Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
KEMBAR



"Apa?" Dave yang baru saja membacakan kisah sukses Si Anak Singkong kepada dua anak kembarnya sampai ketiduran kaget. Ia segera mengeser duduk agar lebih dekat ke istrinya yang berwajah sembab.


"Aku menampar Kian." ulangnya penuh sesal.


Dave menghela nafas sembari memejamkan kedua mata sesaat. Kemudian ia rangkul istrinya untuk menguatkan.


"Dia ada di dalam kamar Delana." Kirana menatap suaminya. "Mereka hanya berdua di dalam kamar sempit itu, dan Delana terlihat tertekan." ia mengigit bibir sesaat. "Maksudku... apa aku salah kalau berpikir dia..." ia tak bisa melanjutkan kalimatnya.


"Iya, aku paham." Dave dengan sikap tenangnya mencoba memahami.


"Betul, kan?! Jadi aku tidak salah, kan?!" Kirana antusias membela diri.


Kama dan Kalila yang tengah tertidur, kompak bergerak dan bergumam, karena terganggu dengan suara ibunya yang cukup keras. Kirana dan Dave saling pandang, kemudian tanpa bicara, mereka sepakat untuk keluar dari kamar tidur si kembar dan masuk ke dalam kamar tidur mereka sendiri.


"Besok minta maaf pada Kian." Dave menyarankan saat mereka sudah berada dalam satu ranjang dan menutup diri di bawah selimut.


"Minta maaf?" Kirana yang baru saja hendak memejamkan mata langsung kembali duduk. Ia pandangi si suami yang berbaring di sampingnya. "Jelas-jelas dia berbuat mesum di kamar Delana. Beruntung aku tidak mengadukan perbuatannya pada ibu. Tapi, kau malah membelanya? Apa karena kau masih merasa bersalah padanya? Itu bukan salahmu, kan? Dia yang arogan. Dia pura-pura beban, tapi sebenarnya juga menikmati menjadi CEO menggantikanmu sekaligus Daddy." Kakak perempuan Kiandra itu berbicara tanpa jeda.


Dave menunggu sampai istrinya itu meluapkan semua emosi, lalu ia sendiri ikut duduk bersandar pada kepala ranjang dan lebih menyimak setiap kata-katanya.


"Apa kau melihat langsung Kian berbuat begitu?" tanya-nya setelah istrinya selesai bercerita.


Kirana seketika tertegun, tapi itu cuma sesaat. "Mereka duduk berdekatan di atas tempat tidur." ia menjawab tegas.


"Artinya kau hanya melihat mereka duduk berdekatan bukan?" Dave tersenyum lembut.


"Tetap saja tidak pantas, laki-laki dan perempuan berduaan seperti itu di kamar tidur." istrinya tetap bersikukuh pada pendapatnya.


"Aku setuju soal itu." Dave membenarkan. "Tapi... yang kita bahas ini, soal kau yang menuduh Kian berbuat negatif kepada Delana dan kau menamparnya, lalu aku memintamu untuk meminta maaf padanya." pria dengan kerutan di bawah mata itu menjabarkan.


Wajah Kirana masam, lalu membuang muka. Lagi-lagi Dave menunggu sampai emosi istrinya itu meredup. Sampai akhirnya Kirana dengan kasar menyibak selimut dan tidur mempunggungi suaminya yang masih dalam posisi duduk bersandar kepada kepala ranjang.


Melihat sikap istrinya, Dave hanya menipiskan bibir. Ia sudah biasa dengan Kirana yang sering kali meledak-ledak jika menyangkut orang-orang yang di sayangi. Iya, dia paham. Istrinya itu hanya tak mau adiknya terjerumus ke hal-hal tak baik, apa lagi jika sampai meniduri anak orang dan tak bertanggung jawab.


"... Ketika ke kamar Delana, aku memang kaget melihat Kian berada di situ." ucap Kirana beberapa menit kemudian.


Dave menoleh ke arah istrinya yang masih tetap membelakangi.


"Aku juga tahu, kalau Kian... tak mungkin berbuat begitu." Kamar yang kedap bunyi membuat suara Kirana terdengar jernih.


Dave mendengarkan dengan seksama dan tak menyela, meski kalimat Kirana lambat-lambat.


"Dia menyalahkanmu..., dan menyebut nama mu dengan kata-kata tak baik.. Aku marah... aku kesal, karena dia tak tahu apa-apa, tapi...." ucapan Kirana yang di barengi isak itu terhenti, saat suaminya memeluk dari belakang.


