
Malam yang meriah dengan gemerlap lampu kota dan lalu-lalang kendaraan yang memenuhi jalan raya.
Namun, hal di luar sana sangat berbanding terbalik dengan Anna duduk dengan perasaan tegang di dalam mobil Mercedes Benz GLA-Class AMG 35 4Matic warna Cosmos Black Metallic yang di kendarai oleh Kiandra. Bahkan sedari tadi ia tak bergerak sedikitpun, kecuali jari-jari tangannya yang dingin dan saling tertaut di pangkuan.
Jangankan bergerak, untuk bernafas pun rasanya Anna begitu sulit. Karena kepalanya penuh dengan pikiran-pikiran buruk yang mungkin akan pria di sampingnya itu lakukan.
Meski di dalam mobil begitu nyaman, dan musik instrumental yang di bawakan Samuel Kim Orcestra dengan title lagu See You Again dari Wiz Khalifa mengalun merdu. Tetapi, nyatanya hal itu tetap tak bisa meredakan kegelisahan hati Anna yang malang.
"Kau sudah makan?" pertanyaan Kiandra yang tiba-tiba hampir membuat wanita itu melonjak kaget.
Anna tergagap, dan tak langsung menjawab, membuat Kiandra menoleh ke arahnya dengan raut seolah menghakimi.
"Ssuu...sudah.." jawab Anna sembari tertunduk. Sejak kejadian ciuman itu, dia betul-betul takut dengan Kiandra. Sampai-sampai ia ingin melarikan diri dari rumah itu. Tetapi, ia tidak punya uang dan tujuan.
Mengingat keadaannya yang miskin dan serba bingung untuk melangkah, membuat wanita yang kini sedang memakai baju bekas Kirana itu merunduk sedih.
"Tidak usah pasang wajah memelas begitu. Aku tak akan membongkar rahasiamu pada ibu atau siapapun." ucap Kiandra setelah melirik Anna sebentar, lalu kembali fokus ke depan kemudi.
Anna mengangkat muka memandang pria berahang tegas dengan rambut cepaknya yang mulai panjang tersebut.
Mobil itu terus melaju membelah keramaian kota menuju daerah perbukitan yang semakin naik, maka makin memperlihatkan indahnya pemandangan bawah kota di malam hari.
Sayangnya Anna tak melihat itu semua, sebab ia terlalu fokus dengan apa yang akan Kiandra lakukan padanya.
"Tuan muda, kita mau kemana?" akhirnya ia bertanya.
Dia bicara baik-baik. Tetapi, Kiandra malah menatap sengit padanya. Nyali Anna langsung menciut. Ia merunduk dalam-dalam dengan kedua mata mulai meremang.
Aku tak pernah mengodanya. Penampilanku pun jauh dari kata menarik. Tapi, kenapa dia terus-terusan berbuat begini padaku...??
batin Anna menangis.
Ia cuma ingin tenang dan di hargai, meski ia selalu beranggapan dirinya sudah tak berharga. Tapi, wanita mana yang mau di lecehkan seperti malam itu?
Tiba-tiba mobil berhenti, membuat lamunan Anna seketika buyar.
"Pakai ini." Kiandra melemparkan jas yang tadi bertengger di jog nya ke arah Anna. "Udaranya dingin. Aku tak mempersiapkan jaket." lanjut pria itu tetap dengan muka datarnya.
Walau bingung, Anna menurut untuk memakai jas yang terbuat dari bahan lembut dan terasa hangat saat di pakai. Meski ia jadi tampak kecil, karena ukuran-nya yang terlalu besar.
"Keluar." Kiandra kembali memerintah, seraya membuka pintu mobil.
Dari dalam mobil Anna melihat sekeliling. Tapi, yang tampak hanya kegelapan. Kiandra sudah lebih dulu keluar, dan mau tak mau ia mengikuti.
Udara dingin langsung menerpa wajahnya yang tanpa riasan apapun. Anna baru sadar, kalau kini ia sedang berada di atas daerah dataran tinggi, dengan Vila mewah di ujung jalan sana.
"Aku sengaja berhenti di sini, supaya para pelayan pengurus Vila tidak ada yang melihat." kata Kiandra yang berdiri di samping pagar pembatas dari besi.
Anna tak merespon dan masih saja bengong di samping mobil.
"Kenapa masih di situ?" tanya Kiandra. "Cepat ke sini!" ia memerintah. Namun, kali ini intonasi suaranya terdengar lebih lantang.
Jantung Anna langsung berdetak lebih kencang. Hatinya makin tak tenang. Lingkungan di situ sepi tanpa ada orang lain selain mereka. Dan satu-satunya rumah hanya Vila mewah yang letaknya jauh dari tempatnya berada.
