
"Masih ada tiga gerai lagi. Kita langsung ke sana, Chief?" tanya Aldo, begitu mereka berada di dalam mobil.
"Tidak. Kita makan siang dulu saja." Kiandra menjawab sambil menjatuhkan punggung ke jog. Ia lelah dan tadi pagi belum sempat ikut sarapan, karena sibuk memikirkan Anna yang terlihat biasa saja oleh pernyataan cintanya.
Dia memang selalu sok jual mahal.
Kiandra mencibir dalam hati.
"Benar juga." Aldo berseru, membuat pikiran Kiandra yang sedang bersama Anna segera teralihkan.
"Benar apa nya?" tanya si Chief malas-malas.
Aldo terkekeh. "Benar kalau kita terlalu asik berkeliling sampai lupa waktu, Chief." jawab Aldo dengan ekspresi konyolnya.
"Kau menyindirku atau bagaimana?" Kiandra malah kesal.
"Mana mungkin saya berani begitu." Cepat-cepat Aldo membela diri.
Kiandra mendengus, seraya melihat ke luar jendela dan tak mempedulikan Personal Asistennya itu lagi.
Mobil sedan mewahnya yang di kendarai Victoria sudah keluar dari basement swalayan yang terletak di kawasan kampus terkenal di kota itu, kemudian terus melaju ke jalan raya.
Kiandra melihat jam di tangan sudah menunjukkan pukul empat sore. Rupanya benar apa yang di katakan Aldo, ia terlalu asik berkeliling gerai, sampai-sampai tak ingat waktu dan kini kakinya terasa pegal.
Ia melihat bodyguard dan Personal Asisten-nya itu di bangku depan, kemudian mengamati kaca spion tengah.
Mereka pasti bisa tetap melihat walau tak menengok ke belakang.
batin Kiandra masam.
"Anda ingin makan di mana, Chief?" Tiba-tiba Aldo menoleh ke arahnya dan bertanya.
Lihat, baru saja aku mau menaikan kakiku.
ucapnya dalam hati, sembari mengurungkan niat meluruskan kedua kakinya yang pegal ke atas jog, kemudian menghela nafas panjang.
"Kita ke Byron. Aku suka salmon steak di sana." ia menjawab setelahnya.
"Waah...tumben anda bilang suka sesuatu." Aldo girang.
Tapi, Kiandra malah menatap tajam dengan kedua alis hampir menyatu.
"Iya, Chief. Maaf, hehehe.." Aldo garuk-garuk kepalanya yang tak gatal, lalu membenarkan letak duduk dengan kembali melihat depan.
Victoria yang mendengar interaksi keduanya tak meberikan reaksi apapun, dan memilih fokus menyetir.
Namun tak bisa di pungkiri, jika pikirannya masih tertuju pada kejadian beberapa hari lalu. Ia melirik Aldo yang duduk santai di jog samping.
Tak ada yang berbeda dengan pria yang sedang mengeser-ngeser layar ponselnya itu. Dia masih tetap kocak, kadang konyol dan selalu merayu dirinya jika ada kesempatan.
Tetapi, ia yang di latih bertahun-tahun dalam squad militer dan pernah menjajal berbagai jenis senjata, tak mungkin salah lihat.
Dia menyimpan belati kecil di balik jasnya dan bermaksud menikam Chief dari belakang...?
Raut Victoria menegang memikirkan jika analisis-nya itu benar.
Tidak, tidak. Itu tidak mungkin. Dia sudah bersama Chief lebih lama dari ku. Tuan besar juga pasti tak mungkin sembarangan mempekerjakan orang.
Ia menyangkal dugaan nya sendiri.
"Meine liebe, lihat jalan, nanti kita bisa menabrak." Aldo tersenyum manis sambil menunjuk arah depan.
Seketika Victoria terbangun dari lamunan, lalu membuang muka dengan rasa malu akibat terpergok menatap lawan jenisnya itu.
Victoria langsung acuh dan kembali berkonsetrasi membawa mobil jenis Lexus ES warna sonic iridium membelah jalanan yang padat di sore yang berlangit jingga.
Tak sampai setengah jam mereka telah sampai di restoran yang di maksud. Dengan hati-hati Aldo membangunkan Kiandra yang masih tertidur.
