
"Saya.. melakukan kesalahan fatal sehingga tidak berani pulang ke rumah." Anna menjawab sambil menunduk.
"Kesalahan?" Ayah Kiandra membulatkan kedua mata.
Anna mengangguk tanpa berani nenatap lawan bicara. "...Saya menghilangkan permata warisan keluarga." lanjutnya.
Pria tua itu bergeming, membuat nyali Anna sedikit menciut. Ia melirik k arah Kiandra untuk meminta pendapat, dan pria itu menganggukan kepala sebagai tanda persetujuan.
"Tidak hanya menghilangkan permata yang menjadi salah satu simbol keluarga. Saya juga menjadi penyebab Ayah saya turun dari tahta dan Kakak lelaki saya terpaksa melepas gelar Putra Mahkota Kerajaan Kelantan." Anna menjelaskan.
Pria tua itu nampak berpikir sejenak. "Dan kau... melarikan diri begitu saja?" tanyanya.
Anna meneguk ludah susah payah. Lalu mengangguk pelan.
Ayah Kiandra saling pandang dengan anaknya, kemudian kembali fokus pada wanita yang duduk di hadapannya itu. "Tapi, karena Kian ingin menikahimu, maka kami akan melamarmu terlebih dahulu ke Kelantan lo." ujarnya dengan nada setengah bercanda.
Anna terhenyak dan menatap Ayah Kiandra yang sudah lebih dulu memperhatikannya.
"Kami akan membawamu pulang untuk bertemu kedua orang tuamu." ia menambahkan.
"A, ta, tapi... Saya..." Anna mulai panik. Ia menoleh ke arah Kiandra untuk kembali meminta bantuan. Tetapi, pria itu malah bertopang dagu dan pura-pura tak melihat.
"Dahulu aku pernah bertemu dengan Yang Di Pertuan Agong Ismail Petra beserta istrinya." Ayah Kiandra memberi tahu untuk mencairkan ketegangan wanita itu.
Tentu saja aku tahu.
Anna berkata dalam hati, sembari mengalihkan pandangan dari pria berambut putih tersebut.
"Dan aku rasa, beliau tak mungkin tega mengusir kembali putrinya untuk sebuah kesalahan yang mungkin sedikit fatal." Ayah Kiandra menyatukan jari jempol dan telunjuk, seolah menggambarkan betapa kecilnya permasalahan yang di alami.
"Tapi, Tuan..." Anna berkata ragu. "Selain hal-hal yang saya sebutkan tadi. Saya juga sudah membuat keluarga saya malu, dengan banyak foto dan video telanjang saya yang tersebar di website Kerajaan." ia menggigit bibir bawah, lalu menunduk dalam.
Kiandra yang turut mendengar ucapan Anna seketika membeliakkan kedua mata. Tapi, dengan adanya si Ayah di situ, ia harus bisa menahan diri untuk tak menanyakan hal di luar pengetahuannya tersebut.
Anna sendiri tak punya pilihan selain jujur, karena ia tak mau keluarga Kiandra yang datang ke Kelantan di buat malu ketika mendengar masalah itu.
Namun, alih-alih demi Keluarga Kiandra, Anna justru sudah pasrah jika Ayah laki-laki itu tak memberi restu, apa lagi dengan keadaanya yang sudah tidur dengan anaknya.
"Kapan kejadiannya ?" tanpa di duga Ayah Kiandra justru ingin tahu.
Anna mengangkat muka. " Se, sekitar tiga tahun lalu..." jawabnya mengambang.
"Sudah di tangani?" ia kembali bertanya.
Anna mengangguk sambil menggigit bibir bawah, membuat kening Kiandra makin berkerut sebab tak suka dengan kebiasaan jelek wanita yang duduk di sampingnya itu.
"Kalau begitu yang sudah." ujarnya santai.
Anna menatap heran.
Ayah Kiandra mencondongkan punggungnya agar bisa melihat calon menantunya itu lebih dekat. "Itu sudah terjadi, lalu apa?" ia memberi pertanyaan yang menurut Anna aneh.
Untuk sesaat keadaan mejadi hening tanpa ada yang bicara.
"Kau tak bisa terus-terusan berpatokan pada masa lalu." Pria yang masih nampak gagah di usia delapan puluh tahun itu tersenyum. "Melangkahlah maju, tinggalkan semua yang sudah terjadi." ia memberi nasehat.
Anna tercenung sampai tak berkedip.
"Pulang." ia menyarankan. "Aku yakin, kebahagiaan keluargamu ketika melihatmu pulang, itu jauh lebih besar dari rasa marah atau kecewanya dulu."
Ada perasaan hangat yang menjalar, saat Anna mendengar ucapan Ayah Kiandra yang di sertai senyum tersebut. Jujur ia tak pernah berpikir begitu, sebab yang ada dalam pikirannya hanya rasa malu dan bersalah. Atau mungkin takut, sehingga ia memilih hidup seorang diri di Negeri orang.
