
"Siapa ini yang pulang duluan. Tapi, malam baru sampai rumah?" sindir Kirana pada adiknya yang berjalan begitu saja melewatinya.
Menanggapi hal itu Kiandra cuma melirik sesaat, lalu mengabaikan dengan terus berjalan.
Dasar sok cool.
batin Kirana sebal, karena tak di pedulikan.
"Sudah makan, nak?" ibunya bertanya, saat Kiandra menuju ke arahnya.
"Dia bukan anak kecil lagi, bu." Kirana berseru dari tempatnya duduk, yang langsung di siku pelan oleh suaminya.
"Apa, sih?" ia mendelik pada Dave.
Tetapi, si suami yang berwajah tenang itu cuma mengeleng pelan, sebagai tanda tak setuju dengan sikapnya.
Kirana tak melawan, cuma wajahnya saja yang tertekuk kesal. Tapi, hal itu segera hilang, saat Dave menyematkan jari-jari tangan mereka dan menatap istrinya lembut.
Mana bisa aku lama-lama marah padamu?
batin Kirana yang kedua pipinya sudah bersemu menatap sang suami.
Anna tertunduk, ketika Kiandra duduk di hadapannya dan tak sengaja mereka bertemu pandang.
"Ada apa, nak?" si ibu bertanya, sebab Kiandra hanya diam dengan mata menyorot tajam ke arah Anna yang berada di sebelahnya.
Anak lelakinya itu tak menjawab dan hanya membuang muka.
"Kian, bagaimana kau bisa dapat jodoh, kalau caramu memandangi wanita seperti itu." ibunya menasehati. "Ramahlah sedikit, nak." ia menambahkan.
Kirana yang mendengar tertawa tertahan, membuat Kiandra menoleh ke arahnya dengan kening-nya yang makin berkerut.
"Kirana." Dave kembali menegur, meski sebenarnya ia pun geli dengan sikap adik iparnya yang terlalu kaku.
Sialan, kenapa dia dan suaminya tidak ke kamar saja? bercinta saja!
umpat Kiandra kesal.
"Apa kau marah pada ibu, nak?" ibunya malah yang salah paham.
Kiandra mendengus. "Tidak, bu." ia menegaskan. "Aku tidak marah pada ibu, atau pada siapapun. Wajahku memang seperti ini."
Kirana terkekeh sambil memeluk perutnya yang kram dan menyembunyikan wajahnya yang memerah ke pundak si suami.
"Kirana, jangan seperti itu." kali ini ibunya ikut menegur.
"Aku tidak menertawakannya, bu." sanggah wanita berusia lima puluh tahun dengan face awet mudanya itu. "Aku cuma ingat Daddy." ia beralasan, lalu mengulum senyum menahan geli.
Si ibu hanya bisa menghela nafas panjang. Anak bungsunya itu memang memiliki perawakan yang mirip sang suami. Hanya saja, karakternya terlalu kaku dan sulit sekali di ajak bercanda.
Entah ngidam apa aku dulu...?
ia mengeluh dalam hati.
Sebenarnya hal itu pula yang menjadi beban pikirannya sampai kini. Waktu terus berjalan. Tetapi, Kiandra belum juga menunjukkan tanda-tanda mau membuka hati untuk wanita.
Kalau di pikir-pikir, mungkin aku juga akan lari duluan jika di tatapan begini.
batin si ibu sembari memandangi raut Kiandra yang memang berkesan galak.
"Bu, aku mau pinjam Delana." ucap Kiandra tiba-tiba.
Seketika semua yang duduk di ruang keluarga itu kaget. Tak terkecuali Dave yang biasanya mampu mengontrol emosi, dan Anna sendiri yang sedari tadi sudah was-was dengan kedatangan Kiandra.
"A, apa...?" ibunya merasa sedang salah dengar.
"Aku pinjam Delana." Kiandra mengulang, seraya menunjuk wanita berkuncir sederhana yang kini tengah membeliakkan kedua mata menatapnya.
"A, anu...bu..saya..." Anna meraih lengan ibu Kiandra, seolah sedang meminta pertolongan.
"Pinjam?" Kirana ikut bersuara. "Kau pikir Delana barang?" ia sedikit tak suka dengan cara adiknya meminta.
