
Berkali-kali Aldo menghela nafas, lalu kembali memandangi dryfood yang ia taruh dalam sebuah wadah.
Kenapa jadi aku yang harus memberi makan anjing ini?
keluh-nya dalam hati.
Sudah semingguan ini tiap malam Aldo datang ke Apartemen Kiandra untuk memberi makan Snow, anjing liar yang dahulu Kiandra selamatkan dari jalanan.
Aldo masih memakai setelan jas lengkap, karena untuk menghemat waktu, dari kantor ia langsung ke sini.
Aku sendiri belum makan.
lagi-lagi Aldo mengeluh. Tapi, ia tak punya pilihan selain menurut.
Dengan hati-hati Aldo berjalan mendekati anjing jenis Siberian Husky dengan bulu tebalnya yang berwarna abu kombinasi putih.
Awal-awal Aldo takut. Tetapi, begitu ia tahu Snow tak bisa berlari dan bahkan berjalan pun pincang, karena luka nya dulu sangat parah, akhirnya ketakutan akan anjing itu sedikit berkurang.
Dalam jarak tertentu, Aldo jongkok, lalu mendorong wadah berisi dryfood untuk anjing itu ke arah Snow.
Anjing besar bermata biru yang semula tiduran itu mengangkat kepalanya menatap Aldo.
"Hai...Snow, masih ingat aku kan...?" Aldo memaksa tersenyum dan melambaikan tangan kaku.
Anjing itu cuma melihat. Jantung Aldo sudah berdebar kencang. Meski tahu Snow cacat, tapi jarak mereka sangat dekat dan bila anjing itu menerkamnya, pasti tetap fatal akibatnya.
Namun, itu hanya ada dalam khayalan Aldo saja, sebab Snow sangat jinak dan anjing pintar itu mulai melahap makanan yang Aldo sediakan.
Melihatnya Aldo mulai bisa bernafas lega.
Rasanya tetap menakutkan kalau melihat taringnya.
Aldo yang punya trauma di gigit anjing ketika kecil bergidik.
Sesuai dengan yang Kiandra perintahkan pula, Aldo tidak boleh langsung pergi. Tapi, harus menunggu minimal sampai Snow menghabiskan separuh makanan-nya.
Yang punya anjing sendiri jam segini entah kemana...?
pikir Aldo sembari duduk bersila di lantai.
Beberapa menit dia bertopang dagu sambil memperhatikan Snow makan, dan anjing itu makan dengan sangat lamban.
Aldo menghela nafas muram.
"Apa kau tidak merasa akhir-akhir ini Chief sedikit berbeda?" tanya Aldo memecah sunyi.
Victoria yang berdiri di sudut, tak jauh dari Aldo, tak langsung menjawab.
"Jujur kadang aku sedikit kesal dengan sifat koleris Chief. Tapi, dengan beliau yang sekarang hampir tak pernah mengkritik dan lebih cenderung diam. Rasanya-rasanya bekerja jadi ada yang kurang...." Aldo berkata sambil bertopang dagu dan memandangi Snow.
Mulut Victoria masih terkunci. Tetapi, sorot matanya menunjukkan jika tengah memikirkan sesuatu.
Begitu makanan Snow tinggal separuh mangkuk, Aldo bangkit dari duduk, lalu berbalik dan berjalan ke arah wanita berambut panjang dan terkuncir sangat rapi itu.
"Kau kan sering mengikuti Chief, apa menurutmu beliau ada masalah?" tanya Aldo begitu Victoria berada di hadapannya.
Victoria tak menjawab dan malah menghindari tatapan matanya
"Ayolah Vic, kali ini aku serius. Bisa mati bosan aku, kalau Chief jadi pendiam seperti ini." Aldo meminta tolong seperti anak kecil merajuk.
Sebenarnya Victoria ingin tertawa melihat ekspresi Aldo yang menurutnya lucu. Tapi, ia berusaha tetap cool dan tegas dalam bersikap.
"Aku tidak tahu." jawabnya singkat.
"Astagaa.." Aldo mengusap wajah. Ia terlihat putus asa dengan Victoria yang selalu bersikap dingin.
Kedua alis tebal Aldo tertekuk dengan pandangan tertunduk. Victoria masih pasang raut galak-nya yang biasa.
"Sudahlah." ucap Aldo sembari mengibaskan tangan kesal. "Mentang-mentang tahu aku menyukaimu, kau jadi seenaknya terus padaku." Aldo berjalan pergi dan sengaja menyegol pundak Victoria cukup kencang. Tetapi sayang, malah pundaknya sendiri yang sakit.