Mendadak wajah-wajah orang terkasihnya memenuhi pikiran, membuat Anna tertunduk dengan perasaan gelisah.
"Kian, kau sendiri bagaimana?" mengabaikan Anna yang masih melamun, ia menoleh ke arah anaknya yang sedari tadi mengkerutkan kening sambil mengangkat satu kaki.
"Bagaimana apa?" ujar Kiandra ketus. "Sudah jelas kan, aku tak mempermasal kan apapun yang terjadi di masa lalunya." ia melihat Anna dengan ujung mata.
"Nah, begitu!" Pria tua itu menepukkan kedua tangan, seolah baru saja menyelesaikan sebuah kasus besar.
Walau tanggapan orang nomor satu di Keluarga Marthadinata itu terkesan biasa, tapi tak serta merta bisa membuang kegusaran di hati masing-masing.
"Secepatnya, setelah aku mendapat ijin dari Ibu." Kiandra yang menjawab, sambil menurunkan satu kakinya.
Sepertinya Daddy benar-benar tak masalah. Atau... jangan-jangan Daddy sudah tahu dan hanya mengetes kami?
selidik Kiandra dalam hati.
Hal yang berjalan terlalu mudah memang kadang malah membuat curiga. Akan tetapi, harusnya dia tak perlu berpikir demikian, jika saja tahu betapa besar kekhawatiran sang Ayah saat mendengar gosip-gosip miring tentangnya.
"Lho?" Tiba-tiba si Ibu sudah berdiri di ambang pintu dengan nampan berisi kopi yang masih mengepulkan asap.
Serentak semua yang berada di ruangan melihat ke arah wanita tujuh puluh tahunan tersebut.
"Tumben berkumpul di sini?" ujarnya seraya meletakkan gelas kopi di atas meja.
"Terima kasih." Ayah Kiandra memandang dan tersenyum ke arah si istri.
Wanita dengan rambut panjangnya yang di gelung itu balas tersenyum, sambil mengusap-usap pundak suaminya.
Adegan mesra itu tak ayal membuat Kiandra dan Anna yang duduk di hadapan mereka saling pandang tanpa suara.
"Anakmu minta ijin untuk menikah." si Ayah memberi tahu.
Kedua mata wanita itu langsung membelalak. "Benar?" ia menoleh ke Kiandra.
"Iya, Bu." jawabnya sembari menyembunyikan malu. "Aku mau minta ijin Ibu untuk..."
Kiandra tak melanjutkan kalimatnya, ketika melihat raut si Ibu sudah memerah dan sesaat kemudian banjir air mata.
"Syukurlah.... Syukurlah..." ia menutup mulut untuk menahan tangis.
Suaminya segera bangkit dari duduk dan menenangkan. "Doa kita terkabul." bisiknya.
Kiandra tak pernah mengetahui seberapa besar harapan kedua orang tuanya, sebelum ia melihat langsung, betapa terharunya mereka mendengar akhirnya ia mau menikah. Hal yang mungkin sepele bagi orang lain, tapi bagi kedua pasangan sepuh itu, mereka sudah menanti begitu lama.
Si Ibu mengenggam kedua tangan Anna dan mengucapkan terima kasih berkali-kali, membuat wanita itu rikuh. Tetapi, si Ibu malah menambahkan kecupan di pipi kanan- kirinya.
Penerimaan dan restu di dapat dengan begitu mudah, semudah membalikan kedua telapak tangan.
Andai semua orang tua seperti Ayah dan Ibu Kiandra, pasti akan lebih banyak pasangan yang berbahagia.
.
Namun ada satu hal yang menganjal di hati Kiandra, dan itu ia ungkapkan saat mengantar Anna kembali ke rumah kaca.
"Apa yang menyebarkan foto dan video telanjangmu itu Suma Enrico Haziq?" ia bertanya.
Anna yang tak menyangka mendapat pertanyaan itu kaget.
"Be, benar." ia mengaku.
"Sialan!" umpatnya.
"Tapi, tolong jangan apa-apa kan dia." Anna memohon.
"Apa?" kedua alis Kiandra hampir menyatu.
"Ternyata selama ini dia membohongiku. Aku harus tahu, kenapa..."
"Untuk apa kau menanyakan hal tidak penting seperti itu?" potong Kiandra kesal. "Dia sudah membuat hidupmu kacau. Aku sedang memikirkan cara menghancurkannya, dan kau malah berkata seperti itu?" ia tak habis pikir.
Anna menggigit bibir bawah. Ia masih saja takut, kalau intonasi suara Kiandra meninggi seperti ini.
"Jangan-jangan kau masih mencintainya, ya?" tuduh pria itu dengan muka merah padam.
"Kenapa bicara begitu?" Anna tak mengerti.
Kiandra memalingkan muka seraya mengusap rambut kebelakang. "Sialan!" ia mengumpat untuk kedua kali.