Kiandra yang sudah lelah seharian berkeliling mall sampai lupa makan. Di tambah rasa antipati terhadap suami-istri itu, membuat aura nya semakin menghitam. Mungkin jika tak ada ibu mereka di situ, ia sudah meledak sekarang.
Ibunya sampai bingung untuk mencegah, karena gerakan Kiandra yang cepat dan di luar dugaan.
"Dasar gila, itu anak orang!" seru Kirana sampai berdiri.
Namun, lagi-lagi Kiandra hanya melewatinya begitu saja.
Wajah Anna sudah pucat. Ia tidak bisa minta tolong ataupun berontak. Ia terlalu lamban untuk itu semua, sampai akhirnya cuma pasrah di seret Kiandra keluar ruangan.
Ibunya menghela nafas, sembari mengusap wajahnya yang lelah.
"Apa Kian itu sudah tak punya sopan santun?" Kirana berkacak pinggang sambil memandangi kepergian mereka.
Dave yang masih duduk di tempat tak menunjukkan reaksi apa-apa. Tetapi, kita semua tahu, di dalam kepala lelaki paruh baya itu juga tersimpan kekalutan yang sama.
"Biarkan saja, memang kenapa?" kata Ayah mereka yang baru saja datang. Pria delapan puluh tahun dengan kaos dan celana pendek itu berjalan santai ke arah istrinya, lalu memijit pundak wanita itu sesaat dan duduk di sampingnya.
"Tidak usah terlalu memikiran Kian." ia berkata.
Istrinya cuma melengos.
Kau tak mengerti perasaan seorang ibu.
pikirnya muram.
"Berarti Daddy setuju dengan sikap Kian yang kurang ajar pada wanita?" Kirana yang tak setuju, sudah mengeser duduk agar lebih dekat ke orang tuanya.
"Apanya yang kurang ajar? Adikmu cuma membawa Delana pergi. Mungkin mereka ada urusan." kata Ayah Kiandra yang mirip albino karena kulit dan rambutnya yang seputih salju.
Mendengar perkataan suaminya, ibu Kiandra mendengus tak suka.
"Apa?" ia bertanya, sebab tahu istrinya marah.
"Daddy, Delana itu wanita dan Kian laki-laki. Daddy lihat cara kasar Kian yang memaksa Delana ikut? Bagaimana kalau..."
"Itu malah bagus bukan?" potong si Ayah bangga.
Wajah Kirana dan Ibunya kompak berubah masam. Sedang Dave yang pandai membaca situasi memilih tak ikut campur.
"Tapi tenang saja, Kian tak mungkin berani berbuat seperti itu." Ayahnya berkata, seraya merangkul istrinya.
Kirana kesal mendengar penuturan ayahnya dan bersiap untuk marah. Tetapi,
"Apa maksudnya dengan tak mungkin berani?" suara tajam si ibu sudah lebih dulu terdengar.
Mendadak seisi ruangan hening. Tak biasanya ibu mereka yang lembut berkata seketus itu.
Kirana yang menyadari akan ada badai, mundur dan kembali ke samping si suami.
"Yaaa...Kian memang tak mungkin berani meniduri wanita sembarangan." Ayah Kiandra menjelaskan tanpa ada maksud apa-apa.
Dave dan Kirana yang juga mendengar saling pandang dengan ekspresi cemas.
"Kian bukannya tidak berani." suara wanita berperawakan mungil itu makin meninggi. "Kian hanya menjaga diri. Sampai dia bertemu wanita yang tepat dan mereka menikah."
"Loh?" suaminya yang tak peka dari jaman muda terkejut.
"Jangan bandingkan Kian dengan dirimu, yang mengukur keberanian dengan hal-hal seperti itu." ia mengibaskan lengan suaminya yang masih di pundak, lalu pergi tanpa pamit.
"Hei, sayang, mau kemana?" tanya nya bingung. Ia menoleh pada anak dan menantunya. "Kenapa ibu kalian malah marah??" ia tak mengerti.
Kirana dan Dave hanya tersenyum kecut.
.
Sementara itu di luar rumah, Kiandra memaksa Anna untuk masuk ke dalam mobil.
"Tunggu. Tuan muda." Anna berusaha menolak. Tetapi, Kiandra tetap saja mendorongnya masuk. Lalu bergegas membuka pintu samping dan duduk di belakang kemudi.
Mau apa lagi orang ini...?
pikiran Anna sudah di penuhi hal-hal buruk.