
Hari terakhir di Kelantan, Kiandra menepati janjinya untuk mengantar Anna menemui Rico di Penjara Kajang, yang letaknya beberapa kilometer dari bandar Kajang, Kuala Lumpur Tenggara.
"Benar kau tak mau ikut?" Anna memastikan.
Kiandra yang duduk di ruang tunggu cuma mengangguk sambil angkat jari jempol.
"Kau tak marah, kan?" selidik wanita yang siang ini menguncir rambutnya seperti saat pertama dulu bertemu.
Kiandra bersedekap sembari menumpuk kaki. "Kau bukan menemuinya untuk berselingkuh, jadi untuk apa aku marah?" ia mengkerutkan kening.
"Baiklah kalau memang begitu." Meski tak puas dengan perkataan Kiandra, ia memilih mengabaikan. "Aku cuma sebentar." lanjutnya sembari mengikuti langkah Petugas penjara yang memandu.
Raut Kiandra makin tertekuk melihat punggung Anna yang menjauh dan menghilang di balik pintu.
Mana mungkin aku ikut masuk? Bisa-bisa aku ikut di tahan gara-gara memukul tampangnya yang memuakan!
ia mendengus kesal.
Kiandra melirik kanan-kiri, lalu pasang muka sangar, karena merasa di perhatikan oleh beberapa petugas Lapas yang tengah berjaga.
Di Indonesia saja aku tak pernah menginjakkan kaki di Penjara, di Malaysia aku malah sampai sini.
ia mengomel dalam hati seraya mengambil ponsel dan memilih bermain Mobile Legend.
.
Setelah melewati lorong cukup panjang yang memberi kesan suram. Akhirnya Anna di persilahkan masuk ke sebuah ruangan. Jantungnya mulai berdebar kencang, saat dari kejauhan melihat sosok pria dengan kaos warna ungu tengah duduk dan menatap ke arahnya.
Hampir-hampir Anna tak mengenali, sebab tubuh Rico jauh lebih kurus, serta rambut dan cambang yang mulai tumbuh merubah sedikit tampilan wajahnya.
Rico...
ia langsung jatuh kasihan.
"Lima belas menit." Petugas yang mengantar berkata sebelum meninggalkannya.
Dan sekarang di ruangan sempit itu hanya ada mereka berdua. Perlahan Anna berjalan mendekat, kemudian duduk di hadapan pria yang hanya di pisahkan sebuah sekat kaca, dengan beberapa lubang di bagian wajah agar bisa saling berkomunikasi.
Di menit-menit pertama hanya ada keheningan. Begitupun perasaan Anna yang sedikit gundah karena iba melihat tampilan mantan kekasihnya itu.
.
"Sudah puas melihatku seperti ini?" omongan Rico yang ketus memecah sunyi.
Anna memandang gamang ke arahnya. Akan tetapi, Rico membalas dengan senyum sinis.
"Berita pertunangan kalian terdengar sampai sini." ia melanjutkan. "Apa kau bermaksud mengundangku juga?" ejeknya.
Anna tak bergeming dengan kedua tangan saling tertaut di pangkuan.
Aku tidak boleh terpancing. Bukan tujuanku marah di sini. Apa lagi dengan keadaanya sekarang.
ia mencoba menenangkan diri sendiri.
.
Menit demi menit kembali berlalu begitu saja. Anna tak bicara, begitupun Rico yang malah menguap sembari merengangkan kedua tangan.
"...Rico." panggilnya di lima menit terakhir.
Pria dengan lingkar bawah mata yang menghitam dan pipi cekung itu cuma melihat dengan ujung mata.
"Rico, aku minta maaf untuk semua." Anna berkata perlahan.
"Minta maaf?" Rico geli.
"Aku minta maaf karena tak bisa berbuat apa-apa saat Abang Majeed dan Abang Maheer bertindak seenaknya kepadamu." Anna berkata sungguh-sungguh. "Aku juga minta maaf saat Papa menyinggung status orang tuamu. Terutama Ibumu, yang di sebut dengan sebutan tak pantas untuk seorang wanita terhormat dari keturunan Wan." ia melanjutkan.
Namun, pria dengan baju tahanan warna ungu itu tetap menunjukkan antipati.
"Kau ke sini untuk minta maaf, padahal kau juga yang membuatku mendekam di penjara." ia terkekeh.
Anna meneguk ludah dalam-dalam. Rasanya ingin sekali ia berkata dengan suara keras untuk menyangkal omongan pria di hadapannya itu. Akan tetapi, ia memilih bersabar.
Ia pernah sangat membencinya. Tetapi, ia juga pernah begitu mencintainya. Dan tak bisa di pungkiri, bahwa pria itu berubah menjadi seperti sekarang juga imbas dari dirinya.
Anna baru saja menghela nafas panjang, ketika tiba-tiba pintu terbuka dari luar.
