Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
TERIKAT



"Maaf..." Anna tertunduk sembari perlahan memakai jas yang sejak tahun 2001 di akuisi oleh perusahaan Gucci, Perancis.


Kiandra berdecak, lalu membuang muka dan mencoba fokus menyetir. "Lain kali jangan pakai yang seperti itu. Kau tahu, kan, baju itu kurang bahan." ia mengomel.


"Tapi... Ibu yang menyuruh memakainya." ucap Anna setelah selesai mengenakan jas milik Kiandra.


"Jadi kalau Ibu menyuruhmu melompat ke jurang, kau juga akan melakukannya?" Kiandra menoleh ke arahnya dengan raut kesal. Tapi, lagi-lagi matanya tertuju pada belahan dada wanita tersebut. "Heh, kancing kan jasnya!" lagi-lagi ia menyuruh dengan intonasi tinggi, sedangkan otaknya sendiri tidak singkron dengan ucapan.


Anna yang malu, lekas melakukan apa yang pria itu suruh. "Se, sebenarnya saya juga kurang nyaman memakai baju model seperti ini." ia mencoba mengklarifikasi.


"Memang aku tanya?" ujar Kiandra ketus.


Anna langsung muram. Padahal ia mencoba bicara baik-baik, tapi pria itu selalu bersikap buruk padanya.


Apa benar dia menyukaiku...?


batin Anna sangsi.


"Kian memiliki trauma pada hubungan percintaan."


Mendadak perkataan Dave terlintas di pikiran.


"Hal itu pula yang membuat sikapnya menjadi kasar, serta terkadang begitu egois. Tapi, saya bisa menjamin, jika dia laki-laki yang baik dan juga sangat bertanggung jawab."


Anna tercenung, serta mulai menimbang akan sikap Kiandra selama ini.


Diam-diam ia melihat Kiandra yang sedang menyetir dengan ujung mata. Keadaan mobil yang gelap, membuatnya tak bisa melihat dengan jelas. Tapi, semburat cahaya dari luar, kadang kala jelas memperlihatkan ekspresi Kiandra yang nampak tegang dengan kedua alis hampir menyatu.


"Saya hanya ingin kamu jujur, karena adikku menyukaimu."


ucapan Dave kembali terngiang.


"Lihat apa kau?" tanya pria itu galak.


Namun, kini Anna bisa melihat sisi berbeda dari sikap kasar Kiandra dan hal tersebut menghasilkan debaran kecil di hati.


"Ki, Kiandra." panggil Anna pelan.


Kiandra yang terkejut seketika banting stir, membuat ban mobilnya berdecit, serta beberapa kendaraan di belakang membunyikan klakson keras-keras.


Anna menjerit karena mobil mendadak berubah arah, membuat tubuhnya oleng dan menubruk Kiandra yang duduk di jog samping.


SUV mewah itu nyaris keluar jalur, serta hampir menimbulkan kecelakaan beruntun, kalau saja Kiandra tak lekas menyalakan lampu hazard, kemudian perlahan menepi dan berhenti di pinggir jalan.


Anna yang keningnya terbentur jog ketakutan, mengira mobil mereka akan bertabrakan. Jantungnya berdetak kencang dan nafasnya naik turun karena begitu syok-nya.


Diluar, beberapa kendaraan masih membunyikan klakson sebagai tanda kemarahan akan mobil Kiandra yang tiba-tiba tak stabil dan membahayakan pengguna jalan lain.


Malam yang tadinya tenang, untuk sesaat menjadi riuh karena hal sepele yang di lakukan wanita yang tanpa sadar kini sudah memeluk lengan Kiandra erat-erat.


Deg! Deg! Deg! Deg!


Anna yang tadi ketakutan sampai menutup mata, mendengar sesuatu.


Suara apa itu?


ia bertanya dalam hati seraya membuka kedua mata.


Di keremangan, serta posisinya yang memeluk lengan Kiandra sampai pipi dan telinganya menempel tepat di bagian dada pria itu, bisa dengan jelas mendengar detak jantung pria tersebut yang seolah ingin melompat keluar.


Anna menengadah, seketika ia tertegun melihat Kiandra yang malu, sampai menunduk dan menutupi sebagian wajahnya dengan telapak tangan.


"Ja, jangan tiba-tiba memanggil seperti itu, sialan..." umpatan itu hampir tak terdengar.


"Kian menyukaimu."


Perkataan Dave bergaung di pikiran.


"Menurutmu, kenapa Kian menyukaimu?"