"Sudah." Dave berbisik. "Kita tidur saja sekarang, ya?" pria itu menenagkan istrinya yang mulai emosional.


Kirana berbalik, lalu memeluk suaminya yang begitu baik dan sabar.


"Suatu saat Kian akan mengerti dan hubungan kita pasti membaik." Dave berharap, sembari mengelus-elus punggung istrinya yang gemetar menahan lara.


Malam terus bergulir, seyongyang-nya orang-orang mengistirahatkan tubuh mereka yang lelah. Tapi, beberapa ada yang memilih tetap terjaga, atau memang tak bisa tidur, karena pikiran yang riuh.


Rico menyingkirkan tangan Radha yang melingkar di perutnya yang berotot, lalu beringsut pelan turun dari ranjang.


Ia memperhatikan Radha yang tertidur dengan selimut membungkus tubuh indahnya yang tanpa busana. Setelah memastikan Tunangan-nya itu lelap, ia segera melangkah keluar kamar.


Rumah mewahnya nampak redup dengan hanya lampu kristal berwarna kuning yang tetap di biarkan menyala. Rico berjalan menuju ruang kerjanya yang terletak tak jauh dari ruang tengah.


Begitu memasuki ruangan, ia segera mencari saklar untuk menyalakan lampu. Seketika kondisi sekitar menjadi terang benderang.


Pria dengan posturnya yang sempurna itu membuka laci paling bawah, kemudian mengambil dokumen yang ia simpan di dalam map berwarna cokelat yang sudah ia beri tanda berbeda dari map-map cokelat lain.


Rico duduk di kursi kerjanya sambil membuka map tersebut. Sebuah sertifikat berlian dengan nilai fantastis, yang barangnya sendiri ia simpan di sebuah bank.


Berlian itulah yang konon harta pusaka milik keluarga Kesultanan Kelantan. Begitu berharganya berlian itu, sampai-sampai untuk mahkota yang semestinya menggunakan berlian tersebut, di ganti dengan berlian lain yang di buat serupa.


"Dasar bodoh." ia berkata sinis. Lalu menyimpan kembali sertifikat tersebut ke dalam map. "Delana, Radha dan juga kau, kalian para wanita bangsawan memang tak punya otak." ucapnya penuh dendam.


Segala sesuatu ada sebab, begitupun kenapa ia memilih jalan ini.


"Wan Zahara adalah aib. Dia sudah di anggap mati sejak kawin lari dengan pemuda kampung dan mempermalukan nama keluarga Idris!"


"Anaknya? Tentu itu bukan urusan kami. Cari saja pemuda kampung yang menanam benih di rahimnya yang kotor!"


Tangan Rico terkepal sampai urat-uratnya bertonjolan. Dia semestinya bisa hidup bahagia tanpa kekurangan, sebab ibunya adalah Wan Zahara, putri tertua dari bangsawan Selangor.


Hanya karena ibu nya jatuh cinta pada orang yang tak sederajat, para darah biru itu mengusir dan mensia-siakan, sampai ibunya mati dalam kemiskinan.


Sampai kematian orang tuanya pun, hati keluarga ibunya tak tergerak kasihan pada dirinya yang sebatang kara dan baru menginjak usia lima tahun. Mereka tetap menolak dan menganggap ia, yang cucunya sendiri sebagai sampah tak berharga.


Beruntung sebuah Panti Asuhan di pinggir kota Kelantan mau menampungnya. Tetapi, hinaan serta makian para orang dewasa dari keluarga si ibu, sudah terlanjur menghilangkan nurani polosnya sebagai anak kecil.


Saat waktu menumbuhkannya sebagai sosok yang ambisius, ia kembali di pertemukan dengan keluarga bangsawan lain, yang hanya mempertegas kebenciannya kepada kaum ningrat tersebut.


"Jangan karena kalian dekat, lalu kau lupa statusmu."


"Jangan berharap orang biasa sepertimu bisa menikahi keturunan langsung dari Yang Di Pertuan Agong VI Tengku Yahya Petra."


"Delana kami terlalu berharga untukmu yang cuma kacung."


Bibir Rico tertarik sampai sudut, mengingat ucapan tak enak dari dua kakak Delana.


"Berharga?" ia hampir tertawa, kalau tak ingat itu bisa membangunkan Radha. "Apa kalian sekarang masih menyebut-nya berharga, Pangeran kembar dari Kelantan yang sombong?" seperti orang gila Rico bertanya dan tersenyum-senyum seorang diri.