
"Kita pulang." ajak Kiandra tanpa basa-basi.
Kedua mata Anna seketika melebar.
"Kenapa buru-buru?" ucap Alexa. "yang lain jadi nggak enak, kan?" ia menjatuhkan punggung ke kursi dengan muka masam.
"Sudah malam." Kiandra menjawab singkat, lalu berdiri mengandeng Anna dan pergi begitu saja.
"Apa-apaan sikapnya itu?" gerutu Alexa.
"Sikapmu yang keterlaluan." Ethan menanggapi.
"Sikapku kenapa?" Alexa tak merasa salah. "Kau yang melempar kulit kacang ke mukanya." ia menunjuk pria berkacamata itu sebal.
"Siapa yang menyangka dia menangis cuma karena hal sepele?" Ethan angkat bahu.
"Makanya aku bilang dia itu manja!" pungkas Alexa.
"Hei, tidak semua orang bisa menerima sifat mu yang blak-blakan." tegur Ethan sambil menuang Equil ke gelas dan meminumnya.
"Bodo!" cibir Alexa tak mau tahu. "Habis gayanya sok putri banget, dia pikir..."
"Nah!" tiba-tiba Roy yang sedari tadi cuma diam dan merokok berseru kencang.
"Nah apa? Mau bikin orang jantungan?" Ethan yang terkejut kesal.
Sedangkan Alexa sudah mendesis dengan kening berkerut dalam. "Kebanyakan nikotin tuh!" ia mencibir.
Namun Roy tak menanggapi, dan malah mengeluarkan ponsel dari saku celana. "Putri!" ucapnya tegas. " Aku baru ingat, kalau Anna itu mirip putri dari Malaysia." ia memberi tahu.
Ethan dan Alexa saling pandang, lalu tertawa cekikian.
"Memang rokok itu bahaya banget ya, Dok?" wanita cantik itu berkata seolah sedang berkonsultasi.
"Bahaya banget." Ethan yang memang berprofesi sebagai Dokter Spesialis Anak menanggapi dengam mimik serius. "Terutama kandungan Tar dalam rokok, itu lebih berbahaya dari Nikotin yang terdapat dari tembakau." ia melirik Roy sekilas. "Selain menyebabkan kangker, juga menyebabkan orang ngelantur." ia memegangi perutnya yang kram menahan geli.
"Bisa stres gitu, Dok?" Alexa pura-pura kaget.
Ethan mengangguk-angguk. "Makanya jangan kebanyakan merokok." ia memberi tahu bak seorang Motivator.
"Sedikit aja ya, Dok?" tanya Alexa sembari meringis memperlihatkan deretan gigi putihnya.
Ethan mencondongkan tubuhnya ke arah teman baiknya tersebut. "Iya. " ia berbisik, dan di lanjut tawa keduanya yang sampai membuat meja kanan-kiri terkejut.
Roy yang melihat adegan Srimulat yang di perankan para sahabatnya itu cuma mendegus.
Kompak sekali mereka kalau seperti ini.
batinnya gondok.
Ia geser-geser layar ponselnya hingga berhenti di satu foto. "Coba kalian lihat sendiri!" ujarnya seraya mendorong alat komunikasi cangih itu ke tengah meja.
Ethan yang penasaran berhenti tertawa dan mengambil ponsel tersebut.
"Beberapa tahun lalu aku pernah berkunjung ke Kelantan. Saat itu bertepatan dengan pawai keluarga kerajaan." Roy menerangkan. "Anna itu, mirip dengan salah satu anggota kerjaaan Kelantan." lanjutnya penuh keyakinan.
"Mana, mana..Tuan Putrinya?" tanya Alexa dengan nada buat-buat, sembari mengeser kursinya lebih dekat pada Ethan.
"Mirip nggak?" tanya Ethan sembari memperlihatkan foto seorang wanita berpakaian tradisional Melayu lengkap dengan kerudung warna putih yang menutup kepala.
Kening Alexa mengernyit, lalu merebut benda pipih tersebut dan mengamatinya lebih seksama.
"Dulu Anna itu kurus dan terlihat lusuh, makanya aku tak menyadari. Tapi, setelah tadi aku melihatnya dari dekat, aku jadi yakin, kalau dia orang yang sama dengan Putri dari Kelantan itu." Roy menjelaskan panjang lebar.
.
Setelah sibuk memperbesar dan melihat foto tersebut dari berbagai sisi, mereka saling pandang. Bahkan Alexa yang awalnya ingin menjadikan hal itu lelucon, kini bungkam dan nampak berpikir keras.
"Alex, coba telpon suamimu yang pernah tinggal di Kuala Lumpur." Roy memerintah, sebab ia tahu teman-temannya pun ragu akan hal dramtis ini. "Kalau suamimu, pasti dia tahu nama putri itu." ia menambahkan.