"Chief, kita sudah sampai." ia yang duduk di samping Kiandra menepuk bahunya beberapa kali.
Namun, Chief itu belum juga membuka mata. Pria beralis tebal dengan tulang hidungnya yang tinggi itu tidur sambil membuka mulut, dan terdapat sedikit air liur yang menetes di ujung bibir.
"Astaga Chief...anda orang biasa ternyata." ujar Aldo pura-pura jijik.
Victoria yang sudah berada di luar mobil diam-diam memperhatian. Jujur ia masih was-was dengan Aldo. Mendadak kedua matanya membelakak, ketika melihat pria berjas warna charcoal itu mengambil sesuatu dari balik baju.
Tapi, sebelum ia melakukan gerakan memiting untuk mencegah perbuatan Aldo, rupanya pria itu hanya mengeluarkan sapu tangan.
Victoria yang berada di balik punggungnya tercenung, saat melihat Aldo mengusap ujung bibir Kiandra dengan sapu tangannya.
Hatinya bergetar dan pikirannya kembali kalut oleh analisis serta fakta yang kini ia lihat.
"Sedang apa kau?" tanya Kiandra ketus.
"Air liur anda menetes, Chief. Nih." Aldo menunjukkan sapu tangannya.
Kiandra kaget. Ia segera mengusap-usap panik mulutnya dengan punggung tangan.
"Ya sudah hilang Chief, kan sudah saya bersihkan." ucap Aldo sambil memperlihatkan sapu tangannya kembali.
"Kenapa di tunjukkan-tunjukkan lagi?" ujar Kiandra galak.
"Supaya anda tahu, Chief." jawab Aldo santai.
Sebenarnya dia tahu Kiandra malu, karena bagi Chief-nya, hal sepele ini adalah aib. Dan ia memang sengaja berbuat begitu.
Kapan lagi bisa menang dari anda, Chief.
batin Aldo, lalu menutup mulut menahan tawa, ketika Kiandra langsung keluar dari mobil dengan wajah merah seperti tomat.
Lagi-lagi Victoria yang melihat itu tak bisa memberikan reaksi, kecuali cuma bergegas mengikut si Chief yang sudah lebih dulu masuk ke dalam restoran berkonsep minimis modern itu.
Salah satu kebiasaan Kiandra yang membuat dia makin di segani, di tengah berbagai gosip miring tentangnya yang belum juga mau menikah adalah, Kiandra tak pelit ataupun sungkan untuk duduk satu meja bersama bawahan.
Seperti saat ini, ia duduk makan bersama Aldo dan Victoria. Walau tadi sempat ada drama kecil, yaitu Victoria yang berkali-kali menolak untuk di ajak turut serta.
"Kau mau ikut makan atau aku pecat?" ancaman-nya yang sudah kelaparan, membuat bodyguard asal Jerman itu akhirnya menurut.
Hal-hal yang baru pertama kali Victoria rasakan selama bertahun-tahun melakoni pekerjaan berbahaya ini. Dan ya, Kiandra adalah tuan nya yang istimewa, bahkan menjadi satu-satunya yang membolehkan dirinya untuk makan bersama.
Sebagai bodyguard wanita, dia pernah di lecehkan, di remehkan, serta mengalami kekerasan fisik dari majikannya sendiri. Tetapi, Tuan muda dari keluarga Marthadinata yang terkenal bertemperamen kasar itu begitu menghormati dan menghargai dirinya.
Karena itulah, Victoria kini berkerja tidak semata karena uang. Tapi, karena tulus ingin melindungi pria tersebut.
"Kita akan ke kantor dulu atau langsung ke gerai berikutnya, Chief?" tanya Aldo ketika mereka sudah selesai makan.
"Masih tiga tempat. Tapi...kalau di teruskan pun akan sampai malam." Kiandra menimbang. "Mungkin kita ke kantor saja." ia memutuskan sembari melihat ke arah lawan bicara.
"Siap!" Aldo angkat jempol.
"Loh? anda makan di sini juga?" Tiba-tiba Rico sudah berada di dekat meja mereka dengan ekpresi terkejut.
"Kebetulan sekali." Kekasihnya Radha yang berada di sampingnya tak kalah kaget.
Kiandra yang melihat kedatangan dua orang itu pasang wajah malas.