"Waktu telah habis!" seru si Penjaga berpakaian biru tua dengan tulisan Polis di bagian dada.
Anna mengangguk, kemudian kembali melihat ke arah Rico. "Terima kasih." ucapnya seraya berdiri.
Rico tak mengerti.
Anna mendekatkan wajah sampai hampir menyentuh kaca pembatas. "Terima kasih, karena sampai akhirpun kau tetap menjagaku." ia berkata penuh arti.
Ada jeda beberapa detik, sebelun Anna betul-betul memantapkan diri untuk mengikhlaskan dan tak lagi menyalahkan siapapun atas apa yang terjadi di hidupnya yang sempat kacau.
Selamat tinggal.
batin Anna sembari berbalik arah.
"Bank Swiss atas nama mendiang Ibuku." ujar Rico tak terduga.
Langkah Anna yang hampir menyentuh ambang pintu langsung terhenti.
"Wan Zahra Haziq." Rico menambahkan, saat wanita itu menoleh ke arahnya dengan kedua mata membulat sempurna.
Aku memang bodoh!
umpatnya dalam hati seraya membuang muka.
Tak lama dua orang Penjaga penjara datang untuk membawanya masuk kembali ke dalam sel.
Tinggal Anna yang masih mematung tak percaya dengan informasi yang baru di dengar.
.
Walau rasanya mustahil. Tapi, setelah di cek, permata berwarna merah delima itu memang di simpan Rico di Bank Negara Swiss atas nama Ibunya.
Hal itu sontak menambah kebahagiaan Anna. Ia sampai menangis haru, saat menyerahkan permata yang bertahun-tahun di bawa lari Rico melanglang keluar dari tanah leluhur kepada Ayahnya.
Karena rasa haru itu juga, ia meminta kepada Kiandra agar bersaksi supaya hukuman Rico di peringan. Dan meski enggan. Tapi, Kiandra itu tipe 'buah jatuh tidak jauh dari pohonnya', yang juga akan tunduk kepada wanita yang di cintai.
"Memang aku bisa menolak?" ucapnya ketus.
Anna tersenyum lebar. "Calon suamiku ini memang baaiiikk sekalii.." ia memuji setinggi langit.
Namun, Kiandra malah bersedekap sambil memalingkan muka.
Untung dia sudah jadi milikku.
ia berkata dalam hati.
.
Sang Sultan yang juga sangat bahagia, dengan bertemu Dave yang notabene putra kakak lelakinya yang hilang dan permata yang di curi juga telah kembali. Meminta agar pernikahan Anna dan Kiandra di lakukan sesegera mungkin.
Tentu saja orang tua Kiandra dengan senang hati setuju. Tetapi, rupanya kata sesegera mugkin, artinya adalah tiga hari kemudian.
.
"Kenapa Daddy main setuju?" Kiandra panik.
"Bukannya kau juga setuju?" pria berambut putih yang tengah duduk di pinggir ranjang itu kesal.
Kiandra mengusap rambutnya kasar sambil berjalan bak setrikaan.
"Bagaimana ini? Yang benar saja? Aku pikir tunangan dulu sambil menunggu aku siap mental.
batinnya kalut.
"Kenapa jadi seperti orang bingung begitu?" si Ibu yang baru masuk kamar tersenyum.
Kening Kiandra berkerut. Tapi, ia tak mengatakan apapun, sebab ibunya lah yang paling menginginkan pernikahan.
"Papa Delana sangat baik. Dalam tiga hari, semua beliau yang mempersiapkan. Kita cuma tinggal duduk dan kau tinggal mengucap kalimat ijab." Ibunya berkata santai.
Hei, Bu. Dia itu Sultan, jadi punya jin lampu!
batin Kiandra gemas.
"Sayang, kita juga harus merencanakan sebuah pesta untuk menyambut Delana sebagai menantu di Jakarta." si Ibu mengingatkan.
"Tentu saja akan aku buatkan pesta yang tak kalah megah dengan yang ada di Kelantan ini." suaminya menanggapi.
"Ah, aku tak yakin kau bisa membuat pesta semegah Papa Delana yang Sultan." istrinya sengaja memancing.
"Kau meremehkan suamimu sendiri?" Ayah Kiandra terpancing.
"Bukan seperti itu, Sayang. Tapi.."
"Coba nanti kita lihat." ia memotong kalimat istrinya. "Pesta seperti apa yang akan Sultan itu adakan. Lalu, akan aku buat yang lebih meriah dan lebih mewah." ia melanjutkan dengan gaya pongah yang persis si anak.
"Waah... Tidak sabar rasanya." istrinya kegirangan.
"Kau nanti jadi jurinya, Sayang." si suami mengedipkan satu mata.
Kiandra yang mendengar pembicaraan kedua orang tuanya semakin sakit kepala.