"Kenapa masih diam?" Kiandra mulai tak sabar. Ia mengusap wajahnya sampai rambut beberapa kali.
Anna mengigit bibir bawah dengan kedua mata yang siap menumpahkan kesedihan. Ia selalu merasa terintimidasi dengan sikap Kiandra yang arogan.
Seandainya aku tak berbohong soal amnesia. Pasti...aku tak akan bertemu orang ini lagi.
sesal Anna dalam hati.
Ini pasti hukuman, karena aku sudah membohongi orang sebaik ibu.
Dahulu aku ingin sekali mati. Mungkin dengan ini aku bisa langsung mati tanpa menyusahkan siapapun. Termasuk tak merusak nama baik keluarga Petra Yang Agung.
Angin dingin mengibaskan rambut panjang Anna yang terkuncir berantakan. Raut wajahnya terlihat pucat tertimpa cahaya lampu yang terpasang di tiang tinggi di samping mobil terparkir.
Di sini, di tanah asing ini, aku akan mati sebagai orang asing pula.
Batin Anna pilu.
Dia merapatkan jas warna hitam milik Kiandra untuk mengalau dingin yang menyelusup ke celah-celah tubuh-nya yang rapuh.
"Stop!" seruan Kiandra yang mirip hardikan menghentikan langkah kaki wanita yang terlihat putus asa itu.
Mereka saling pandang dalam kegelapan malam dan bunyi jangkrik dan hewan malam lainnya.
Langit di belakang Kiandra nampak indah, dengan bulan sabitnya yang membentuk senyum, serta rangkaian rasi bintang yang gemerlap di langit cerah tanpa sedikitpun awan.
Anna tertegun, saat menyadari betapa indahnya pemandangan di sekitarnya. Semuanya gelap. Tapi, juga cemerlang, dengan cahaya bintang dan bulan ciptaan Yang Kuasa dan lampu-lampu kota hasil karya hambaNya.
"Buka pintu belakang mobil." perintah Kiandra, seraya memalingkan muka dan bersedekap.
"Eh?" Anna heran.
Kiandra berdecak, seraya mengusap wajahnya yang memerah dan terlihat kesal.
Aldo sialan, aku sampai melakukan hal memalukan begini. Awas saja kalau tak berhasil. Aku tahan gajinya setahun.
pikir Kiandra sembari membayangkan sosok Personal Asistennya itu.
"Tuan muda..." Anna hendak bertanya supaya lebih jelas.
Namun, decakan Kiandra dan tatapan matanya yang angker menciutkan nyalinya.
"Sial." Kiandra mengumpat tertahan, lalu berjalan ke arah Anna yang masih tak beranjak dari tempatnya berdiri.
"Tunggu, Tuan muda." tangis Anna hampir pecah, ketika pria tinggi itu kembali meraih pergelangan tanganya secara tiba-tiba dan menariknya sampai ke bagian belakang mobil.
"Tuan muda Kian, anda sudah keterlalu..."
"Sekali lagi panggil Tuan muda, aku cium kau, sial!" potong Kiandra emosi, lalu melepas genggaman tangannya.
Seketika Anna membeku.
Tak berkata apa-apa lagi, Kiandra segera membuka pintu belakang mobil. Terdiam sesaat, kemudian menyingkir, agar Anna bisa melihat isi di dalamnya.
Sebuah boneka teedy bear raksaksa, dengan bulu-bulu tebalnya yang berwarna putih.
Kedua mata Anna membelalak, ketika membaca kata sorry, yang terbordir di perutnya yang gendut.
"Aku tidak paham yang seperti ini..." ucapan Kiandra membuat Anna menoleh ke arah pria yang sedang bersedekap, sembari menutupi sebagian wajahnya yang merah padam dengan telapak tangan. "Tapi...personal asistenku bilang, tak perlu mewah untuk minta maaf. Jadi...dia menyarankan untuk menghadiahkan boneka teddy bear."
Anna terkesima sampai mulutnya membentuk bulatan besar.
Sialan Aldo!
Kiandra mengumpat dalam hati.
Wajahnya terasa panas sampai telinga dan perutnya terasa mulas. Namun, Kiandra yang angkuh, tak akan membiarkan harga dirinya jatuh di depan wanita hanya karena rasa malu.
"Dia bilang, wanita akan senang menerima sesuatu yang lucu dan....mengemaskan." ia memalingkan muka. Berdehem dan kembali bersedekap dengan canggung, lalu melirik Anna dengan bola matanya yang semakin terlihat indah oleh bias sinar lampu di atasnya.