secara bergantian.
Anna tetap merunduk. Sedang si istri menghela nafas panjang, lalu melingkarkan lengannya ke pinggang pria tersebut.
"Tidak ada apa-apa." ucapnya. "Anna hanya sedikit cemburu melihat kedekatan Kian dengan para penggemarnya." ia melanjutkan.
Ayah Kiandra terkekeh mendengar alasan itu. "Kau juga bisa cemburu, Delana?" guraunya.
Anna tak mampu mengangkat mukanya yang kini memerah.
"Kian berani menentangku. Seharusnya itu sudah cukup menjadi bukti, seberapa besar sayangnya untukmu." ia tersenyum.
Anna terkesima sambil menatap rumput jepang di bawah dress nya yang menutup sampai kaki.
"Santai dulu di sini. Kami masih ada tamu yang harus di temui." Ayah Kiandra merangkul pundak istrinya.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak lagi." si Ibu mengelus pundaknya sesaat, kemudian pergi bersama suaminya.
Anna baru mengangkat muka, saat pasangan itu sudah menjauh. Dan kini, ia masih memandangi punggung keduanya dengan raut pedih.
Harapan mereka sangat besar. Bagaimana seandainya mereka tahu...? Pasti... mereka pun akan sama kecewanya seperti dia..
ia menoleh ke arah Kiandra, yang sedang di perkenalkan kepada seorang wanita oleh salah satu tamunya.
Semakin malam, acara semakin bebas dan seru dengan duo kembar yang tak berhenti menghibur.
"Seharusnya Ibu tak perlu menyewa penyanyi atau semacamnya, karena cucu-cucunya sudah cukup menghibur." ucap Kirana sembari bertopang dagu.
Suaminya hanya terkekeh geli, sambil ikut melihat Kama dan Kalila yang menyalakan kembang api di tepi danau.
Anehnya, tamu-tamu yang hadir mengikuti anak kembar identik tersebut, serta ikut bersorak gembira saat bunyi kembang api yang memekakan telinga terdengar di angkasa bersamaan dengan bunga apinya yang merekah warna-warni.
Tanpa pasangan itu sadari, Aldo yang duduk tidak jauh dari mereka, sudah memperhatikan keduanya sejak awal pesta berlangsung.