Pelan-pelan Anna melepaskan cengkraman tangannya pada lengan Kiandra, lalu menjauh sembari tetap memandangi pria yang selalu bersikap sewena-sewena padanya itu.


Cahaya lampu dari luar terlihat berkilauan di balik kaca mobil yang mereka naiki. Samar-samar kebisingan jalan raya masih terdengar dari dalam mobil yang dingin dan tanpa suara musik atau apapun.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Kiandra beberapa saat kemudian.


Anna tak menjawab dan masih menatapnya tanpa kedip.


Kiandra berdehem seraya memalingkan muka untuk menutupi kegugupannya. "Tadi bukan salahmu. Aku yang mengantuk " ucapnya tanpa melihat lawan bicara.


"Saya... Saya ingin menanyakan sesuatu." Anna malah membicarakan hal lain.


Kiandra menoleh ke arahnya, membuat keduanya kini saling pandang.


Rasanya, baru kali ini Anna berani menatap wajah pria itu dalam tempo yang cukup lama. Ia sampai bengong, hanya untuk sekedar memastikan sesuatu dari ekspresi kaku pria tersebut.


"Apa?" Kiandra yang sudah kembali ke mode judes berkata, sebab Anna tak lekas melanjutkan ucapannya.


"Eeemmm...saya, eh, anu..." Anna gundah sembari memainkan jemari tangan di pangkuan.


Kiandra yang tak sabar mendengus.


Anna menekan dadanya yang bergemuruh agar tenang. "Eemm... A, apa benar... Tuan Muda menyukaiku?" tanyanya ragu.


"Apa?!" Kiandra kaget sampai melolot.


Anna langsung panik. "Tidak, tidak. Saya tidak bermaksud..."


"Apa kau sudah hilang ingatan, hahh?" potong Kiandra kesal. "Baru tadi pagi aku bilang di depan semua, kenapa sekarang kau tanya lagi?" ia tak habis pikir. "Aku juga sudah pernah bilang waktu mengajakmu ke Villa. Aku memberimu ini-itu, sebagai tanda apa? Masa begitu saja kau tidak bisa menyimpulkan?" Kiandra menunjuk-nunjuk pelipisnya dengan jari telunjuk. "Apa perlu aku menyewa baliho untuk mengatakan hal itu padamu? Sialan!" omongannya ketus, tapi wajahnya merah bagai tomat.


Kedua mata Anna yang bulat dan di bingkai eyeshadow warna natural dan bulu mata panjang yang memayungi mengerjap.


"Apa? Kau mau bilang apa?" galak-nya semakin menjadi.


"Tidak...." Anna tertunduk. "Saya hanya senang." ucapanya kemudian.


Kedua mata Kiandra membelalak. Tiba-tiba ia menjadi orang paling tolol sedunia karena tak bisa membalas perkataan Anna yang bernada pasrah itu.


Perlahan wanita tersebut mengangkat muka. "Terima kasih, karena sudah menyukai saya yang seperti ini." ia tersenyum samar.


Kiandra terpana sampai mematung.


"Tapi, Saya tidak..."


"Sudah, jangan bicara lagi." potong Kiandra lugas.


Anna pikir Kiandra marah. Ia hendak menjelaskan, tapi pria itu sudah keburu memeluknya.


"Tuan Muda..." ia minta di lepaskan.


"Ssssttt...jangan bicara lagi." suara Kiandra terdengar lembut di telinga, membuat ia berhenti meronta. "Kau senang, apa artinya kau menyukaiku?" ia bertanya.


Awalanya Anna tertegun dan ragu. Tapi, debaran di hatinya ini tidak bisa terus menerus di bohongi.


"Saya se..."


"Seorang Kiandra Marthadinata yang terkenal sangat superior, memiliki pendamping bekas kacung seperti ku...?"


Tiba-tiba ucapan bengis Rico beberapa bulan lalu membuat-nya tersentak.


"Tidak!" Anna mendorong Kiandra, membuat pria itu kaget dan melepaskan pelukannya. "Saya tidak... Saya..." ia mengeleng-geleng gusar.


Bekas... Aku ini hanya barang bekas. Bagaimana mungkin aku bisa bermimpi begitu tinggi...? Dengan Keluarga Marthadinata yang sudah begitu baik, dengan dia...yang tidak tahu apapun tentangku...??


Kedua mata Anna meremang memandang Kiandra, kemudian satu persatu air matanya jatuh membasahi pipi.