Victoria tertunduk mendengar penuturan Aldo. Kalimat terakhir pria dengan setelan jas dari brand Wood warna gelap itu membuat hatinya tak enak.
Victoria bukannya berniat mengacuhkan, hanya saja, ia terlalu pemalu untuk berbicara dengan pria itu. Sifat yang sangat kontras dengan wajah dan profesinya, membuat Aldo tak tahu dan tak mungkin berpikir sampai sana.
Aku punya misi yang harus di jalankan. Kalau ini berhasil, maka Papi juga akan senang.
Namun, tekadnya itu segera luntur, ketika menyadari Aldo sudah tak ada.
Kemana dia?
Pandangan Victoria menjelajah seluruh ruang apartemen bergaya minimalis modern yang di tinggali Chief-nya seorang diri.
Biasanya setiap hari akan ada seorang cleaning service yang datang untuk membersihkan ruangan dan memberi makan Snow.
Namun, sudah satu minggu ini petugas kebersihan itu ijin tak masuk karena sakit. Jadilah Aldo yang kena getah untuk mengurus Snow.
"Untung aku tidak di suruh menyapu dan mengepel sekalin."
Mendadak Victoria teringat ucapan Aldo, di hari pertama ia menemani pria takut anjing itu memberi makan Snow.
Wanita blasteran Jerman yang biasanya minim ekspresi itu mengulum senyum.
Bisa-bisanya aku malah memikirkan ucapannya yang konyol.
Victoria menghirup nafas dalam-dalam, lalu membuangnya. Dengan begitu ia bisa kembali fokus.
"Aldo?" panggil Victoria.
Tak ada sahutan, kecuali Snow yang berhenti makan dan melihat ke arahnya.
Tidak mungkin dia pulang. Aku tak mendengar pintu di buka dan kunci mobil ada padaku.
batin Victoria.
Tiba-tiba dari balik kordeng tebal, Aldo muncul dan bermaksud mengagetkan wanita itu dari belakang.
"Hwwaaaa..!" Aldo meniru suara harimau kelaparan.
Namun, Victoria yang sangat terlatih, seolah memiliki indra penglihatan di belakang kepala. Dan spontan saja, bodyguard Kiandra itu berputar, lalu menendang perut Aldo sampa pria itu terjatuh dan mengerang kesakitan.
Victoria sendiri kaget begitu melihat Aldo lah yang tak sengaja ia tendang.
Ia segera bersimpuh untuk menolong Aldo yang tengah mengelung tubuhnya bak bayi.
"Maaf, aku tidak sengaja. Aku tidak tahu." Victoria mencoba tetap tenang, meski sebenarnya panik.
"Perutku sakit sekalii..." Aldo merintih sembari memeluk perutnya dengan kedua tangan, hingga wajahnya yang tertunduk tak terlihat.
Jangan-jangan aku menendang di bagian vital?!
Mata Victoria membulat.
Aku harus segera membawanya ke rumah sakit.
Dengan sigap Victoria mengalungkan salah satu lengan Aldo ke pundaknya dan bersiap memapah.
Tapi, sebuah sentuhan hangat dan sekejap terasa di pipi kirinya.
"Dapat!" Aldo berseru gembira dan langsung menjauh sebelum kena pukul.
Namun, jangankan memukul. Victoria masih terduduk di lantai sembari memegangi pipi kirinya yang baru saja Aldo cium.
.
.
Di waktu yang sama, sang pemilik Apartemen tempat Victoria dan Aldo berada, kini sedang kebingungan dengan berputar-putar keliling kota tanpa tujuan.
Jam di mobil yang ia naiki sudah menunjukkan pukul delapan malam lebih. Tapi, ia masih mengenakan kemeja yang sama dengan yang tadi pagi ia gunakan untuk berangkat kerja.
Biasanya Kiandra tak mau menyia-nyiakan waktu seperti ini. Dia akan segera pulang dan berkutat dengan tugas, lalu main game atau tidur, sebab senin sampai jumat memang hari padat untuknya.
Merasa punggungnya pegal karena menyetir berjam-jam, Kiandra memutuskan menepi di pinggir jalan.
Ia menghela nafas panjang sambil merebahkan punggung ke jog mobilnya yang empuk.
Tak sengaja pandangannya melihat ke depan, sebuah jembatan penyebrangan. Hal yang lumrah. Tetapi, tidak bagi Kiandra, karena jembatan itu adalah tempat di mana ia melihat Anna yang menangis dan bermaksud mengakhiri hidup.