"Kenapa harus aku...? Apa hubungannya aku dengan..."
"Tengku Delana Amirah Petra." potong Ethan yang ternyata sudah lebih dulu mengecek di Google.
"Tuh kan, namanya bukan Anna!" Alexa berkata cepat.
Kening Roy berkerut. "Tapi, kenapa bisa mirip sekali?" tanyanya heran.
"Mungkin mereka saudara kembar yang terpisah?" tebak Ethan asal.
"Itu hanya efek make up." Alexa yang beauty blogger menimpali. " Coba make up nya di hapus, pasti berubah kembali jadi Upik Abu." ia mengejek.
"Kecilkan suaramu, kalau Kian dengar bagimana?" tegur pria berkacamata itu.
"Kian sudah pergi!" ucap Alexa sebal.
Musik dari arah lantai dansa makin keras seiring jarum jam yang berputar menjelajah malam. Pada akhirnya, hal tersebut hanya di anggap kebetulan dan mereka lebih memilih bersenang-senang.
Namun, Roy yang masih mengamati foto tersebut, yakin jika Anna ada hubungan dengan Putri dari Negeri Jiran tersebut.
Tidak mungkin Kian asal pilih wanita. Dia kan pemilih sekali. Pasti ada sesuatu dengan Anna itu.
ia berkata dalam hati
.
Mundur ke beberapa menit lalu, di mana Kiandra dan Anna sudah sampai di dalam mobil. Tetapi, pria itu belum juga menjalankan mobil jenis SUV nya.
Anna yang sudah lelah bekerja, lalu berkeliling Mall dan kini harus menemani Kiandra ke Club malam, betul-betul membutuhkan bantal untuknya merebahkan kepalanya yang mulai terasa pening.
Apa jus tadi ada campuran alcoholnya, ya?
Anna menebak, karena merasa tidak enak badan.
"Kau lupa aku bilang apa, sebelum membawamu bertemu teman-temanku?" Tiba-tiba Kiandra bertanya.
Anna yang sedang memijit pelipis menoleh ke arah-nya tak mengerti.
Kening Kiandra berkerut. "Kenapa kau pakai acara menangis segala? Memang kulit kacang itu sakit?" ucapnya kesal.
Kedua mata Anna membelalak. "A, apa.." ia sampai bengong karena terkejut.
Kiandra mengusap rambutnya ke belakang. "Aku sudah bilang kan sebelumya, kalau bersama ku jangan melamun, jangan menangis! Tapi, kenapa karena hal sepele seperti itu kau menangis di depan mareka?"
Mulut Anna mengangga mendengar penuturan Kiandra. Ia pikir, pria itu segera membawanya pergi dari sana karena mengerti. Tetapi, rupanya dia sama sekali tidak mengerti.
"Apa? Kenapa kau melihatku begitu? Mau membuatku merasa bersalah?" Kiandra sewot.
Anna tak menjawab, membuat pria yang baru pertama kali berpacaran itu gusar. Ia tak menyangka, awal yang sudah baik, malah berakhir buruk seperti ini.
"Aku tanya!" ia berkata ketus, setelah wanita itu bungkam.
Anna tetap tak bergeming dan hal tersebut membuat Kiandra menghela nafas berat.
Sabar, sabar, sabar...
dalam hati ia menyabarkan diri sendri.
Kiandra berdehem beberapa kali untuk menentrakan suasana. "Apa sakit sekali kena lemparan kulit kacang, sampai-sampai kau tidak bisa menahan air matamu?" ia bertanya lebih lembut.
Namun, Anna malah nampak emosi dengan mengigit bibir bawah dan matanya sampai menyipit menatapnya.
Kiandra berdecak, merasa niat baiknya tak di hargai. "Berapa kali aku harus bilang, jangan gigit..." belum selesai kalimat-nya, tapi Anna sudah membuka pintu mobil dan pergi.
"Heiii..! Annaa..!" teriak Kiandra sembari buru-buru mematikan mesin mobil, sedangkan wanita itu sudah berjalan cepat menembus keremangan area parkir.
Aku sudah mengalah dan tanya baik-baik, tapi kenapa tingkahnya seperti ini?
dalam hati ia mengerutu.
"Anna!" panggilnya lagi sambil berlari mengejar.
Tetapi, Anna tak mau menoleh sedikitpun ke arahnya.
Sial! Baru hari pertama ini. Bagaimana dengan hari-hari berikutnya?
ia mengerang dalam hati.
"Hei, Anna!" Kiandra langsung meraih pergelangan tangan wanita itu dan menariknya.
Anna tersentak dan menengadah ke arahnya. Seketika Kiandra tertegun, melihat pipi wanita itu sudah basah oleh air mata.
Rasanya lebih baik aku di sangka gay, dari pada berurusan dengan wanita.
Kiandra hampir mengacak rambutnya sendiri.